Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Pasangan yang Cocok


__ADS_3

"Siaaaap grak!"


Semua murid berbaris di tengah lapangan. Berjejer rapi dengan seragam lengkap. Di bawah terik matahari yang memanggang kulit mereka. Tidak ketinggalan para guru dan staff sekolah. Ya, pagi ini mereka melaksanakan upacara bendera yang rutin dilaksanakan setiap hari Senin.


Wajah wajah penuh peluh itu tetap setia menemani tiang bendera di setiap prosesi. Setelah dengan sabar menerima cukup banyak vitamin D akhirnya sampai ke penghujung acara. Seperti biasa upacara akan ditutup dengan pengumuman dari sekolah.


"Pengumuman apaan sih, udah gerah banget ni gue. Lihat ni Ra keringat gue udah kayah anakan sungai yang terus mengalir." keluh Hana sambil menyeka keringat di dahinya.


"Sama Han, mana kulit gue udah kayak kepanggang, panas banget." Laura mengibas ibaskan tangannya.


"Lah ni gue sampe item." keluh Rizal.


"Emang loe udah item dari sononya!" ejek Laura.


Murid murid sudah mulai berisik sibuk berceloteh dengan teman di dekatnya, begitu juga dengan Hana dan Laura yang sudah larut dalam obrolan dan mengabaikan pengumuman apa yang disampaikan.


Hingga tiba tiba nama Hana dipanggil untuk maju ke depan.


"Mahaprana Rayhan Prasetya kelas 2 IPA1 dan Mikayla Hanania murid kelas 1A."


" Han loe dipanggil ke depan tu." salah satu temannya menepuk bahu Hana.


"Gue?" Hana merasa heran.


"Ra, sedari tadi kita ngobrolnya enggak terlalu keras kan ya, kenapa gue dipanggil?" bisik Hana ke Laura.


Laura hanya mengerdikan bahu.


Hana berjalan meninggalkan barisan dengan langkah yang ragu. Masih dengan perasaan bingung ia maju ke depan. Dari barisan lain ternyata Rayhan juga maju ke depan. Mereka berdiri berjejer di tengah lapangan.


" Kak, kita enggak ada salah kan ya?" bisik Hana namun tetap dengan pandangan ke depan. Rayhan hanya tersenyum.


Tampak wajah para guru menatap mereka dengan tatapan bangga. Kepala sekolah maju ke tengah lapangan berdiri tepat di depan Hana dan Rayhan, diikuti oleh seorang murid yang membawa sebuah baki berisi 2 piala yang sangat bagus.


" Selamat ya, Bapak bangga dengan kalian." ujar kepala sekolah dengan senyum penuh bangga.


Hana terbengong, menatap Rayhan dan kepala sekolah secara bergantian.


"Saya ucapkan selamat kepada Mahaprana Rayhan Prasetya dan Mikayla Hanania yang telah berhasil mengharumkan nama sekolah kita. " ucap kepala sekolah di depan mikrofon.

__ADS_1


"Selamat kepada Mahaprana Rayhan Prasetya sebagai juara 1 dan Mikayla Hanania sebagai juara 3 lomba melukis tingkat provinsi ." Kepala sekolah menyalami mereka dan melakukan prosesi serah terima piala.


" Kita menang Kak...?" Hana tersenyum bahagia. Dia tidak menduga akan bisa menjadi juara di lomba tersebut.


"Prooookkkk proookkkk proooookkk." semua murid dan guru memberi tepuk tangan meriah.


Laura menatap mereka dengan senyum yang merekah, meski di hatinya masih ada sedikit rasa kecewa.


Kalian berdua memang serasi, ganteng cantik dan sama sama berbakat. Gue akan dukung kalian seandainya kalian berpacaran. Sepertinya cinta gue ke Kak Rayhan memang tidak akan pernah terbalas.


Pak Gun menghampiri mereka dan menyalami mereka, ia tersenyum haru penuh rasa bangga.


"Selamat ya, Bapak bangga dengan kalian. Semoga ke depannya kalian tetap semangat untuk terus berkarya."


Hana dan Rayhan mengucapkan terima kasih.


Upacara pun selesai dan para murid kembali ke kelas masing-masing.


Hana dan Rayhan mengambil beberapa gambar selfie bersama dengan Pak Gun dan Kepala Sekolah.


"Han kita foto berdua ya?" pinta Rayhan.


Mereka pun berfoto selfie berdua. Terlihat senyuman merekah di wajah mereka. Mengambil beberapa gambar dengan pose yang berbeda.


Rayhan terlihat sangat puas melihat hasil foto mereka.


Loe cantik banget Han. Meskipun ponsel gue penuh dengan gambar wajah loe tapi gue enggak akan pernah bosan melihatnya.


Hana kembali ke ruang kelasnya.


"Selamat ya Han..." ucapan teman teman sekelas Hana.


" Ini dia juara kita! " sambut Laura.


"Makasih semua." Hana tersenyum dan melenggang ke tempat duduknya.


"Gue enggak nyangka loe hebat juga ya Han, enggak sia sia gue ngajarin loe he he." kelakar Rizal.


"Mimpi loe...!" Laura ,Yusuf dan Agung menonyor jidat Rizal rame rame sampe kepalanya terpental ke belakang.

__ADS_1


"Aaowww! Sakit monyet..!"


"Ha ha ha." mereka tertawa bersama sama.


Kelas menjadi hening saat Bu Ida, guru matematika sekaligus wali kelas memasuki ruangan. Ia memberi selamat kepada Hana dan dilanjutkan dengan memberi materi pelajaran.


Kelas menjadi riuh kembali saat bel istirahat berbunyi.


Hana dan Laura beranjak ingin keluar kelas saat Bu Ida menghentikan Hana untuk mengikutinya ke ruang guru.


"Ra sorry gue ikut Bu Ida dulu ya, gue nitip saja bungkusin es teh sama siomay." bisik Hana di dekat Laura.


"Enak saja, memang gue abang grab food. Entar loe nyusul saja ke kantin." Laura berlalu menyusul Yusuf dan teman teman yang berjalan di depannya.


Bu Ida dan Hana berjalan ke dalam ruang guru. Disana terlihat sepi karena jam istirahat. Mata Hana terkesiap saat melihat sesosok murid berpawakan tinggi berkulit putih dengan rambut berantakan sedang berdiri di hadapan meja guru tak jauh darinya. Dengan pakaian yang jauh dari kata rapi, tapi tetap tak mengurangi ketampanannya. Kesan badboy sangat kental terpancar dari auranya.


Antares, si mata indah.


Tiba tiba hatinya menghangat. Sudah beberapa kali Hana bertemu denganya, tapi baru kali ini Hana melihat wajahnya dari dekat. Memang Hana pernah sekali bonceng dia tapi tak sempat menatap wajahnya sejelas ini. Entah mengapa Hana sangat bahagia, bisa menatap wajah yang sudah beberapa hari ini ia nantikan kehadiranya. Terpampang jelas wajah yang sangat memukau dengan sorot mata yang dalam dan Hana selalu merasa damai dalam tatapan itu. Mata Hana seakan tenggelam dalam kornea itu hingga tak mampu untuk berpaling.


"Sebelah sini Han." suara Bu Ida menyadarkannya untuk kembali ke alam sadar.


Entah mengapa ia selalu kehilangan kendali akan dirinya dan seakan masuk ke dimensi lain setiap bertatapan maupun membayangkan dengan sosok yang ada di dekatnya saat ini.


"A..... iya Bu." Hana berjalan melewati sang pemilik mata dan menghampiri Bu Ida.


Bu Ida memberi formulir agar Hana melengkapinya untuk pengajuan bea siswa. Bu Ida juga meminta agar ia mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade matematika. Karena memang kemampuanya dalam bidang akademik sangat menonjol dan telah diakui oleh para guru.


"Semangat ya Han, Ibu harap kamu bisa terus berprestasi. Entah itu di bidang seni lukis maupun bidang akademik."


"Ah ya Bu... terima kasih. Kalau begitu saya permisi".


Hana beranjak ingin keluar ruangan, dan sekali lagi tatapannya kembali terkunci. Ia menatap intens mata itu ada getaran aneh yang tak mampu ia jabarkan. Di balik keindahan mata itu tersirat kesedihan dan kehampaan yang tak pernah terungkap.


Kedua pasang mata itu bertatapan cukup lekat, saling mengunci dan mencoba menyelami makna di baliknya.


"Dewa..! Kamu dengar enggak kata kata Bapak sedari tadi? Saya harap ini yang terakhir." suara bariton pak Amat membuyarkan keduanya.


Mmmm ternyata namanya Dewa.

__ADS_1


__ADS_2