Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Dilema


__ADS_3

-Nanti jangan lupa pulang sekolah gue jemput loe di rumah.


-Jangan sampai lupa kayak kemarin loh.


Hana tersenyum membaca chat dari Dewa.


Dasar enggak sabaran. Tapi tumben banget chat kayak gini, apa memang ada masalah penting?


Hana menggerakkan jempolnya di ponsel, dan membalas chat Dewa.


- Iya, gue enggak bakalan lupa. Btw ada apa?


Hening, tidak ada balasan di ponselnya.


Ih, enggak dibalas lagi. Bikin gue penasaran. Tapi semoga semua baik baik saja.


 


Sore itu Hana sudah terlihat rapi dan cantik. Seperti biasa ia lebih suka tampil kasual dengan memakai celana jeans dan t-shirt. Sedikit sapuan bedak tipis menempel di wajahnya.


" Tumben jam segini sudah rapi?" ibu Hana menghampiri Hana yang tengah duduk di teras.


" Biasanya juga sudah rapi." gerutu Hana sambil tetap memainkan ponselnya.


" Wangi, mau pergi ya?" ibu Hana mengendus tubuh Hana.


" Ihhh, Ibu apaan sih?"


" Mau pergi sama Dewa?" selidik ibu Hana.


" Huum. Jangan kawatir Bu, entar Hana perginya enggak aneh aneh dan macam macam owk." tutur Hana sebelum ibunya berkata panjang lebar.


" Mau kemana?"


" Enggak tahu." Hana mengggerdikkan bahu.


" Tapi tadi di sekolah ada yang agak aneh si Bu, tiba tiba Dewa ngajak Hana jalan sepertinya ada hal yang serius deh Bu. Tapi semoga semua baik baik saja. Toh kemarin dia dan ibunya juga baru baikkan."


" Semoga saja."


Ibu Hana memegang pundak Hana lembut.


" Kamu sudah yakin dengan hatimu, bahwa kamu benar benar mencintai Dewa?" tanya ibu Hana dengan wajah serius.


" Ya." jawab Hana mantab.


" Kamu yakin bisa menerima semua masa lalu maupun kesalahan Dewa?"


" Iya Ibu, ada apa Bu kenapa tiba tiba bertanya seperti ini?"


" Enggak ada apa apa, Ibu cuma mau memastikan apa ini sekedar cinta monyet atau??"


" Atau apa? Cinta kadal?" kelakar Hana.


" Ish, kamu ini ada ada saja. Ibu hanya memastikan kalau hubungan kalian serius, soalnya ibu Dewa juga sangat mendukung hubungan kalian. Ibu enggak mau ya, di saat kedua belah pihak orang tua sudah saling mengenal dan merestui malah kalian hanya main main. Ibunya Dewa takut banget kalau sampai Dewa patah hati dan kecewa. Soalnya kalau dilihat Dewa sangat serius dengan hubungan ini. Kamu tahu sendiri kan bagaimana rasa kecewa telah menghancurkan Dewa. Sebenarnya Ibu sih juga enggak terlalu memaksa ataupun berharap banyak, mengingat umur kalian yang masih terlalu belia. Tapi kalau memang huhungan kalian bisa saling mendukung dan memberi pengaruh positif untuk kehidupan kalian mengapa tidak? Dewa ganteng, baik, ibunya juga baik banget." tutur ibu Hana.


" Jangan lupa, selain baik ibunya juga cantik banget." Hana masih saja menjawab omongan ibunya dengan gurauan.


" Kamu itu diajak ngomong serius, jawabnya kok ngaco terus. Astaghfirullahal adhimm... Berikanlah kesabaran Gusti...." Ibu Hana mendramalisir.


" Ha ha ha. Iya iya, Hana jawab dengan serius. Ibu tahu kan kalau Hana memegang teguh ucapan Rahul di Kuck Kuch Ho Ta Hai. Hidup hanya sekali, mati sekali. Menikah atau pun jatuh cinta juga hanya sekali." tangan Hana bergerak membuka lebar seakan telah menyelesaikan sebuah pertunjukan orchestra.


" Lebay kamu. Tapi di film endingnya si Rahul nikah lagi."


" Kan film, ini bukan film. Masa iya Rahul mau dibuat jadi duren terus?"

__ADS_1


Sepasang ibu dan anak itu akhirnya malah larut membahas film Bollywod. Meskipun Hana penggemar berat film action, tapi ia juga selalu mengikuti film yang dibintangi oleh Shah Rukh Khan. Entah mengapa dialog Rahul itu sangat mengena di hatinya, sehingga menjadikan SRK sebagai salah satu aktor favoritnya.


" Asaalamualaikum." suara Dewa membuyarkan percakapan Hana dan ibunya.


" Waalaikumsalam." jawab keduanya bersamaan.


" Eh Nak Dewa. Maaf saking asyiknya ngobrol sampai enggak sadar kalau ada Nak Dewa."


" Eh, enggak apa apa Tante. Kelihatannya asyik banget, lagi ngobrol apa Tan?" Dewa memcium punggung tangan ibu Hana.


" Lagi ngobrolin cowok idaman sejuta umat yang bikin emak gue klepek klepek."


" He?" Dewa tampak bingung.


" Sudah enggak usah dengerin omongan si panci."


" Panci?" Dewa tampak mengerutkan alisnya mencoba untuk berpikir.


" Hana? Oh,,,,,, jadi kalau di rumah Hana jadi panci? Ha ha ha." tawa Dewa pecah.


" Ih malah ngetawain. Sudah ayo buruan jalan." Hana terlihat kesal.


" Iya, sudah sana buruan jalan. Hana sudah lama nunggu lho. Entar kalau kelamaan takut kalau keburu asem. Sudah dibela belain mandi lebih awal." goda ibu Hana.


" Ibu....." rengek Hana.


Dewa melihat keduanya dengan perasaan yang menghangat. Dua orang yang selalu bisa membuatnya merasa DALAM keluarga. Hubungan Hana dan ibunya memang sangat dekat. Ibu Hana memang sosok ibu idaman. Ia bisa bercanda dan berdebat layaknya teman, dan juga bisa sangat bijak di saat yang diperlukan. Sangat terlihat bahwa ia merawat anak anaknya dengan penuh kasih sayang.


Kehangatan seperti inilah yang selalu gue dambakan. Hidup Hana memang sangat sempurna. Ia tumbuh dan besar di tengah tengah keluarga yang dipenuhi oleh kasih sayang yang melimpah. Semoga kelak gue bisa menjadi lelaki yang mampu menambah kesempurnaan hidup Hana. Gue harus berusaha untuk menjadi cowok yang layak buat dia. Ya, gue harus bisa memberi Hana hanya kebahagiaan bukan duka.


Setelah berpamitan Dewa dan Hana melaju di jalanan, seperti biasa masih bersama motor hitam yang selalu setia menemani. Sebenarnya Dewa mempunyai sebuah mobil Honda CRV di garasi rumahnya. Meskipun bukan termasuk mobil mewah, tapi nyatanya mobil berwarna passion red pearl itu tetap saja mampu memberi kesan glamor jika berjalan di tengah kota kecil itu. Mobil merah itu dulu sering Dewa gunakan untuk mengajak jalan cewek cewek mainannya, bahkan tak jarang mereka beradegan tak senonoh di dalamnya. Sehingga pantang bagi Dewa untuk mengajak Hana naik mobil pemberian ibunya yang ia dapat di ulang tahunnya setahun yang lalu itu. Entah mengapa ada rasa malu dan tidak rela di hati Dewa jika Hana harus duduk di tempat bekas adegan yang menjijikkan yang sering ia lakukan dulu.


" Kita mau kemana?" tanya Hana yang tengah duduk di belakang sembari memeluk pinggang Dewa.


" Pantai."


Dewa menambah kecepatan motornya. Si Hitam melesat cepat membelah jalanan. Hana mengeratkan pelukannya. Udara sore menerpa tubuh mereka berdua.


" Ini mau kemana? Kayaknya bukan jalan ke pantai deh?" tanya Hana saat motor tidak melaju di jalan yang biasa Hana lalui untuk ke pantai.


" Sudah tenang saja, kita enggak nyasar kok. Kita akan ke pantai yang biasa gue datangi, di sana masih sangat bersih karena masih banyak orang yang tidak tahu keberadaannya. Itu tempat favorit gue, loe pasti akan suka." jawab Dewa sambil menolehkan kepalanya ke belakang, sontak wajah mereka berdekatan.


Hana menundukkan wajahnya karena malu. Meskipun sudah sering jalan bareng tapi tetap saja wajah Hana bersemu jika harus berdekatan seperti ini. Detak jantung dan aliran darahnya juga semakin cepat.


" Sudah enggak usah tengok tengok, fokus saja ke jalanan." tutur Hana untuk menutupi kegugupannya.


Dewa kembali fokus ke depan menatap jalan di depannya.


" Awas pegangan yang kuat, gue kebut nih." Dewa mengencangkan tarikan gas di tangannya.


Setelah melewati jalan setapak di antara semak belukar, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.


Terlihat hamparan pasir dan air yang membentang luas. Udara sore pantai berhembus di wajah mereka. DAMAI itulah kesan pertama yang muncul saat menyaksikan keindahan alam itu. Sungguh ciptaan Tuhan memang selalu mengagumkan.


Dewa meletakkan asal motornya di tepi pantai karena memang tidak ada tempat parkir, maklum tempat itu benar benar masih alami, seperti belum terjamah oleh tangan manusia. Di sana tidak ada pengunjung lain hanya ada mereka berdua.


Hana berlari ke bibir pantai dengan semangat, matanya tampak berbinar.


" Wow, ini indah banget!" teriak Hana kegirangan merentangkan kedua tangannya.


" Udaranya juga masih sangat bersih, air dan pasirnya juga. Tempat ini benar benar mengagumkan."


Hana tidak bisa menahan diri untuk tidak menceburkan tubuhnya ke dalam air yang tampak kebiruan itu. Ia menanggalkan jaketnya tergesa dan segera menyatu dengan hamparan air yang kini tengah mengelilinginya.


Dalam diam Dewa terus memandangi pemandangan indah di depan matanya itu. Jantungnya terasa berdegup kencang melihat Hana yang terlihat begitu gembira bermain di dalam air sampai mengabaikan keberadaannya.

__ADS_1


Setelah lelah dan merasa puas bermain dalam air, Hana berjalan menghampiri Dewa yang sedari tadi tengah duduk di sebuah batang pohon kelapa yang tergeletak di tepian pantai. Pandangan Dewa terpaku tak mampu berpaling dari tubuh Hana.


" Loe sengaja ya?" tanya Dewa datar.


" Sengaja? Sengaja apa?" tanya Hana yang bingung dengan arah pembicaraan Dewa.


" Sengaja menggoda gue." sorot mata Dewa tajam seperti siap menerkam.


" Hah? Menggoda?" Hana masih terlihat bingung.


Dewa menghela nafas dalam dan menghembuskannya kasar, tiba tiba sebuah seringai muncul di wajahnya. Tangan Dewa mengarahkan telunjuknya ke arah dada Hana.


Hana menundukkan pandangannya mencari tahu apa yang dimaksud Dewa.


" AAAAAA...!!!!" teriak Hana histeris saat melihat objek yang dimaksud. Tampak jelas terpampang bentuk dan warna bra Hana dibalik kaosnya yang basah. Hana menyilangkan kedua tangannya berusaha untuk menutupi dua gundukan di tubuhnya itu.


" Sudah enggak usah ditutupi. Dari tadi gue sudah melihatnya kok." Dewa tersenyum geli.


" Loe...!! Shittt...! Dasar loe memang cabul." Wajah Hana merah padam seperti kepiting rebus, menahan rasa malu yang teramat.


" Kok gue sih? Dari tadi gue kan diam saja duduk di sini. Kan loe sendiri yang menyuguhkan pemandangan indah di depan mata gue. Ya gue lihat lah, masak iya gue tolak? Mubadzir dong, secara loe tahu sendiri kalau iman gue cetek. Lagian sudah tahu pakai kaos warna putih kenapa main air? Kan jadi transparan." Dewa menutupkan jaket Hana yang tadi sempat ditanggalkan sebelum main air dengan penuh kasih sayang.


" Ayo duduk sini." tangan Dewa menarik Hana untuk duduk di sampingnya.


Rona wajah Hana masih terlihat merah, ia tidak mampu menutupi rasa malunya.


" Gue ingin ngomong sesuatu, Han." Hana menoleh ke samping, raut muka Dewa terlihat berubah serius.


" Ada apa? Semua baik baik saja kan?"


" Ya, semua baik bahkan sangat baik. Gue bingung harus mulai bicara dari mana." Dewa tampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


" Hai, what is wrong?" Hana terlihat cemas.


Dewa meraih tangan Hana dan menggenggamnya erat.


" Loe percaya sama gue kan?"


Hana tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala saja. Netranya masih menatap lekat ke mata Dewa.


" Loe adalah anugerah terindah dari Tuhan. Hadir loe mampu menghadirkan warna di kehidupan gue yang gelap. Loe dan keluarga loe bisa membawa gue keluar dari jurang keterpurukan dan berubah menjadi orang yang lebih baik. Bahkan berkat loe juga gue bisa memperbaiki hubungan gue dengan ibu gue. Karena loe gue bisa melihat hidup ini dari sisi yang lebih indah. Mungkin ini memang terdengar klise, tapi sungguh ini semua dari hati gue. Saat semua orang menganggap brengsek dan mencat hitam gue, loe mampu meyakinkan gue bahwa gue orang yang baik yang tersesat untuk sesaat. I love you so much Hana." Dewa kembali menciumi tangan Hana.


Hana diam mematung mendengar semua ungkapan hati Dewa. Ia tidak menyangka bahwa posisinya di hati Dewa begitu istimewa jauh melebihi ekspektasinya.


Terlihat wajah Dewa berubah sendu.


" Besok__ gu_gue harus pindah ke luar kota ikut ibu gue." suara Dewa sedikit bergetar.


" Deg...!" perkataan Dewa benar benar seperti palu besar yang tiba tiba dihantamkan ke tubuh Hana. Dada Hana terasa sesak jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuhnya terasa lemas seakan kekurangan pasokan oksigen. Ia berusaha keras menahan genangan air mata yang tiba tiba memanas mendesak ingin keluar. Mulut Hana terkunci rapat tak mampu mengeluarkan suara.


" Kemarin malam suami ibu gue, maksud gue ayah sambung gue datang ke rumah untuk menjemput gue dan ibu gue pulang ikut bersamanya." Dewa melanjutkan ceritanya.


Awalnya Dewa memang menolak tawaran ayah sambungnya untuk pindah dari tempat tinggalnya sekarang dan tinggal bersama ibu dan dirinya. Namun setelah mendengar penjelasan dan bujukan dari ibu dan ayahnya akhirnya Dewa menyetujuinya. Alasan Dewa untuk tidak bisa pergi adalah Hana, dan alasan Dewa berubah pikiran menjadi setuju juga karena Hana.


" Kamu itu laki laki yang kelak akan menjadi tulang punggung dan penopang keluarga. Jadi kamu harus berusaha keras untuk bisa menjadi layak dan sukses. Kamu bilang kamu mencintai Hana dan tidak bisa hidup tanpanya. Terus kalau kamu hanya seperti ini, memangnya kelak kamu bisa kasih Hana apa? Kamu mau membuat Hana menderita? Hanya bermodal cinta kamu kira bisa menghidupi Hana dan memberinya kehidupan yang layak? Open your mind... Kamu enggak bisa hanya mengandalkan kiriman uang dari ibumu. Inilah saatnya kamu berusaha untuk kebahagiaan Hana kelak. Ikut bersama kami belajar sungguh sungguh dan raih suksesmu. Kamu sudah 19 tahun, sudah waktunya kamu mulai merintis. Nanti kamu bisa membantu dan belajar di perusahaan ayah. Setelah kamu sukses baru kamu jemput Hana untuk memberinya kebahagiaan. Bagaimana deal?" ucapan ayah sambung Dewa yang membuka pikiran Dewa untuk setuju tinggal bersamanya.


Ayah sambung Dewa adalah seorang lelaki yang baik. Ia menerima Dewa dengan tangan terbuka tidak membedakannya dengan anak kandungnya sendiri. Ia meminta Dewa dan anak kandungnya untuk tinggal bersama layaknya keluarga yang utuh agar mereka bisa belajar untuk mengelola perusahaan bersama.


" Bagaimana? Boleh kan gue tinggal bersama ibu dan ayah sambung gue?" tanya Dewa menatap tajam ke manik Hana.


" Ini semua demi masa depan kita kelak. Gue hanya mau memberi loe kebahagiaan bukan duka karena selama ini loe telah memberi gue kebahagiaan. Jadi sudah seharusnya gue membalasnya kan?" ucap Dewa memelas.


Hana menganggukkan kepalanya pelan disertai dengan derai air mata yang telah membasahi pipinya.


Rasanya berat banget harus berpisah dengan Dewa. Tapi gue enggak boleh egois. Gue enggak boleh menjadi penghalang Dewa dan orang tuanya, terlebih penghalang untuk cita citanya.

__ADS_1


Gue harus kuat. Apalagi ini kesempatan bagi Dewa untuk bisa berkumpul dengan ibu dan ayahnya. Meskipun bukan ayah kandung tapi gue yakin dalam hati Dewa pasti sangat bahagia bisa menemukan sosok seorang ayah.


__ADS_2