
Yusuf segera bergegas ke rumah Dewa setelah mendapat kabar dari ayahnya bahwa Dewa telah pulang ke Indonesia. Ia memesan taksi online untuk mengantarnya ke rumah saudara tirinya itu.
Kurang dari satu jam Yusuf telah sampai di depan rumah Dewa.
Jadi ini rumah Dewa? Lumayan juga seleranya. Ngomong ngomong dia keterlaluan banget, sudah sampai di Indonesia tapi tidak mengabariku? Aish, dia anggap apa aku ini. Kalau tahu semalam dia sudah di sini aku tidak perlu menginap di rumah om dan tante.
" Maaf Mas, Anda siapa ya? Ada keperluan apa?" tanya pak Solih yang menghampirinya di pintu gerbang.
" Saya Yusuf pak, saudaranya Dewa. Dewa ada di dalam kan?"
" Oh maaf Mas, saya enggak mengenali Mas. Maklum kita belum pernah ketemu. Ayo silahkan masuk. Mas Dewa tadi pagi berpesan kalau ada Mas datang langsung disuruh masuk." pak Solih membukakan gerbang dan mempersilahkan Yusuf masuk.
Jadi Dewa sudah tahu kalau aku bakalan ke sini?
" Mari Mas saya antarkan ke dalam. Mas Dewa ada di dalam."
" Enggak perlu repot repot Pak, nanti saya masuk sendiri saja. Ngomong ngomong Dewa kemarin sampai di sini jam berapa Pak?"
" Mas Dewa semalam tiba jam 9an. Tapi langsung pergi bawa motor, terus baru pulang tadi pagi." tutur pak Soleh.
" Ya sudah terima kasih saya masuk dulu ya Pak." Yusuf melenggang masuk ke rumah Dewa.
Dia berkeliling rumah seolah rumahnya sendiri.
Kok sepi , Dewa di mana ya? Tadi katanya ada di rumah.
Kaki Yusuf terus melangkah menyusuri tiap ruangan dalam bangunan bernuansa putih itu.
" Maaf Mas siapa ya?" tanya mbok Mira saat berpaspasan dengan Yusuf.
" Oh, perkenalkan saya Yusuf saudaranya Dewa. Dewa di mana ya mbok kok sepi?"
" Mas Dewa ada di belakang Mas, di kolam renang." jawab mbok Mira dengan sopan.
" Terima kasih ya Mbok. Saya susul Dewa ke sana dulu."
" Silahkan Mas, saya lanjut beres beres rumah dulu ya Mas." mbok Mira meninggalkan Yusuf untuk melanjutkan pekerjaannya.
Langkah Yusuf sempat terhenti sejenak saat samar samar mendengar teriakan suara wanita.
Suara seorang wanita? Busyet Dewa gercep banget langsung bawa wanita ke rumah. Jangan jangan ini suara ceweknya Dewa? Aku jadi penasaran. Tapi kenapa suaranya kayak enggak asing ya?
Yusuf menajamkan pendengarannya mencoba untuk memastikan suara yang terasa familiar itu.
__ADS_1
Mata Yusuf terbelalak lebar saat melihat sosok wanita yang tengah dicumbu mesra oleh Dewa.
" HANAAA...?!!!" pekiknya keras. Tubuhnya membeku di tepi kolam. Tangannya mengepal erat menahan amarah. Tiba tiba dadanya bergemuruh hebat. Ingin rasanya ia menyangkal bahwa sosok di depannya bukanlah sahabat yang ia cintai dalam diam.
Dewa dan Hana tersentak kaget.
" Yu_ Yusuf..?" Hana mengerjap ngerjapkan matanya. Rasa malu melanda dirinya.
Dengan ragu ragu Hana keluar dari kolam renang, berjalan perlahan mendekati Yusuf sembari menundukkan wajahnya. Dia sudah seperti murid yang yang tertangkap basah mencontek oleh gurunya, bedanya dia benaran tertangkap basah dalam keadaan basah.
" Kapan datang?" tanya Dewa tanpa rasa bersalah sambil memakaikan handuk di pundak Hana.
" Buggghhhh...!!!" bogem Yusuf tanpa permisi telah mendarat di wajah Dewa.
" Berengsekkkk....!!! Berani beraninya kamu..!"
Tubuh Dewa terhuyung, sudut bibirnya mengeluarkan darah segar.
" AAAAA.... !!!!" teriak Hana histeris.
" Yusuf apa yang kamu lakukan?!"
" Hana kamu enggak apa apa kan? Si berengsek ini enggak ngapa ngapain kamu kan?" Yusuf memandangi Hana dengan penuh rasa khawatir.
" Kamu enggak apa apa kan?" Hana mengamati wajah Dewa dengan seksama.
" I' m fine. Jangan khawatir pukulan seperti ini enggak akan berhasil menyakitiku." Dewa mengelap sudut mulut dengan ibu jarinya.
" Kalian?" Yusuf memandang sahabat dan kakak tirinya dengan tatapan penuh tanya.
" Dia calon suamiku."
" Dia calon istriku." jawab Hana dan Dewa hampir bersamaan.
" What??? Oh shitt.... Kalian benar benar telah membuat aku seperti orang bodoh. Saudara dan sahabatku adalah sepasang kekasih, dan aku sama sekali tidak tahu? Damn..." Yusuf terlihat sangat kesal. Matanya memerah menahan amarah, sedih, dan rasa kecewa.
"Yusuf kenapa kamu terlihat marah? Aku tidak bermaksud merahasiakannya darimu, hanya saja aku pikir akan memberimu kejutan soal hubunganku dengan Dewa. Bukankah seharusnya kamu senang karena kita akan segera menjadi saudara ipar?"
Ya, Hana benar tidak seharusnya aku marah. Mengapa aku harus marah? Toh aku tidak punya hak untuk melarang Hana ingin mencintai siapa. Dan sialnya cintanya bukan untukku tapi untuk Dewa. Bukankah memang seharusnya aku bahagia karena Hana dan Dewa akan segera menikah. Dan aku akan segera menjadi saudara iparnya. Heh... saudara ipar....??
Yusuf menghela nafas dalam dan menghembuskannya pelan. Secara perlahan emosinya mulai mereda.
" Ya kamu benar Hana, aku memang seharusnya bahagia karena kita akan segera menjadi saudara ipar. Aku hanya agak terkejut tadi melihatmu berciuman dengan Dewa. Aku enggak nyangka saja kamu mau dengan mantan palyboy seperti dia." Yusuf menatap Dewa dengan tatapan tajam.
__ADS_1
" Hey come on, enggak usah bawa bawa masa lalu. Lebih baik mantan playboy dari pada calon playboy kan? Dan kamu masih hutang maaf padaku karena tadi sudah memukulku tiba tiba." ucap Dewa sembari melepas kaosnya yang basah.
Tubuh atletis Dewa terpampang indah tanpa pakaian. Dadanya lapang dan otot perutnya terbentuk sempurna. Lengan dan punggungnya terlihat kekar dengan otot yang pas. Bentuk tubuh Dewa memang sangat mengagumkan, tampak sekali kalau ia rajin berolah raga merawat tubuhnya.
" Dewa apa yang kau lakukan? Cepat pakai kembali bajumu!" Hana menutup mata dengan kedua tangannya. Walaupun tidak bisa Hana pungkiri bahwa tubuh Dewa yang basah dan tanpa pakaian adalah pemandangan yang sangat mengagumkan dan sayang untuk dilewatkan. Namun akal sehat dan rasa malu Hana masih mampu menahan gejolak hatinya.
Sial...! Tidak hanya memiliki wajah yang tampan, bentuk tubuhnya juga sangat sempurna. Dewa penampilanmu memang sangat menggoda. Kalau saja tidak ada rasa malu ingin rasanya aku membelai dada dan perutmu yang sungguh sangat seksi....
Astaghfirullah.... Apa yang telah aku pikirkan? Mengapa pikiranku jadi tertular mesum seperti ini?
Dan tadi.... Kami berciuman panas di kolam...?
Ternyata memang benar, jika ada lelaki dan perempuan berduaan maka akan ada pihak ketiga yaitu setan untuk mengajak berbuat maksiat.
Apa yang telah aku lakukan? Maafkan kekhilafanku Ya Allah..
" Heh kenapa buka baju? Mau pamer bentuk tubuh? Di sini bukan kamu saja yang punya otot perut seperti itu. Cepat pakai kembali bajumu."
" Hana kamu baik baik saja kan?" Yusuf memeluk wanita yang notabenya adalah calon kakak iparnya.
" Hah..?" Hana terkesiap dan tersadar dari lamunannya yang melanglang buana.
" Hei, apa yang kau lakukan? Mengapa kau memeluk calon istriku?" Dewa menarik tangan Hana ke arahnya.
" Aku hanya melindungi Hana agar matanya tidak ternodai. Lagipula kami sahabat dekat apa salahnya kalau aku memeluknya? Kemarin Hana juga menyambut kedatanganku dengan sebuah pelukan hangat. Apa salahnya, benar kan Hana?"
" What? Benarkah itu? Kamu menyambut kedatangan Yusuf dengan sebuah pelukan hangat namun menyambutku dengan sebuah bantingan yang menyakitkan?!"
" Aisshhh kenyataan ini sungguh sangat menyakitkan."
" Yusuf memang sahabat baikku, apa salahnya aku menyambut kedatangannya dengan sebuah pelukan?"
" Dan mengenai semalam aku sudah minta maaf kan. Lagian salah kamu sendiri mengapa mengagetkanku seperti pencuri...?"
" Ha ha ha, jadi kedatanganmu disambut dengan bantingan? Pasti sakit ya, ha ha ha." Yusuf tertawa puas.
" Pastinya sih sakit, soalnya aku membantingnya dengan segenab tenaga."
" Ha ha ha..." Hana dan Yusuf tertawa bersama.
" Diam kalian....!" bentak Dewa.
Aku harus terbiasa dengan keadaan ini. Jika memang Dewa adalah pelabuhan hati Hana aku akan mencoba untuk rela. Meskipun nanti pada akhirnya aku hanya bisa menjadi saudara ipar, tapi aku akan tetap menjaga dan menyayangi Hana segenap hati.
__ADS_1