
Mata Dewa berbinar saat melihat kekasih hati duduk bersama dengan ibunya. Kehadiran Hana sungguh memberi semangat dan energi baru setelah seharian berkutat dengan seabrek pekerjaan yang menguras tenaga dan pikirannya. Dalam sekejap rasa capek dan pening menghilang begitu saja.
" Sayang, kamu kapan datang? Ini surprise banget." tanya Dewa dengan sumringah.
Wajahnya tampak berseri penuh dengan kesegaran. Meskipun hanya memakai kaos polos yang melekat sempurna di tubuh atletisnya dan celana kolor selutut namun tetap saja kadar kegantengannya tidak berkurang sedikit pun. Dewa berhambur ke arah Hana merentangkan tangannya berniat untuk memeluk gadis yang dua minggu lagi akan sah menjadi istrinya.
" Stop....! Don't touch me..!" Hana menghindar memberi jarak di antara mereka.
" Eh? Why..?" Dewa tampak bingung dengan penolakan Hana.
" Enggak usah peluk peluk aku." ketus Hana.
" Kamu kenapa sih Yank?"
" Apa yang terjadi dengan Hana Bu?" tanya Dewa ke ibunya, namun ibunya hanya mengerdikkan bahu tanda tak tahu menahu.
" Ini, kenapa banyak barang barang di sini? Ibu habis belanja ya?"
" Enggak, ini semua Hana yang bawa. Ini lihatlah Hana memberi Ibu banyak hadiah. Pilihan Hana bagus kan? Semua cocok dengan selera Ibu." ibu Dewa memperlihatkan barang barang pemberian Hana dengan bangga.
" Bagus..... Ini semua tampak cocok untuk Ibu. Tapi kenapa Hana sekarang terlihat marah?" Dewa mencuri pandang ke arah Hana yang sedari tadi menatapnya dengan tajam terlihat sangat kesal.
Ini kenapa sih? Aku salah apa? Kenapa Hana tiba tiba menatap aku seperti ini?
" Kamu kenapa sih Yank? Aku ada salah?" tanya Dewa dengan lembut.
" Tebak saja sendiri."
" Ya sudah aku minta maaf ya... jangan marah lagi, jangan manyun seperti itu dong.... Nanti cepat tua lho." bujuk Dewa sekenanya.
" Buat apa minta maaf kalau kamu saja enggak merasa bersalah." jawab Hana jutek.
" Bu, Hana kenapa sich kok jadi marah marah?" bisik Dewa ke ibunya.
" Enggak tahu, tadi dia baik baik saja kok. Ngobrol biasa malah sambil bercanda."
" Terus kenapa sekarang marah?"
" Enggak usah bisik bisik, aku masih bisa dengar." ketus Hana yang membuat Dewa meringis.
Hana galak banget, apa lagi dapet ya? Biasanya cewek kan kalau lagi dapet bawaanya marah melulu.
__ADS_1
" Yank sudah dong manyunnya. Kalau kamu enggak cerita bagaimana aku bisa tahu salah aku dimana?"
" Iya sayang, kamu kenapa enggak baik lho kalau calon pengantin marah marah enggak jelas." ibu Dewa ikut membujuk calon mantunya.
" Habis Dewa ngeselin..... Aku sudah capek capek bela belain ke sini bawain hadiah. Tapi tadi dia malah enggak ngenalin aku, malah tadi di gerbang dia klasonin aku keras banget biar cepetan minggir." cerocos Hana menumpahkan kekesalannya. Sebenarnya sebelum ibu Dewa cerita, Hana tidak tahu bahwa pengendara mobil yang menglaksoni dirinya sampai membuatnya kaget adalah Dewa.
" A_aku nglaksonin kamu? Di gerbang?" Dewa mencoba mengingat.
" Kamu, mbak kurir yang tadi menghalangi di gerbang ya?"
" Tuh kan Bu, dia enggak ngenalin aku. Malah nganggap aku sebagai mbak mbak kurir." rengek Hana.
" Eh sudah, enggak usah ngambek lagi dong. Kan Dewa enggak sengaja, lagian kamu juga kenapa bawa barang sebanyak itu naik motor? Kan bahaya." ibu Dewa mencoba meredam kekesalan Hana.
" Ya sudah ibu tinggal ke kamar ya, mau naruh barang barang dulu. Jangan lupa cokelat angetnya diminum biar pikirannya anteng." ibu Hana berlalu ke kamar memberi ruang untuk Hana dan Dewa.
Hana agak terkejut saat netranya bertemu dengan netra Dewa yang tengah menatapnya tajam.
Kenapa Dewa melihatku seperti itu. Apa dia marah? Tapi marah untuk apa, seharusnya kan aku yang masih marah?
" Kenapa kamu menatapku seperti itu?" lirih Hana sambil menundukkan pandangannya.
" Kenapa?" nada Dewa terdengar marah.
" Kenapa aku marah? Kamu enggak nyadar? Ngapain kamu keluyuran malam malam naik motor dengan barang bawaan sebanyak itu? Bahaya, tau enggak!?" bentak Dewa, dadanya terasa bergemuruh membayangkan bagaimana perjalanan yang telah Hana lalui.
Kok Dewa jadi lebih galak dari aku?
" Aku_" jawab Hana terbata, nyalinya tiba tiba menciut menghadapi kemarahan Dewa.
" Ma_ maaf. Aku kan cuma mau ngasih hadiah ke kamu dan ibu." jawab Hana masih tetap menundukkan kepalanya.
" Hahh...." Dewa menghela nafas dalam.
" Maafkan aku, tidak seharusnya aku marah terhadapmu. Tapi perbuatanmu barusan benar benar bahaya. Jangan diulangi lagi ya, lain kali kamu kan bisa nelfon aku untuk menjemput atau kalau enggak kamu juga bisa pesan taksi online kan?" lirih Dewa sambil merengkuh tubuh Hana ke dalam pelukannya. Diciumnya pucuk kepala Hana berkali kali.
" Maaf ya, aku enggak bermaksud marah sama kamu."
" Iya, maafin aku juga. Tapi jangan marah lagi...." dengus Hana dalam dekapan Dewa. Hana melingkarkan tangannya di tubuh kekasih hatinya.
" Eh tapi tadi kamu memang sangat mirip dengan kurir pengantar paket." goda Dewa.
__ADS_1
" Tuh kan..... Kamu jahat banget masak nganggap aku mbak mbak kurir." Hana mengurai pelukannya dan beringsut duduk di sofa.
" Ha ha ha, habis kamu juga bandel. Ngapain kamu naik motor malam malam? Ini yang terakhir ya, enggak ada lain kali." ancam Dewa.
Kok jadi posesif gini sich, apa salahnya naik motor? Dewa juga senang naik motor kenapa melarang aku?
" Tunggu, kenapa harus yang terakhir? Apa salahnya naik motor? Kenapa kamu jadi melarang aku naik motor?" cerocos Hana yang enggak terima jika harus dilarang naik motor.
" Bukannya enggak boleh. Cuma enggak boleh naik motor dengan beban segitu banyak apa lagi malam hari. Bahaya tau Yank? Kamu kan tahu sendiri kalau motor bukan kendaraan pengangkut barang? Terus kamu kan cewek masak naik motor sendirian malam malam kan bahaya." Dewa mencoba menjelaskan alasan yang masuk akal.
" Apanya yang bahaya? Aku jago taekwondo, kamu juga tahu sendiri bagaimana kehebatanku." sanggah Hana.
" Mmmmhhh." Dewa melu*at bibir Hana dengan lembut, membuat pemilik bibir diam mematung seketika.
" Masih tetap mau ngeyel?" wajah Dewa menyeringai.
Hana dengan cepat menggelengkan kepalanya. Meskipun sudah beberapa kali bibirnya menyatu dengan milik Dewa namun tetap saja jantungnya berdetak tidak karuan saat bibir Dewa menyentuh bibirnya. Pipinya masih saja memerah karena malu.
" Bagaimana? Sudah setuju untuk tidak naik motor seperti tadi lagi?"
" I_ iya."
" Janji enggak akan ngulangi?"
" Janji."
" He he he, kamu lucu kalau lagi gugup seperti itu. Oh by the way itu semua hadiah buat aku kan?" Dewa terkekeh.
" Iya." jawab Hana singkat.
" Jawabnya enggak asyik banget cuma satu kata satu kata doang."
" Ishhhh, kamu....?!" Hana mengepalkan tangannya dengan erat ia merasa telah dipermainkan. Bibirnya tersenyum sinis.
" Kenapa Yank, enggak terima ya? Atau mau dicium lagi yang lebih lama dan dalam? Tapi aku enggak jamin kalau bisa berhenti di ciuman saja ya." Dewa mengerlingkan sebelah matanya penuh dengan maksud.
" DEWA.....!!! DASAR OTAK MESUM....!" Hana memukul Dewa dengan paper bag berisi baju berulang kali.
" Apanya yang mesum? Aku kan cuma menawarkan diri, siapa tahu kamu juga mau. Ha ha ha." Dewa tertawa sambil berlari mencoba menghindari pukulan Hana.
" Awas kamu ya, enggak usah lari. Katanya mau lebih dari ciuman. Sini aku kasih. Jangan lari lagi...!" Hana terus mengejar Dewa.
__ADS_1
Diam diam ibu Dewa mengawasi keduanya dengan senyum yang terus berkembang. Ia sangat bahagia melihat kebersamaan Hana dan putranya.
Semoga kalian selalu bersama selamanya. Terima kasih Ya Alloh Engkau telah mengganti air mata kesedihan dengan tawa bahagia. Terima kasih karena Engkau telah mengirimkan Hana untuk Dewa, tolong jagalah keduanya selalu.