
Setelah melewati sedikit drama akhirnya Dewa menikmati makan malam ditemani Hana yang duduk di sampingnya. Bukan menu yang mewah ataupun istimewa hanya sekedar nasi goreng buatan ibu Hana ditambah dengan telur ceplok dan sosis goreng. Dewa sangat lahap menyantap makanan itu. Maklumlah selain lapar dia juga sudah lama tidak menikmati menu masakan rumah tersebut.
Mata Hana terus terpaku menatap sosok Dewa yang tengah memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.
" Memang enak banget ya? Kamu makan sampai segitu lahapnya?" tanya Hana melihat kekasih hatinya telah menghabiskan nasi goreng dengan porsi yang lumayan banyak.
" He he iya ini enak banget. Masakan ibu kamu memang selalu juara. Jadi enggak sabar pengen cepat cepat jadi mantunya, biar bisa makan masakannya tiap hari." goda Dewa.
" Cih, kamu anggap ibu aku koki? Kalau mau makan masakan ibu tiap hari ya sudah sana kamu nikahin ibu saja." cibir Hana.
" Ihhh raja tega masak aku datang jauh jauh buat kamu malah disuruh nikah sama ibu kamu. Ckckck kamu memang tidak berperikemanusiaan. Aku kan cinta matinya sama kamu." Dewa mengedip ngedipkan matanya.
" Apaan sich, gombal banget."
" Kok gombal sich, serius lho yank. Aku bela belain ngebut kerjaan aku biar bisa cepat pulang agar bisa ketemu sama kamu. Aku kangen banget sama kamu. Kamu kangen enggak?" mata Dewa menatap intens ke manik Hana.
Hana tersipu malu, tanpa sadar bibirnya menyunggingkan sebuah senyum.
Dewa meraih tangan Hana dan mengecup jemarinya. Keduanya diam, seakan tak butuh kata kata untuk mengungkapkan perasaan di hati. Tatapan mata mereka sudah saling bicara seberapa besar cinta dan kerinduan yang mereka pendam.
" Ayo cepat kita ambil gambar dulu reka adegan penyematan cincin." ucap ibu Hana mengejutkan keduanya. Sontak membuat Hana menarik tangannya dari genggaman Dewa.
" Reka adegan?" tanya Hana sedikit gugup takut kalau ibunya memergokinya sedang bergandengan tangan dengan Dewa.
" Iya, tadi ibu sudah ngomong kan. Ayo cepat kita ke ruang tamu saja biar viewnya lebih bagus kalau di kamera." ibu Hana berlalu menuju ke ruang tamu.
" Aku beresin meja makan dulu sebentar Bu." Hana membersihkan piring bekas makan Dewa.
Seperti seorang sutradara ibu Hana memberi arahan ke Dewa dan Hana untuk bergaya di depan kamera. Dengan berbekal sebuah ponsel ia berusaha membuat video dan gambar yang menarik.
" Ayo cepat mulai, Hana kamu berdiri di sebelah sana biar backgroundnya terlihat bagus. Dan Dewa kamu mulai berjalan dari arah sana. Jangan lupa ekspresi wajahnya harus sama seperti tadi." Ibu Hana sibuk mengarahkan anak dan calon menantunya. Ayah Hana hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya.
" Ayah ingat, kamu jangan bersuara atau mengganggu ya.... And Actionnn....!" seru ibu Hana.
Dewa mencoba mengikuti kemauan calon ibu mertuanya. Ia berjalan ke arah Hana dan jongkok di depan Hana.
" Mikayla Hanania, will you marry me?"
" Cut.. cut ...cut.....!"
" Dewa cincinnya mana?"
Dewa meringis memperlihatkan deret giginya sembari menggaruk garuk kepalanya yang tidak terasa gatal.
" Cincinnya kan sudah di jari Hana. Masak harus dilepas lagi? Pamali dong Tante." ucapnya datar.
" Ya Alloh Gusti..."Ibu Hana menepuk jidadnya sendiri.
" He he he..." Hana dan Dewa terkekeh bersama.
" Cut..... Sempurna....!" suara ayah Hana membuat semua memandang ke arahnya.
" Kenapa? Itu adegan yang bagus kok. Ayah sudah merekamnya. Hasilnya bagus, natural dan menghibur. Ha ha ha." ayah Hana menunjukkan hasil rekaman di ponselnya.
" Bagus sih bagus tapi ibu kan pengen buat video yang romantis, bukan malah seperti itu." ibu Hana terlihat kecewa.
__ADS_1
" Sudah, yang penting kan momentnya bukan videonya. Lagian ibu itu aneh aneh saja, masak adegan seperti itu disuruh mengulang, feelnya beda dong." bujuk ayah Hana yang melihat istrinya terlihat manyun.
" Iya ibu memang aneh, masak mau disamain kayak kasus pembunuhan saja disuruh reka adegan." cibir Hana.
" Ya sudah kalau begitu kita foto saja. Hana dan Dewa cepat kalian berfose yang bagus."
" Tunggu, tunggu. Hana kamu kayaknya harus ganti baju deh, masak mau foto romantis pakai baju tidur gambar doraemon pula."
" Ckk...Ibu..... ini sudah jam berapa? Kalau mau foto cepat begini saja. Pakai apa saja aku juga cantik kok. Iya kan ayah?" Hana meminta dukungan ayahnya.
" Iya Bu, kasihan nak Dewa ini sudah malam. Kamu mbok enggak usah aneh aneh."
" Iya iya.... Kalau begitu ya sudah seadanya saja lah." ibu Hana mengalah.
Dewa tersenyum bahagia melihat keriuhan keluarga Hana. Inilah yang selama ini ia rindukan kehangatan keluarga yang siapa pun melihatnya akan ikut merasa kehangatan di hatinya.
Bak seorang fotografer, ibu Hana mengarahkan Hana dan Dewa untuk berfose sesuai dengan keinginannya. Dengan sumringah ia mengambil gambar kebersamaan Hana dan Dewa dengan ponselnya.
" Sekarang kamu cium kening Hana, yang mesra ya." ucapan ibu Hana membuat pipi Hana merona menahan malu.
" Ibu apa apaan sih, mereka kan belum muhrim. Enggak ada acara cium cium." cegah ayah Hana.
" Ayah yang apa apaan kayak enggak pernah muda saja. Dulu ayah juga ci_" ayah Hana membungkam mulut istrinya yang membuat si pemilik mulut tidak mampu melanjutkan kata katanya.
Ibu Hana menampik tangan ayah Hana.
" He he maaf ya Bu, ayah enggak sengaja. Habis Ibu kalau ngomong suka ngelantur kemana mana." nyali ayah Hana menciut setelah mendapati tatapan mematikan dari istrinya.
" Ya sudah terserah ibu, silahkan lanjut prosesi pengambilan gambarnya. Hana, Dewa, kalian ikuti saja arahan ibu ya."
" Eh kamu sudah ngantuk?" ibu Hana melirik jam di dinding.
" Ya Alloh Gusti, sudah jam 00.30. Kamu pasti sudak ngantuk dan capek ya? Maafin tante yang lupa waktu ya. Kamu kan habis perjalanan jauh. Ya sudah kita akhiri saja foto fotonya. Ini gambarnya juga sudah lumayan banyak."
" Kamu sebaiknya cepat pulang deh. Ini sudah sangat larut. Kamu pasti capek banget ya?" ucap Hana merasa kasihan melihat mata Dewa yang sudah memerah. Wajah Dewa juga terlihat sangat letih.
" Hmmmm." jawab Dewa singkat.
" Kamu masih bisa naik motor sendiri kan?" tanya Hana khawatir.
Dewa hanya mengangguk, kepalanya terasa berat dan pusing. Mungkin akibat dari rasa capek dan kantuk dari perjalanan yang memakan waktu seharian.
"Apa lebih baik Dewa menginap di sini saja Yah? Ibu kok enggak tega kalau dia harus naik motor dengan kondisi seperti itu. Wajahnya terlihat capek banget lho Yah. Apalagi di rumahnya juga tidak ada orang tuanya." Ibu meminta persetujuan suaminya.
" Ya sudah, Dewa biar tidur di kamar tamu saja. Ayah juga takut kalau terjadi apa apa di jalan." ayah Hana menyetujui usul istrinya.
" Nak Dewa kamu enggak usah pulang, menginap di sini saja. Nanti kamu tidur di kamar tamu ya. Ayo saya antar."
" Terima kasih Om, maaf saya malah merepotkan. Tapi saya memang benar benar ngantuk dan capek Om." jawab Dewa agak sungkan.
" Hana, Tante, saya permisi tidur dulu. Selamat malam." pamit Dewa. Tanpa sepengetahuan orang tua Hana, Dewa mengedipkan sebelah matanya ke Hana.
Hana hanya melototkan matanya, namun hatinya merasa berbunga bunga.
Apaan sich Dewa, pakai main mata segala. Tapi dia memang terlihat sangat tampan dan menggemaskan. Wajahnya jauh lebih tampan saat bertemu langsung.
__ADS_1
Dewa berjalan mengekor ayah Hana menuju ke kamar tamu. Hana dan ibunya juga beranjak ke kamar masing masing untuk segera beristirahat.
Ini masih seperti mimpi, Dewa telah kembali bahkan dia sudah melamarku. Penantian panjangku selama ini berbuah manis. Terima kasih Ya Allah, Engkau telah memudahkan jalan kami.
Hana duduk di dekat jendela, matanya menerawang jauh ke langit malam. Entah mengapa pemandangan langit malam ini terasa sangat indah hingga matanya tak mau berhenti untuk terus menatap bintang bintang di atasnya.
Mata Hana juga seperti menolak untuk terlelap. Rasa kantuk seakan enggan untuk mengusik kebahagiaannya. Seakan larut dalam keindahan malam, kulitnya tidak merasa dingin oleh terpaan angin malam.
" AHH...!?" Hana terperanjat saat sosok Dewa tiba tiba saja muncul di depannya.
" Hussst...! Jangan keras keras nanti ibu dan ayahmu bangun." bisik Dewa yang kini telah melompat masuk ke jendela kamar Hana tanpa permisi.
" Mau apa kamu kesini? Nanti kalau ada yang lihat bagaimana?" Hana tampak sedikit panik.
" Hussst... Enggak usah panik seperti itu. Aku mau tidur."
" Terus kenapa ke sini? Tidur di kamar kamu sendiri." Hana menahan tangan Dewa yang tengah melangkah menuju tempat tidur Hana.
" Yank aku beneran ngantuk...." Dewa memasang wajah memelas.
" Kalau ngantuk kenapa kesini? Cepat balik ke kamar kamu!"
" Kamu enggak kasihan sama aku? Aku bela belain terbang dari Berlin ke sini, 16 jam lebih lho yank. Terus malam malam dalam kondisi ngantuk, capek, lapar aku naik motor demi bisa ketemu sama kamu. Aku pengen tidur sama kamu." Dewa merengek seperti anak kecil.
" Enggak boleh! Kamu enggak boleh tidur di sini. Kembali ke kamarmu sana." Hana masih menahan tangan Dewa.
" Kalau enggak boleh, aku teriak nih biar orang tua kamu dengar terus lihat aku berduaan di kamar kamu." ancam Dewa.
Ini apaan sich. Kok malah dia yang ngancam aku mau teriak? Seharusnya kan aku yang teriak.
" Yank boleh ya, sumpah aku ngantuk banget. Suer cuma mau tidur doang sama kamu, enggak lebih. Tapi kalau kamu mau lebih aku juga enggak bisa nolak sich. He he." melihat Hana lengah, Dewa secepatnya melompat ke kasur Hana.
" Kamu...." Hana tidak habis pikir dengan kelakuan Dewa.
" Ya sudah terserah kalau kamu mau tidur di sini. Aku mau tidur di kamar tamu." Hana terlihat kesal dan hendak melangkah pergi.
Namun dengan cepat Dewa bangkit dan menarik tangan Hana sehingga tubuh Hana terjerembab di kasur. Tangan Dewa mendekap erat tubuh Hana seakan tidak rela untuk melepaskan.
" Aku mohon, jangan pergi. Biarkan seperti ini. Aku janji enggak bakal ngapa ngapain kamu. Aku masih kangen banget sama kamu. Aku cuma pengen tidur di samping kamu." lirih Dewa.
" Hmmm, baiklah tapi janji cuma tidur bareng saja enggak lebih. Dan jangan aneh aneh." Hana mengalah karena tak tega melihat wajah Dewa yang sudah terlihat sangat ngantuk dan lelah.
" Aku kunci jendela dulu." Hana bangkit mengunci jendela kamarnya.
Dengan ragu ragu Hana tidur di samping Dewa. Jantungnya memompa darah lebih cepat. Dadanya berdegup kencang. Ia tidur di tepi kasur dengan posisi membelakangi Dewa. Namun tiba tiba tangan Dewa menarik tubuhnya sehingga berada dalam dekapan hangat Dewa.
" I love you..." bisik Dewa sembari mengecup puncak kepala Hana.
" Sudah tidur, enggak usah mikir yang macam macam. Tanpa seijin kamu aku enggak bakalan ngapa ngapain kamu. Tidur ya.... nice dream." Dewa mengecup kepala Hana sekali lagi.
" Nice dream too." lirih Hana sembari memejamkan mata.
Mimpi indah seperti apa lagi. Ini semua saja sudah lebih dari mimpi indah.
Keduanya terlelap bersama. Memasuki alam mimpi masing masing.
__ADS_1