
Semua orang di meja makan masih heran dengan sikap Evi. Namun mereka tidak membahas lebih lanjut dan menganggap bahwa itu semua karena efek patah hati yang baru saja Evi alami.
" Ibu dan Ayah habis ini mau keluar sebentar, ada urusan. Kamu dan Dewa jaga rumah ya?" ibu Hana menyelesaikan sarapannya.
" Aku pamit sekalian ya Om, Tante. Mau ke butik, soalnya sudah beberapa hari ini aku tinggal. Ditambah sebentar lagi aku juga harus ke Singapura untuk mengurus pernikahan, jadi ada banyak hal yang harus aku selesaikan dan sampaikan di butik." Laura menutup sarapannya dengan mengosongkan air putih di gelasnya.
" Terima kasih banyak ya Ra, kamu sudah banyak membantu kelangsungan acara kemarin." ucap ibu Hana dengan tulus.
" Sama sama Tante, tidak perlu sungkan. Aku kan anak Tante jadi sudah sewajarnya kan? Aku permisi ya Tan." Laura berpamitan ke orang tua Hana.
" Terima kasih ya Ra, semoga acara pernikahan kamu dan Kak Rayhan juga diberi kelancaran. Hati hati di jalan." Hana memeluk sahabat yang selama ini selalu ada untuknya.
" Iya sama sama, ngomong ngomong sudah belah duren belum?" Laura berbisik di telinga Hana penuh maksud.
" Memangnya ada yang bawa duren ke sini?" tanya Hana dengan polos membuat Laura menepuk jidad.
" Siapa yang bawa duren Ra?" ibu Hana menelisik ke arah Laura.
" Em bukan begitu Tan, maksudku Hana mau dibawain duren sekalian enggak? Soalnya tadi kak Rayhan chat aku kalau dia lagi jalan jalan cari duren." kilah Laura.
" Kamu lupa ya Ra, aku kan enggak sukan duren." jawab Hana dengan datar.
Aduh kenapa aku bisa lupa kalau Hana dodol dalam masalah ini. Niatnya mau goda dia malah aku sendiri yang dibuat malu. Hampir saja....
" Ya sudah aku pamit dulu ya semua. Assalamualaikum."
" Waalaikum salam....." jawab mereka hampir bersamaan.
Laura melenggang pergi meninggalkan kediaman Hana dan keluarganya. Tak berselang lama kedua orang tua Hana juga ikut pergi. Kini tinggal Hana dan Dewa di rumah berdua sedang membersihkan meja dan piring sisa sarapan sebagai salah satu penebusan kesalahan mereka. Dewa dengan sigap membereskan meja makan dan membawa piring kotor ke tempat cucian piring.
" Baik banget sih sayang, terima kasih ya." ucap Hana sambil tersenyum manis.
" Kenapa enggak pakai jasa ART saja sih Yank? Ibu dan kamu kan enggak perlu capek capek masak dan ngerjaian semua ini?"
" Aku sudah pernah mengusulkan itu, tapi ibu enggak mau, katanya ini semua sebagai salah satu bentuk cinta dan kasih sayangnya, merawat dan melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tangan sendiri." tutur Hana.
" Owh, kalau begitu biar aku saja yang cuci piringnya Yank." Dewa mengambil alih piring di tangan istrinya.
" Eh...? Enggak perlu Sayang, sini biar aku saja."
" Ssstt.... No! Membantah suami dosa lho."
" Tapi_" Hana belum beranjak dari posisinya.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu kita cuci berdua biar cepat selesai." Dewa dengan gesit membantu istrinya mencuci piring.
" Kelak kamu dilarang mencuci ataupun melakukan pekerjaan rumah lainnya, tugas kamu cukup menyenangkan aku saja." tutur Dewa penuh maksud.
"Baiklah. Sekarang biarkan aku mengeringkan tanganmu dulu karena semua piring sudah bersih." Hana meraih tangan suaminya dan menyekanya dengan serbet kering.
" Terima kasih." ucap Dewa.
" Cup." dalam seperkian detik bibir Dewa telah menyambar bibir mungil istrinya. Keduanya saling mel*mat dan membelit. Hasrat keduanya kian menggelora.
Tanpa permisi bibir Dewa telah beralih menjelajahi leher jenjang Hana sambil kedua tangannya meremas bokong sintal yang belum pernah terjamah itu. Sebuah leng*uhan berhasil lolos dari bibir Hana, ada gelenyar aneh yang menyeruak untuk meminta lebih. Perlahan tangan Dewa membimbing tangan istrinya untuk menyentuh daging panjang yang telah mengeras di balik kain celananya. Dengan ragu ragu Hana menggerakkan tangannya untuk mengelus sesuatu yang sudah meronta ronta untuk keluar.
" Ting tong.....Ting tong...!" suara bel pintu menghentikan pergerakan tangan Hana, namun Dewa masih sibuk menjelajahi kulit mulus istrinya seakan tidak terganggu.
" Sayang hentikan. Ada orang di luar biarkan aku membuka pintu dulu."
" Sudah biarkan saja." jawab Dewa dengan parau.
Namun tanpa menghiraukan ucapan Dewa, Hana melenggang pergi untuk membuka pintu rumahnya.
" Biar aku saja." Dewa memotong langkah istrinya.
Si*al di saat seperti ini ada saja yang mengganggu. Siapa sih orang yang datang di waktu seperti ini?
" Laura? Bukankah kamu baru saja pergi?"
" He he maaf, dompetku sepertinya masih tertinggal di sini." Laura nyelonong masuk ke dalam tanpa permisi.
" Laura....." sapa Hana berhambur hendak memeluk tubuh sahabatnya.
" Hentikan, aku buru buru. Dompetku sepertinya tertinggal di dalam kamar. Ayo cepat bantu aku mencarinya."
Setelah mendapat barang yang dimaksud Laura bergegas pergi karena memang dia sedang buru buru.
Dewa menutup pintu rumah dengan segera. Namun bel rumah kembali berbunyi. Dan kali ini pak RT yang datang untuk meminta iuran bulanan.
" Terima kasih ya Mbak Hana Mas Dewa. Saya permisi dulu ingin ke rumah warga lainnya." pamit Pak RT ramah.
" Iya sama sama Pak RT, silahkan." Hana dan Dewa mengantar kepergian pak RT di gerbang rumah. Baru saja hendak masuk, langkah mereka terhenti oleh kedatangan beberapa santri yang meminta sedekah untuk pembangunan masjid.
" Terima kasih ya Mbak Mas, semoga amal Anda diterima Alloh dan dibalas dengan pahala yang tidak pernah putus." ucap para santri itu sebelum melangkah pergi dari rumah Hana.
Sepertinya aku harus melakukan sesuatu agar aktivitas ku dan Hana tidak terganggu lagi.
__ADS_1
" Sayang ayo kita masuk." ajak Hana.
" Kamu duluan, tunggu aku di kamar ya. Ada yang harus aku lakukan sebentar." Hana pun mengiyakan ucapan suaminya.
Apa yang harus aku lakukan di dalam kamar? Tapi kamar ini memang sangat indah.
Hana duduk di salah satu sudut tempat tidurnya. Matanya menerawang membayangkan aktivitas bersama Dewa yang sempat terhenti tadi. Tanpa ia sadari pipinya merona dan bibirnya menyunggingkan sebuah senyum.
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Dewa yang membuyarkan lamunan Hana.
" Kapan kamu masuk?" Hana terkesiap.
" Baru saja dan aku pastikan bahwa kali ini tidak akan ada yang bisa mengganggu kita."
" Apa ma_ emhh" ucapan Hana terhenti saat suaminya yang secara rakus melahap bibir manisnya.
" Kita lanjutkan yang tadi ya." ucap Dewa lembut.
Hana tersenyum manis seakan mengiyakan ucapan Dewa. Ia kini membalas ciuman Dewa, membuat lelaki yang berstatus suaminya itu terkejut. Namun perlahan Dewa menyambut ciuman manis itu. Mata keduanya terpejam dan saling mengeratkan pelukannya sehingga tubuh keduanya menempel lekat.
Keindahan dan keharuman untaian bunga di kamar Hana membuat sepasang pengantin baru itu semakin terbuai dan larut dalam suasana yang kian bergelora. Ciuman keduanya semakin memanas dan agresif. Hana menanggalkan semua rasa malunya dan bersiap mempraktekan secara langsung tutorial yang sempat ia lihat bersama Laura. Dan entah bagaimana kini tubuh mereka sudah tidak lagi terbungkus pakaian hanya ****** ***** yang masih melekat.
" Bruukk!" Hana jatuh terlentang di kasur saat Dewa mendorong tubuhnya. Bibir Dewa dengan rakusnya menjelajah tiap inchi kulit mulus istrinya. Nafas Hana sampai terengah engah merasakan sensasi luar biasa yang belum pernah ia rasa sebelumnya. Tangan Dewa dengan lihai menjamah dan memainkan dua bukit ranum yang membuat Hana semakin menggeliat.
" Sayang, kamu akan menjadi milikku seutuhnya. Kali ini kita akan menyatu dalam cinta kita." Dewa berbisik di telinga Hana dan membuatnya merinding karena bibir Dewa kembali menjelajahi lehernya. Dengan sigap Dewa melepas kain terakhir di tubuhnya membuat mata Hana terkesiap melihat keperkasaan suaminya telah tegak berdiri di depannya. Hana sempat menelan ludah membayangkan bahwa sebentar lagi daging panjang itu akan menerobos ke dalam tubuhnya.
" Aku akan melakukannya dengan sangat pelan." bisik Dewa seakan mengerti kekhawatiran istrinya. Hana kembali menggeliat saat bibir suaminya melahap kedua pu*ingnya secara bergantian. Bibir dan tanganya terus menjamah dan menelusuri tiap lekuk tubuh Hana.
Tubuh Hana menggelijang hebat saat bibir dan tangan suaminya bermain di daerah intinya. Tanpa ia sadari sebuah desa*han kembali lolos dari bibirnya membuat gejolak Dewa kian memuncak.
" Aku masuk sekarang ya, tahan ini akan sedikit menyakitkan." bisik Dewa mulai mengarahkan juniornya ke arah bagian inti istrinya.
" Ah...!" rintih Hana saat Dewa mulai menyodokkan miliknya ke arah inti istrinya yang masih tertutup rapat.
"Argh...!" Hana kembali merintih saat Dewa menambah kekuatan dorongannya.
Slup
" Argh.....Emh..!" erang Hana sambil memejamkan mata saat miliknya telah berhasil diterobos oleh suaminya. Tanpa ia sadari ujung matanya tengah menitikkan air mata.
Dewa kembali mencium bibir istrinya dengan lembut, ia membiarkan miliknya diam bersarang di sana beberapa saat agar istrinya tidak terlalu kesakitan. Dewa mulai menggerakkan pingggulnya perlahan. Pelan tapi pasti Dewa menambah ritme permainannya membuat erangan kesakitan Hana berubah menjadi erangan kenikmatan.
" Argh........!" keduanya mengerang bersama saat Dewa melepaskan semua cairannya di dalam tubuh istrinya. Terpancar kepuasan dan kebahagiaan dari keduanya.
__ADS_1
" Terima kasih ya sayang, terima kasih. Aku sangat mencintaimu." ucap Dewa terengah sambil merobohkan tubuhnya di samping wanita yang baru saja menyerahkan mahkota keperawanannya.