
Aleena keluar rumah menghampiri kedua tamunya untuk segera masuk kembali.
Percakapan mereka dalam bahasa Inggris.
" Hai, apa yang kalian lakukan di luar? Masuklah, di luar sangat dingin. Aku sudah menyiapkan minuman hangat untuk kalian." ucapan Aleena membuat Hana dan Dewa terperanjat dan segera menghapus air mata di pipi mereka.
" Ah iya Nyonya kami akan segera masuk. Terima kasih Anda sudah sangat baik kepada kami." Hana dengan cepat memaksakan bibirnya untuk tersenyum.
" Apa dia baik baik saja? Kenapa matanya terlihat sembab, seperti habis menangis?" Aleena mengamati wajah Dewa dengan seksama.
" Hei kau juga rupanya. Ada apa ini, kalian baru saja menangis?" tanya Aleena saat mendapati wajah Hana yang tidak kalah sembab dengan suaminya.
" Oh, ini? Iya, maaf kami memang habis menangis. Aku dan suamiku baru saja mengalami sedikit perdebatan. Tapi kini semua sudah baik baik saja. Benar kan sayang?" Hana terpaksa berbohong untuk menutupi kebenaran yang ada.
" Ah iya, iya, kami tadi memang sempat sedikit berdebat." Dewa mengiyakan kebohongan istrinya.
" Benarkah? Kalian terlihat seperti pasangan pengantin baru. Sangat manis dan terlihat serasi, memangnya ada hal apa sampai bisa membuat pasangan sesempurna kalian berdebat sampai menangis?"
" He, he, sebenarnya itu......" Hana tampak memutar otaknya untuk mencari jawaban yang tepat.
" Kami kawin lari." jawab Dewa sekenanya tanpa berpikir panjang.
" Whattt..?!" pekik Hana dan Aleena bersamaan.
" Kalian kawin lari?!"
" Tapi mengapa kamu sangat terkejut dengan ucapan suamimu?"
" Maaf, aku sedikit terkejut dengam ucapan suamiku. Aku tidak menyangka dia akan membongkar rahasia kami tentang kawin lari." Hana memelototkan matanya ke arah Dewa yang kini hanya bisa terus menutupi kebohongan dengan kebohongan yang lain.
" Cinta kalian pasti sangat kuat karena kalian sampai berani melakukan itu semua. Kalian harus selalu mempertahankan cinta kalian. Dan kamu, sebagai suami kamu harus sering mengalah terhadap istri cantikmu ini. Lain kali jangan pernah membuat dia menangis lagi. Ingat itu." tutur Aleena menasehati sepasang suami istri yang mengaku melakukan kawin lari itu.
" He he, baiklah Nyonya terima kasih atas nasehat Anda." jawab Dewa dengan sedikit kikuk.
Kenapa sekarang aku tampak seperti seorang suami yang baru saja menyakiti istrinya? Hana, Hana, kamu punya magnet apa sih sehingga bisa membuat semua orang selalu berpihak dan menyukaimu. Dan kini istri ayah kandungku yang bahkan baru saja bertemu dan tidak mengenalimu saja langsung bisa bersikap seperti ini.
" Oh aku hampir lupa kita belum saling memperkenalkan diri. Aku Aleena, dan lelaki kaku yang tadi sempat kalian temui itu adalah suamiku, Russell. Dia suami yang sangat baik meskipun wataknya sedikit keras." Aleena mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar.
" Hana, dan dia suamiku, Dewa." Hana menyambut tangan Aleena dengan senyum yang tidak kalah lebar.
" Oh kalian dari Indonesia?!" pekik Aleena dalam bahasa Indonesia. Nama "Dewa" memang sangat identik dengan Indonesia.
" Ya, kami berasal dari sana. Aku tidak menyangka Anda bisa berbahasa Indonesia. Bahkan pengucapan Anda terdengar cukup fasih." puji Hana yang dibuat takjub dengan kefasihan wanita cantik berambut pirang di depannya dalam berbicara bahasa Indonesia.
__ADS_1
" Benarkah terima kasih. Sebenarnya aku sudah beberapa kali berkunjung ke sana, Bali, Jogja, Raja Ampat, Flores, dan beberapa tempat lainnya yang entah apa namanya aku lupa, he he. Indonesia negeri yang sangat indah." ucap Aleena terdengar sangat antusias.
" Oh aku hampir melupakan tujuan utamaku menghampiri kalian adalah untuk membawa kalian masuk rumah. Ayo cepat kita masuk, di sini udaranya sangat dingin. Saat ini sudah memasuki musim dingin. Ayo kita lanjutkan obrolan kita di dalam sambil menikmati cemilan dan minuman hangat." Aleena tanpa segan merangkul lengan Hana dan membawanya untuk segera masuk ke dalam rumahnya.
" Baiklah, terima kasih." Hana menyejajarkan langkahnya dengan Aleena, dan Dewa berjalan mengekor di belakang mereka.
" Silahkan diminum dulu agar tubuh kalian menjadi hangat. Ini adalah salah satu minuman khas di negara ini." Aleena menawarkan minuman yang ada di meja depan mereka. Ia juga ikut mengambil salah satu gelas untuk dirinya.
"Ini.... Susu hangat dengan adas manis di dalamnya?" Hana menebak komposisi minuman itu setelah menyesap minuman hangat itu secara perlahan.
" Kamu benar. Minuman ini disebut dengan anijsmelk di sini. Bagaimana apa kalian suka? Ini biasa diminum di saat musim dingin seperti saat ini, berkhasiat untuk menghangatkan tubuh kita. Ayo minum lagi sambil cicipi oliebollen, kue khas negara Belanda." Aleena menunjuk kue seperti donat namun berbentuk bulat dengan taburan gula halus di atasnya.
" Ini sangat lezat.... Dan,,, ada potongan apel di dalamnya?" komentar Hana setelah menggigit dan mengunyah salah satu kue itu.
" Kamu sangat benar. Oh kamu manis sekali, aku sangat menyukaimu. Aku langsung merasa cocok dengan dirimu. Bolehkah aku memanggilmu Honey?" Aleena merasa gemas dengan wanita manis yang tengah asyik melanjutkan mengunyah potongan kue dalam mulutnya.
" Tentu saja boleh, karena memang aku ini semanis honey/madu. He he." ucap Hana di sela makannya.
" Ah so sweet..... Kamu memang sangat manis. Andaikan saja aku bisa mempunyai anak seperti kamu, pasti akan sangat membahagiakan."
" Tentu saja, kenapa tidak. Pasti akan sangat menyenangkan bisa mempunyai ibu sebaik dan secantik Anda." jawab Dewa lembut.
" Ah benarkah? Terima kasih. Baiklah selama di sini anggap saja ini adalah rumah kalian sendiri, karena kalian sudah aku anggap sebagai anak anakku." Aleena tampak sangat bahagia dengan penuturan Hana dan Dewa yang bersedia menganggapnya sebagai orang tua.
" Makan juga yang ini."
" Wafel?" tanya Hana melihat penampakan makanan yang disodorkan oleh Aleena.
" Ya, semacam itulah. Ini disebut stroopwafel."
" Enak. Ini sangat cocok dinikmati dengan susu adas ini." Hana memasukkan potongan wafel itu dilanjut dengan kembali menyeruput minuman di gelasnya.
" Susu adas?" tanya Aleena heran.
" Iya, minuman ini susu adas bukan? Tadi namanya terlalu sulit untuk diucapkan. He he."
" Ya baiklah mulai hari ini kita akan menyebutnya susu adas. Ha ha ha." Aleena tertawa terbahak bahak.
__ADS_1
Russell diam diam menatap ketiganya dengan penuh haru. Sudah sangat lama ia tidak melihat wanita yang sangat ia cintai bisa tertawa lepas seperti itu, seakan semua rasa sakit yang ia derita bertahun tahun ini lenyap entah kemana.
" Tuan Russell?" sapa Hana saat menyadari keberadaan ayah kandung suaminya berdiri sembari memandang lekat arah istrinya.
" Oh sayang, ke sinilah. Bergabunglah dengan kami di sini. Mereka datang dari Indonesia." panggil Aleena dengan semangat.
" Makanan sebentar lagi siap. Kamu juga harus segera minum obatmu kan sayang?" Russell mendekati istrinya.
" Duduklah sebentar di sini. Kita sedang mengobrol dan bercanda bersama." Aleena menepuk nepuk sofa di sebelahnya.
" Baiklah tapi setelah ini kamu harus segera minum obat." bisik Russell.
" Iya, lagi pula obat juga tidak akan menyembuhkanku." Aleena tersenyum sinis membuat raut wajah Russell berubah seketika.
" Perkenalkan sayang, dia Hana dan suaminya, Dewa. Mereka pasangan yang sangat manis bukan? Mengingatkan akan masa muda kita dulu."
" TAP....!" pandangan Dewa dan Russell saling beradu. Dua pasang manik berwarna hijau itu saling mengunci satu sama lain.
Perasaan apa ini? Mengapa aku merasa ada sesuatu di mata pemuda ini. Apa aku mengenalnya atau punya hubungan dengan dirinya? Hatiku merasa hangat saat melihat dirinya. Sebenarnya siapa dia?
" Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
" Belum, ini adalah pertemuan pertama kita Tuan." jawab Dewa dengan datar. Ia menekan perasaan yang menggebu gebu dalam dirinya.
Kita memang belum pernah bertemu. Tapi tidakkah kau mengenaliku? Aku anakmu, anakmu......
Ingin rasanya Dewa berhambur memeluk tubuh lelaki yang seumur hidupnya telah ia nantikan itu, namun sekuat tenaga ia menahan rasa itu.
" Heh bukankah tadi kamu sudah setuju untuk menganggapku sebagai orang tua kalian? Kenapa kalian masih sungkan dan menyebutnya tuan? Kalian harus menganggap kami sebagai mama dan papa sungguhan. Ok?" protes Aleena.
" Baiklah, kami dengan senang hati akan menganggap kalian sebagai mama dan papa kami, itu jika Tuan Russell tisak keberatan dan mengijinkannya." Hana tersenyum lembut.
" Tentu saja dia tidak keberatan. Malah dia akan sangat senang. Benar kan sayang?"
" Apa pun itu asal kau bahagia sayang." ucap Russell lembut.
" Baiklah, kalau begitu sekarang kita telah menjadi satu keluarga. Kita harus mengabadikan moment bahagia ini." Aleena berbinar dan beranjak untuk mengambil kamera. Ia terbiasa mengabadikan tiap moment penting dan bahagia dalam hidupnya.
" Ayo semua, ini adalah foto pertama kita sebagai keluarga. Jangan lupa untuk tersenyum ya." Aleena mengatur posisi kameranya di tripod dan mengatur ke setelan pengambilan gambar otomatis dengan timer, sehingga ia juga bisa ikut berfose bersama.
" Cheeeeesss....." seru Hana dan Aleena.
" Cekrekkkk....!"
__ADS_1