Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Mati Lampu


__ADS_3

Suasana rumah Hana terlihat sepi dan gelap. Hanya lampu di dekat pintu gerbang saja yang menyala. Dengan perlahan ia menggeser pintu gerbang rumahnya.


" Greeeekkk."


" Enggak dikunci?" dengus Hana.


Ia menuntun motornya masuk ke pekarangan rumah dengan pelan kemudian memarkirkannya di sana. Ada sedikit rasa takut dan keraguan. Muncul rasa penyesalan di hatinya karena tadi menolak tawaran Laura untuk mengantar pulang.


Sehabis karaoke Hana Laura dan Yusuf mampir ke Rara butik untuk mengambil koper Yusuf yang masih berada di sana. Laura berniat mengantar Hana pulang dengan mobilnya, tapi Hana menolak dan memilih pulang sendiri dengan motornya.


Tumben rumah terlihat sepi. Ayah Ibu kemana ya? Apa sudah tidur? Tapi kan baru jam 21.15? Biasanya mereka kan nunggu di teras sembari minum teh? Tahu begini tadi aku enggak nolak tawaran Laura buat antar pulang. Lagian ini kenapa gelap banget sih? Apa mati lampu? Tapi kan ada diesel di rumah. Jangan jangan ada maling yang mau menyatroni rumah.


Hana mengambil ponselnya untuk bantuan penerangan. Langkah Hana semakin pelan dan ragu. Tengkuknya terasa merinding. Mulut Hana komat kamit membaca ayat kursi. Sampai di dekat garasi ia terperangah karena pintu garasi sedikit terbuka. Ia mengarahkan ponselnya ke dalam, tidak ada yang aneh. Di dalam garasi tampak berjejer mobil fortuner dan avanza.


Kaki Hana terus melangkah menuju pintu utama.


" Ngeeekkk....." pintu terbuka saat Hana mendorongnya pelan.


" Deg...deg....deg...." jantung Hana berdetak semakin cepat.


Ya Allah semoga enggak ada apa apa.


" Ayah.....? Ibu.....?" panggil Hana pelan.


Hana memasuki pintu rumah dengan penuh kewaspadaan. Senter di ponselnya ia matikan, bahkan ia juga melepas sepatunya. Kakinya melangkah pelan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara seperti adegan pengintai di film aksi yang sering ia tonton. Ia menajamkan mata dan telinga berusaha untuk mengamati sekeliling dalam kegelapan.


" Deg..." tubuh Hana tersentak saat sebuah tangan memegang pundaknya.


" Ayah..?" lirih Hana.


Hening tidak ada jawaban.


Jangan jangan beneran maling?


Hana mengambil nafas dalam menepis semua rasa takut. Ia menggerakkan kedua tangannya, dengan sigap ia mencengkeram tangan yang masih berada di pundaknya dan membantingnya dengan sepenuh tenaga. Orang di belakang Hana pun jatuh terpelanting ke depan. Tidak menunggu bangkit, Hana memelintir tangan orang itu dan mengunci tubuhnya di kaki Hana.


" Aouw aouw sakit...!" teriak orang itu kesakitan.


" Byaarrrr...." tiba tiba ruangan menjadi terang.


" Ya Allah Gustiiiiiii .....!!!" teriak ibu Hana sambil lari tergopoh ke arah Hana disusul ayah Hana di belakangnya.


" Ayah..? Ibu....?" Hana terkejut saat melihat ayah dan ibunya sudah di depan matanya.


" DEWAAAAAA...!?" pekik Hana saat melihat orang yang tengah ia plintir tangannya ternyata adalah pujaan hati yang selama ini sangat ia rindukan. Hana mengejapkan matanya berulang kali meyakinkan diri jika sosok yang ada di bawah kakinya bukanlah sekedar halusinasi.


___________


Dewa baru saja tiba di rumah nenek Ira dan langsung bergegas menuju rumah Hana. Ia tidak mampu menunda keinginan hatinya untuk segera berjumpa dengan kekasih yang selama ini hanya bisa ia temui lewat mimpi dan aplikasi.


Ditemani si hitam motor kesayangannya dari dulu, ia membelah jalanan malam menahan rasa lelah dan terpaan angin malam.


Dewa menghentikan motornya di depan sebuah pagar rumah berwarna biru. Dengan bersemangat ia memencet bel di pinggirnya.


Tak berselang lama ayah Hana datang dan membukakan pintu gerbang.


" Maaf cari siapa ya?" tanya ayah Hana sopan.


" Ini saya Om." Dewa melepaskan helmnya.


Mata ayah Hana tampak menelisik wajah Dewa.


" Dewa...? Ya Allah, saya sampai pangling. Kamu terlihat berbeda, tambah ganteng." ayah Hana terkekeh.


" Ayo masuk, masuk."


Dewa memarkirkan motornya di depan rumah dan berjalan mengekor ayah Hana masuki sebuah rumah berwarna putih. Interior ruang tamunya terlihat modern dengan kesan elegan dan mewah. Dindingnya dilapisi dengan wallpaper sentuhan luks motif marmer dipadukan dengan sofa berwarna abu abu muda. Perpaduan yang enak dipandang mata. Rumah keluarga Hana memang sudah dipugar. Kini rumahnya menjadi lebih besar dan bagus. Kamar tidur yang dulu hanya ada 3 kini menjadi 5. 3 kamar milik Hana, Evi dan orang tua Hana. Dan yang dua lagi adalah kamar tamu.


" Buuukkkkk, coba lihat siapa yang datang." teriak ayah Hana ke dalam rumah.


" Siapa sih Yah? Kok tumben teriak teriak." ibu Hana datang tergopoh dari dalam menghampiri ke ruang tamu.

__ADS_1


"Coba lihat siapa ini yang datang?" kata ayah Hana lagi.


Ibu menatap lekat wajah Dewa.


" Dewaaaa... Ini kamu Nak?" ibu Hana meraba wajah Dewa.


" Tambah ganteng kamu." tangan ibu Hana masih belum beranjak.


" Ehem ehm, tangannya dikondisikan." deheman ayah Hana menyadarkan ibu Hana.


" He he maaf, khilaf Yah habisnya Dewa ganteng banget." ayah Hana melotot ke arah istrinya.


" He he wajar kan Yah muji calon mantu. Jangan kawatir, di hati ibu ayah tetap nomor satu." tangan ibu Hana beralih membelai lembut pundak suaminya.


" Eh sampai lupa Ibu buatkan minum dulu ya." ibu Hana ingin beranjak tapi segera dicegah oleh Dewa.


Dewa menyerahkan sebuah paper bag berukuran besar kepada ibu Hana.


" Ini ada sedikit oleh oleh buat Om dan Tante, semoga suka."


" Eh apa ini? Kok malah repot repot bawa oleh oleh. Terima kasih ya. Tante buatkan minum dulu." ibu Hana beranjak sembari membawa paper bag dari Dewa.


" Enggak usah repot repot Tante, tapi kalau ada susu jahe sama bolu juga enggak apa apa. Dewa kangen banget sama kue buatan Tante itu. Enak nya enggak ada lawan, he he." ucap Dewa tanpa rasa malu karena dia sudah menganggap ayah ibu Hana seperti orang tuanya sendiri.


" Oh kangen sama bolu, jangan khawatir Tante ambilkan dulu, stock di dapur masih banyak. He he."


"Hana nya kemana Om, kok enggak kelihatan?" Dewa celingukan mencari gadis yang menjadi semangat hidupnya itu.


" Oh, Hana belum pulang. Tadi sepulang ngajar sempat telpon ibunya pamit mau ke tempat Laura. Paling sebentar lagi juga pulang. Biasanya kalau main pulangnya paling malam jam 9."


" Ngomong ngomong bagaimana kabar orang tua kamu, baik baik saja kan?".


" Alhamdulillah, semua sehat. Om sendiri bagaimana sehat kan?"


" Ya beginilah, Alhamdulillah semua diberi kesehatan."


Dewa dan ayah Hana larut dalam perbincangan ringan mereka.


" Ini bolu spesial dan susu jahe angetnya. Ayo cepat dicicipi mumpung masih hangat." ibu Hana meletakkan tiga cangkir susu jahe dan sebuah piring berisi bolu.


" Syukurlah kalau kamu suka, ngomong ngomong kamu pulang sendiri atau bersama orang tua?" tanya ibu Hana sembari menyesap minuman di cangkirnya.


" Saya pulang sendiri, orang tua saya masih di Jerman. Nanti kalau sudah kelar baru pulang ke Indonesia, paling bulan depan .Rencananya nanti sekalian gelar acara pernikahan."


" Pernikahan? Ayah atau ibu kamu yang mau menikah lagi?" tanya ibu Hana dengan polosnya.


" Hah?" Dewa melongo ke arah ibu Hana, berhenti mengunyah bolu di dalam mulutnya.


Kok malah pernikahan ibu dan ayah? Ibu Hana ini bagaimana sih?


"Ibu itu mbok ya jangan aneh aneh kalau ngomong. Masak orang tua Dewa mau nikah lagi? Ya pernikahan Dewa lah. Ya kan nak Dewa?"


" He he, iya Om." Dewa melanjutkan mengunyah makanan di mulutnya.


" Kamu serius mau menikah sama Hana? Sudah dipikir baik baik?" tanya ayah Hana serius.


Dewa menghentikan aktivitas makannya dan menatap lekat ke mata ayah Hana.


" Saya sangat serius Om. Hana satu satunya gadis yang bertahta di hati saya. Om dan Tante merestui kan jika saya menikahi Hana. Saya berjanji tidak akan pernah membuat Hana menderita. Saya hanya akan memberi Hana kebahagiaan."


" Apa enggak terlalu cepat? Kamu sudah mendiskusikan ini semua dengan otang tua kamu?" ayah Hana mencoba mencari kepastian.


" Sudah Om, 8 tahun sudah cukup bagi saya dan Hana untuk melangkah ke jenjang selanjutnya. Saya rasa usia saya dan Hana juga sudah waktunya untuk menikah. Nanti lamaran resminya saat orang tua saya pulang ke sini. Om dan Tante enggak keberatan kan?"


" Kalau saya sebagai orang tua sih ikut saja bagaimana keputusan anak. Iya kan Bu?"


" Iya, semua terserah keputusan Hana."


" Ngomong ngomong saya telpon Hana dulu ya, enggak biasa jam segini belum sampai rumah."


Ibu Hana menghubungi no ponsel anak sulungnya, tapi tidak dijawab.

__ADS_1


" Aku coba hubungi Laura saja lah, tadi pamitnya kan mau ke tempatnya." dengus ibu Hana.


" Tuuttt, tuuttt..."


" Hallo, Assalamualaikum Tante. Ada apa ya, tumben malam malam telpon?" terdengar suara Laura menjawab panggilan ibu Hana.


" Waalaikumsalam. Enggak ada apa apa cuma mau nanya Hana masih bersama kamu? Kok tumben jam segini belum pulang?"


" Hana baru saja pulang Tan, paling 15 menit lagi sampai rumah."


" Oh ya sudah kalau begitu Terima kasih ya Ra, wassalamualaikum.


" Waalaikumsalam."


Laura mengakhiri panggilannya.


" Hana sebentar lagi sampai rumah, paling 15 menitan." ucap ibu Hana.


" Bagaimana kalau kita buat kejutan untuk Hana Tante, seperti pas ulang tahun aku dulu?"


" Ah ide bagus itu. Kalau begitu kamu masukin motor kamu ke garasi. Nanti kita matikan semua lampu." ibu Hana menyetujui usul Dewa.


Mereka bertiga pun mulai melaksanakan rencananya.


_______________


" Kamu itu apa apaan sih Han, kayak preman saja main banting orang." Ibu Hana menepis tangan Hana yang masih mencekal lengan Dewa. Dibantu sang suami ia meraih tubuh Dewa agar segera berdiri.


" Kamu enggak apa apakan?" tanya Ibu Hana sambil memandu Dewa duduk di sofa.


" Terima kasih Om Tante. Saya enggak apa apa kok cuma kaget saja tadi dapat sambutan spesial yang luar biasa." sindir Dewa sembari menatap ke arah Hana.


Hana mengalihkan pandangannya ke kanan dan kiri merasa salah tingkah.


" He he... eh, itu......?" mata Hana terpaku pada sesuatu yang teronggok di dekat kakinya. Ia mencondongkan tubuhnya dan meraih benda itu.


Sebuah boneka kelinci berwarna merah muda berukuran besar sembari membawa simbol hati berwarna merah di dadanya.


" Ini...?" Hana menatap haru ke arah Dewa.


" Ya, itu spesial buat kamu. Boneka yang dulu menjadi incaran kita. Kamu suka kan?" Dewa menatap lekat manik Hana, ada banyak cinta yang terpancar.


" Huum...." Hana menganggukkan kepalanya memeluk erat boneka itu sembari tersenyum bahagia, bahkan senyumannya tak pudar sampai beberapa saat.


" Om dan Tante tinggal ke belakang dulu ya, silahkan ngobrol sama Hana. Dan kamu Hana ngobrol baik baik jangan main banting saja. Jauh jauh dari luar negeri pulang pulang malah langsung dibanting." ayah dan ibu Hana melenggang ke dalam.


" Sudah puas natap wajah ganteng aku?" goda Dewa yang sadar kalau sedari tadi mata Hana terpaku padanya.


" Apaan sih?" wajah Hana bersemu merah.


Dewa bangkit dari duduknya dan mengambil alih boneka kelinci yang sedari tadi berada dalam pelukan Hana, ia melemparnya sembarang.


" Aku kangen banget sama kamu." Dewa mendekap erat Hana dalam pelukannya. Ia menumpahkan semua kerinduannya. Berulang kali dikecupnya pucuk kepala Hana.


Hana membalas pelukan Dewa, tangannya melingkar erat ke tubuh kekasihnya itu. Ia merasakan tubuh Dewa kini semakin tegap dan berotot. Air mata kebahagiaan menetes di pipi cantiknya, bagimana tidak? Sosok yang telah ia rindukan selama 8 tahun kini berada dalam dekapannya.


Hana semakin mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan kepalanya ke dada Dewa yang bidang. Ia dapat mendengar dengan jelas jantung Dewa yang berdetak cepat seirama dengan miliknya, seakan dua jantung itu kini telah menyatu dalam satu detakan.


Entah karena apa tanpa sadar Hana semakin meringsekan kepalanya ke dalam dada Dewa. Sontak membuat Dewa merasakan gelenyar di tubuhnya.


Dewa memejamkan mata mencoba menahan hasratnya yang kian membara.


" Honey don't move please..." bisiknya di telinga Hana.


" Hah, apa sakit karena jatuh tadi?" Hana menengadahkan kepala menatap wajah kekasihnya.


" No, tapi dari tadi kamu menggosok gosok dadaku. Juniorku bangun." suara Dewa terdengar serak.


Hana melototkan matanya kaget dengan penuturan Dewa.


" Dasar otak mesum." gerutu Hana memutar bola matanya.

__ADS_1


" Kita nikah yuuk."


" Hahhh??"


__ADS_2