Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Deja Vu


__ADS_3

Seperti delapan tahun yang lalu, Dewa dan Hana duduk di bioskop menyaksikan film favorit Hana, Fast and Farious. Dalam sekuel terbarunya Vin Diesel dan kawan kawannya kembali membuat penggemarnya terpukau dengan aksi dan alur cerita yang semakin seru dan menegangkan.


Hana tampak sangat menikmati setiap adegannya. Aksi saling pukul dan kebut kebutan menjadi ciri khas film berdurasi 2 jam15 menit itu. Sepanjang film diputar ia tampak bersemangat seakan jiwanya ikut berpetualang dalam cerita yang didominasi dengan perkelahian dan tembak menembak. Apalagi kini salah satu aktor favoritnya John Cena ikut berlaga di dalamnya.


Dewa hanya bisa duduk diam di samping Hana sembari menikmati pop corn sambil sesekali menatap kekasihnya yang tengah asyik dengan dunianya sendiri. Keberadaannya sungguh terabaikan. Namun itu tidak membuatnya jenuh karena sepanjang film diputar ia lebih tertarik melihat ekspresi dan sikap Hana saat melihat jagoannya beraksi.


Sudah delapan tahun tapi dia sama sekali tidak berubah. Selalu heboh saat melihat film aksi. Padahal tujuan awal aku mengajaknya ke bioskop untuk menonton film romantis biar bisa kayak pasangan lain yang pegangan tangan sambil memadu kasih, ikut bermesraan seperti film yang ditonton. Tapi kayaknya itu semua memang bukan gaya pacaran kami, he he he. Hana lebih senang dengan film aksi seperti ini.


" Filmnya bagus banget, aku suka. Kapan ya sekuel barunya dibuat lagi?" puji Hana dengan penuh kepuasan setelah film itu selesai diputar.


" Kapan kapan kalau produser dan sutradaranya sudah siap." celetuk Dewa.


" Ish,, itu aku juga tahu. Eh ngomong ngomong kamu masih ingat enggak kalau film pertama yang kita tonton dulu adalah sekuel film ini?"


" Tentu saja, mana mungkin aku lupa. Setiap kebersamaan kita akan selalu menjadi kenangan indah yang enggak akan pernah terlupa." Dewa menggandeng tangan Hana.


" Pulang sekarang yuk, sudah hampir malam. Aku ingin membahas rencana pernikahan kita dengan kedua orang tuamu. Bagaimana pun kita harus mempersiapkan semua dengan matang kan?"


" Baiklah, ayo kita pulang."


Mereka keluar dari bioskop sembari bergandengan tangan dengan mesra. Mereka terlihat selaras dan serasi, sungguh pasangan yang sempurna. Si cantik dan si tampan yang membuat orang di sekitarnya merasa iri.


" Kayaknya kita jadi pusat perhatian deh, sepanjang kita berjalan banyak orang yang menatap ke arah kita." bisik Hana merasa risih.


" Apa aku terlihat aneh memakai gaun seperti ini?"


" Sudah tenang saja, kamu cantik kok. Bahkan cantik banget malahan. Mereka pasti kagum dengan kecantikan kamu."


" Enggak usah gombal. Tapi aku memang cantik sih, kalau enggak cantik mana mungkin kamu mau sama aku?"


" Ternyata kamu bisa juga narsis."


" Bukannya narsis, tapi kenyataan. Tadi kamu sendiri kan yang bilang aku cantik. Eh ralat, cantik banget. Ha ha ha."


" Iya iya kamu memang cantik." Dewa mengalah.


Dewa dan Hana tampak sangat gembira. Bibirnya tak henti menyunggingkan senyum kebahagiaan. Berjalan bersama menuju area parkir dengan tetap tidak melepas tautan tangan mereka seakan dunia milik mereka berdua.


"Aku yang nyetir ya." tanpa menunggu persetujuan Dewa, Hana telah menyambar kunci mobil di tangannya.


" Kamu enggak usah aneh aneh dech. Sini kunci mobilnya." Dewa berusaha mengambil kunci mobilnya kembali.


" No, kamu percaya saja sama aku. Kali ini aku yang nyetir. Kamu duduk dengan tenang nikmati perjalanan saja."

__ADS_1


Akhirnya Dewa mengiyakan kemauan Hana, dan duduk di samping kekasihnya yang terlihat bersemangat untuk mengemudikan mobilnya.


" Lets go.....! Its my time." Hana mulai menginjak pedal gas, bibirnya tersenyum tipis. Mobil berwarna jet black mica itu keluar dari area parkir dengan elegan.


Perasaanku jadi enggak enak. Jangan jangan.......


" Yank kamu tidak berniat untuk kebut kebutan di jalan kan?" Dewa mulai terlihat cemas karena baru teringat bahwa mereka baru saja menonton film yang banyak adegan kebut kebutan mobil.


" Its to late baby. Enjoy your trip." Hana melajukan mobilnya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Mobil dengan kapasitas 2.477 cc turbo diesel itu menyelip dan menghindari kendaraan yang melintas di depannya dengan gesit.


" Ini sangat menyenangkan, sudah sangat lama aku tidak ngebut di jalanan." bibirnya tersenyum lebar. Matanya terlihat fokus ke jalanan, tangannya dengan lincah memegang kemudi dan memainkan kopling. Sedangkan kakinya dengan lihai bergantian menginjak pedal gas dan rem.


" Sayang hati hati." raut muka Dewa tampak cemas melihat angka di speedometer yang tak pernah kurang dari 120, bahkan ia sampai mencengkeram sabuk pengaman di dadanya.


Hana dari dulu memang selalu penuh dengan kejutan. Aku memang senang dengan kecepatan, tapi tidak seperti ini. Kebut kebutan di jalanan. Untung tadi aku tidak membawa mobil lamborghini, kalau mobil itu pasti akan melesat lebih cepat lagi.


Hana tiba tiba mengurangi laju mobil dan menepikan mobilnya di pinggir jalan, dan bergegas membuka pintu mobil. Keadaan di sekitarnya terlihat sepi.


" Ada apa Yank?" tanya Dewa heran dengan sikap Hana yang tiba tiba menghentikan mobil dan keluar tergesa.


" Itu sepertinya motor Dimas, salah satu muridku." Hana berlari menuju ke motor yang teronggok di pinggir jalan. Dan benar saja tak jauh dari sana ia melihat sosok muridnya tengah dikepung oleh empat orang lelaki berwajah sangar. Di belakangnya ada seorang gadis yang berdiri ketakutan.


" Dimas, Arin?" pekik Hana yang membuat enam pasang mata di depannya menatap ke arahnya.


" Bu Hana? Cepat telpon polisi Buk, tolong ka_" Dimas tidak mampu menyelesaikan ucapannya karena bogem salah satu lelaki yang mengepungnya mendarat di wajahnya. Tubuhnya tersungkur ke tanah.


" Tolong jangan sakiti kami, lepaskan kami, hu hu hu." Arin terisak ketakutan.


" HEH LEPASKAN MEREKA....!!" teriak Hana merasa geram dengan tingkah para lelaki di depannya.


" Melepaskan mereka? Boleh, asal kamu mau menggantikan mereka. Ha ha ha ha. Benar kan teman teman. Bagaimana gadis cantik?" kata salah seorang lelaki dengan pongah.


" Menggantikannya dengan diriku? Boleh tapi lepaskan mereka dulu. Mereka hanya anak SMA yang membawa barang dan uang tidak seberapa." Hana melangkah maju ke arah mereka dengan tenang yang sontak membuat perhatian keempat lelaki itu beralih ke dirinya.


Kini tubuh Hana dikepung oleh keempat lelaki itu.


" Serahkan semua uang dan barang yang kamu miliki gadis cantik." ucap seorang lelaki dengan tatapan meremehkan. Kedua matanya memindai tubuh Hana dari atas ke bawah.


" Tubuhmu boleh juga." wajah lelaki itu terlihat penuh *****, sangat menjijikkan.


" Iya benar sepertinya hari ini kita mendapat jackpot yang besar." tambah lelaki yang lain.


" Iya benar.... HA HA HA HA...." mulut mereka terbuka lebar.

__ADS_1


" Heh apa yang kalian lakukan.....?!" bentak Dewa yang baru tiba di sana karena tadi sempat tertinggal. Tatapan matanya tajam penuh dengan kilatan amarah melihat wanita yang ia cintai tengah dikepung oleh empat orang lelaki yang ia yakini pastilah penjahat.


" Kalian mau uang kan? Minta saja padanya, dompetnya penuh dengan uang." ucap Hana datar sambil menunjuk ke arah Dewa.


"Benar kan sayang?" mata Hana berkedip ke arah calon suaminya itu.


" Ha ha ha boleh juga, sepertinya hari ini memang hari keberuntungan kita. Kita akan mendapat banyak uang dan juga seorang gadis yang cantik. Lihatlah kulitnya Kang, putih mulus pasti rasanya sangat enak." ucapan salah satunya sambil menatap lekat ke arah Hana seakan siap untuk memangsa.


" KURANG AJAR...!!!!" teriak Dewa mulai melayangkan pukulannya.


" BUGHHH..." Hana mendaratkan kakinya di wajah lelaki yang sedari tadi menatapnya penuh *****. Kupingnya sudah merasa panas mendengar ucapan tidak senonoh dari para penjahat itu.


Aksi baku hantam pun tak bisa dielakkan lagi. Hana dan Dewa melancarkan pukulan dan tendangan bertubi tubi ke arah mereka. Para penjahat itu tampak kualahan menghadapi serangan sepasang kekasih itu.


Arin dan Dimas hanya bisa melongo menyaksikan pekelahian dua lawan empat itu. Mereka tidak menyangka bahwa guru cantiknya ternyata sangat pandai berkelahi. Bahkan mulut mereka sampai menganga saat Bu Guru mereka melakukan salto dengan sangat lincah.


Bu Hana hebat banget, selain cantik ternyata dia juga jago berantem. Aku jadi tambah semakin menyukainya.


Mata Dimas terus terpaku pada aksi gurunya itu.


Setelah beberapa menit perkelahian seru itu pun berakhir. Wajah wajah sangar para penjahat itu kini telah berlumuran darah terkapar tak berdaya di tanah. Sedangkan Hana dan Dewa tampak sumringah merayakan kemenangan mereka dengan melakukan high five.


"Ye... kita menang..!!" teriak Hana terlihat sangat gembira.


"Huh ,,huh,, huh,,, seru banget. Sudah lama aku tidak melakukan ini. Rasanya sangat menyenangkan." nafas Hana agak tersengal karena bagaimana pun aksinya kali ini sangat menguras tenaga. Melawan empat orang penjahat sungguhan bukanlah hal yang mudah.


" Huh.. huh.. kamu benar. Rasanya memang sangat seru." Dewa ikut menimpali.


Wajah Hana dan Dewa dipenuhi dengan peluh. Baju mereka kotor dan basah karena keringat.


" Aku akan telpon polisi dulu, mereka harus segera diamankan agar tidak bisa mengganggu orang lagi." Dewa terlihat berbicara serius memberi laporan lewat ponselnya.


" Kalian tidak apa apa kan?" Hana mendekati kedua muridnya. Matanya menelisik memastikan keadaan mereka baik baik saja.


" Ka_mi baik baik sa_ ja." jawab Arin agak terbata. Ia masih terlihat syok dengan peristiwa yang baru saja dialaminya.


" Bu Guru bukan pimpinan gangster atau pun mafia kan?" tanya Dimas dengan polosnya.


" Hah???" Hana terkejut dengan pertanyaan konyol murid lelakinya itu.


" Ha ha ha ha. Iya benar Bu Gurumu ini diam diam adalah pimpinan ganster." celetuk Dewa setelah menyelesaikan laporannya.


" Ish, jangan aneh aneh. Jangan dengarkan omongan dia. Kalau aku pimpinan gangster tidak mungkin aku menjadi guru." ketus Hana.

__ADS_1


" Cepat hubungi orang tua kalian untuk menjemput. Sebentar lagi polisi akan sampai di tempat ini."


Ini sungguh menggelikan. Sama persis dengan kejadian delapan tahun silam. Nonton bareng film aksi dan pulangnya kita yang beraksi. Hana Hana memang tiap bersamamu hidupku menjadi lebih hidup.


__ADS_2