Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Marry Me


__ADS_3

" Kita nikah yuk....!"


" Haahh..?!" Hana terperangah dengan ajakan Dewa. Meskipun Dewa sudah pernah mengutarakan keinginannya untuk segera menghalalkan hubungan mereka kelak saat pulang, tapi Hana tidak pernah menduga Dewa akan menuturkan itu secara langsung secepat ini.


" Menikah?" muka Hana memerah. Ada banyak gejolak dalam dirinya. Haru, bahagia dan bingung bagaimana Hana harus menjawabnya. Ingin rasanya ia berteriak " IYA AKU MAU" tapi akal sehat masih bisa mencegahnya. Ia tidak mau terkesan gampangan.


" Ya, menikah." Dewa mengurai pelukannya. Tangannya menggenggam erat tangan Hana. Matanya menatap lekat manik di depannya.


"Secepat ini?"


" Kamu tidak yakin dengan diriku? Atau kamu meragukan cintaku?" tatapan Dewa berubah nanar.


" Bu- bukan begitu, tapi kita baru saja bertemu."


" Lalu? Bukankah kita sudah menjalani hubungan ini selama 8 tahun. Kita sudah saling mengenal satu sama lain. Bahkan semua keburukanku kamu juga sudah tahu."


Tiba tiba Dewa mundur satu langkah dan berjongkok di depan Hana. Kepalanya menengadah ke atas menatap wajah Hana yang kian memerah. Ia mengulurkan tangannya ke arah Hana yang entah dari mana kini ada sebuah kotak beludru berwarna merah yang terbuka dan di dalamnya ada sebuah cincin berlian yang sangat indah.


" Mikayla Hanania, maukah engkau menikah denganku?" Hana terperangah, matanya melebar. Secara refleks ia membungkam mulutnya seakan tak percaya dengan perlakuan Dewa. Sangat klasik seperti adegan adegan di drama korea saat sang pria melamar pemeran wanita untuk menjadi pendamping hidupnya.


" Hana, will you marry me?" mata Dewa memancarkan ketulusan. Ada banyak cinta di dalam tatapan itu.


Hati Hana melonjak kegirangan bagaimanapun ini adalah harapan terbesarnya selama ini, bersanding dengan Dewa.


" Yes....." Hana menganggukkan kepalanya berulang kali di sela isak tangis bahagianya.


" Yes, yes i do." Hana mengulurkan tangannya ke arah Dewa.


Mata Dewa berbinar gembira, bibirnya tak berhenti menyunggingkan senyum bahagia. Tangannya menyematkan cincin di jari manis Hana.


" Terima kasih, kini cincin ini sudah sampai di jari pemiliknya." Dewa mengecup tangan Hana yang kini telah berhiaskan sebuah cincin berlian lambang pengikat cinta darinya.


" Gustiiiiii.....!" teriakan ibu Hana menghancurkan momen romantis Dewa dan Hana. Bahkan keduanya sampai melonjak karena kaget. Pipi Hana sampai merona karena malu.


" Ah,,, so sweet.......!! Ulangi lagi dong tadi kan Ibu belum sempat mengabadikan. Ayo cepat ulang lagi adegan tadi, biar ibu rekam." ucap ibu Hana yang tiba tiba saja nongol di dekat Hana dan Dewa.


Tangannya sudah memegang ponsel siap untuk mengabadikan momen penting anaknya.


Hana dan Dewa melongo melihat kelakuan ibu Hana yang terlihat sangat antusias untuk merekam reka adegan prosesi penyematan cincin di jari Hana.


" Ayo cepat kok malah diam."


" Apaan sih Bu, aneh aneh saja." gerutu Hana.

__ADS_1


" Iya, kamu mbok ya jangan aneh aneh." bela ayah Hana yang kini ikut nimbrung di ruangan itu.


" Aneh apanya? Buat dokumentasi kenang kenangan. Ayo cepat!"


" He he, memang harus banget untuk diulang ya Tante?" tanya Dewa yang masih belum berdiri dari posisi jongkok di depan Hana.


" Iya memang harus, adegan segitu penting harus ada dokumentasinya." ponsel ibu Hana sudah masuk ke mode video siap untuk merekam.


" Ayo, jangan lupa ekspresinya sama seperti tadi ya." ibu Hana tampak serius menatap Hana dan Dewa yang muncul di layar ponselnya.


" Eh tunggu, tunggu dulu...!" ibu Hana mengangkat tangan menghentikan adegan yang belum dimulai.


"Hana kamu terlihat kucel di video, mandi dulu sana."


" Hah?" Dewa benar benar heran dengan sikap calon ibu mertuanya yang justru terlihat lebih antusias dari dirinya.


" Sudah sana cepat mandi..! Penampilan kamu kucel, rambut berantakan juga. Kan sayang kalau video romantis kalian nanti jadi enggak bagus gara gara penampilan kamu." cerocos ibu Hana.


Dasar ibu enggak peka banget, sudah merusak momen romantis aku sama Dewa. Sekarang seenaknya nyuruh buru buru mandi, ngatain kucel lagi. Enggak tahu apa kalau aku masih kangen sama Dewa.


" Iya, iya aku mandi ibu Dina yang merasa paling cantik seantero jagad padahal enggak." ketus Hana berlalu ke arah kamarnya dari pada kena omelan ibunya.


" Bangun dulu nak, itu kakinya diistirahatin dulu. Kasihan, pegel nanti." ayah Hana mengajak Dewa untuk segera bangkit dari posisinya.


" He he , iya Om." Dewa mengikuti ayah Hana duduk di sofa.


" Ah enggak usah Tante. Terima kasih." jawab Dewa sekenanya.


" Kruyuuuuukkkkk..." cacing di perutnya benar benar tidak bisa diajak kompromi.


Seharian ini Dewa memang lupa untuk mengisi perutnya. Berbeda dengan Yusuf yang pulang dari Singapura, Dewa melakukan perjalanan dari kota Berlin Jerman. Ia harus melakukan perjalanan selama 16 jam dengan dua kali transit. Ditambah perbedaan waktu antara German dan Yogyakarta adalah 5 jam. Selama penerbangan ia melewatkan waktu untuk makan, ia lebih memilih untuk tidur mengistirahatkan tubuhnya. Karena demi untuk bisa segera pulang, Dewa memadatkan jadwal pekerjaannya agar cepat selesai. Pekerjaan yang seharusnya selesai bulan depan ia rampungkan di bulan ini.


" Ya Alloh Gusti kamu lapar? Jangan jangan belum makan malam? Tante buatkan makanan dulu ya?"


Boro boro makan malam, seharian belum makan. Ini semua demi bisa segera bertemu Hana.


" He he he. Maaf Tante merepotkan." Dewa meringis malu. Mau bagaimana lagi? Mau menolak atau berkata bahwa ia tidak lapar tidak mungkin karena suara rontaan cacing di perutnya sudah terlanjur terdengar oleh calon mertuanya.


" Tante tinggal masak dulu ya." ibu Hana segera menuju dapur untuk mempersipkan makanan.


Akhirnya Dewa kembali duduk berdua bersama ayah Hana. Keduanya tampak akrab berbincang tentang segala hal.


Hana sudah menyelesaikan ritual mandinya, tidak butuh waktu lama ia sudah terlihat segar. Ia duduk berlama lama di depan meja rias, bukan sibuk merias diri tapi sibuk memandangi jari manisnya yang kini telah dihiasi oleh sebuah cincin berwarna putih dengan bertahtakan berlian. Sangat terlihat pas dan cantik di jarinya. Berulang kali ia menyentuh cincin itu.

__ADS_1


" Cincin yang cantik. Rasanya seperti mimpi." Hana bergumam.


Dewa akhirnya pulang, doa dan penantianku selama ini terjawab sudah. Terima kasih Ya Alloh karena Engkau telah mempertemukan kami kembali. Terima kasih telah menjaga cinta dan hati kami.


" Dewa? Dia belum pergi kan?" Hana bergegas meninggalkan kamarnya.


Mata Dewa terpaku melihat Hana saat sosoknya memasuki ruang tengah. Meskipun tidak seperti ekspektasinya, namun Hana terlihat sangat manis dengan memakai piyama tidur selutut bergambar doraemon dan rambutnya masih terbungkus dengan handuk. Padahal dalam khayalan Dewa, Hana akan tampil berbeda dengan memakai gaun yang anggun dan wajah yang dirias cantik.


Tapi memang begitulah Hana suka tampil apa adanya, dan itulah yang menjadi daya tariknya.


" Kenapa?" Hana merasa risih karena mendapat tatapan dari Dewa.


"Enggak apa apa, kamu cantik kok. Cantik banget." puji Dewa.


Pipi Hana merona karena malu.


" Ehem ehem. Sepertinya dunia milik kalian berdua. Ayah cuma ngontrak. Ya sudah ayah ke dalam dulu bantu ibu siapin makanan. Ingat kalau lagi berduaan jangan aneh aneh." ayah Hana menyusul istrinya di dapur.


" Sini duduk." Dewa menepuk sofa sebelahnya.


Hana seperti kerbau dipatuk hidungnya, tanpa protes mengikuti perkataan Dewa. Namun saat tubuhnya hendak duduk di sebelah Dewa, tangan Dewa malah merengkuh pinggangnya dan membawa dalam pangkuannya.


Mata Hana terbelalak. Jantungnya berdetak dengan keras kalau kata Ahmad Dhani seperti genderang yang mau perang. Darahnya mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke ujung kepala.


" Lepasin, nanti kalau ayah dan ibu melihat." bisik Hana sembari mencoba melepas dekapan Dewa. Namum bukannya dilepas, Dewa malah tambah mengeratkan pelukannya.


" Enggak mau, aku masih kangen. Biar saja Om dan Tante lihat. Paling juga cepat cepat dinikahin, enggak perlu nunggu ayah dan ibu pulang." Hana memutar bola matanya sembari berontak mencoba melepaskan diri.


" Kamu sengaja ya, mau goda aku?" bisik Dewa di telinga Hana.


" Goda apaan sih? Cepat lepas, malu nanti kalau dilihat ayah sama ibu." Hana masih bergerak memberontak namun pelukan tangan Dewa di pinggangnya semakin erat.


" Ishhhh.... kamu ini memang benar benar menguji iman aku yang cetek ini. Kalau kamu terus bergerak seperti ini jangan salahkan aku kalau tidak bisa menahan diri." Hana berhenti meronta, ia merasakan ada sesuatu yang mengeras di bawah bokongnya.


" DEWAAA....!!!" Hana menginjak kaki Dewa dengan keras sehingga sang pemilik kesakitan dan secara tidak sadar melepas pelukannya. Dan sialnya karena tidak siap tubuh Hana terjerembab ke depan kepalanya terkantuk di lantai.


" Aouwww...!!!" teriak keduanya bersamaan merasakan rasa sakit yang berbeda.


" GUSTIIII....!!! Ada apa kok teriak teriak? Kalian kenapa?" ibu Hana berlari menghampiri keduanya dengan masih menenteng alat penggorengan di tangannya. Dewa memegangi kakinya yang sakit karena diinjak Hana, sedangkan Hana mengelus jidadnya yang baru saja beradu dengan lantai.


Ibu menatap Hana dan Dewa bergantian meminta penjelasan.


" Ada apa ini? Kalian berkelahi?"

__ADS_1


" Enggaklah Tante, masak berkelahi. Tadi ada tikus. Aku dan Hana mencoba menangkapnya malah jatuh, ya beginilah jadinya. He he. Iya kan Hana sayang?" Dewa tersenyum penuh maksud ke arah Hana.


" Iya, tadi ada tikus mesum minta digaplok." ketus Hana.


__ADS_2