Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Menerobos


__ADS_3

Tidak butuh banyak waktu Hana dan Dewa kini telah sampai di depan kediaman keluarga Hana. Rumah yang sudah Hana tinggali selama lebih dari 20 tahun itu terlihat sepi seperti tidak berpenghuni. Bahkan pintu pagar rumahnya terkunci rapat tidak seperti biasanya.


" Rumahnya sepi Yang. Apa mungkin Ayah dan Ibu enggak ada di rumah?" tanya Dewa sembari memindai sekitar rumah. Sudah beberapa kali ia memencet bel di dekat pintu pagar tapi tidak ada respon dari penghuni rumah.


" Biasanya sih jam segini Ayah masih di kantor. Kalau Ibu, enggak tahu juga lagi apa. Kadang ke toko roti, kadang ngrumpi di tetangga, kadang tidur siang, atau terkadang juga jalan jalan."


" Wow, Ibu mertua impredictable..... coba kamu telpon saja Yank."


" Baiklah, ini barang barangnya tolong bawakan dulu ya." Hana menyerahkan paper bag yang ada di tangannya. Dewa menerima semua paper bag itu dan meletakkannya perlahan di sisi motornya.


" Tut.... tut..... tut....." panggilan Hana tersambung tapi tidak dijawab oleh pemiliknya.


" Enggak dijawab Yang. Enggak biasanya dech ibu enggak menjawab telpon. Atau aku coba hubungi ponsel ibu saja ya." dengus Hana namun usahanya tetap tidak membuahkan hasil.


" Gimana Yang?" tanya Dewa yang dijawab Hana dengan gelengan kepala.


" Atau kita pulang saja. Nanti atau besok kita ke sini lagi?"


" Ah masak iya, kita sudah sampai mau pulang lagi. Sudah capek capek naik motor sembari bawa banyak barang, sia sia dong tenaga kita?" keluh Hana. Ia mendekat dan mengamati pintu pagar rumahnya dengan seksama.


" Ada apa sih Yang? Pintunya kan terkunci, enggak bisa dibuka."


" Memang enggak bisa dibuka, tapi bukan berarti kita enggak bisa masuk kan? Lihat baik baik deh, pintunya enggak digembok cuma dikunci pakai selot saja. Ayo cepat kita masuk." ajak Hana.


" Bagaimana caranya mau masuk? Mau dobrak pintu pagar? Berat loh Yang, yang ada malah badan kita yang penyok."


" Trust me, kita pasti bisa masuk. Kamu cepat jongkok di sini sebentar." Dewa bingung dengan permintaan istrinya itu.


" Sudah cepetan. Ikuti saja kata kataku." Hana melepas kedua sepatunya dan mengambil ancang ancang.


" Okey, lalu?" Dewa mengikuti permintaan sang istri.


" Hap." Hana menjadikan bahu Dewa sebagai tumpuan untuk melompati pagar rumahnya. Tubuhnya terlihat luwes dan lihai saat melakukan gerakkan tiba tiba itu. Sepertinya ini bukanlah pengalaman pertama bagi Hana melompati pagar rumah setinggi tubuhnya.


" What???!! Dia barusan melompat?" Dewa terkejut dengan aksi tidak terduga dari istrinya itu.


Tidak berapa lama wajah Hana muncul dari balik pintu pagar dengan senyum penuh kemenangan.


" Ayo Sayang bawa masuk motor dan barang bawaan kita." ajak Hana tanpa rasa berdosa.


" Kamu tadi menjadikanku pijakan? Kami menginjak suamimu sendiri." dengus Dewa.


" Bukan pijakan, tapi tumpuan. Lagi pula aku juga melepas sepatuku, jadi bahumu tidak sakit bukan? Dan ini bukanlah pertama kali aku melakukannya. Dulu saat masih sekolah aku sudah teramat sering melakukannya jadi aku sudah sangat terlatih." Hana merasa bangga.

__ADS_1


" Aku tidak percaya bahwa kamu adalah seorang guru."


" Apa hubungannya guru dengan ini semua?" protes Hana.


" Tentu saja ada. Seorang guru harusnya bisa memberi contoh yang baik untuk muridnya. Lah ini kamu malah_"


" Malah apa? Ini juga termasuk contoh yang baik. Bagaimana kita harus bisa berpikir cepat untuk keluar dari masalah dan bagaimana cara kita agar mempunyai penyesuaian diri yang baik terhadap keadaan yang ada. Selain itu gerakkan tadi juga melatih sensor saraf motorik loh Yang." sanggah Hana membenarkan tindakannya.


" Heh mana ada guru ngajari muridnya untuk melompati pagar rumah?"


" Nyatanya ada, aku...?!" Hana menunjuk wajahnya sendiri.


" Itu namanya problem solving Sayang. Kamu mau kita berlama lama di depan pintu sampai mengering kepanasan?"


" Huffft, terserah kamu deh. Tapi lain kali jangan pernah melakukannya lagi. Bagaimana jika ada junior di sini?" Dewa menunjuk perut Hana dengan sorot mata tajam membuat nyali Hana menciut seketika.


" Iya, lain kali aku akan lebih hati hati. Tapi jika memang aku sudah hamil, sebelum itu..... Aku masih mempunyai waktu untuk melakukannya lagi kan. He he."


" Kamu...?!" Dewa tidak bisa berkata kata lagi dengan sikap istrinya.


" Dan asal kamu tahu Yang, saat nanti aku hamil muda tidak hanya gerakkan melompat saja yang tidak diperbolehkan. Tapi ritual kita pun juga harus dihentikan untuk sementara waktu sampai janin itu benar benar kuat di posisinya." tutur Hana.


" Hah? Benarkah ada larangan seperti itu juga?"


" Sayang ayo cepat masuk. Kenapa malah bengong di sana?"


" Hah? Oh baiklah." Dewa menuntun motornya masuk melewati pintu pagar rumah. Ia memarkirkan motor hitam itu sembarang di pekarangan rumah mertuanya.


" Tok tok tok.... Assalamualaikum.....!" Hana mengetuk pintu berulang kali.


" Kayaknya ibu memang enggak ada di rumah." Hana menghentikan gerakkan tangannya.


" Jadi bagaimana sekarang? Kita pulang atau kamu punya cara lain lagi untuk masuk ke dalam?" tanya Dewa.


" Tentu saja kita harus masuk. Tidak ada pintu yang bisa menghalangi seorang Mikayla Hanania. Tinggalkan saja barang bawaan kita di sini." bibir Hana menyeringai. Kilatan matanya memberitahu bahwa ia punya cara lain untuk memasuki rumah yamg sudah teramat ia pahami seluk beluknya.


" Ayo cepat Sayang." Dewa mengekor langkah istrinya.


" Ini_?!"


" Ya, kita akan masuk lewat jendela kamar ini." Hana mengambil sebuah obeng yang terselip di sebuah pot bunga. Entah kenapa Dewa merasa bahwa Hana sengaja menyelipkan obeng itu di sana jauh jauh hari.


" Kamu sudah sering melakukan ini ya Yang?"

__ADS_1


" Tidak terlalu sering sih, cuma pas kepepet saja. Seperti sekarang ini." Hana berhasil membuka jendela kamarnya dengan menggunakan obeng di tangannya.


" Silahkan masuk suamiku tercinta. Bukankah kamu sangat senang masuk ke dalam kamarku melalui jendela?"


" Wow, kamu memang luar biasa. Aku harus berlatih banyak hal kepadamu. Di balik wajah imut dan manismu ternyata ada banyak bakat untuk menjadi seorang pembobol rumah yang ulung. Atau mungkin masih banyak keahlian lain yang belum aku ketahui Sayang?"


" Entahlah aku memang terlahir dengan banyak bakat. Mungkin jika aku berlatih dengan serius aku bisa menjadi seorang spesialis pembobol rumah atau bahkan bank mungkin?"


" Itu mungkin saja. Ha ha ha." keduanya tertawa bersama.


" Hap." dalam sekejap tubuh Dewa telah berada dalam kamar tidur istri tercintanya. Disusul oleh Hana di belakangnya.


" Oh, kasur kesayanganku...... I miss u...." Hana merebahkan tubuhnya di kasur sambil berguling guling di atasnya.


Manik matanya memindai setiap sudut dan barang yang ada di kamarnya. Semua masih terlihat sama seperti sebelum ia meninggalkan ruangan tempatnya beristirahat dan menyelami dunia mimpi selama ini.


" Sayang kamu ingin berguling guling seperti ini saja, atau mau membuka pintu rumah?" tanya Dewa dengan tangan bersedekap di dada.


" He he. Maaf aku hampir lupa. Baiklah ayo kita buka pintu rumah lalu masukkan semua barang bawaan kita yang masih tertinggal di luar." Hana beranjak dari tempat tidurnya.


Hana dan Dewa melangkah keluar kamar sembari bercanda dan berlari kecil. Keduanya saling menggoda dan mengejar.


" Brugh....!!" tubuh Hana menabrak tubuh wanita yang baru saja keluar dari kamar tidurnya. Keduanya terjatuh karena terpental.


" GUSTIIIIII.... MALING.....!!!" teriak ibu Hana tanpa melihat ke arah wajah anaknya. Dia sangat terkejut dan histeris karena tiba tiba saja ada orang lain di rumahnya. Padahal ia sangat yakin bahwa pintu pagar maupun rumah telah ia kunci sebelumnya.


" Ssstttt, Bu ini aku. Hana."


Hana, si panci gosong? Bukankah ia masih ada di luar negeri untuk berbulan madu. Bagaimana mungkin ia bisa ada di sini? Lalu bagaimana cara dia masuk, pintu pagar dan rumah sudah aku kunci rapat. Jangan jangan.....?


" Astaghfirullahal adhim..... Wewe gombel.....!!!" teriak ibu Hana yang membuat anak dan menantunya saling pandang.


What??! Wewe gombel? Ibu menganggapku wewe gombel?!


" IBUUUUU.... Ini Hana anak Ibu. Bukan wewe gombel. Lihat baik baik." dengus Hana merasa kesal karena dikira wewe gombel oleh wanita yang melahirkannya.


" Ha ha ha. Mungkin kita memang cocok. Kamu selalu memanggilku dengan sebutan anak jin, lah sekarang ibu kandungmu sendiri saja menganggapmu wewe gombel. Ha ha ha." Dewa membantu istrinya berdiri sambil terkekeh geli.


" Kalian_?!"


" Iya Ibu benar." jawab Dewa tanpa menunggu mertuanya menyelesaikan kalimat berikutnya.


" Jadi kalian beneran jin dan wewe gombel penunggu rumah ini?" tanya ibu Hana dengan raut wajah takut membuat Hana dan Dewa menepuk jidad.

__ADS_1


__ADS_2