Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Gadis Rahasia


__ADS_3

" Siapa gadis itu?"


" Hah..?" Yusuf dan Dewa saling melempar pandangan.


" Gadis? Gadis siapa yang Ibu maksud?" wajah Yusuf tampak bingung.


" Gadis yang telah membuatmu murung, gadis yang berhasil menaklukan hatimu. Katakan, siapa dia. Nanti biar Ibu dan Hana bantu kamu buat dapatkan dia." desak ibu Dewa.


Sepeninggal Yusuf dan Dewa tadi Hana bercerita perihal Yusuf yang terlihat murung karena patah hati. Yusuf yang bersedih hati karena belum sempat mengungkapkan perasaannya kepada gadis yang dicintainya.


" Bu, sudahlah enggak enak sama orang tua Hana kan." bisik Dewa ke ibunya yang masih bisa didengar oleh Hana.


" Enggak apa apa dong sayang, kita sebentar lagi kan jadi satu keluarga. Orang tuaku juga sudah mengenal Yusuf. Jadi kita semua siap kok bantu Yusuf. Apalagi dia adalah sahabat baikku yang sebentar lagi bakalan jadi adik ipar aku." tutur Hana.


" Iya kami sudah kenal dengan Yusuf kok, dulu dia sudah pernah main ke sini. Hana juga sering bercerita tentang Yusuf. Benar kan Nak?" imbuh ibu Hana.


Aduh ngapain sih bahas tentang gadis yang dicintai Yusuf lagi. Aku sudah susah susah hibur Yusuf biar enggak terlalu baper malah diungkit ungkit lagi.


" Sayang sudah deh enggak usah bahas cinta Yusuf lagi. Mendingan fokus bahas rencana pernikahan kita. Lagian Yusuf sudah mutusin buat move on, soalnya gadis itu bentar lagi mau nikah. Enggak baik kan kalau harus merebut tunangan orang." bujuk Dewa mencoba mengalihkan perhatian Hana.


" Tapi setidaknya kamu harus cerita Nak, biar luka hatimu bisa segera sembuh. Siapa tahu nanti ibu bisa bantu. Ibu sedih lho kalau lihat kamu sedih." ibu Dewa merasa iba dengan keadaan anak sambungnya itu.


" Aku baik baik saja kok Bu, terima kasih sudah khawatir. Tapi beneran kisah aku sudah selesai, gadis itu akan menikah sebentar lagi. Dan aku sudah putuskan untuk mengubur rasa ini. Jadi tolong jangan diungkit lagi ya?"


" Kamu beneran baik baik saja? Bener sudah mutusin mau mengakhiri perasaan kamu?" cerca Hana.

__ADS_1


Yusuf mengangguk mantap.


" Sudah ya sayang, sudah cukup. Kasihan Yusuf jangan didesak lagi." lirih Dewa di dekat Hana.


Akhirnya mereka kembali membahas rencana pernikahan Hana dan Dewa secara mendalam. Seperti keinginan Hana, pernikahan mereka akan diadakan secara sederhana. Hanya akan dihadiri oleh kerabat dan teman dekat saja. Awalnya para orang tua menginginkan pesta yang meriah mengingat Hana dan Dewa adalah anak pertama. Tapi apalah daya, Hana tetep kekeh ingin acara pernikahan yang sederhana agar lebih khusyuk dan tidak menyita banyak waktu.


Selama perbincangan Yusuf justru tengah asyik memandangi wajah Hana yang terlihat berseri dan bahagia.


Bagaimana bisa menghapus rasa cinta ini? Jika hanya dengan melihat senyuman di wajahnya saja sudah membuat jantung ini berdebar enggak karuan. Andaikan dulu aku punya keberanian untuk mengungkapkan cinta, pasti sekarang aku enggak akan seperti ini. Seandainya ditolak pun, pasti tidak akan sesakit ini. Mungkin aku harus mengikuti ide Dewa untuk segera mencari pacar, setidaknya bisa mengalihkan perasaanku ke Hana.


Hana... Mengapa gadis itu harus Hana?


" Bagaimana Suf?" ibu Dewa meminta pendapat Yusuf mengenai konsep pilihan Hana.


" Gadis itu Hana." ceplos Yusuf tanpa sadar dengan apa yang ia ucapkan.


Kini semua mata tertuju kepada Yusuf, membuat dirinya salah tingkah dan merutuki kebodohannya.


Aduh mengapa aku bisa keceplosan menyebut gadis itu Hana?


" Eh, em.... Maksudku gadis itu Hana sangat mengenalnya." Yusuf mencoba meralat ucapannya.


" Ohhhhh...." semua terlihat lega. Tapi tidak dengan Hana. Ia justru menatap lekat ke netra Yusuf.


" Yusuf bisa kita bicara sebentar?" Hana beranjak keluar dan disusul Yusuf mengekor di belakangnya.

__ADS_1


Setelah memastikan bahwa omongan mereka tidak akan terdengar oleh yang lain, Hana memulai pembicaraan.


" Yusuf maafkan aku, karena selama ini aku tidak pernah menyadari perasaan kamu. Aku selalu menganggap kamu sebagai sahabat baikku. Tapi nyatanya aku tidak bisa memahami dirimu dengan baik. Maafkan aku, tapi memang benar ucapan Dewa bahwa kamu harus segera melupakan rasa cintamu itu." Hana terlihat prihatin dengan nasib cinta sahabatnya itu.


" Deg....!"


Akhirnya Hana menyadari perasaanku. Aku harus bereaksi seperti apa sekarang?


" Aku ini memang kurang peka, bagaimana aku bisa tidak menyadari perasaanmu yang padahal sudah terlihat sangat jelas? Ah bodohnya aku..... Tapi mengapa kamu tidak bilang sebelumnya?"


" Sudahlah Hana, kamu enggak bersalah. Ini semua murni kesalahan aku yang tidak punya keberanian untuk mengatakannya dari dulu."


" Dari dulu? Jadi cinta itu sudah ada dari dulu? Kenapa kamu enggak pernah bilang?"


" Aku terlalu pengecut Hana, aku tidak ingin merusak persabahatan kita. Tapi sudahlah, ini semua sudah berakhir aku akan berusaha untuk meredam rasa ini." suara Yusuf sedikit bergetar menahan gejolak hatinya.


" Huh kamu benar, aku tahu memang tidak akan mudah meredam rasa cinta. Tapi demi persahabatan kita, kamu harus melakukan itu. Kamu harus mengikhlaskan Laura untuk menikah dengan Kak Rayhan. Aku yakin kamu pasti bisa." Hana menepuk pundak Yusuf.


" Iya kamu benar. Aku pasti bisa. Eh tunggu dulu, La_ Laura?" Yusuf baru sadar bahwa ternyata Hana dan dirinya membahas gadis yang berbeda.


" Iya, Laura. Siapa lagi? Selama ini gadis yang kamu cintai adalah Laura kan? Aku memang bodoh karena baru menyadarinya sekarang. Bagaimana aku bisa mengabaikan perhatianmu ke Laura selama ini? Kamu yang selalu ada untuk Laura, kapan pun itu. Bahkan kemarin kamu jauh jauh dari luar negeri masih membawa koper langsung pulang ke tempat Laura. Maafkan aku, aku benar benar sahabat yang payah. Tapi sebagai sahabat aku tegaskan bahwa kamu harus segera menghapus rasa cintamu itu karena Laura hanya mencintai Kak Rayhan seorang." tutur Hana membuat kesimpulan sendiri.


" Semangat Suf, kamu pasti akan segera bertemu dengan cinta sejati kamu. Dan tenang saja demi kelangsungan persahabatan kita aku akan menjaga rahasia ini dari Laura. " Hana mencoba menyemangati sahabatnya.


Laura? Jantungku sudah berdetak keras seperti mau copot tapi ternyata Hana malah salah menyimpulkan. Gadis itu kamu Han. Kamu bukan Laura. Tapi sudahlah, mungkin memang lebih baik seperti ini.

__ADS_1


Yusuf menghela nafas panjang. Bibirnya menyunggingkan senyum merasa lucu dengan nasib cintanya. Dia tidak habis pikir bagaimana ada nama Laura, jelas jelas yang ia maksud adalah Hana. Bagaimana Hana yang notabenya adalah seorang guru matematika yang sangat lihai menganalisis dan membuat kesimpulan justru tidak bisa menyadari perasaan Yusuf ke dirinya.


" Dasar gadis bodoh." dengus Dewa yang diam diam mencuri dengar pembicaraan Hana dan Yusuf.


__ADS_2