Hati Yang Setia

Hati Yang Setia
Canal of Amsterdam


__ADS_3

Pesawat pribadi yang mengangkut Hana dan Dewa terbang tanpa ada kendala. Burung besi itu berhasil membawa penumpangnya ke negara tujuan yang dahulu pernah menjajah Indonesia selama lebih dari tiga ratus tahun lamanya. Perjalanan antar benua dengan jarak hampir 12 ribu kilo meter yang memakan waktu 18 jam itu terasa singkat bagi pasangan pengantin yang sedari tadi sibuk memadu kasih di dalam kamar panas mereka. Tepat pukul 19.00 waktu setempat, pesawat pribadi mereka berhasil mendarat di bandara Schiphol, Amsterdam dengan selamat dan lancar.


Sebuah mobil mewah telah menanti kedatangan Hana dan Dewa lengkap dengan sopir yang siap mengantar mereka berdua ke hotel Intercontinental Amstel Amsterdam. Sebuah hotel yang terkenal dengan suasana romantis dan lokasinya dekat dengan restoran dan tempat tempat favorit tujuan wisata. Orang tua Dewa telah memesan sebuah kamar hotel secara khusus untuk mereka selama berada di negara yang terkenal akan kanal dan kincir anginnya itu. Mata Hana terkesiap saat memasuki sebuah kamar yang telah dipenuhi oleh kelopak mawar merah dan cahaya lilin. Benar benar sebuah kamar yang romantis untuk menghabiskan malam panjang untuk pasangan yang tengah berbulan madu.



Semerbak harum bunga memenuhi rongga penciuman Hana tatkala kakinya melangkah ke dalam kamar itu.


" Indah sekali." gumam Hana sembari mengedarkan matanya ke tiap sudut ruangan.


" Kamu suka?" dalam seperkian detik Dewa telah membopong tubuh Hana dengan tangan kekarnya tanpa menutup pintu kamar terlebih dahulu.


" Apa yang kamu lakukan? Turunkan aku. Ini memalukan jika ada orang lain yang melihat."


" Kenapa harus malu? Kita sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Mereka tidak akan keberatan dengan ini semua. Lagi pula ibu telah mempersiapkan kamar ini secara khusus untuk bulan madu kita." Dewa mencium gemas pipi istrinya.


" Sayang hentikan, tutup pintu kamar kita terlebih dahulu."


" Baiklah sayang, tunggu sebentar ya. Setelah pintu kamar tertutup tidak ada alasan lagi bagimu untuk protes." Dewa menurunkan tubuh mungil istrinya dari gendongan dan dengan segera menutup pintu kamar sesuai dengan perkataan wanita yang telah menjadi candu baginya.


" Ayo kita lakukan." Dewa membopong kembali tubuh Hana dengan sumringah dan merebahkannya di tempat tidur yang telah dihiasi oleh kelopak mawar merah yang dibentuk menjadi simbol cinta.


" Bukankah tadi kita sudah melakukannya seharian di pesawat? Tidakkah itu cukup?" keluh Hana yang merasakan tubuhnya pegal karena Dewa tidak membiarkannya beristirahat di pesawat.


" Jika mengenai dirimu, itu tidak akan pernah cukup." wajah Dewa menyeringai.


" Lalu apa kita harus selalu melakukannya? Kita jauh jauh melintasi benua tidak hanya untuk itu kan? Ayo kita jalan jalan saja." ajak Hana.


" Mmmm, baiklah. Tapi biarkan aku melakukannya sekali lagi." Dewa menerkam tubuh istrinya dan kembali membuatnya mengerang kenikmatan.

__ADS_1


Udara dingin di kota Amsterdam membuat keduanya tidur dengan lelap setelah melewati malam panas mereka.


" Ayo cepatlah bangun sayang, kita harus bergegas. Ada banyak tempat yang ingin aku kunjungi." rengek Hana mencoba membangunkan lelaki yang masih tertidur pulas di ranjang.


" Sebentar lagi, aku masih sangat mengantuk." jawab Dewa dengan malas tanpa membuka matanya.


" Baiklah jika kamu tidak bangun, aku akan jalan jalan sendirian. Jangan salahkan aku jika nanti ada bule ganteng yang menggaetku. Wajah imut dan manis sepertiku pasti akan menjadi incaran pria bule di sini." ancam Hana yang membuat suaminya membuka matanya dengan seketika.


" Iya aku bangun. Tunggu lima menit. Aku mandi dulu." Dewa bergegas ke kamar mandi.


" Sayang, kita mandi berdua?" ucap Dewa sambil melongokkan kapalanya dari balik pintu.


" Jangan harap...! Cepat mandi atau aku beneran jalan jalan sendiri." ketus Hana dengan nada sewot.


" Iya aku mandi." jawab Dewa lesu sambil menarik kepalanya kembali.


" Ketus banget, padahal kemarin dan semalam dia merem melek keenakan."


Hana menunggu suaminya dengan menikmati udara pagi yang terasa dingin dari balkon kamar hotel. Dari tempat Hana berdiri, ia dapat melihat keindahan pemandangan kota Amsterdam yang dihiasi oleh bangunan abad pertengahan dan kanal lengkap dengan kapal kecil yang melintas.



" I love you....." bisik Dewa yang sudah tampil segar sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang.


" I love you too." Hana menghadiahi kecupan mesra di pipi suaminya.


Wajah keduanya tampak berbinar seakan semua kebahagiaan kini telah dilimpahkan ke mereka.


" Dingin?" tanya Dewa saat bibirnya menyentuh kulit leher istrinya yang terasa lebih dingin dari biasanya.

__ADS_1


" Huum." jawab Hana singkat.


" Bagaimana kalau kita batalkan jalan jalan kita saja. Kita habiskan bulan madu kita di kamar ini, bukankah udara di luar terasa dingin."


" Tidak mau. Jauh jauh ke Belanda cuma mau dihabiskan di kamar? Ayah dan ibu mertua sudah menggelontorkan banyak uang untuk perjalanan ini, dan kamu ingin menyia nyiakan ini semua? Aku tidak akan membiarkan itu semua. Ayo cepat kita bergegas, ada banyak tempat indah yang harus kita kunjungi."


" Iya, iya. Kita pergi tapi jangan lupa untuk memakai baju hangatmu terlebih dahulu." Dewa mengiyakan permintaan istrinya.


Sebelum menjelajahi tempat tujuan mereka, Hana dan Dewa menyempatkan diri menikmati sarapan di dalam restoran hotel mewah itu. Mereka sengaja memilih tempat duduk di dekat jendela yang menampilkan pemandangan kanal di pagi hari secara langsung.



" Mau kemana kita?" tanya Dewa sesaat setelah menyelesaikan sarapannya.


" Canal of Amsterdam." jawab Hana dengan semangat.


" Baiklah, kita akan ke sana. Kebetulan hotel yang kita tempati menyediakan fasilitas penyewaan kapal kecil dan perahu lengkap dengan tour guide untuk melakukan tour menyusuri kanal sembari singgah di tempat tempat yang menarik. Kita akan memilih yang mana? Kapal kecil dengan suguhan makanan dan minuman, atau perahu dengan seorang tourguide agar lebih privasi?"


" Kita naik perahu saja, kayaknya lebih seru. Kita bisa berhenti dimana dan kapan saja kan?"


" Kamu tahu saja kalau naik perahu lebih romantis. Dan tentu saja keinginan istri tercintaku adalah kewajiban bagiku." Dewa mengecup punggung tangan istrinya dengan lembut.


Sebuah perahu motor kecil membawa Hana dan Dewa menyusuri kanal yang namanya sudah terkenal di manca negara itu. Sepanjang perjalanan, Hana duduk dalam dekapan Dewa, seakan lelaki bermanik hijau itu tidak membiarkan hawa dingin menyentuh kulit istrinya. Tour guide yang memandu perahu mereka menjelaskan tentang seluk beluk kanal Amsterdam dan sekitarnya dalam bahasa Inggris yang fasih. Mereka terlihat sangat menikmati perjalanan air itu dimana sepanjang kanal disuguhi oleh pemandangan bangunan dari abad pertengahan yang terlihat indah dan terawat, sungguh sangat memanjakan mata siapa saja yang melihatnya.



Canal of Amsterdam dibangun pada abad ke-17 yang tujuan awalnya untuk mengontrol aliran sungai Amstel sehingga dapat mengaliri lahan kering di kota. Namun seiring dengan perkembangan zaman kini kanal itu telah menjadi salah satu destinasi wisata andalan di negara Belanda. Pada tahun 2010 UNESCO resmi memasukkan kanal Amsterdam sebagai salah satu situs warisan budaya dunia.


Naik perahu sepanjang kanal dengan melintasi 100 kota dan lebih dari 1000 jembatan menawarkan cara yang santai untuk melihat arsitektur Belanda. Hal itu menjadi pilihan banyak pengunjung untuk menghabiskan waktu romantis bersama pasangan.

__ADS_1


Banyak perahu yang mengangkut sepasang anak manusia yang tengah bermesraan di atasnya, entah itu pasangan suami istri atau sekedar kekasih saja. Memang kota yang dikenal dengan julukan " Venesia dari utara" itu banyak dijadikan sebagai tempat favorit untuk liburan maupun berbulan madu.


__ADS_2