
Keriuhan terdengar di ruang makan Dewa. Mereka tengah menikmati makan malam ala ibu Dina yaitu berbagai masakan asli Indonesia dan tentunya disantap dengan nasi putih. Soal rasa tidak perlu diragukan lagi. Seharian ini ibu Hana benar benar bahagia karena bisa melakukan hobinya yaitu memasak berbagai macam jajanan dan makanan. Ditambah lagi mendengar kabar kehamilan putri sulungnya.
" Ayo silahkan dinikmati Nyonya Aleena. Ini semua adalah hasil masakan saya dan Rani, semoga sesuai dengan selera Anda." ucap ibu Hana dengan ramah.
" Iya terima kasih, ini semua terlihat enak dan menggiurkan. Dan Anda sepertinya sangat dekat dengan Rani. Kalian terlihat seperti saudara sendiri."
" Itu benar Nonya Aleena. Saya dan Mbak Dina memang sangat dekat. Saya menganggap Mbak Dina seperti kakak saya sendiri. Karena kebetulan saya anak tunggal." Rani tersenyum lembut.
" Owh benarkah? Aku jadi iri dengan kalian. Kalau kalian bisa sedekat itu lalu kenapa terus memanggilku dengan sebutan Nyonya dan terlihat sungkan dengan diriku. Kalian juga harus menganggapku sebagai saudara bukankah kita bertiga sama, orang tua dari Hana dan Dewa. So, panggil aku Aleena saja dan anggap aku sebagai saudara dari kalian. Bolehkan....??" pinta Aleena.
Dina dan Rani saling pandang dan terlihat ragu untuk memanggil wanita berambut pirang itu dengan namanya langsung.
" Hey, kenapa kalian justru diam seperti itu? Just call me Aleena. Atau apakah aku tidak pantas untuk menjadi saudara kalian?"
" Bukan begitu Nyonya Aleena." sanggah Rani dengan cepat.
" See??? Kamu bahkan masih memanggilku dengan sebutan Nyonya." Aleena terlihat merajuk.
" Maksud saya Aleena. Tentu saja kami akan sangat senang karena mendapat saudara sebaik dan secantik Anda. Bukan begitu Mbak Dina?"
" Iya, benar seperti itu." jawab Dina dengan sedikit ragu.
" Mama Aleena, Anda harus mencoba sambal terasi ini. Ini sangat lezat jika dipadukan dengan nasi putih dan ikan gurame lengkap dengan lalapan seperti ini." Hana menyodorkan sebuah piring berisi makanan favoritnya.
" Terima kasih Honey, kamu juga harus makan yang banyak karena sekarang ada baby di perut kamu." ucap Aleena.
" Tentu saja. Mama tidak lihat kalau sedari tadi aku sudah makan banyak makanan."
" Nyonya, ah maksud saya Aleena tidak perlu khawatir dengan Hana. Karena dia memang jago makan sedari dulu. Na*su maknnya selalu besar. Tidak pernah ada makanan yang ia tolak." ucap ibu Hana yang disambut gelak tawa orang orang dalam ruangan itu.
"Itu karena masakan Ibu selalu enak." kilah Hana.
"Ah benarkah? Tapi mengapa aku merasa kamu selalu banyak makan dimana saja meskipun bukan masakan ibu Dina. Nyatanya saat makan di pinggiran jalan pun kamu bisa menghabiskan dua porsi." ejek Dewa yang sudah mengganti pakaiannya dan mandi lagi karena ternyata istrinya mulai tidak menyukai aroma parfume.
" Heh itu karena metabolisme tubuh aku tinggi. Sehingga perlu banyak makan. Lagi pula kenapa kamu baru protes sekarang tentang aku yang doyan makan." ketus Hana.
__ADS_1
" Bukannya protes Sayang. Aku malah senang kalau kamu banyak makan." ucap Dewa dengan hati hati karena tidak mau membuat si calon ibu kesal.
" Maksud kamu biar aku gendut dan bisa kamu ejek?"
Salah lagi, kenapa jadi serba salah si?
" Iya enggak lah Sayang. Aku akan selalu menyukai kamu apa adanya. Enggak mungkin aku akan ngejek kamu. Kamu kan istri termanis dan terbaikku."
" Jadi kalau sudah enggak manis boleh diejek dong." Yusuf menimpali yang sontak mendapat pelototan dari Dewa.
" Benarkah ucapan Yusuf??!!"
" Tentu saja tidak. Dia hanya iri dengan keromantisan kita." ucap Dewa.
" Sudah jangan ribut terus. Ayo makan dengan tenang. Dan kamu Dewa mulai sekarang dilarang mengajak Hana makan sembarang di pinggir jalan. Tidak higienis." tutur Anton.
" Iya itu benar. Kamu dilarang membawa menantuku makan sembarang makanan di pinggir jalan. Itu bukan makanan sehat. Dan mulai besok aku akan mempekerjakan seorang ahli gizi yang akan memasak dan memantau makanan yang akan dimakan oleh menantu dan calon cucuku." imbuh Russell yang mana membuat Hana terbelalak karena merasa itu keterlaluan.
" Aku setuju dengan ide Papamu Dewa. Nutrisi yang masuk ke tubuh Hana harus dijaga dan diperhatikan. Mulai besok akan ada tambahan pekerja yang memantau makanan dan sekaligus merawat Hana. Dan perlu kamu ingat, aku melarang menantuku mengerjakan pekerjaan rumah sekecil apa pun. Akan ada pekerja yang melakukan itu semua. Dan tugas kamu Dewa, memastikan keselamatan dan kebahagiaan istrimu agar tidak stress." ucap Anton tidak mau kalah dengan Russell.
" Kalau perlu, kamu dan Hana pindah ke rumah yang lebih besar dan layak. Akan ada banyak pelayan dan sekaligus bodyguard yang akan melayani kalian. Papa akan menyiapkan sebuah mansion mewah tempat tinggal baru kalian." imbuh Russell membuat mulut Dina menganga seketika.
" Yah, mertua Hana sepertinya bukan orang biasa." bisik Dina ke arah suaminya.
" Huum. Ayah juga berpikir seperti itu." jawab ayah Hana lirih.
" Stop Papa Russell....! Aku dan Dewa tidak akan pindah kemana mana. Aku sudah nyaman tinggal di rumah ini." Hana sudah tidak tahan dengan ucapan Papa mertuanya yang dirasa konyol dan keterlaluan.
" Sayang itu semua untuk kebaikan dirimu dan baby di perutmu. Akan ada banyak pelayan dan tenaga medis yang memamstikan kesehatanmu."
" No. Kenapa Papa tidak memindahkan rumah sakit saja ke sini." protes Hana.
" Itu bisa Papa lakukan tapi akan memakan sedikit waktu." jawab Russell terkesan santai.
Papa Dewa sungguh hebat. Tidak kusangka dia begitu kaya dan berpengaruh, sampai membangun sebuah mansion dan rumah sakit adalah sebuah hal yang sepele.
__ADS_1
" PAPA RUSSELL....! Hana hanya hamil, tidak perlu itu semua. Ada banyak jutaan wanita di luar sana yang juga tengah hamil seperti Hana dan mereka baik baik saja dengan kehidupan normal mereka." seru Hana.
" Sayang, jangan paksa menantuku seperti itu. Dia justru akan tertekan dengan perlakuanmu yang berlebihan." ucap Aleena lembut.
" Iya Mama Aleena sangat benar. Mama tolong biarkan Hana dan Dewa untuk menjalani kehidupan kami secara normal." rengek Hana kepada wanita cantik itu.
" Sayang dengarkan menantu kesayanganku. Cukup aku yang kau perlakukan secara berlebihan. Jika bukan karena aku ingin hidup lebih lama agar bisa berkumpul dengan anak dan cucuku aku juga tidak mau hidup dalam pengawasan ketat dari para dokter ahli itu." Aleena mengingat nasibnya yang sedang menjalani perawatan untuk penyakit kankernya yang mana mengharuskan dia tinggal di sebuah mansion mewah dengan banyak pelayan dan dokter ahli lengkap dengan peralatan medis. Fasilitas kesehatan tempat tinggalnya tidak kalah dengam rumah sakit ternama yang ada. Bahkan ia harus merengek dan terus memohon kepada Russell agar diijinkan untuk mengunjungi Hana dan Dewa seperti saat ini. Dan meskipun mengijinkan tapi Russell membawa banyak pengawal dan seorang tenaga medis ahli untuk mendampingi istrinya.
" Mama benar Papa. Jangan berlebihan seperti itu. Kasihan Hana, dia pasti akan tertekan." Dewa setuju dengan ucapan Aleena.
" Baiklah kalau seperti itu. Tapi Papa akan tetap mempekerjakan tambahan pelayan dan ahli gizi untuk melayani kalian. Dan ini tidak bisa ditawar. Satu hal lagi, Papa juga akan menyiapkan sopir yang siap mengantar Hana kapan pun dan kemana pun." ucap Russell dengan penuh penekanan.
" Tapi Pa,.." rengek Hana.
" No, tidak ada lagi kata tapi. Kamu setuju dengan ideku kan Tuan Anton?"
" Iya, saya sangat setuju dengan Anda Tuan Russell. Dan biarkan itu semua menjadi tanggung jawab saya. Saya akan mempersiapkan itu semua dengan baik." jawab Anton.
" No, itu semua akan menjadi tanggung jawabku. Aku adalah Papa mertua Hana." tegas Russell.
" Dan aku adalah Ayah mertua Hana. Aku juga punya hak untuk mengambil tanggung jawab itu." kekeh Anton.
" Maaf Ayah, Tuan Russell. Biar lebih adil kenapa kalian tidak patungan saja." usul Yusuf.
" NO..!!" jawab Anton dan Russell bersamaan.
" Kamu anggap ayahmu ini semiskin itu hingga untuk membayar pelayan saja harus patungan??!!" seru Anton.
" Aku juga masih sangat mampu untuk membayar itu semua sendirian." protes Russell.
" STOP...!!!" seru Rani dan Aleena bersamaan.
" Kalian keterlaluan, sungguh kekanak kanakan." ketus Aleena.
" Kita akan memakai usul Yusuf. Kalian akan berbagi tanggung jawab bersama."
__ADS_1
" Maaf semua, aku kan suami Hana. Jadi biarkan itu semua menjadi tanggung jawabku." Dewa menyela.
" NO...!!!"