
Motor Hana melaju membelah jalanan malam yang ramai. Sapuan angin dan asap knalpot yang menerpanya tak menggentarkan niatnya untuk segera sampai ke rumah sang pujaan hati. Tangannya dengan lihai mengemudikan kendaraan beroda dua yang telah dipenuhi oleh barang barang hasil belanjanya ditambah dengan helm baru bonus dari tilangan tadi sore. Laju motornya tidak segesit dan secepat biasanya karena tidak bisa dipungkiri bahwa barang yang ia bawa sedikit banyak mengganggu ruang geraknya.
Wajah Hana tampak sumringah saat motornya berhenti di depan gerbang rumah Dewa.
" Tiiinnn.... tiiinnn.... tiiiiinnnnn...." Hana memencet klaksonnya berulang kali berharap agar pintu gerbang segera terbuka. Tangannya sudah terasa sangat pegal harus mengemudi motor dengan barang bawaan yang tidak sedikit.
" Kreeeekkkk....." tampak pak Soleh membuka pintu dengan tergesa.
" Maaf Mbak, ada keperluan apa ya?" tanya pak Soleh sopan tidak mengenali wajah Hana yang masih dibungkus helm.
" Dewa dan Ibu di rumah kan pak?"
" Ibu ada di dalam, tapi Mas Dewa belum pulang. Mbaknya ada keperluan apa?" pak Soleh menatap lekat ke arah Hana dan motornya.
Sudah malam Dewa belum pulang? Kasihan, dia pasti capek banget harus kerja seharian. Sepertinya dia memang tipe orang yang pekerja keras.
" Oh..... Mbaknya kurir tukang antar paket ya? Sebentar saya panggilkan nyonya dulu ya..."
" Ini sa_" Hana belum selesai dengan ucapannya, pak Soleh sudah ngacir ke dalam duluan.
" Ini saya Hana pak, bukan kurir paket." dengus Hana terdengar putus asa.
Nasib..... nasib.... capek capek ke sini malah dianggap kurir tukang antar paket, tangan sudah pegal gara gara dari tadi siang naik motor bawa barang untuk Laura, sekarang bawa barang belanjaan segini banyak untuk Dewa dan ibunya. Ternyata membahagiakan orang lain itu memang butuh pengorbanan. Benar kata Laura seharusnya aku naik mobil pasti tanganku tidak akan segempor ini.
"Huuhh...." Hana menghela nafas dalam. Mungkin memang sudah takdir Hana untuk menjadi kurir dalam sehari ini.
" Ada telpon.... angkat dong..... ada telpon....." ponsel Hana berbunyi. Dengan sedikit kesulitan, Hana mengeluarkan ponsel dari dalam sling bag nya.
" Halo assalamu alaikum, gimana Ra?" Hana memulai percakapan.
" Waalaikum salam. Posisi dimana Han? Kamu sudah sampai? Kamu baik baik saja kan?" suara Laura terdengar nyaring keluar dari speaker ponsel.
" Ya, aku sudah sampai dengan keadaan baik tanpa kurang apa pun." jawab Hana terdengar lesu.
" Kamu kenapa lemes banget? Perasaan tadi masih semangat 45?"
" Huuuhhh, aku capek banget Ra. Tanganku pegal naik motor sambil bawa barang sebanyak ini." keluh Hana.
__ADS_1
" Lagian kamu sih ngeyel. Sudah dibilangin naik mobil saja malah ngotot mau pulang naik motor. Makan tuh tangan pegel." ketus Laura yang tidak habis pikir dengan sikap sahabatnya yang getol banget naik motor.
" Iya iya Mak Laura yang bawel. Sudah dulu ya, Wassalamuaikum."
" Tung_" suara Laura terputus karena Hana memutuskan panggilan tanpa menunggu persetujuan dari lawan bicaranya.
"Biiip.... biiip....biiip....!" sebuah mobil pajero membunyikan klaksonnya berkali kali karena motor Hana menghalangi jalannya untuk masuk ke dalam rumah.
Ih siapa sich, kenceng banget nglaksoninnya kayak punya mobil sendiri saja. Enggak tahu apa kalau di kuping sampai sakit.
" Iya, sebentar sabar....... Kalau enggak sabar terbang saja sono." ketus Hana sambil memajukan motornya tanpa menengok ke belakang.
Mobil itu merangsek masuk ke dalam dan parkir di dalam garasi.
" Maaf Mbak kurir, kata nyonya enggak pesan barang online." ucap pak Soleh yang tergopoh menghampiri Hana.
" Hufffft....." Hana menghela nafas panjang dan memutar bola matanya.
" Pak Soleh ini saya Hana. Bukan mbak mbak kurir."
" Ya Alloh Gusti...... Mbak Hana...... Maaf Mbak, saya tidak mengenali Mbak. Habis ketutup sama helm. Maaf ya Mbak. Mari saya bantu." pak Soleh membantu menurunkan barang bawaan Hana dari motor.
" Sayang? Kamu ngapain malam malam ke sini sendiri? Bawa barang sebanyak ini lagi?" ibu Dewa berhambur keluar rumah saat mengetahui dari pak Soleh tentang kedatangan calon menantu kesayangannya.
" Assaalamualaikum Bu." Hana meletakkan barang bawaannya dan menyalami calon ibu mertuanya.
" Waalaikum salam. Ya ampun..... Kamu sampai keringetan seperti ini , pasti capek banget ya? Ayo cepat kita masuk ke dalam. Itu barangnya nanti biar dibawa pak Soleh." ibu Dewa memeluk dan menuntun Hana untuk segera masuk ke rumah.
" Mbok Mira, tolong buatkan minum buat Hana ya."
" Iya nyonya, Non Hana mau minum apa anget apa dingin?" tanya mbok Mira sopan.
" Air putih dingin saja Mbok."
" Baiklah, tunggu sebentar ya Non." mbok Mira beranjak ke dapur mengambilkan minuman untuk Hana.
Tak butuh waktu lama, mbok Mira telah kembali dengan segelas air putih dingin dan dua cangkir cokelat panas beserta beberapa kue kering untuk camilan.
__ADS_1
" Terima kasih Mbok." ucap Hana sopan saat mbok Mira menyuguhkan minuman di depannya.
Tanpa basa basi Hana langsung mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya sampai tandas.
" Huh... Alhamdulillah...." sensasi air putih dingin telah berhasil menyegarkan kerongkongan Hana yang sedari tadi terasa kering.
" Haus banget ya sayang? Mbok tolong tambah lagi air putihnya. Bawa satu teko sekalian ya."
" Kamu pasti kehausan harus bawa barang sebanyak itu naik motor. Maafin ibu ya, tadi enggak langsung nyuruh kamu masuk. Habis tadi dikira pak Soleh kamu mbak kurir tukang anter paket."
" He he enggak apa apa Tan_ eh Ibu. Maaf masih belum terbiasa panggil ibu jadi masih sering lupa. Oh ya, ini ada sedikit hadiah buat Ibu." Hana memilih dan menyodorkan beberapa paper bag yang tadi telah diletakkan pak Soleh di sebelah meja.
" Oh, ini buat Ibu? Ya ampun jadi kamu bela belain ke sini naik motor cuma buat beri hadiah ke ibu?Terima kasih banyak sayang. Kamu baik banget. Sebenarnya kamu enggak perlu repot repot seperti ini. Tapi sekali lagi terima kasih ya sayang, ibu senang banget." ibu Dewa menerima barang barang itu dengan sumringah bahkan matanya sampai berkaca kaca karena terharu dengan niat tulus gadis di depannya.
" Boleh ibu buka sekarang?"
" Oh silahkan, semoga nanti ibu menyukainya. Ya walaupun harganya tidak seberapa dibanding dengan barang yang biasa ibu beli." ucap Hana lembut.
" Ah kamu bisa saja, barang apa pun yang kamu pilihkan pasti akan lebih bagus karena kamu belinya pakai hati dan cinta."
" Pakai uang Bu, bukan pakai hati, kemahalan. Hati kan cuma satu, kalau buat beli hadiah habis dong......" kelakar Hana.
" Hah....? Owh.... Kamu ini ada ada saja. Ha ha ha..." ibu Dewa tertawa lepas bahkan sampai sudut matanya berair tanpa ia sadari.
Hana, kamu memang gadis luar biasa. Siapa pun pasti akan bahagia bila di dekatmu... Dewa sangat beruntung bisa mendapatkanmu.
Ibu Dewa mulai membuka hadiahnya satu per satu. Dengan semangat ia mencoba barang barang pemberian Hana. Bibirnya tidak berhenti menyunggingkan senyum bahagia. Semua barang yang Hana berikan sesuai dengan seleranya. Dan di antara semua hadiah yang Hana berikan, ada satu barang yang membuatnya terpaku, yaitu sebuah mukena lengkap dengan sajadah.
" Sekali lagi terima kasih ya sayang. Ini semua sangat berarti." ibu Dewa memeluk Hana dengan penuh kasih sayang.
" Oh, sampai lupa. Ayo diminum dulu cokelat panasnya, nanti keburu dingin." ibu Dewa menyesap cangkir yang berisi teh.
" Cokelatnya dua cangkir?" tanya Hana ragu.
" Oh, itu yang satu buat Dewa. Tapi kalau kamu mau nambah boleh kok." jelas ibu Dewa.
" Enggak usah Bu. Memangnya Dewa sudah pulang? Tadi kata pak Soleh masih kerja."
__ADS_1
" Sudah, baru saja. Tadi pulang kayaknya barengan sama kamu deh. Kamu enggak pas pasan sama dia?" tanya ibu Dewa heran.
Barengan sama aku? Apa jangan jangan mobil yang tadi barengan pas di gerbang? Hah, sialan Dewa. Masak dia enggak ngenalin aku. Jangan jangan dia juga ikut ikutan nganggap aku sebagai mbak kurir?