
Cinta datang tanpa rencana dan prediksi. Ada kalanya ia datang pada pandangan pertama. Namun terkadang rasa itu hadir seiring berjalannya waktu karena sering bersua dan terbiasa, seperti pepatah jawa "witing tresna jalaran saka kulina".
Hana duduk mematung di teras rumahnya, memandangi Rayhan yang duduk di kursi sebelahnya. Ia masih belum habis berpikir angin apa yang membuat Rayhan tiba tiba saja datang ke rumahnya malam hari tanpa ada pemberitahuan.
" Lho kok enggak diminum? Nanti keburu dingin tehnya." ucap ibu Hana memecah keheningan di antara mereka berdua.
" Oh ya silahkan diminum dulu Kak." ucap Hana ikut menawarkan minum untuk menghilangkan kecanggungan.
" Terima kasih Tante." Rayhan menyeruput teh di dekatnya.
" Ada urusan apa ya kok tumben malam malam main ke sini?" tanya ibu Hana.
" Enggak ada apa apa kok Tan, cuma pengin main saja."
" Oh... Kirain ada yang penting. Kalau begitu saya tinggal ke dalam dulu ya." pamit Ibu Hana memberi ruang untuk Rayhan dan Hana. Sorot matanya menatap tajam ke arah netra Hana seolah memberi peringatan. Hana hanya tersenyum melihat kode dari ibunya itu.
" Bagaimana kabar loe Han?" tanya Rayhan basa basi. Entah mengapa duduk berdua dekat Hana membuatnya salah tingkah.
" Seperti yang Kakak lihat, gue baik baik saja. Tumben Kak malam malam main ke sini?" jawab Hana dengan nada datar.
" E.... sebenarnya... anu, apa.... " Rayhan benar benar merasa grogi, dalam hati ia merutuki dirinya sendiri yang justru terlihat bodoh di depan Hana. Jantungnya berdetak dengan cepat. Semua kalimat yang telah ia susun seakan menguap entah kemana.
" Ada apa Kak? Kok terlihat tegang seperti itu. Santai saja kayak sama siapa. Lagian hampir tiap hari kita ketemu Kakak enggak seperti ini dech. Silahkan diminum lagi tehnya biar enggak tegang."
Rayhan menghembuskan nafasnya berulang kali untuk mencoba menghilangkan kegugupannya. Tangannya meraih cangkir di depannya dan menyeruput habis teh hangat di dalamnya.
Hana terbengong melihat tingkah Rayhan yang tidak biasa.
" Kakak baik baik saja kan?" tanya Hana memastikan.
" Huff." Rayhan mengatur nafasnya agar kembali normal. Ia menyerahkan sebuah paper bag berukuran besar kepada Hana.
" Ini buat loe."
" Buat gue? Ini apaan ya Kak? Perasaan hari ini gue enggak ulang tahun deh Kak." Hana membuka paper bag di tangannya, di dalamnya ada sebuah kotak besar yang dibungkus rapi dengan kertas kado. Maniknya memandang ke arah Rayhan dengan heran.
" Boleh gue buka sekarang?" tangan Hana mulai menyobek kertas kado dengan perlahan.
" Buka saja, semoga loe suka."
Di dalam kotak itu terlihat sebuah boneka teddy bear berwarna cokelat terang dengan membawa sebuah hati berwarna merah dengan tulisan "I LOVE YOU" di dadanya. Terselip setangkai mawar merah dan cokelat batang di antara tangan boneka itu.
" Ini maksudnya apaan ya?" Hana menatap tajam ke arah Rayhan meminta penjelasan.
" Ini ungkapan hati gue ke loe. Awalnya gue juga enggak mengira akan jatuh cinta sama loe. Tapi seiring dengan kebersamaan kita, rasa itu muncul. Dan semakin hari semakin bertambah. Loe sering muncul di mimpi mimpi gue. Setiap bersama loe gue merasa nyaman. Tadinya gue pengin menyimpan perasaan ini semua sendiri karena gue enggak mau mengganggu belajar loe, tapi sepertinya gue sudah enggak sanggup lagi. Apalagi akhir akhir ini hubungan kita semakin dekat, jadi gue putuskan malam ini buat mengungkapkan semua ke loe." Rayhan menatap wajah Hana lekat, berharap bahwa gadis yang duduk di sebelahnya saat ini juga mempunyai perasaan yang sama.
" Hah..?" Hana merasa terkejut dengan penuturan Rayhan.
Kok Kak Rayhan malah nembak gue? Yang suka sama dia kan Laura. Mengapa jadi kayak gini sich.
" E.... Begini Kak..." Hana menggaruk pelipisnya mencoba merangkai kalimat untuk menjawab pernyataan cinta Rayhan. Dia memutar keras otaknya agar perkataan yang keluar dari mulutnya tidak menyakiti laki laki yang sudah ia anggap seperti kakaknya sendiri.
__ADS_1
" Gue sangat menghargai dan berterima kasih atas perasaan Kakak. Selama ini gue juga nyaman dekat dengan Kak Rayhan. Tapi....." Hana belum selesai dengan kalimatnya.
" Jadi loe juga punya perasaan yang sama kan?" ucap Rayhan dengan sumringah.
" Maaf, bukan itu maksud gue Kak. Gue juga merasa nyaman dan senang dekat dengan Kakak. Memang ada perasaan sayang, tapi bukan cinta. Lebih tepatnya rasa sayang seorang adik ke kakaknya, rasa sayang ke sahabat. Enggak lebih." ucap Hana pelan.
" Deg..!" jantung Rayhan seperti berhenti berdetak. Angannya yang tadi sempat melayang tiba tiba meluncur jatuh karena terkena sambaran petir berkekuatan 1.3 x 10¹⁰volt.
Tubuhnya terasa lemas seketika, dadanya bergemuruh.
" Loe yakin dengan ucapan loe? Atau mungkin loe butuh waktu untuk berfikir dulu? Siapa tahu loe belum menyadari perasaan loe selama ini? Apa gue yang terlalu terburu buru nembak sehingga loe enggak siap?" tanya Rayhan bertubi tubi seakan tidak terima dengan jawaban Hana.
" Kak maaf, gue yakin dengan perasaan gue. Kak Rayhan selama ini gue anggap sebagai Kakak, enggak lebih. Dan gue harap Kakak bisa menerima keputusan ini. Gue mohon Kak jangan hancurkan hubungan ini dengan cara memaksakan perasaan Kakak ke gue. Gue harap Kakak bisa dengan segera mengakhiri perasaan Kakak. Gue yakin, di luar sana ada seorang gadis yang mempunyai perasaan yang tulus ke Kakak. Semoga Kakak bisa secepatnya menemukan gadis itu." Hana memegang tangan Rayhan, menatap wajah Rayhan dengan tatapan memohon.
" Dan tolong lupakan kejadian malam ini, anggap saja Kakak enggak pernah menyatakan perasaan Kakak. Enggak perlu ada rasa canggung, malu atau apa pun nanti di saat kita bertemu. Gue harap hubungan kita tetap baik baik saja seperti biasa dan kita tetap bisa berkumpul dan bercanda seperti sebelumnya. Bisa kan Kak?"
Mata Rayhan menatap lekat wajah Hana. Ada perasaan kecewa dalam tatapan itu. Tapi Rayhan berusaha untuk menepis semua dan menerima keputusan Hana dengan lapang dada. Bagaimanapun cinta tidak bisa dipaksakan.
"Ya, baiklah. Gue akan tetap menjadi Kakak loe. Tapi tolong beri gue waktu untuk menerima semua ini. Gue akan menemui loe seperti biasa jika gue sudah bisa meredakan gejolak hati gue. Terima kasih atas semuanya. Gue pamit pulang ya, sampaikan salam gue buat ayah dan ibu loe. Selamat malam." Rayhan tersenyum ke arah Hana, tapi sangat terlihat bahwa itu senyuman yang dipaksakan.
" Ya, hati hati di jalan. Sekali lagi gue minta maaf." Hana berdiri mengantar kepergian Rayhan.
Maaf Kak meski menyakitkan tapi gue harus jujur, gue enggak mau memberi harapan palsu. Kak Rayhan akan selalu menjadi kakak buat gue. Semoga kakak bisa secepatnya menepis perasaan kakak sehingga kita bisa berkumpul seperti sedia kala, tertawa dan bercanda bersama sebagai sahabat. Gue doakan agar Kakak segera menemukan cinta sejati Kakak. Semoga Kakak segera menyadari perasaan Laura.
" Assaamualaikum Honey..." suara Laura mengagetkan Hana yang tengah membereskan sisa minuman di meja teras rumah.
" Waalaikumsalam. Ngagetin saja loe." Hana meletakkan kembali nampan yang berisi cangkir kotor bekas minum tadi.
" Apa ini? Dari cowok loe ya? Jadi benar loe sudah punya cowok dan enggak cerita sama gue?" Laura menunjuk kotak pemberian Rayhan yang belum sempat Hana bereskan.
" Apaan sih? Loe mau? Ambil saja."
Laura menelisik isi kotak itu. Dia mengambil batang cokelat yang masih terselip di tangan boneka.
"Benar enggak apa apa?" Laura memperlihatkan cokelat di tangannya.
" Iya makan saja. Eh tapi jangan semua, gue juga mau dong. Ini kan cokelat kesukaan gue."
Akhirnya mereka menikmati cokelat itu bersama. Sebenarnya ada rasa heran di hati Laura karena Hana dengan mudahnya memberikan cokelat pemberian cowoknya.
" Cokelat dari cowok loe kok loe bagi ke gue sich? Ini kan spesial buat loe. Idiih ada bonekanya bertuliskan i love you, terus ada bunga mawarnya juga. So sweet banget, kalau gue pasti sudah lumer Han." Laura mengeluarkan boneka dari dalam kotak.
" Tadi kan loe yang minta. Lagian ini bukan dari cowok gue." Hana mengambil dan memasukkan boneka ke tempatnya kembali.
" Terus dari siapa?"
" Kak Rayhan." jawab Hana singkat.
" Kak Rayhan nembak loe?" raut wajah Laura berubah muram seketika.
" Loe jangan salah paham dulu. Iya Kak Rayhan nembak gue. Tapi gue tolak."
__ADS_1
" Kenapa? Apa karena gue?" tanya Laura lirih.
" Enggak usah aneh aneh deh loe, enggak ada hubungannya dengan perasaan loe. Gue tolak karena gue enggak cinta." ucap Hana.
" Kamu serius bukan karena gue?"
" Laura sayang, harus berapa kali gue ngomong ke loe kalau gue enggak cinta sama kak Rayhan. Gue tadi langsung nolak supaya kak Rayhan enggak berharap ke gue dan segera move on dari perasaannya. Lebih baik segera diiakhiri sekarang sebelum perasaannya larut lebih dalam." Hana menatap wajah sahabatnya itu.
Laura mengangguk setuju dengan Hana.
Kak Rayhan pasti sedih banget karena kisah cintanya harus berakhir sebelum sempat dimulai.
" Terus siapa pujaan hati loe sebenarnya? Jangan mengelak lagi." tanya Laura teringat tujuan awal kedatangannya adalah untuk menanyai Hana tentang pujaan hatinya.
Sudah gue duga, Laura pasti belum menyerah untuk mencari tahu tentang masalah ini.
" Cepat jawab..!" desak Laura.
" Arya." ceplos Hana.
" Arya? Siapa?"
" Iya nama cowok gue Arya, kalau loe enggak percaya loe bisa tanya ibu atau ayah gue. Mereka sudah saling mengenal kok. Bahkan orang tuanya juga sudah merestui hubungan kami." ucap Hana memberi jawaban Laura agar tidak lagi mendesaknya.
" Loe serius?"
" Ya. Sangat serius."
" Loe kejam banget sih Han? Gue sahabat baik loe tapi loe enggak pernah cerita itu semua sama gue? Loe anggap apa gue?"
" Ini gue sudah cerita, lagian hubungan kami juga belum lama." kilah Hana.
" Kapan loe jadian?"
" He he, itu.... setengah tahunan lebih." Hana meringis menampakkan deret giginya.
" Sudah setengah tahun lebih? Dan gue enggak tahu apa apa? Oh My God.." Laura memegangi dadanya, terkejut dengan penuturan sahabatnya.
" Laura sayang enggak usah segitunya juga kali. Bukan maksud gue untuk enggak cerita, gue cuma tunggu saat yang pas." bujuk Hana sembari memeluk tubuh Laura.
Setelah beberapa adegan drama, akhirnya Laura sudah kembali tenang.
" Ra, enaknya bonekanya gue balikin saja kali ya?"
" Hah? Jangan dong Han. Loe itu tega banget, kalau dibalikin nanti Kak Rayhan malah tambah sedih."
" Terus? Dibuang sayang. Gue simpan enggak mungkin. Gue harus jaga perasaan cowok gue dong. Gimana kalau buat loe saja?"
" Buat gue?" tanya Laura heran.
" Iya, dari pada dibuang. Lagian loe kan cinta sama Kak Rayhan. Anggap saja loe jagain cintanya Kak Rayhan, siapa tahu nanti Kak Rayhan bisa secepatnya menyadari ketulusan cinta loe. Gue doakan semoga cinta loe segera disambut oleh Kak Rayhan." Hana tulus mendoakan Laura.
__ADS_1
" Baiklah, boneka ini biar gue yang simpan."