
Prosesi pernikahan Hana dan Dewa telah usai, namun ternyata masih ada tamu yang datang silih berganti untuk memberi ucapan selamat. Teman teman sekolah dan kuliah Hana menyempatkan hadir meskipun tanpa ada undangan dari gadis manis yang tengah memakai kebaya pengantin berwarna hitam itu. Bahkan awalnya Hana dan orang tuanya sedikit terkejut dengan kehadiran tamu yang memenuhi pekarangan rumahnya.
Dewa dengan sigap memastikan bahwa semua akan baik baik saja dan berjalan dengan lancar. Meskipun pihak WO dibuat sedikit kalang kabut ketika Dewa tiba tiba meminta tambahan menu makanan, baik dari segi macam maupun jumlah. Ia meminta agar pihak WO memastikan bahwa tidak ada tamu yang kehabisan atau kekurangan makanan.
Kini ada banyak tambahan meja yang dipasang untuk menaruh berbagai macam menu tambahan yang kian bervariasi.
" Selamat ya Han, semoga samawa dan cepat dapat momongan. Kamu tega banget nikah tapi enggak kasih undangan, untung Bapak kepala sekolah kita memasang undanganmu di group sekolah. Dan aku meneruskannya ke teman teman kuliah kita. Dan ngomong ngomong aku enggak nyangka kalau kamu bakalan menikah dengan Dewa. Dia kelihatan ganteng banget memakai baju adat seperti ini." ucap seorang gadis cantik yang merupakan teman seangkatan Hana di SMA maupun di perguruan tinggi.
" Oh benarkah? By the way terima kasih sudah datang dan memberi doa kepada kami. Silahkan dinikmati hidangan yang ada." jawab Hana dengan ramah menutupi rasa dongkol di hatinya. Dan dia berharap ini adalah rombongan tamu yang terakhir.
Oh, ternyata ini semua ulah kepala sekolah. Sengaja aku menggelar acara yang sederhana dengan hanya mengundang orang orang dekat saja. Eh malah disebarin di sosmed, kalau seperti ini sama saja dengan pesta besar. Haduh, mau sampai kapan aku harus berdiri dengan kebaya dan riasan seperti ini? Ini sangat melelahkan. Ditambah lagi aku harus mendengar dan melihat para tamu wanita yang terpesona dengan ketampanan Dewa. Sungguh menjengkelkan.
" Aku boleh minta foto dulu kan?" imbuh gadis itu lagi yang disinyalir bernama Ratna.
" Tentu." ucap Hana singkat.
" Ah, terima kasih. Kalau begitu tolong geser sebentar ya, aku mau ada di tengah kalian." pinta Ratna tanpa rasa malu langsung meringsekkan tubuhnya di antara Hana dan Dewa.
" Cheese.... senyum ya Dewa." Ratna berselfie ria tanpa mempedulikan wajah sang mempelai wanita.
What...? Sialan, apa maksudnya semua ini? Di depan mataku dia menyerobot suamiku, bahkan di acara pernikahanku....???!!!
" Terima kasih ya Hana, sekali lagi semoga selalu berbahagia."
" Iya sama sama."
Aku akan lebih sangat berbahagia jika kamu segera turun dari pelaminanku.
" Selamat juga buat kamu ya Dewa." Ratna turun dari pelaminan setelah puas dengan hasil cepretannya.
" Kenapa sayang? Apa yang kamu pikirkan?" bisik Dewa melihat raut wajah istrinya tampak tidak bersemangat.
" Tidak ada, aku hanya capek dari tadi harus berdiri terus seperti ini." ucap Hana dengan jujur sambil mendaratkan bokongnya di kursi pelaminan.
" Mau dipijit?"
" Enggak usah, terima kasih." Hana menarik sudut bibirnya dengan terpaksa sehingga membentuk sebuah senyuman
"Kamu cantik." puji Dewa untuk yang ke sekian kali.
" Aku tahu, dan kamu sudah mengucapkannya lebih dari seratus kali hari ini." ketus Hana.
" Benarkah? Tapi kamu memang sangat cantik, jadi rasanya mulut ini ingin terus mengatakannya."
__ADS_1
" He he, benarkah?"
" Tentu saja benar. Tapi Sayang, kenapa kamu dari tadi tidak memuji penampilanku? Apakah menurutmu aku tidak cocok memakai baju adat seperti ini?" Dewa memperhatikan kain dan baju yang ia pakai dengan seksama.
" Pentingkah pujian dariku? Bukankah sedari tadi kamu sudah kenyang pujian dari para tamu wanita dan ibu ibu?" ketus Hana yang memang sedikit terganggu dengan pujian yang terus dilontarkan oleh para tamunya kepada Dewa. Bahkan tanpa malu malu banyak gadis yang meminta berfoto selfie dengan suaminya. Dan tentu saja Hana hanya bisa menutupi perasaannya dengan senyum yang dipaksakan.
" Tentu saja penting, karena kamu adalah yang terpenting buat aku. Dan aku tidak peduli dengan perkataan orang lain. Jadi bagaimana menurutmu dengan penampilanku? Apakah aku terlihat semakin tampan dengan pakaian ini?" Dewa tersenyum manis ke arah istrinya.
" Biasa saja." ujar Hana datar.
Kenapa masih bertanya seperti ini sich? Tentu saja kamu sangat tampan dengan pakaian seperti ini. Bahkan bisa ku katakan bahwa kamu adalah pengantin pria yang paling tampan yang pernah aku lihat. Dasar Dewa pasti sengaja mau menggodaku.
" Benarkah? Padahal tadi banyak gadis yang memuji penampilanku, tapi ternyata hanya terlihat biasa saja di mata istriku." ucap Dewa yang berpura pura sedih.
" Kalau begitu suruh saja mereka memujimu terus, kenapa masih bertanya pendapatku?"
"Jangan bilang kalau kamu cemburu?" goda Dewa asal.
" Kalau iya memangnya kenapa? Di depan mataku kau enak enakan berfoto dengan gadis lain tanpa mempedulikan perasaanku." dengus Hana.
" Eh...? Bukankah sedari tadi kamu mengiyakan mereka untuk berfoto bersama. Aku kan hanya menghargai keinginan mereka karena mereka adalah teman temanmu. Kalau kamu keberatan aku tidak mungkin mengabulkan permintaan mereka." jawab Dewa yang memang setuju untuk berfoto bersama semata mata untuk menghormati saja.
" Alasan, bilang saja kamu suka."
" Lihat mataku, apakah mungkin aku bisa mencintai gadis lain. Sedangkan aku memiliki istri yang teramat sangat sempurna. Kamu enggak usah mikir yang aneh aneh ya, kamu adalah satu satunya wanita di hati aku. Kamu masih ingat kan janji aku dulu, you are the only one forever."
" Are you sure?"
" I am sure....." Hana dapat melihat ada banyak cinta dalam tatapan Dewa.
" Masih terasa capek?" tanya Dewa dengan sangat lembut.
" Masih. Kita ganti baju dengan pakaian yang lebih simpel saja yuk." ajak Hana.
" Baiklah, ayo kita ganti pakaian kita."
" BU HANAAAAA.....!!!" teriakan rombongan tamu yang mengurungkan langkah Hana dan Dewa untuk beranjak dari pelaminan.
Ya, mereka adalah anak didik Hana di SMA Pelita yang datang dengan masih berseragam lengkap dengan tas di punggung dan tangan mereka. Di belakangnya disusul oleh para guru yang juga masih mengenakan seragam untuk mengajar. Rupanya mereka sengaja pulang sekolah langsung ke acara pernikahan Hana rame rame.
" Bu Hana cantik banget. Selamat ya Bu." ucap murid murid saling berebut menyalami Hana.
"AAAAA.... Suami Bu Hana ternyata sangat tampan. Boleh minta foto bareng ya Bu." teriakan murid murid Hana saat menyadari keberadaan sosok Dewa.
" Iya, tentu saja boleh tapi jangan berebut ya." jawab Hana terpaksa kembali mengiyakan permintaan untuk berfoto bersama suaminya.
__ADS_1
" Ahhhh, terima kasih Bu...." teriak mereka bahagia. Mereka pun bergantian berfoto ria bersama lelaki yang telah resmi menjadi suami gurunya. Bahkan terpaksa para guru harus mengatur mereka untuk membuat antrian agar tidak saling rebutan.
" Bu Hana, kalau mereka boleh berfoto dengan suami Ibu. Bolehkah kami berfoto bersama Ibu?" tanya Bagas mewakili murid laki laki yang lain.
" Tidak boleh." jawab Dewa cepat dengan sorot mata tajam membuat nyali laki laki yang masih berseragam itu menciut seketika.
" Tentu saja boleh, kenapa tidak? Ini adalah hari yang istimewa jadi mari kita berfoto bersama sebagai kenang kenangan." jawab Hana dengan tersenyum manis ke arah murid lelakinya. Kemudian menatap suaminya dengan tatapan penuh intimidasi yang membuat Dewa seketika terpaksa menampakkan senyum ramahnya.
Apa apaan Dewa? Dia saja dengan bebas berselfie dengan gadis gadis. Mengapa aku tidak boleh? Enak saja.
" Alhamdulillah.... setelah sekian lama akhirnya aku akan berfoto dengan Bu Hana di pelaminan." ucap Bagas kegirangan.
" Aku juga mau foto bareng Ibu." ucap murid laki laki yang kini justru saling berebut.
" He he, fotonya gantian ya jangan rebutan. Antri yang rajin." ujar Hana.
Laura terkekeh melihat pelaminan yang dikerubuti oleh banyak murid yang saling memperebutkan kedua mempelai untuk berfoto bersama.
" Hana..... Hana....dia memang luar biasa. Ternyata dia sangat populer. Entah sihir apa yang dimilikinya sehingga bisa menarik perhatian semua orang." ucap Laura sambil tersenyum, yang disambut dengan anggukkan ketiga orang di dekatnya, Yusuf, Evi dan Rayhan.
Sedari tadi mereka berempat duduk bersama, ikut mengawasi jalannya acara pernikahan Dewa dan Hana. Setelah beberapa waktu lalu ikut dibuat panik oleh tamu yang tiba tiba saja membludag memenuhi pekarangan rumah. Mereka sama sekali tidak menduga akan ada banyak tamu tak diundang yang datang. Karena menurut rencana, Hana menginginkan pernikahan yang sederhana tanpa ada banyak tamu yang hadir. Tapi apa lah daya, tidak mungkin kan jika kita harus mengusir tamu tak diundang yang notabennya adalah teman dan kenalan dari pengantin. Mereka ikut kalang kabut membantu WO untuk memastikan bahwa acara Hana dan Dewa tetap bisa berjalan lancar.
" Iya kamu benar Ra, entah sihir apa yang dimilikinya." Yusuf membenarkan ucapan Laura karena ia adalah salah satu korban dari sihir itu. Dan sekarang ia sedang mati matian berusaha untuk move on. Tapi tanpa disadari Yusuf ternyata Evi mampu menangkap kilatan kesedihan di matanya.
Kakak memang selalu menjadi pusat perhatian dan selalu merebut perhatian semua orang. Ya, semua orang. Bahkan lelaki yang pernah tidur bersamaku sepertinya juga sangat perhatian dengan Kakak.
Raut wajah Evi berubah menjadi sendu, lebih tepatnya kecewa mungkin.
" Oh ya Vi, apakah kamu sudah punya pacar?" tanya Laura membuyarkan lamunan Evi.
" Ah, sudah pernah punya. Tapi sudah putus." jawab Evi datar.
" Kalau begitu kebetulan, ini Yusuf sahabat aku dan Hana. Kamu masih ingat kan? Dia juga baru saja patah hati lho, katanya gadis yang ia cintai malah manikah dengan orang lain. Siapa tahu kalian cocok."
" Kak Yusuf? Aku Evi. Maaf karena tidak mengenalimu dari awal." sapa Evi berusaha untuk bersikap tenang di depan Laura dan Rayhan.
" Hai, aku juga tidak tahu kalau kamu ternyata adiknya Hana. Kamu sudah besar ya, dulu waktu bertemu kamu masih kecil." ucap Yusuf berbasa basi.
" Apakah kalian sudah pernah bertemu sebelumnya?" tanya Laura menyelidik.
" Tentu saja sudah." ceplos Yusuf.
" Deg..!" Evi menatap Yusuf dengan tajam.
" Mm maksudku, tentu saja kita pernah bertemu delapan tahun yang lalu. Bukankah dulu kita sering main ke rumah Hana." Yusuf meralat ucapannya.
__ADS_1