
Hana dan Dewa segera melenggang ke dalam mall sesaat setelah Dewa menerima panggilan telpon dari ibunya. Rani dan Laura terpaksa diamankan di pos satpam mall karena terlibat perkelahian dengan Vina.
" Ibu.....! Laura.....! Kalian kenapa bisa seperti ini?!" seru Hana saat melihat ibu mertua dan sahabatnya yang jauh dari kata rapi dan elegan. Sungguh sangat berbeda 180° dengan penampilan keseharian mereka. Laura dan Rani yang biasa berpenampilan modis dan elegan kini terlihat lusuh dan berantakan. Rambut mereka acak acakan seperti baru saja diterjang angin topan.
" Eh, kalian sudah datang? Kamu baik baik saja kan Sayang?" ucap Rani dengan tenang.
Hana menganggukkan kepala sembari menatap intens ke arah ibu dan sahabatnya.
" Kenapa sampai seperti ini sih Ra, Bu?" tanya Hana iba melihat wajah mertua dan sahabatnya sedikit terluka karena goresan kuku. Sebenarnya kondisi mereka jauh lebih sangat baik jika dibandingkan dengan Vina, yang rambutnya terlihat teramat sangat berantakan dengan kulit wajah yang terluka karena cakaran dari kuku Laura dan Rani. Wanita berpakaian minim itu langsung melenggang pergi sejenak setelah memberi instruksi kepada salah satu security yang tadi sempat melerai.
" Mereka terlibat perkelahian dengan Nyonya Vina, lebih tepatnya pengeroyokan. Beruntung Nyonya Vina tidak melaporkan mereka ke pihak yang berwajib." tutur salah satu security menjelaskan permasalahan yang ada.
" Kalian mengeroyok Vina...?" tanya Hana seakan tidak percaya ibu mertua yang biasa lemah lembut itu bisa juga bersikap bar bar.
" He he, habisnya aku sebel banget sama wanita jadi jadian itu...!" geram Laura menggebu gebu.
" Ehem....." security di depan Laura menatap tajam ke arah wanita cantik itu.
" Anda seharusnya berterima kasih dan bersyukur karena Nyonya Vina tidak membawa masalah ini ke pihak yang berwajib bukannya malah menjelek jelekkan. Perlu Anda tahu bahwa beliau adalah adalah salah satu pemegang saham mall besar ini. Dengan sekali menjentikkan jari beliau bisa menjebloskan Anda ke dalam penjara." nada bicara security itu penuh keangkuhan.
" Benar, kalian beruntung karena beliau masih berbaik hati tidak memperkarakan masalah ini." imbuh security lainnya.
" Heh, maksud kalian aku harus berterima kasih kepadanya?! Dalam mimpi pun aku tidak sudi." ucap Laura dengan emosi.
" Ra, tenanglah. Jangan emosi seperti ini." bisik Hana.
" Baiklah Bapak Bapak security yang baik hati, bisakah saya membawa Ibu dan teman saya pulang sekarang. Bukankah Anda tadi berkata bahwa Vina tidak memperkarakan masalah ini? Jadi tidak alasan ibu dan sahabat saya untuk berlama lama di sini kan?" ucap Dewa dengan tersenyum namun wajahnya terlihat mengintimidasi. Ketiga security yang berada dalam ruangan itu saling pandang seakan melakukan diskusi tanpa suara mengandalkan tatapan mata untuk saling berbicara.
__ADS_1
" Mmm, baiklah. Silahkan bawa ibu dan sahabat Anda. Dan saya harap kejadian ini tidak akan terulang lagi."
" Jangan kuatir, saya jamin ini tidak akan pernah terjadi lagi. Karena saya juga tidak sudi menginjakkan kaki di mall yang sering dijadikan tempat mesum seperti ini." ibu Dewa melenggang pergi penuh percaya diri.
" Laura, Hana, Dewa, ayo cepat kita pergi. Jangan terlalu lama berada di tempat seperti ini."
" Eh...? Oh ya baiklah." Laura, Hana dan Dewa beranjak pergi mengikuti langkah perempuan berparas cantik itu.
Mereka berempat pulang ke kediaman Hana dan Dewa dengan dua mobil terpisah. Dewa bersama Hana, sedangkan Rani dengan Laura bersama dengan sopir pribadi yang tadi mengantarkan dirinya.
" Aku masih tidak menyangka Ibu bisa bertingkah seperti itu. Seumur umur jadi anaknya baru sekarang aku melihat sisi lainnya yang ternyata juga bisa jadi garang, ha ha." ucap Dewa yang masih belum bisa percaya dengan tingkah ibunya.
" Tapi aku salut banget sama Ibu, di balik kelembutannya dia adalah wanita yang sangat kuat. Aku harus berterima kasih kepadanya karena tadi sudah membelaku sampai rela adu cakar dengan makhluk jadi jadian itu. Ish..... kenapa aku jadi kesal lagi tiap mengingat wajah dan perkataan Vina." dengus Hana yang masih merasa kesal dengan mantan kakak kelasnya itu.
" Si Vina itu memang keterlaluan, lain kali aku pasti akan memberinya pelajaran karena telah berani membuat calon ibu anak anakku kesal. Tenang saja Sayang, kamu jangan kesal lagi ya." imbuh Dewa mencoba menenangkan sang istri agar tidak larut dalam kekesalan.
" Ck, ngaco kamu. Dalam kamusku enggak ada yang namanya mantan terindah. Karena predikat terindah hanya boleh disematkan untuk istriku tercinta. Lagi pula mantan dari mana? Pacar pertama dan terakhirku kan cuma kamu seorang. Kamu lupa ya kalau sebelumnya aku enggak pernah menjalin hubungan pacaran?"
" Enggak pacaran tapi nyosor." jawab Hana cepat.
" Huffft..... Aku harus bagaimana Sayang agar kamu berhenti membahas masalah aku dan Vina. Itu semua kan masa lalu aku, sebelum aku mengenal kamu. Dan kamu sendiri kan yang bilang kalau kamu tidak mempermasalahkan masa lalu aku yang kelam. Bukan kah semua orang pasti mempunyai masa lalu, entah baik atau pun buruk dan mereka juga mempunyai hak untuk mendapatkan masa depan. Atau kamu menyesal karena telah menerima diriku yang pernah mempunyai masa lalu kelam?"
" Tentu saja tidak. Mana mungkin aku menyesal. Aku hanya kesal dan merasa tidak rela bila teringat kamu pernah berciuman dengan Vina. Aku enggak mau kamu dekat dekat dengan dia atau pun wanita lain."
" Kamu cemburu? Terima kasih ya karena sudah cemburu. Tapi lain kali kamu enggak perlu cemburu, kasihan babies kita. Kamu kan enggak boleh stress dan banyak pikiran. Kamu harus ingat bahwa kamu adalah satu satunya wanita yang bertahta di hatiku. Dan cintaku hanya milikmu seorang." ucap Dewa lembut sembari mengelus puncak kepala istrinya.
" Tubuh kamu juga." imbuh Hana.
__ADS_1
" Hah...?! Maksudnya...?" Dewa tercengang.
" Bukan cuma cintamu yang milikku tapi tubuhmu juga milikku seorang." dengus Hana.
" Owh, kalau itu pasti dong Sayang. Semua milikku dan yang ada pada diriku seutuhnya adalah milikmu."
" Beneran?"
" Tentu saja. Semuanya adalah milikmu." jawab Dewa mantab.
" Kalau aku minta semua uangmu, boleh?"
" Mengapa tidak boleh? Tanpa kamu minta, semua uangku kan memang sudah menjadi uang kamu Sayang."
" Ah so sweet....." Hana memeluk manja lengan suaminya.
" Jangankan cuma uang Sayang, kamu minta jantung dan hatiku juga pasti aku beri." Dewa menatap lekat manik sang istri.
" Kamu mati dong kalau jantung dan hati kamu aku minta. Nanti kita enggak bisa en@ en@...." keluh Hana.
" Hidih, masak yang kamu khawatirkan pertama kali kalau aku mati malah masalah en@ en@? Ternyata otak istri tercintaku yang cantik dan baik hati ini sudah dipenuhi pikiran mesum. Tapi aku suka kok, he he. Kalau begitu ayo kita en@ en@ sekarang." Dewa memarkirkan mobilnya di tepi jalan.
" Di mobil? Siang hari kayak gini." mata Hana membulat.
" Why not...?"
" OGAH, kamu mau kita digrebek dan disangka berbuat mesum di jalanan??!! Kita pulang sekarang...!" ucap Hana tegas.
__ADS_1