
Hana, Dewa dan Yusuf tengah duduk di ruang makan menikmati makan siang. Menu sederhana hasil olahan Hana dibantu oleh Mbok Mira. Meskipun hanya ayam dan tempe goreng serta sayur bayam dan sambal terasi namun terasa sangat menggugah selera. Terlebih bagi Dewa dan Yusuf yang sudah lama tidak menikmati masakan rumahan Indonesia. Mereka berdua tampak sangat lahap.
" Masakan kamu enak Han, enggak nyangka kamu yang dulu petakilan sekarang bisa memasak makanan selezat ini." tutur Yusuf tanpa menghentikan aktivitas makannya.
" Terima kasih atas pujian dan hinaannya. Bukan masalah rasa masakan ini yang enak, tapi emang kamu saja yang kelaparan."
" Tapi masakan kamu memang enak sayang, aku enggak salah pilih calon istri. He he he." tambah Dewa.
" Jadi kalau aku enggak bisa masak kamu enggak mau nikah sama aku?" cibir Hana.
" Bukan begitu juga. Bisa atau tidak bisa masak aku tetap mau nikah sama kamu. Cintaku enggak tergantung sama kemampuan memasak kamu. Lagian tugas utama istri bukanlah memasak, tapi_"
" Hufff, kenyangnya..... Masakan rumahan Indonesia memang the best. Aku bakalan betah tinggal di rumah ini." ucap Yusuf memotong perkataan Dewa. Dia sudah menghabiskan dua piring nasi.
" Kamu mau tinggal di sini? Bukannya kemarin kamu bilang mau tinggal di Jakarta, bekerja di Induk perusahaan ayah kamu?" tanya Hana.
" Tadinya rencananya seperti itu. Tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku mau kerja di cabang perusahaan di kota ini saja, bareng sama Dewa. Dia kan kakakku, aku harus membantunya mengembangkan cabang perusahaan di sini biar berkembang pesat."
" Benarkah kata Yusuf? Kamu akan mengurus cabang perusahaan di kota ini? Itu berarti kamu tidak akan pergi ke luar negeri lagi?" tanya Hana terlihat sumringah.
Dewa menganggukkan kepalanya.
" Kamu senang?"
" Iya." Hana tersenyum manis ke arah Dewa.
" Tadinya ayah ingin agar Dewa mengurus perusahaan yang di Jerman karena selama ini Dewa telah berkontribusi besar atas perkembangan perusahaan itu. Tapi dia bersikeras ingin mengurus cabang perusahaan di sini." tutur Yusuf.
" Beneran? Memang enggak apa apa kamu di sini?" Hana menatap nanar ke wajah Dewa. Dia merasa bahagia karena Dewa memutuskan untuk tinggal di sisinya, namun ia juga merasa tidak enak hati jika dia hanya menjadi penghalang untuk kesuksesan Dewa.
Seakan paham maksud Hana, Dewa menghentikan aktivitas makannya. Ia menggenggam erat tangan gadis yang duduk di sampingnya itu.
" Kamu enggak usah mikir aneh aneh. Alasan utama aku memutuskan untuk tinggal di sini memang kamu, tapi masih ada banyak pertimbangan lain yang membuat aku yakin untuk tinggal di sini. Salah satunya aku ingin membuktikan kemampuan diri untuk mengelola perusahaan kecil ini menjadi perusahaan yang besar. Jadi kamu jangan pernah berpikir kalau kamu adalah penghalang bagiku. Karena kamu justru adalah sumber semangatku selama ini. Lagian aku juga tetap bisa membantu ayah mengelola perusahaan di Jerman lewat online kan? Apa gunanya ada internet kalau enggak digunakan dengan maksimal." Dewa mencium tangan kekasihnya itu.
" Eh, tangannya bau terasi." godanya.
__ADS_1
Hana secepat kilat menarik tangannya dari genggaman Dewa.
" Apa iya? Enggak kok..." dengus Hana sambil mengendus tangannya.
" Ha ha ha... Aku cuma bercanda kok sayang, tangan kamu wangi. Lagian kalau memang bau terasi juga enggak apa apa enggak bakalan ngurangi kadar cinta aku ke kamu."
" Ehm ehm ehm.." Yusuf berdehem.
" Masih ada aku di sini, jangan buat aku jadi diabetes karena kebanyakan mendengar kata kata manis dari kalian berdua." cibir Yusuf.
" Apaan sih Suf? Makanya cepat cepat cari pacar biar enggak kelamaan jomblonya. By the way siapa cewek yang kamu cintai? Bukannya kemarin kamu bilang kalau cewek yang kamu cintai ada di sini? Kamu sudah tembak dia?" cecar Hana.
Hana enggak peka banget sich, padahal kemarin aku sudah ngomong kalau cewek itu dia. Ngapain ngungkit ngungkit masalah ini? Dia enggak tahu gimana hancurnya perasaanku saat ini. Berusaha baik baik saja meskipun hati tidak baik. Ini malah ditambahin dengan pertanyaan kayak gini.
" Sayang, Yusuf so sweet banget lho, dia pulang ke Indonesia demi orang yang dicintainya." ucap Hana tanpa rasa berdosa.
" Lupain saja, orangnya sudah mau merrid. Kalau ditembak yang ada malah aku yang ditembak beneran ma calon suaminya." ketus Yusuf.
" Kamu benar, lebih baik cepat cari penggantinya." kata Dewa dengan penuh penekanan.
Ish, Hana keterlaluan banget. Maksudnya apa sich? Ngode Yusuf buat merebut dia gitu?
" Maksud kamu apa sayang? Nyuruh Yusuf buat merebut calon istri orang?" tatapan Dewa menajam.
" Bukannya merebut, kan cuma ngungkapin perasaan cinta dia ke cewek yang dicintai, biar si cewek tahu perasaan Yusuf. Siapa tahu cewek itu juga mencintainya selama ini. Ide aku enggak salah kan Suf?"
Ide kamu memang enggak salah Han. Tapi keadaan kita lah yang membuat itu tidak benar. Apa mungkin kamu mau meninggalkan Dewa setelah mendengar pernyataan cinta aku ke kamu?
" Lupain ide bodoh kamu. Memangnya kamu mau meninggalkan aku seandainya tiba tiba ada cowok yang bilang cinta ke kamu?"
" Kok malah aku sich?" Hana merasa bingung.
Iya Han memangnya kamu mau meninggalkan Dewa setelah aku bilang cinta ke kamu? Seandainya kamu bersedia aku akan langsung tembak kamu Han.
" Gimana Han, kamu akan menerima cinta cowok itu?" imbuh Yusuf.
__ADS_1
" Aku? Kalau aku ya enggaklah. Enggak ada alasan buat aku ninggalin Dewa. Kenapa aku harus meninggalkan calon suami demi orang yang tiba tiba bilang cinta?"
" Eh, ini kenapa jadi bahas aku? Kita kan lagi ngomongin kisah cinta kamu Suf?"
" Lupakan kisah cinta aku. Sudah kelar sebelum pernah dimulai." ketus Yusuf meninggalkan Dewa dan Hana.
Aku akan berusaha untuk baik baik saja Han, aku enggak mau merusak persahabatan kita dan persaudaraan dengan Dewa. Cerita cintaku sudah selesai. Berakhir sebelum dimulai, meskipun aku tahu akan sangat sulit untuk menghapus rasa ini. Mungkin akan sulit bagiku untuk menemukan cinta yang lain karena cintaku kepadamu sangat besar. Aku hanya bisa menyerahkan semua ini kepada Sang Pemberi Cinta, agar segera menghapus rasa cintaku ke kamu. Semoga seiring berjalannya waktu rasa ini bisa memudar. Karena aku tidak akan bisa mencintai orang lain jika hatiku masih memilihmu.
" Yusuf kenapa? Memangnya ada yang salah dengan ucapan aku?"
" Ucapan kamu memang enggak salah, cinta Yusuf juga enggak salah." jawab Dewa dengan nada datar.
" Kalau begitu kita harus bantu kisah cinta Yusuf. Aku sebagai sahabat dan kamu sebagai saudara mesti dukung dia. Kasihan dia dari kemarin murung terus gara gara belum bisa mengungkapkan cintanya."
" Cukup Hana, kita enggak bisa bantu Yusuf. Kisah cinta Yusuf memang harus berakhir."
"Kenapa harus berakhir? Dia harus tembak cewek itu dulu dong."
Hana lama lama bikin geregetan. Dia benar benar enggak nyadar kalau cewek itu adalah dia.
" Cup.." Dewa mengecup bibir Hana tanpa permisi.
Mulut Hana terdiam seketika tak menyangka akan mendapat ciuman mendadak dari Dewa.
" Sudah diam, enggak usah bahas cinta Yusuf lagi. Atau kamu mau aku bungkam mulut kamu seperti tadi?" ancam Dewa dengan tatapan penuh arti.
" Tapi aku_"
" Cup..." Dewa kembali memotong ucapan Hana dengan bibirnya. Kali ini dengan sedikit luma*an, membuat mata Hana membulat dan pipinya memerah seketika.
" Mau lagi?" Dewa menyeringai.
Hana menggelengkan kepala dengan cepat.
" Bau terasi..." ucapnya polos.
__ADS_1