
Setelah berhasil menyelinap masuk ke dalam rumah milik Icha melalui jendela, Zia dan Handa akhirnya bisa segera membantu Icha yang tengah terduduk sambil menangis di lantai kamarnya. Beruntung mereka tidak membutuhkan banyak waktu untuk mencari kunci kamar Icha, karena Rico menyimpan kuncinya di tempat biasa. Tempat yang sudah Handa ketahui sebelumnya.
"Cha, lo nggak papa?" Zia memeriksa keadaan Icha dari atas sampai bawah, "Kaki lo luka, lo kenapa kok bisa dikunci di kamar?" lanjut Zia bertanya, melihat kaki Icha yang terluka.
"Icha nggak papa Zia hiks, Icha yang salah. Papa marah karena Icha bandel!" jawab Icha sesenggukan.
"Bandel gimana maksud lo?" tanya Handa yang sejak tadi menahan geram.
Icha menatap ke arah Handa sayu, raut wajahnya menunjukkan kesedihan luar biasa. "Handa... hiks, Icha nggak mau punya Kakak baru!" ucapnya kembali menangis.
Sebelumnya, ia memang sempat melihat kedatangan Danis, cowok yang sempat dilihatnya saat di cafe kemarin. Icha sangat syok ketika mendengar Papa mengatakan bahwa Danis adalah anak kandungnya, padahal selama ini ia belum pernah melihat Danis sekalipun.
"Kemaren Icha liat Papa lagi di cafe sama anaknya Papa yang baru! Pas Icha tanya, Papa malah marah-marah sampai dorong-dorong Icha. Nggak cuma itu, Icha juga langsung dikunci di dalem kamar!" Icha kembali menitikkan air mata. Sungguh, saat ini ia tidak tahu lagi harus melakukan apa.
Zia dan Handa memutuskan untuk tidak banyak bertanya lagi, karena memang sudah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mereka juga tidak ingin membuat Icha semakin sedih, memikirkan fakta yang baru diketahui olehnya.
"Udah Cha, lo tenang ya. Mending kita pergi dari sini sekarang, sebelum Om Rico dateng!" kata Zia mencoba menenangkan.
Meskipun tidak pernah mengalaminya, namun Zia cukup tau apa yang sedang Icha rasakan saat ini. Apalagi sampai sekarang Kakaknya, Cakra, belum juga pulang ke rumah untuk membantu adiknya. Jika tetap membiarkan Icha di rumahnya, ia takut Papa-nya akan kembali melakukan kekerasan pada Icha.
"Tapi gimana kalo Papa sampe tau? Icha takut!" kata Icha takut.
"Terus lo maunya gimana? Lo mau dikunci di dalem kamar terus-terusan?" Icha menggelengkan kepalanya cepat. Pertanyaan dari Handa berhasil menyadarkannya, gadis itu tidak ingin terus-menerus berada di dalam kamar dan berujung mati karena kelaparan.
"Ya udah mendingan lo ikut kita, seenggaknya sampai Kakak lo pulang biar dia bisa jagain lo nanti!" ucap Handa memberitahu.
Tanpa banyak bicara lagi, Handa dan Zia langsung memapah Icha dan membawanya menuju keluar. Meskipun sedikit kesulitan berjalan, namun akhirnya Icha berhasil sampai di dekat mobil milik Handa. Zia dan Handa masih membantu Icha, menuntunnya masuk ke dalam mobil. Hingga tanpa sadar mobil milik Rico datang dan berhenti tidak jauh dari mobil milik Handa.
"Apa yang sedang kalian lakukan?" teriak Rico yang baru saja turun dari mobil bersama Danis. "Icha, mau ke mana kamu? Berani sekali kamu kabur!" geramnya.
Zia, Handa dan Icha membulatkan matanya, terkejut mendengar suara Rico yang muncul secara tiba-tiba. "Zi cepetan lo masuk, biar gue duduk di belakang sama Icha!" titah Handa yang langsung masuk dan duduk di samping Icha.
"Handa, Icha takut!" ucap Icha lirih.
Sekilas Zia menatap Rico dan Danis yang tengah berjalan menghampiri, dengan terburu-buru Zia langsung masuk dan duduk di belakang kemudi. "Kalian berdua pegangan!"
"BERHENTI, MAU KEMANA KALIAN?" teriak Rico melihat Zia mulai menjalankan mobilnya.
__ADS_1
"Zia?" Danis masih menatap kepergian Zia dengan kening berkerut, namun kemudian ia tersenyum penuh arti. "Pah, kita kejar!" ucap Danis yang langsung menuju mobil.
Sementara di dalam mobil milik Handa, Zia yang tengah fokus menyetir belum menyadari ada yang mengikuti mobilnya jauh dibelakang sana. Handa masih sibuk menenangkan Icha yang tiba-tiba menangis, gadis polos itu merasa bersalah karena telah mengabaikan perintah Papanya untuk tetap berada di kamar.
"Udah Cha jangan nangis mulu, cengeng banget sih lo jadi orang!" tegur Handa sembari mengelus punggung Icha.
"Icha juga nggak pengen nangis, Handa!" jawab Icha mencoba menenangkan diri. "Tapi Icha takut huaaa...."
"Diem Cha ah elah, malah makin keras lagi!" kesal Handa. Icha kembali menutup mulutnya, tangannya mengusap asal wajahnya yang masih basah.
Zia masih fokus menyetir, hingga sebuah mobil berwarna hitam memaksa menyalip mobilnya. Kedua mobil itu bahkan hampir bertabrakan karena saling berkejaran. Zia tahu mobil berwarna hitam itu adalah mobil yang digunakan oleh Danis dan Om Rico tadi. Karena tidak ingin kecolongan, Zia mempercepat laju mobilnya dan membelokkan setir arah ke kiri.
"Zia jangan cepet-cepet, Icha takut!" pekik Icha ketika Zia mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Suasana semakin menegang, mobil hitam itu masih terus mengikuti ketiga gadis itu dari belakang. Zia tidak peduli lagi dengan keributan di belakangnya, karena masih fokus menyalip satu persatu mobil yang ada di depannya.
"Cha, lo tuh bacot tau nggak. Diem mulut lo!" geram Handa sembari membekap mulut sahabatnya.
"Handmmmlmskmdbmppfphlhvhh!" ucap Icha tidak jelas. Bibirnya masih dibekap oleh Handa, membuatnya tidak bisa berbicara dengan benar.
"Apa? ngomong apa lo nggak jelas!" sungut Handa.
Seketika Handa melongo, sahabatnya satu ini memang sangat aneh. Tingkah randomnya selalu berhasil membuat orang lain geleng-geleng kepala, termasuk dirinya.
"AWAAASSS!" teriak Zia melihat ada seseorang yang sedang menyeberang di depan sana. Tangannya menekan klakson berulang kali, membuat semua orang di sana terkejut bukan main.
Gadis itu membelokkan arah mobilnya, mencari tempat kosong agar tidak menabrak penyeberang jalan itu. Karena, bukannya cepat menepi, penyeberang jalan itu justru mematung di tempat ketika melihat mobil berkecepatan tinggi tengah bergerak ke arahnya.
"WOY PELAN-PELAN DONG BAWA MOBILNYA!" teriak beberapa orang di sana setelah mobil Zia barhasil melintas dengan selamat.
Beberapa detik kemudian, sebuah mobil berkecepatan tinggi dari arah belakang berhasil mengejutkan mereka untuk yang kedua kalinya. Semua orang mengumpat, melontarkan sumpah serapah pada kedua pengendara mobil yang sudah tidak terlihat di pandangan mereka itu.
Zia masih fokus pada setirnya, sambil sesekali memeriksa keadaan belakang melalui kaca spion. Di kursi penumpang, Handa masih memejamkan mata sembari memeluk Icha. Ia masih terdistraksi oleh adegan menegangkan yang telah dilakukan Zia sebelumnya.
Handa membuka matanya, memeriksa keadaan Icha yang tiba-tiba tidak mengoceh seperti sebelumnya. "Yah elah Cha, pake pingsan beneran lagi!" ucapnya melihat Icha sudah memejamkan mata dengan tubuh lemah tidak berdaya.
"Zi, mending lo buruan deh. Nggak usah main-main mulu!" geram Handa yang sudah jengah.
__ADS_1
Zia tersenyum lebar, sebenarnya sedari tadi ia hanya sedang bermain-main dengan mobil yang tengah mengejarnya, yang tidak lain adalah mobil milik Rico. Gadis itu hanya sedang memanfaatkan kesempatan, karena setelah sekian purnama ia baru mendapatkan kesempatan untuk kembali mengendarai mobil. Dan itupun tanpa sepengetahuan sang Daddy yang begitu posesif padanya.
"BERHENTI KALIAN!" teriak Rico yang sudah berhasil mensejajarkan mobilnya dengan mobil Zia.
Melihat wajah penuh amarah Rico yang muncul dari balik jendela kaca yang terbuka itu, Zia hanya menyeringai penuh arti. Kemudian ia kembali menancap gas dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan yang cukup banyak digunakan pengendara lain.
"ANAK SIALAN!" teriak Rico melihat mobil yang dikendarai Zia kini sangat jauh dari jangkauannya. "Cepat kejar!" titahnya pada Danis yang memang sedang mengendarai mobil itu.
"Tenang aja Pah!" jawab Danis sambil menunjukkan seringainya.
Cowok itu mengubah arah laju mobilnya, membuat Rico langsung menegurnya karena mengira Danis tidak mendengarkan perintahnya. "Kenapa kamu tidak mengejarnya?"
Danis hanya menunjukkan senyum tipis, tidak berniat menjawab pertanyaan Papanya yang tengah diselimuti kekesalan luar biasa.
Sementara di sisi lain, Zia terus melaju dengan kecepatan tinggi, beberapa kali ia mengganti arah laju mobilnya. Menyalip semua kendaraan yang ada, hingga akhirnya ia merasa sudah berhasil menghilangkan jejak. Namun, siapa sangka mobil yang dikendarai Danis tiba-tiba sudah berada di depan sana, ketika ia mengarahkan mobil ke jalanan yang cukup sepi pengguna jalan.
"Gawat!" gumam Zia lirih.
"Kenapa Zi!" Handa mengernyitkan dahi melihat Zia tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Kayaknya gue salah langkah, Nda!"
🎀🎀🎀
...Hai pren! Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk karya keren milik temanku 😇...
...🎀...
...JUDUL : Bad Wife...
...NAPEN : Oktiyan...
...Ceritanya seru lho, jangan lupa mampir yaaaa 🥰🥰🥰🥰...
🎀🎀🎀
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...