
Di tempat yang cukup ramai itu, Heaven masih memandang Zia dengan tatapan tajam. Zia kembali menundukkan kepalanya, merasa takut melihat mata merah yang menyala menunjukkan kekesalan luar biasa. Sudah beberapa detik berlalu Heaven belum mengatakan apapun lagi, kepalan tangan yang sebelumnya ada kini mulai membuka.
Namun itu bukan berarti bahwa amarah Heaven sudah mereda, karena tidak semudah itu kekesalannya menghilang setelah kebohongan yang dilakukan Zia sebelumnya. Berpergian tanpa mengatakan apapun, terlebih lagi gadis itu masih menyempatkan diri memoles wajahnya dengan make up dan mengatur rambutnya hingga sedemikian rupa.
Heaven kesal.
Tanpa mengatakan apapun Heaven dengan kasar menarik Zia ke tempat yang lebih sepi, karena sebelumnya mereka memang masih berada di tengah jalan. Heaven tidak ingin pembicaraannya di dengar oleh seluruh pengunjung yang berlalu lalang di sana, selain itu ia masih tidak terima melihat semua orang bisa menikmati wajah cantik Zia tanpa seizin darinya. Sampai di tempat yang menurutnya sepi, Heaven mendorong Zia sampai membentur pada tembok.
"Kenapa lo harus bohong sama gue?" tanya Heaven dengan penuh penekanan.
"Dan buat apa lo dandan kayak gini?"
Masih dengan kekesalan membuncah, Heaven bergerak mendekat semakin mengikis jarak yang ada. Posisi punggung Zia yang sudah menempel pada tembok membuatnya tidak bisa melakukan apapun kecuali diam di tempat. Zia masih diam membisu, tidak berani menjawab pertanyaan Heaven sama sekali. Aura dingin mengintimidasi itu membuat mulutnya seakan tidak mampu untuk membela diri, Zia takut salah mengatakan sesuatu yang justru akan membuat Heaven semakin marah tidak terkendali.
"Lo mau godain siapa pake dandan segala?" Zia masih terdiam, meski tidak terima dengan pertanyaan yang Heaven lontarkan tadi.
"JAWAB SIALAN! BUAT APA LO DANDAN KAYAK GINI?"
"Kak!" Zia mendongakkan kepalanya, menatap Heaven masih dengan wajah takut. Bentakan itu membuat cairan bening seketika menggenang di pelupuk matanya, hanya dengan satu kedipan saja mungkin air mata itu akan meluncur bebas membasahi pipinya.
"ARGH... KENAPA SIH LO SUSAH BANGET DI BILANGIN?"
Heaven mengacak rambutnya lalu memukul diding tepat di samping wajah Zia, sontak membuat gadis itu memejamkan matanya. Rasa takutnya semakin menjadi melihat tindak kasar yang terdengar jelas di samping telinganya. Heaven memejamkan mata sejenak menyadari telah membuat gadisnya takut, lalu meraih tubuh kecil itu membawanya kedalam pelukan. Ia masih mengontrol emosi, menyadari gadisnya saat ini sedang sakit.
"Maaf!" ucap Zia dengan suara bergetar takut.
"Kenapa nggak izin dulu Na?"
"Kak Heaven lagi sibuk! Gue cuma mau nonton sebentar doang, abis itu pulang!"
"Kan lo bisa minta izin dulu! Lo masih sakit!" Heaven masih sangat kesal, namun sekarang ia sadar dengan marah-marah tidak akan menghasilkan apapun. Yang ada malah membuat Zia semakin sakit karena rasa ketakutan pada dirinya. Kekesalannya berangsur reda setelah membawa Zia ke dalam pelukan, kenyamanan itu berhasil membuatnya enggan melepas pelukannya lagi.
"Gue udah sembuh kok!" Zia mengelus punggung lebar itu, berharap kemarahan dalam diri Heaven segera mereda.
Tidak lama setelah itu, Heaven melepaskan pelukannya lalu memeriksa kening Zia yang ternyata memang sudah tidak panas seperti sebelumnya. "Terus kenapa lo pake dandan segala?"
"Muka gue pucet kalau nggak pake makeup!" jawab Zia. Masih diam membiarkan Heaven menyeka air mata di wajahnya.
"Lain kali kalau mau pergi bilang, kalau emang memungkinkan gue bakal turutin. Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa!"
__ADS_1
"Maaf!" ucap Zia merasa bersalah.
Heaven kembali menarik Zia, membawanya ke dalam pelukannya. Masih ada amarah, kecewa dan rasa khawatir yang terselip di benaknya. Heaven tidak ingin Zia kenapa-kenapa, apalagi mengetahui sebelumnya gadis itu sedang sakit. Terlebih gadis itu pergi tanpa mengatakan apapun, Heaven bahkan sempat mengira Zia berbohong tentang sakitnya saat mendapati tidak ada siapapun di apartemen tadi. Karena itu ia segera melacak keberadaan Zia dan akhirnya sampailah ia di tempat ini.
********
Sementara di sisi lain, Gala, Handa dan Icha sedang menikmati Junk food yang sudah mereka pesan tadi. Sebenarnya bukan mereka, namun hanya Handa saja yang sejak tadi terlihat menyantap ayam goreng di hadapannya. Gala hanya diam dalam pikirannya, sementara Icha sedang sibuk bermain dengan ponselnya.
"Makan Cha, makan! Yang bener, jangan main hp mulu!" Handa kesal, sejak tadi melihat Icha sibuk bermain ponsel sampai mengabaikan ayam goreng yang mulai mendingin di atas meja.
"Apa ih, Handa ganggu aja!" Icha mengerucutkan bibirnya, merasa kesal dengan Handa yang sejak tadi mengganggu kegiatannya. Gadis itu sedang asik chatting dengan Azka, cowok misterius namun kocak yang belum pernah ia lihat bentuknya sampai detik ini.
"Ya udah terserah lo!" ucap Handa sudah jengah. Ia mengambil makannya sendiri lalu menyantapnya tanpa memedulikan sekitar. Begitu juga dengan Gala yang duduk bersama kedua cewek itu, sejak tadi nampak tidak memedulikan keduanya dan pandangan orang-orang di sekitar sana.
Selang beberapa menit terlihat Heaven datang bersama Zia menghampiri mereka bertiga, keduanya nampak sudah rapi seperti tidak terjadi apapun. Handa merasa lega karena ternyata Heaven tidak melakukan hal buruk pada sepupunya, menyadari bahwa itu memang kesalahan dirinya yang telah dengan gampang menyetujui permintaan Zia. Padahal sudah tahu sendiri kalau Zia sedang sakit.
"Lo nggak papa Zi?" tanya Handa ingin memastikan.
"Emangnya gue abis apain dia?" Heaven menyela, tidak terima mendengar pertanyaan Handa yang terkesan meragukan dirinya dalam menjaga Zia.
"Ya kali aja!" ujar Handa sembari mengalihkan pandangannya. Sorot mata tajam itu sangat menggambarkan betapa kesalnya Heaven pada dirinya yang telah berbohong sebelumnya.
"Pacaran terooss...," sindir Handa pada Icha yang tiba-tiba tergelak dengan pandangan masih menatap ponsel, "Virtual aja bangga, ntar dighosting nangeesss!" ucapnya menggebu.
"Lagian lo aneh, ngapain ketawa-ketawa gitu?"
"Soalnya Azka kirim video lucu!" jawab Icha menunjukkan senyum manisnya. "Azka baik tau, Handa kenapa sih nggak suka sama Azka?" tanyanya.
"Bukannya gue nggak suka Cha, lo kan nggak tau dia siapa! Nanti kalau ternyata dia kakek-kakek peyot gimana?"
"Bukan ih, orang Icha udah nanya kok kalau dia itu umurnya tujuh belas tahun. Berarti Azka seumuran sama kita!" kata Icha menggebu, "Katanya juga Azka suka sama Icha!" ucapnya tersenyum malu-malu sabil beberapa kali mengerjab.
"Serah lo Cha, terserah!" ucap Handa memijit keningnya. Lebih baik mengalah daripada terus berdebat dengan Icha. "Emang lo beneran udah pacaran sama dia?" tanyanya memastikan.
"Eum nggak tahu! Tapi Azka baik kok, Azka nggak pernah lupa ingetin Icha buat makan!" jawab Icha dengan senangnya.
"Cinta itu ngasih makan, bukan cuma ngingetin makan!" sela Gala. "Virtual aja bangga!"
Cowok itu mengambil ayam goreng, lalu memakannya tanpa memedulikan tatapan aneh dari keempat orang yang duduk satu meja dengannya. Heaven yang berada di sampingnya segera memeriksa kening cowok itu. Barangkali sepupunya itu sakit, setelah seharian ini dipusingkan oleh pelajaran dan pekerjaan yang menumpuk.
__ADS_1
"Lo sakit Gal?" tanya Heaven masih menempelkan tangannya di kening Gala.
Gala menepis tangan Heaven, agar menjauh dari keningnya. "Nggak usah pegang-pegang!"
Heaven hanya terkekeh kecil menyadari Gala sedang kesal, mungkin karena mendengar percakapan Icha dengan Handa tadi. Tidak ingin mengganggu macan yang hampir mengamuk, Heaven beralih mengambilkan ayam goreng untuk Zia makan. Zia yang memang sudah merasa lapar langsung mengambil makanan itu. Jika menolak pun akan percuma karena Heaven pasti akan memaksa sampai mau, ah dasar Heaven menyebalkan.
Beberapa menit berlalu, mereka sudah selesai menghabiskan makanan di meja itu. Karena waktu sudah semakin malam mereka memutuskan untuk pulang, Heaven menggandeng tangan Zia meninggalkan Handa dan Icha yang masih ingin bersantai-santai sejenak di tempatnya. Sementara Gala sudah pergi lebih dulu karena sudah jengah mendengar ocehan Handa dan Icha yang masih saja membicarakan Azka. Entahlah, mereka juga tidak mengerti ada apa dengan cowok pendiam itu.
Masih banyak orang yang berlalu lalang di sana, Heaven membawa Zia menuju eskalator karena ternyata ada banyak orang yang memilih memakai lift. Zia hanya mengikuti cowok itu melangkah tanpa memprotes, namun seketika langkahnya terhenti saat akan menggunakan tangga berjalan itu. Dari banyaknya pengunjung yang memakai eskalator, hanya ada satu orang yang berhasil menarik perhatiannya.
"Kak Danis!" gumam Zia lirih
Gadis itu mematung di tempat, melihat mantan pacar yang sudah dua bulan ini tidak dilihatnya tengah menggunakan eskalator yang bergerak semakin ke atas. Heaven pun ikut menghentikan langkahnya, menyadari Zia tengah menahan pergerakannya ia menatap dengan heran. Padahal hanya tinggal berapa langkah lagi mereka berdua akan bergerak turun dengan sendirinya menggunakan tangga berjalan itu.
"ZIA?!"
"Kak, gue lupa sesuatu! Ikut gue bentar?" Zia langsung menarik Heaven meninggalkan tempat itu, saat mendengar Danis sudah memanggil namanya tadi. Zia takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan jika kedua cowok itu bertemu, mengingat sifat Heaven yang pemarah dan posesif padanya sejauh ini.
"Lo mau ke mana Na?" Heaven ikut berlari menyamakan langkahnya dengan Zia yang kali ini begitu cepat, masih belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi.
Zia terus berlari tanpa menghiraukan pertanyaan Heaven, berharap tidak akan bertemu dengan mantan pacarnya lagi. Apalagi di saat ada Heaven di sampingnya seperti sekarang. Sementara di belakang sana, Danis tengah kebingungan mencari keberadaan Zia yang sempat terlihat di lantai atas tadi. Zia yang mulai ketar-ketir masih saja berlari hingga masuk kedalam ruangan, lalu berhenti dibelakang tembok.
"Lo kenapa?" tanya Heaven. Melihat Zia yang seperti sedang bersembunyi dari seseorang membuat Heaven sedikit curiga.
"Gue... nggak papa kok!" jawab Zia dengan bingung.
"Woy ngapain cewek di toilet cowok?" ucap seseorang di belakang Zia.
Mendengar suara itu, Zia membalikkan badannya begitu juga dengan Heaven yang hanya tinggal menoleh. Seketika mata keduanya membulat, setelah menyadari sedang berada di mana mereka saat ini. Mereka sedang berada di toilet khusus pria, dan tentu saja hanya Zia satu-satunya perempuan di sana.
"Mau ngintip lo?" hardik seorang laki-laki yang sedang membenarkan bajunya yang berantakan.
"Aaaaa...." Zia memekik terkejut, lalu menyembunyikan wajahnya pada dada cowok di sampingnya.
Heaven pun tidak tinggal diam, ia langsung melepas jaketnya untuk menutupi kepala Zia yang sedang bersembunyi di dadanya. Lalu dengan cepat ia menuntun Zia untuk segera keluar dari toilet pria itu. Namun baru saja beberapa langkah keluar dari toilet, seorang cowok bertubuh jangkung yang tengah berlari tidak sengaja menyenggol bahu Heaven. Tentu saja itu membuat Heaven yang sedang kesal dengan para penghuni toilet sebelumnya, kini semakin kesal pada orang yang dengan seenaknya berlari tanpa menatap jalan hingga menabrak dirinya.
"Maaf!" ucap cowok itu melihat lirikan tajam Heaven. Kemudian masuk ke dalam toilet pria dengan terburu-buru, seperti tengah mengejar seseorang.
Zia yang kepalanya masih tertutup jaket hanya memejamkan matanya, mendengar suara seseorang yang sangat dikenalnya. Meskipun tidak melihatnya secara langsung, tapi Ia tahu bahwa suara itu milik Danis. Zia kembali berjalan mengikuti arah Heaven menuntun, sambil berharap Danis tidak menyadari keberadaan dirinya di sana.
__ADS_1
*********
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaaa 🥰