
"Nda, gue balik duluan ya!" ucap Zia dengan terburu-buru.
"Tungguin gue dong! Buru buru banget, mau ke mana sih?" tanya Handa yang masih memasukkan buku dan peralatan lainnya ke dalam tas.
"Gue males ketemu Kak Heaven! Lagian gue mau ke rumah Tante Shena!" ucap Zia menghentikan langkahnya.
Sejak tadi pagi Zia memang masih mendiami Heaven, berpura-pura masih marah soal kejadian tadi pagi. Padahal Zia hanya sedang menghindar agar bisa pergi ke rumah Tante Shena dengan mudah. Kalau tidak begitu Heaven pasti akan memaksa mengantarkan pulang dan yang jelas akan terus mengganggu dirinya.
"Lo mau ke rumah Tante Shena? Mau ngapain, gue ikut!" ucap Handa segera memakai tasnya.
"Gue mau tanya soal Joy-"Zia langsung menutup mulutnya, menyadari sudah keceplosan di hadapan Handa.
"Joy? Gue kayaknya pernah dengar Bunda sama Ayah ngomongin soal Joy deh!" Handa mengernyit sembari mengingat siapa pemilik nama yang cukup familiar menurutnya itu. "Lupa! Pokoknya gue ikut!" Karena tidak kunjung mengingat, Handa akhirnya memutuskan untuk tetap minta ikut.
"Nggak boleh! Ntar lo kepo lagi!" tolak Zia yang tidak ingin Handa mengetahui rahasia itu.
Zia memang hendak menanyakan sesuatu pada Shena tentang siapa Joy dan nama pria yang menculiknya dulu, karena selain Daddy Zion dan Mommy Shina, Tante Shena juga tahu semua tentang masalah penculikan Zia saat kecil dulu. Kehidupan masa kecil yang cukup rumit membuatnya sedikit terganggu, bahkan sampai saat ini. Zia merasa akan lebih baik mencari tahu penyebab permasalahannya lebih dulu, agar kedepannya bisa menentukan apa yang harus dilakukan.
"Nggak mau tahu pokoknya gue mau ikut!" ucap Handa semi memaksa.
"Nggak!" tolak Zia cepat kemudian pergi meninggalkan kelas. Bukannya apa, Zia hanya tidak ingin Handa ikut campur dalam masalahnya. Zia tidak ingin Handa berada dalam bahaya hanya karena mengetahui masalah itu.
Handa yang tidak mau menyerah ikut segera berlari keluar kelas, mengejar Zia yang sedang berjalan dengan cepat. "Gue ikut!" rengeknya seperti anak kecil yang sedang minta jajan sembari menggoyangkan lengan Zia.
"Ikut ke mana?" tanya seseorang dari belakang.
Menoleh dengan mata membulat, Zia dan Handa terkejut melihat Heaven dan teman-temannya ternyata sudah berdiri di belakang mereka. Baik Zia maupun Handa hanya diam saja, tidak tahu harus mengatakan apa. Mana mungkin juga mereka mengatakan akan pergi ke rumah Tante Shena yang tidak lain adalah Mama dari Kenzo.
"Mau ke mana kalian berdua?" tanya Heaven sekali lagi.
"Nggak ke mana-mana!"
"Bohong!" sangkal Heaven tidak mempercayai apa yang dikatakan Zia.
"Gue boleh ikut kelompok lo nggak? Kalau enggak...." Handa sengaja menggantung ucapannya, agar Zia mengerti dengan kode ancamannya.
Terdiam sejenak. Zia sebenarnya tidak ingin Handa ikut, tapi jika tidak setuju pasti Handa akan mengatakan yang tidak-tidak pada Heaven. Dengan tak minat Zia menganggukkan kepalanya, mungkin memang sudah waktunya Handa tahu. "Iya boleh!"
"Nah gitu kan enak!" Handa tersenyum penuh kemenangan, lalu beralih menatap Heaven. "Kita mau kerja kelompok, lo jangan ganggu kita dulu!" ucap Handa pada Heaven.
"Kerja kelompok?" Heaven memicingkan mata, sedikit tidak percaya dengan apa yang di katakan Handa. "Sama siapa aja?"
"Gue, Zia sama Riri temen kelas gue!" jawab Handa. Karena Zia hanya diam saja, masih dalam mode ngambeknya pada Heaven. Handa sengaja hanya menyebutkan nama cewek, karena sudah dipastikan Heaven tidak akan mengizinkan jika ada nama cowok di kelompok bohongannya itu.
"Ke mana? Gue anterin!" Heaven tidak bisa membiarkan Zia pergi bersama Handa tanpa sepengetahuannya, apalagi mengetahui kelakuan Handa yang suka macam-macam.
"Nggak perlu, gue juga bawa mobil sendiri! Biar gampang mending Zia ikut gue, terus lo pulang aja sama temen-temen lo itu!" ucap Handa melarang dengan halus.
"Nggak bisa!" tolak Heaven.
"Udahlah Heav, mending lo ikut kita aja. Ada yang harus kita bicarakan kan?" sela Agam mengingatkan.
Heaven menghela nafas, dengan tak minat menyetujui ucapan sahabatnya. Meski saat ini ia sedang ingin bersama gadisnya. "Ya udah lo boleh pergi! Pulangnya jangan kemalem dan jangan macem-macem, jangan lupa kasih kabar ke gue!"
"Cih bucin!" sahut Gala berdecih.
"Iri? Bilang boss!" balas Nanda. Gala yang tidak terima langsung mendelik pada Nanda yang kini cengengesan tidak jelas. Sedangkan Kenzo? Cowok itu dari tadi hanya diam membisu di belakang.
__ADS_1
Heaven yang mendengarnya sama sekali tidak menghiraukan kedua sahabatnya, pandangannya masih menatap Zia menunggu jawaban. "Kok diem?"
"Iya!" jawab Zia dengan kesal, "Posesif amat sih jadi cowok! Jadi pengen kabur aja gue!" gumamnya lirih.
"Ngomong apa? Coba ulangi!" ucap Heaven yang masih bisa mendengar dengan jelas gumaman Zia.
"Nggak ngomong apa-apa!" jawab Zia mengelak.
"Mau kelompokkan di mana?" Heaven kembali memastikan, takut gadisnya macam-macam di luaran sana tanpa sepengetahuannya.
"Di apart gue!" jawab Zia sekenanya. Setelah itu langsung menarik Handa menuju parkiran sekolah, meninggalkan Heaven yang masih terus menatap punggungnya yang semakin menjauh.
Begitu sampai di dalam mobil, Handa yang hendak melajukan mobilnya segera di cegah oleh Zia. Sebelum berangkat Zia ingin mengatakan sesuatu lebih dulu pada sepupunya, karena ia sudah mendapatkan beberapa informasi dari Jo tentang keluarga Icha.
"Kenapa?" tanya Handa saat tangannya yang sedang memegang setir dipegang oleh Zia.
"Gue mau ngomong sesuatu sama lo!" Zia sedikit ragu mengatakannya, mengetahui Handa yang begitu menyayangi Icha sebagai sahabatnya.
"Ya elah ngomong aja kali!" ucap Handa santai sembari menjalankan mobilnya lagi.
"Kita harus hati-hati sama Icha!" Ucapan Zia membuat Handa mendadak menghentikan laju mobilnya.
"Maksudnya?" Handa mengernyit tidak mengerti.
"Janji dulu jangan bilang ke siapa-siapa!" Zia tidak ingin mengambil resiko jika Handa mengatakannya pada Daddy Zion atau pun yang lainnya. Selama ini setahu Zia, hanya dirinya dan Tante Shena yang tahu wajah orang yang telah menculiknya. Karena saat Zia di selamatkan dulu, pria itu sudah lebih dulu kabur bersama anaknya.
"Gue janji, tenang aja sampe kapanpun gue bakal bantu lo!" ucap Handa serius.
"Papanya Icha itu orang yang udah nyulik gue dulu!" ucap Zia sembari menyerahkan ponsel berisi informasi tentang keluarga Icha.
"APA? NGGAK, NGGAK MUNGKIN!"
*********
"Siap Den!" jawab pemilik warung. Mbok Tum alias Tumirah.
"Sengklek lo, masih jauh juga udah teriak-teriak!" sewot Kenzo. Belum juga turun dari motor, temennya yang agak miring itu sudah teriak-teriak minta mie goreng.
"Ck lo nggak tahu apa, gue tuh lagi latihan biar suara gue yang serak-serak basah ini bisa dipake buat upacara bendera minggu depan!" ujar Nanda menggebu.
"Cih suara mblebek mblebek kayak knalpot rombeng gitu lo bilang serak basah!" cibir Gala dengan raut wajah datar bin menyebalkan. Dengan santai cowok itu turun dari motor, berjalan menuju kursi yang disediakan di depan warung lalu mendudukkan diri, begitu juga yang lainnya.
Mendengar apa yang di katakan Gala, semua tertawa melihat wajah Nanda yang terlihat shock berat. "Anjrot bengek gue!" ucap Kenzo disela tawanya.
"Mending lo diem Gal! Lo udah bikin gue kecewa! Gue sakit hati tau nggak!" Nanda menunjuk dadanya mendramatisi, lalu menyandarkan kepalanya pada pundak Heaven sembari memasang wajah sedih.
"Jijik bangsat!" Heaven mendorong kepala Nanda hingga kembali duduk tegak.
"Lagian sejak kapan lo mau jadi petugas upacara? Jangankan jadi petugas, di suruh baris aja lo milih-milih! 'Mii ying dikitin simi ciwik!'." Sembari mencibir Agam memperagakan apa yang biasa Nanda lakukan saat akan melakukan upacara bendera. "Modus!" lanjutnya.
"Justru itu, gue pengen jadi pemimpin upacara buat deketin Chindy, dia kan anak paskibraka!" ucap Nanda membuat semua melongo.
"Nggak nyambung goblok!" kesal Agam. Seketika ingin melempar botol saus di hadapannya ke kepala Nanda, siapa tahu bisa menggeser otaknya agar kembali ke tempat semula.
"Nyambung lah!" balas Nanda nyolot.
"Mana ada sejarahnya paskibraka deket sama pemimpin upacara, yang ada itu bawa bendera kocak!" balas Agam lagi. "Kalau jadi pemimpin upacara yang ada lo deketin pembina, lo mau deketin Chindy apa Kepsek?"
__ADS_1
"Ck bukan itu maksud gue, kalau jadi pemimpin upacara gue kan bisa tuh teriakin nama Chindy. Biar dia tahu kalau gue itu tulus suka sama dia!" ucap Nanda menjelaskan maksudnya.
"Halah bullshit! Omongan bocah prik mending buang aja ke laut!" sahut Gala, "Nggak ada gunanya banget!"
"Serius Gal, mending lo diem aja deh!" kesal Nanda sambil menunjukkan wajah menantang.
"Modelan gini mau jadi pemimpin upacara, yang ada udah ditendang dulu sebelum mulai!" Kenzo menatap remeh Nanda dari atas ke bawah lalu ke atas lagi.
"Woy gini-gini gue cocok jadi pemimpin upacara. Jadi pemimpin para wanita aja gue bisa, apalagi cuma pemimpin upacara!" sombong Nanda.
"Pemimpin wanita apaan, cewek aja lo samain sama permen karet! Habis sepah manis di buang!" Agam menggeleng mengingat kelakuan tidak terpuji sahabatnya yang satu itu selama ini.
"Kebalik Mamat! Yang bener habis manis semangka dibuang!" sahut Kenzo menyalahkan yang salah.
"Lah, makin nggak jelas!" ujar Nanda. "Lagian yah kalau masih bisa yang banyak, kenapa harus satu? Emangnya Agam, nggak move on move on kerjaannya!" Ia tertawa mengejek, melihat Agam tengah melirik dengan kesal.
"Serah lo Nan, serah. Capek gue dengarnya!" ucap Heaven tidak habis pikir. Bisa bisanya ia berteman dengan cowok gila spek pantat dugong seperti Nanda.
"Mbok, mau kopi ya!" pinta Heaven pada Mbok Tum yang sedang meletakan mie goreng lengkap pakai nasi telur dan ceker ayam di hadapan Nanda.
"Siap Den Hepen!"
"Heaven Mbok, Heaven!" koreksi Heaven membuat semua tertawa mendengarnya. Heran saja, Mbok Tum selalu saja salah jika menyebut nama cowok itu.
"Aduh Den, Mbok nggak bisa. Nama Den Hepen kebagusan sih!" Ucapan Mbok Tum membuat Heaven sekali lagi menghela nafasnya, tapi sudahlah memang begitu adanya.
"Makannya Heav jangan bagus namanya doang, akhlaknya juga bagusin. Biar nama lo rela punya pemilik kayak lo!" celetuk Nanda langsung mendapat pelototan tajam dari Heaven.
"Nggak nyambung setan!" kesal Heaven. Nanda hanya terkekeh kemudian memakan mie goreng campur nasi miliknya kembali.
"Tumbwen lo mwinum kwopi?" tanya Nanda dengan mulut penuh makanan.
"Makan tinggal makan aja banyak bacot! Telen dulu kalau mau ngomong!" kesal Heaven. Nanda hanya menunjukkan cengiran bodoh, lalu kembali sibuk dengan makanannya.
"Guys denger denger kemaren Hugo sama Regha udah keluar dari rumah sakit!" ujar Kenzo setelah menenggak habis minum dingin miliknya.
"Bener, lain kali kalian harus lebih hati-hati. Tadi pagi gue juga diserang sama mereka, untung Heaven lihat!" ujar Gala membenarkan.
"Kalau bisa mulai sekarang kita jangan sendirian, sekarang mereka mainnya licik. Bakal nyerang kalau di antara kita cuma sendirian!" sahut Heaven mengingatkan semua sahabatnya.
"Nan, lo kasih tahu temen-temen yang lainnya buat waspada!" titah Heaven. Nanda hanya menganggukkan kepalanya, karena masih sibuk mengunyah makanannya yang masih menumpuk di dalam mulut.
*********
Maaf ya rada garing, karena bab ini cukup berpengaruh sama alur cerita.😅
Misi, orang ganteng mau lewat!
Nanda sama Gala lagi akur wkwkwk ðŸ¤
Senyumnya mas Agam, tolong dikondisikan. ðŸ¤
Kenzo juga mau setor wajah 🥰
__ADS_1