Heavanna

Heavanna
105. JAUH DARI ROMANTIS


__ADS_3

"Kak, balikin Hp gue napa. Tega banget sih, udah dua hari juga!"


Sudah dua hari berlalu, Zia masih mencoba membujuk Heaven untuk mengembalikan ponselnya. Namun, cowok itu belum juga mau menyudahi hukumannya. Apalagi ketika mendengar penjelasan Zia malam itu, Heaven justru bertambah posesif mengetahui ada seseorang yang mengincar Zia, Handa dan Icha siang itu.


Ketika Heaven mengintrogasi dirinya malam itu, Zia memang mengatakan yang sebenarnya terjadi. Tentang pengejaran yang dilakukan Om Rico demi mendapatkan kembali Icha, serta apa saja yang dialaminya saat itu, sampai Zia tidak bisa menghubungi Heaven untuk memberikan kabar.


Zia berharap Heaven akan meringankan hukumannya setelah menjelaskan yang sejujurnya, namun ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Heaven semakin posesif padanya, hingga tidak mengizinkan Zia pergi kemanapun kecuali bersama dirinya.


Sehari tidak bertemu dengan Zia membuat Heaven merasakan ketakutan dan kekhawatiran berlebih. Heaven sangat tidak ingin kejadian itu terulang lagi pada Zia, karena itu ia tetap pada pendiriannya. Melarang Zia berpergian tanpa dirinya, hingga menyita ponselnya agar Zia tidak bisa macam-macam.


"Kak!"


"Kak Heaven!" Zia mengernyit, Heaven tidak mendengarkan panggilan darinya.


"KAK HEAVEN!" Zia memekik pada Heaven yang berjalan mendahuluinya, mengejutkan beberapa siswa yang sedang saling menggerombol di sepanjang koridor sekolah.


Heaven tersadar, menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Zia. Tidak ketemu. Ia beralih menengok ke belakang, tampak Zia masih berdiri di tempatnya dengan raut wajah kesal. Menyadari kesalahannya, Heaven berjalan menghampiri gadis itu.


"Sorry Na, gue ... gue lagi nggak fokus." Heaven meraih tangan Zia, mengajaknya untuk berjalan kembali menuju kelas.


"Kak Heaven kenapa sih? Mikirin apa?" Zia bertanya dengan nada lembut, menyadari Heaven sepertinya sedang banyak masalah.


Heaven menoleh dan tersenyum tipis, kemudian menggenggam tangan Zia semakin erat. "Mikirin gimana caranya biar bisa nikahin lo secepatnya!" ucapnya lalu terkekeh.


Zia membulatkan matanya, masih sempat-sempatnya cowok itu membicarakan pernikahan di saat masih memakai seragam sekolah. "Nggak usah sembarangan, masih sekolah juga. Gue serius!"


"Gue lebih serius!"


"Kak Heaven ih!" Zia masih menahan kekesalannya.


"Kenapa lagi, hm?"


Zia melepas gandengan tangannya, berjalan mendahului Heaven. Padahal ia sedang serius bertanya, tapi Heaven justru bercanda di saat seperti ini. "Tau ah, terang!"


"Gelap!" koreksi Heaven. Terkekeh kecil, kemudian berjalan menyamakan langkahnya di sisi Zia.


"Kapan Hp gue balik?" Zia menatap dengan raut memohon, kehidupannya sedikit hambar tanpa ponsel yang biasa menemani dirinya.

__ADS_1


"Nanti kalo udah waktunya," jawab Heaven santai.


"Ya kapan makanya? Kak Heaven pikir enak gitu nggak pegang Hp? Enggak tau!" sungut Zia kesal.


"Ya makanya, pegang tangan gue aja!" Heaven tersenyum jenaka.


"Nggak mau!"


Mendengar penolakan tersebut, Heaven langsung memegang tangan Zia tanpa permisi. "Ya udah nanti gue balikin!"


Seketika Zia tersenyum sumringah. "Beneran?"


"Heum, ada syaratnya tapi!" ucap Heaven tersenyum miring.


Melihat senyum mencurigakan itu, Zia jadi merasa ragu untuk mengiyakan. Belajar dari pengalaman, selama ini satupun syarat yang ia terima dari Heaven tidak ada yang menguntungkan untuk dirinya.


"Nggak usah, nggak jadi!" Zi membuang muka ke arah lapangan, sambil berjalan menuju kelas. Heaven yang tidak ingin berdebat memilih diam, membiarkan Zia yang tampaknya sedang dalam mode ngambek.


"Nggak usah diliatin terus, jelek!" Heaven menutup mata Zia, dari kejauhan gadis itu masih saja memperhatikan sekelompok anak laki-laki yang sedang bermain basket di tengah lapangan sana.


Menantang, gadis itu kembali melihat ke tengah lapangan, membuat Heaven kembali menolehkan kepalanya. "Ngomong apa barusan, coba ulangi?" tanya Heaven dengan nada dingin mengintimidasi.


"Nggak ngomong apa-apa!" Zia menjawab dengan ketus, lalu berjalan melewati Heaven yang berdiri di hadapannya tadi. "Mau liatin cowok ganteng, biar mata seger! Bosen liat Kak Heaven terus!"


Zia berlari kabur setelah mengucapkan kata berbahaya itu. Heaven yang mendengarnya seketika menjadi geram, aura dingin yang terpancar membuat beberapa siswa yang melihatnya memilih pergi. Cowok itu mengejar Zia lalu meraih tangannya, mendorongnya ke arah diding terdekat di sana.


"Ulangin kata-kata lo!" ucap Heaven dengan penuh penekanan.


Di depan cowok itu, Zia hanya mampu membulatkan matanya dengan tubuh kaku. Wajah dingin cowok itu tepat berada di depan wajahnya, membuat jantungnya tiba-tiba berdetak dengan cepat. "Eum cuma bercanda! Kak Heaven ganteng kok, nggak ngebosenin enggak!" ucapnya sedikit gugup.


Heaven menahan nafasnya sejenak, mencoba untuk tidak marah dengan ucapan Zia sebelumnya. Lagipula gadis itu baru saja mengatakan bahwa dirinya ... tampan. "Good girl" Heaven mengacak rambut Zia dengan gemas.


Zia menghembuskan nafas lega, ternyata Heaven tidak jadi memarahi dirinya. Pagi hari yang buruk baginya, jika harus mendengar teriakan kasar cowok itu apalagi ini masih di area sekolah.


"Lagi ngapain lo berdua?" Suara lantang Agam mengejutkan keduanya, Heaven dan Zia menoleh ke sumber suara secara bersamaan.


"Pacaran lah! Emangnya lo, jomblo karate, eh karatan maksudnya!" ejek Nanda yang berada di samping Gala.

__ADS_1


Heaven hanya menggeleng melihat kedatangan teman-temannya, sedikit heran melihat mereka selalu datang bersamaan. Bertiga atau bahkan berempat, bersama Kenzo. Akan tetapi, untuk kali ini tampaknya Kenzo masih belum sampai di sekolah.


"Kak, gue ke kelas duluan ya!" pamit Zia. Gadis itu pergi setelah mendapat anggukan dari Heaven.


"Hati-hati neng," ucap Nanda mengiringi kepergian Zia. Seketika Heaven mendelik, memperingatkan Nanda untuk menjaga ucapan dan pandangan pada Zia, gadisnya.


"Ampun Bos, reflek aja gitu!" Nanda menyengir kuda.


Heaven mendengus sebal, bosan dengan Nanda yang terlalu banyak alasan. "Lo bertiga kenapa sih, ganggu orang mulu kerjaannya! Nggak ada kerjaan ya selain ganggu orang pacaran?" ucapnya meledek.


"Siapa yang mau ganggu, orang kita mau lewat." Gala melangkahkan kakinya melewati Heaven, "Makanya lain kali kalo mau pacaran liat TEMPAT!" ucapnya pedas.


Nanda dan Agam seketika terkekeh mendengar sindiran sinis Gala, apalagi ketika melihat Heaven memasang wajah cengo. Saking kesalnya mendengar ucapan Zia sebelumnya, Heaven jadi lupa sedang berada di mana ia saat ini.


"Gue heran deh, lo kan pacaran udah lama sama Zia. Kok panggilannya masih lo gue sih, mana lo masih suka kasar lagi sama cewek lo?" tanya Nanda sedikit heran. Pasalnya baru kali ini ia melihat pasangan yang sangat jauh dari kata romantis, bahkan setiap harinya selalu di isi oleh keributan, adu mulut dan kata-kata kasar tidak berfaedah.


Heaven terdiam, untuk kali ini ia tidak bisa menjawabnya. Bukan karena tidak suka, sebenarnya Heaven sangat ingin memanggil Zia dengan kata-kata lembut seperti aku dan kamu. Namun semua itu ia urungkan, Heaven tahu sampai saat ini Zia belum bisa membalas perasaannya. Ia hanya tidak ingin membebani Zia dengan semua itu.


Bagi Heaven, memiliki status hubungan yang jelas dengan Zia sudah lebih dari cukup. Ia cukup bahagia berada di dekat Zia, meski semua itu hanya dirinya yang mampu merasakannya, tidak dengan Zia. Heaven masih sangat yakin, jika suatu saat nanti, Zia pasti akan memanggilnya dengan suara lembutnya. Ketika Zia sudah membalas perasaannya, meski entah kapan itu semua akan terjadi.


"Ciahhh... dia malah bengong!" ucap Nanda menyenggol bahu Heaven hingga membuatnya tersadar dari lamunan.


"Terserah gue mau manggil apa, toh Zia nggak pernah protes!"


🎀🎀🎀


Aku punya rekomendasi karya keren nih! Udah end juga lho pren, siapa tau ada yang mau maraton baca. Ceritanya seru dan bikin nagih, jangan lupa mampir ya 😍


Judul : My Husband Is My Secret Lover


Napen : Lady Meilina



🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2