Heavanna

Heavanna
51. BOCILNYA HEAVEN


__ADS_3

Setelah memastikan Zia duduk diam, Heaven memutari mobil lalu duduk di belakang kemudi. Ia langsung tancap gas meninggalkan area sekolah, meninggalkan Sarah yang tengah menggerutu sambil menghentak hentakkan kalinya dengan kesal. Gagal sudah usahanya untuk mendekati Heaven, padahal Sarah sudah merencanakan semuanya secara diam-diam agar kedua sahabatnya tidak tahu.


"Kak Heaven nggak kasian apa, Kak Sarah sendirian loh di sekolah?" Zia menatap Heaven yang sedang sibuk mengemudi, terlihat wajahnya tengah menahan kesal mendengar pertanyaan itu.


"Dia punya kaki, bisa jalan buat cari taksi. Dia juga punya hp, bisa nelfon orang buat minta jemputan!" Heaven menjawab tanpa mau menatap Zia, tangan dan pandangannya masih sibuk memutar setir menuju jalan.


"Tapi kan tetep aja dia sendirian di sekolah, nanti kalau ada yang jahat gimana?" tanya Zia, "Emang apa susahnya sih cuma anterin doang!"


"Gue sibuk, waktu gue terlalu berharga buat orang yang nggak penting!" jawab Heaven sekenanya.


"Ish sombong!" dengus Zia kesal.


"Emang!"


"Dosa!"


"Biarin!"


"Namanya aja Heaven, sukanya bikin dosa! Nggak makes sense banget!" celetuk Zia kesal.


"Lo ngatain gue?" Heaven menatap tajam, membuat Zia yang hendak menyeletuk bebas seketika mengatupkan bibirnya.


"Tau ah, gelap!" ucap Zia akhirnya.


"Lampunya nyalain!"


"Kak Heaven ngeselin!"


"Tapi ngangenin!"


"Siapa bilang?"


"Gue!"


"Pede!"


"Kenyataan!"


"Ngayalnya ketinggian!"


"Bagus lah!"


"Jangan tinggi-tinggi, nanti ketemu Tuhan!" cicit Zia sekenanya.


"Nggak boleh ngomong gitu, nanti kalau lo kangen sama gue gimana?"


"Nggak akan, kalau Kak Heaven pergi gue tinggal cari yang lain!"


Ckiiitt...


Heaven menghentikan mobilnya secara tiba-tiba, lalu menatap Zia dengan raut wajah penuh ketidaksukaan. Sementara Zia yang terkejut sedang memegang dadanya yang berdebar hebat, mengira Heaven telah menabrak sesuatu hingga menghentikan mobilnya secara mendadak.


"Ngomong apa tadi, coba ulangi hm?" Heaven menatap dengan wajah datar namun tajam, tidak suka mendengar Zia mengatakan hal itu. Ucapannya terdengar seolah menginginkan untuk pergi, terlebih lagi Zia ingin mencari pengganti setelah kepergiannya. Heaven sangat tidak menyukai hal itu.

__ADS_1


Zia menunjukkan cengirannya, ia pun tidak tahu kenapa bisa mengatakan hal itu. Saking kesalnya dengan Heaven hingga membuatnya tidak sempat menyaring kata-kata lebih dulu. "Nggak ngomong apa-apa!" elaknya.


"Nggak boleh ngomong kayak gitu!" ucap Heaven memperingatkan.


"Iya ih, nggak sengaja juga. Siapa suruh Kak Heaven ngeselin!" Zia mengerucutkan bibir, mengalihkan pandangannya karena Heaven masih saja menatap dingin ke arahnya.


"Liat gue! Gue lagi ngomong sama lo, Anna!" Heaven menekan kata-katanya, menyuruh Zia untuk kembali menatap padanya.


Dengan sedikit rasa takut, Zia kembali menatap Heaven yang masih menatap tajam padanya. "Apa?"


"Sekali lagi gue denger lo bilang mau cari yang lain, gue kurung lo di gudang biar nggak bisa ke mana-mana!"


Zia membulatkan matanya, tidak percaya mendengar apa yang di katakan oleh Heaven. Cowok itu masih menatap datar dirinya, namun Zia bisa merasakan jika ucapannya tadi mengandung keseriusan. "Kok di gudang sih, jangan macem-macem!"


"Gue serius Anna!"


"Nggak mau!"


"Nggak mau apa?"


"Nggak mau dikurung di gudang!"


"Makanya kalau ngomong jangan sembarangan!" kesal Heaven.


"Gue cuma bercanda tadi, sensi banget sih jadi orang!" balas Zia sama kesalnya.


"Candaan lo nggak lucu!"


"Kak lepasin ih!" Zia memberontak, tapi tetap saja Heaven tidak mau melepaskan. Tak segan Zia mencubit perutnya agar bisa terlepas, namun herannya Heaven seperti tidak merasakan apapun.


"Bilang apa dulu!" Heaven masih ingin merasakan kehangatan tubuh itu, rasanya sehari saja akan sangat sulit baginya tanpa pelukan dari gadisnya itu.


"Iya maaf!"


Mendengar ucapan Zia, Heaven perlahan melepaskan pelukan itu sebelum nantinya kebablasan. Dengan senyum sumringah Heaven menegakkan tubuhnya, lalu menjalankan kembali mobilnya. "Gue maafin!" ucapnya.


"Nggak dimaafin juga nggak papa!" Zia mendengus, masih kesal dengan sikap Heaven yang terlalu pemaksa.


Heaven mengulas senyum tipis menyadari gadisnya tengah kesal, lalu mengelus puncak kepalanya dengan gemas. Zia pun tidak tinggal diam, tangannya terus menepis tangan Heaven yang masih memaksa mengelusnya. Karena tidak suka mendapat penolakan, Heaven meraih tangan Zia lalu menggenggamnya dengan erat, hingga membuat Zia tidak bisa berkutik sama sekali.


"Kak lepas, lo lagi nyetir!" Zia mencubit tangan Heaven, bahkan jika boleh Zia ingin menggigit tangan itu hingga berdarah agar bisa melepaskan tangannya.


"Gue masih punya satu tangan buat nyetir!" ucap Heaven santai. Wajahnya tidak menunjukkan rasa kesakitan sama sekali, padahal Zia masih menghujani tangannya dengan cubitan kecil.


"Kak ih, emang nggak sakit apa?" tanya Zia melihat wajah Heaven yang terlampau biasa.


Heaven menoleh dengan wajah santai. "Kalau ditanya sakit apa enggak, pastinya sakit. Gue juga manusia, gue juga nggak punya ilmu hitam. Tapi gue udah terbiasa sama rasa sakit itu!" ucapnya.


Zia manggut-manggut, mengerti apa yang di katakan Heaven. "Berarti kalau gue gigit bisa lepas dong?"


Heaven terkekeh gemas, lalu menunjukkan seringainya. "Coba aja gigit, kalau lo mau gue gigit balik!"


Plak

__ADS_1


"Aw ssshhh" Zia meringis sembari mengibaskan tangannya yang terasa sakit.


Heaven terkejut, Zia baru saja memukul tangannya dengan cukup keras. Memang terasa sedikit sakit, namun Heaven masih bisa menahannya. Yang membuatnya khawatir adalah tangan Zia. Gadisnya itu pasti merasakan sakit yang mungkin lebih dari yang ia rasakan.


"Itu tangan apa batu sih? Keras banget?"


"Makanya!" Heaven meraih tangan Zia yang baru saja digunakan untuk memukul tangannya.


"Kenapa, lo mau bales mukul juga?" Menyadari kesalahannya, Zia membiarkan tangannya ditarik oleh Heaven. Gadis itu sudah siap menerima hukumannya, karena telah berani memukul tangan Heaven tadi.


Namun yang terjadi malah sebaliknya, hingga membuat Zia sedikit terpaku tidak menyangka. Ternyata apa yang di pikirannya salah besar. Bukannya membalas, Heaven malah mengelus tangan Zia diselingi beberapa kali tiupan. Tidak nyaman dengan situasi seperti itu, Zia langsung menarik tangannya kembali sebelum pikirannya berkeliaran ke mana-mana.


"Balesnya nanti aja!" Heaven tersenyum tipis, lalu kembali fokus pada setirnya.


"Cih dasar pendendam!" Zia menyandarkan tubuhnya sambil mendengus sebal, membiarkan Heaven menggenggam tangannya kembali daripada ribut berkepanjangan.



"Kenapa lo nggak gigit aja, biar lebih seru gitu!" ucap Heaven terkekeh.


"Ogah!" jawab Zia terdengar ketus.


"Kenapa, lo takut?"


"Nggak!"


"Terus?"


"Gue bukan kadal!"


"Emang kadal suka gigit?"


"Nggak tau!" Zia mengendikan bahunya, tidak tahu.


"Terus kenapa kadal?"


"Daripada ANJING!" ucap Zia ngegas sambil menatap Heaven.


"Ngomong anjingnya biasa aja! Jangan ke muka gue juga!"


"Ini udah biasa, kan Kak Heaven sendiri yang nanya tadi!"


"Serah lo cil, cil!"


"Cil?" Zia mengernyit tidak mengerti, "Siapa Cil?"


"Bocil, lo kan bocilnya gue!" Gemas dengan wajah Zia yang terlalu polos, Heaven mencubit pipinya yang begitu menggemaskan menurutnya.


"KAK HEAVEN IH PIPI GUE JANGAN DI CUBIT, SAKIT!"


*********


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2