
"Kayaknya mereka udah nggak ngejar kita, Zi!"
Rexie memegangi dadanya yang masih berdebar kencang, Zia baru saja membawa dirinya memasuki dunia balap. Seperti tengah berada dalam dunia game, Zia benar-benar lihai menyalip satu persatu kendaraan yang ada di depannya. Sampai membuat mobil yang mengejarnya kehilangan jejak beberapa menit yang lalu.
"Kayaknya iya!" ucap Zia setelah melihat ke belakang.
"Aahh ssshhh." Zia mendesis, memegangi lebarnya yang masih terasa sakit karena pukulan yang ia dapatkan sebelumnya.
"Lo kenapa Zi?" tanya Rexie khawatir.
"Gue nggak papa!"
"Kak? Kak Heaven nggak papa kan?" Zia melihat ke arah spion atas, untuk memastikan keadaan Heaven yang sejak tadi hanya diam tanpa suara.
"Kak?" Rexie menoleh ke belakang, ikut memeriksa keadaan Heaven. "Gawat Zi, kayaknya Kak Heaven pingsan!"
"Hah?" Zia terkejut, "Lo serius?"
"Gue serius, pantes aja dari tadi dia diem aja di belakang!" ucap Rexie. "Mending kita ke rumah sakit sekarang, sekalian periksa keadaan lo!"
Zia menganggukkan kepalanya, dengan cepat mengarahkan mobil menuju rumah sakit. Ia sangat khawatir, tidak biasanya ia melihat Heaven dalam keadaan seperti ini. Berkelahi memang sangat biasa untuk cowok itu, namun baru kali ini Heaven benar-benar lemah bahkan sampai pingsan seperti ini.
*********
Sudah sepuluh menit berlalu, Zia dan Rexie masih duduk di kursi tunggu. Sebelumnya dokter sudah memeriksa keadaan Zia, dan semuanya baik-baik saja meski terdapat luka di leher serta memar di bagian punggungnya. Mereka masih menunggu Heaven yang tengah ditangani oleh dokter Felio di dalam ruangan itu.
"Tenang Zi, Kak Heaven pasti baik-baik aja kok!" Rexie menggenggam tangan Zia yang sejak tadi masih bertaut, ia tahu saat ini Zia benar-benar sedang mengkhawatirkan keadaan Heaven di dalam sana.
Zia menatap tangan itu, sudah lama sekali ia tidak merasakan kehangatan dari tangan milik Rexie seperti dulu. Biasanya gadis itu yang selalu ada di sampingnya, sebelum kejadian beberapa bulan yang lalu. Dan sekarang, anehnya pandangan Rexie berubah, ia kembali menunjukkan sisi lembutnya pada dirinya.
"Lo kenapa bisa tau kalo gue sama Kak Heaven ada di sana?" tanya Zia penasaran. "Dan kenapa tiba-tiba lo berubah baik ke gue kayak gini?"
__ADS_1
Rexie tersenyum tipis, ia tahu kesalahannya tidak akan bisa dimaafkan dengan mudah. Tapi, setelah melihat kejadian yang menimpa Heaven dan Zia tadi. Rexie menyadari sesuatu, bahwa Heaven benar-benar sangat mencintai gadis di hadapannya ini. Cowok itu bahkan lebih mementingkan keselamatan Zia daripada dirinya sendiri.
"Maafin gue, Zi. Terserah lo mau percaya sama gue atau enggak, tapi yang selama ini gue lakuin ke lo itu, karena gue cuma mau yang terbaik buat lo!" ucap Rexie.
Zia mengerutkan keningnya bingung. "Maksud lo apa?"
"Gue mau lo dapet cowok yang bisa jagain lo, bukan cowok yang cuma dateng buat manfaatin lo." Rexie menatap Zia intens. "Itulah alasannya, kenapa gue rebut Kak Danis dari lo!"
Zia semakin bingung, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Rexie. Ucapannya terlalu penuh teka-teki, hingga ia belum mampu menyusun teka-teki itu dengan benar dalam situasi seperti ini.
"Gue tahu, Kak Danis deketin lo cuma buat manfaatin lo doang dulu. Kak Danis tau kalo lo anak orang kaya, meskipun nggak tau siapa sebenarnya orang tua lo yang sebenarnya. Dia nggak bener-bener cinta sama lo, karena itu gue sengaja rebut dia dari lo."
"Ya, gue tau apa yang udah gue lakuin itu salah. Tapi di sini, gue cuma mau yang terbaik buat lo. Dan saat itu gue nggak ada pilihan lain, gue nggak mau liat lo sakit hati karena nyatanya Kak Danis nggak pernah suka sama lo. Gue pikir, dengan diam-diam pacaran dengan Kak Danis, bakal bikin dia perlahan jauhin lo. Tapi ternyata, yang gue lakuin itu salah. Lo udah keburu tahu, kalo gue selingkuh sama Kak Danis di belakang lo saat itu! Maafin gue, Zia!"
Rexie menitikkan air matanya, sudah sejak lama ia ingin mengungkap fakta di balik penghianatan yang ia lakukan, namun baru kali ini ia mendapatkan kesempatan itu. Ah tidak, bukan mendapatkan kesempatan, sebenarnya Rexie nekat mengatakan hal ini. Walaupun ia tahu, masih ada orang lain yang menahan dirinya untuk tidak mengatakan tentang kebenaran yang terjadi.
"Jadi, selama ini lo cuma pura-pura suka sama Kak Danis? Dan itu semua lo lakuin buat gue?" tanya Zia memastikan pendengarannya.
Rexie menganggukkan kepala, sambil mengusap air mata yang membasahi pipinya. "Gue sama Azka cuma mau lo dapet cowok yang terbaik, yang bisa jagain lo kapanpun. Tapi itu bukan Kak Danis."
"Azka tahu setelah acara pertunangan kita selesai, karena Dad Zion yang bilang. Gue nggak berani bilang ke dia, karena dia udah terlanjur benci sama gue sejak lo pindah ke sini!" ucap Rexie menjelaskan.
"Terus kenapa lo coba deketin Kak Heaven sekarang, lo nggak boong kan sama yang lo ceritain tadi?" tanya Zia masih tidak percaya.
"Enggak Zi, untuk masalah itu, gue nggak ada niat sama sekali buat deketin Kak Heaven. Semua yang terjadi itu nggak sengaja, dari pas gue jatuh di koridor, sampe gue ketabrak mobilnya Kak Heaven itu murni nggak sengaja! Lagian siapa juga orang yang mau celakain dirinya sendiri sampe keseleo kaki? Gue nggak segila itu kalo lo lupa!" ucap Rexie mencoba menjelaskan.
"Terus kenapa lo bilang ke Kak Heaven tentang masa lalu gue sama Kak Danis?" tanya Zia lagi.
"Itu...." Rexie terdiam sejenak, bingung harus menjelaskan semua dari mana. "Sejak permasalahan lo sama Kak Danis, Azka jadi overprotektif sama lo. Dia nggak mau kalo sampe lo sakit hati lagi karena cowok. Jadi ... Azka minta gue buat deketin Kak Heaven, itu semua karena kita mau liat seberapa tulus Kak Heaven ke lo!"
"Maksudnya?" Zia mulai sedikit kesal, bukan seharusnya bagi Rexie dan Azka untuk ikut campur dalam urusannya. Namun lagi dan lagi mereka masih ikut campur seperti ini.
__ADS_1
"Lo jangan salah paham, Azka cuma mau yang terbaik buat lo. Jadi dia suruh gue buat deketin Kak Heaven, karena dia nggak mau kejadian kayak Kak Danis terulang lagi."
"Terus kenapa lo nggak bilang dari awal, dan bikin gue salah paham kayak gini?" Zia sedikit merasa bersalah, karena sebelumnya ia sudah berlaku kasar pada Rexie. Padahal gadis itu hanya mau yang terbaik untuknya.
"Gue nggak bermaksud bikin lo salah paham. Awalnya gue mau bilang sama lo pas gue pindah sekolah, tapi Azka larang gue buat bilang ke lo dulu. Dia mau gue deketin Kak Heaven dulu, buat cari tahu ketulusan Kak Heaven buat lo!"
"Dan jawabannya?" tanya Zia.
"Gue yakin Kak Heaven tulus sama lo, setelah liat apa yang udah dia lakuin buat nyelamatin lo tadi. Tapi masalahnya, sekarang lo harus yakinin Azka. Dia masih belum yakin tentang perasaan Heaven buat lo," ucap Rexie lagi.
Zia terdiam sesaat, masih tidak menyangka dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi. "Tapi kok lo bisa tau kalo gue sama Kak Heaven ada di gedung itu tadi?"
"Itu karena Azka nyuruh gue buat awasin lo, dan tadi gue nggak sengaja liat lo dibawa masuk sama musuhnya Kak Heaven. Makanya gue ikutin diem-diem mereka sampe di gedung itu, nggak lama Kak Heaven datang. Gue nggak berani masuk, mereka terlalu banyak. Gue takut, jadi gue milih nunggu sampai aman biar bisa selamatin lo berdua!"
Zia menatap wajah Rexie, ternyata selama ini dirinya tidak pernah kehilangan sahabat sejatinya. Hanya sebuah kesalahpahaman yang menggelapkan matanya, seandainya lebih teliti lagi mungkin kesalahpahaman itu tidak akan pernah terjadi. Zia terlalu merasa sakit hati ketika kehilangan dua orang penting dalam hidupnya, hingga ia memutuskan untuk pindah sekolah.
Menyesal? Tidak, Zia tidak pernah menyesal sama sekali. Karena jika semua ini tidak terjadi, dirinya tidak akan pernah bertemu dengan seseorang yang sangat spesial di hatinya saat ini. Heaven, Zia justru bersyukur karena telah dipertemukan dengan cowok itu untuk yang kedua kalinya setelah insiden salah masuk kamar hotel dulu.
"Maafin gue, Xie. Gue udah salah paham ke lo selama ini!"
Zia menghambur ke pelukan gadis itu, memeluknya dengan erat melepaskan kerinduan yang selama ini ia pendam. Sama halnya dengan Rexie yang kini menangis haru, setelah lama dirinya menyimpan beban itu sendiri. Rexie kini bisa bernafas lega, rasa sesak yang dulu ada kini berangsur membaik setelah mengatakan yang sejujurnya pada Zia.
"Lo nggak salah Zi! Gue yang salah, harusnya dari awal gue bilang yang sejujurnya sama lo! Maafin gue ya!"
🎀🎀🎀
Ada rekomendasi karya keren nih pren, jangan lupa mampir ya. 🥰
Judul : Cinta Online
Napen : Aveliniq
__ADS_1
Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻