Heavanna

Heavanna
14. MENGHINDARI MANTAN


__ADS_3

Slurpp...


"Beh mantep!" Handa meraih tissue di tengah meja, membersihkan mulutnya yang sedikit memerah.


Baru saja ia menghabiskan bakso super pedas pesanannya, jangan tanyakan seperti apa wajahnya saat ini. Mulutnya terus bergerak meraup udara, menetralisir rasa pedas yang menjalar di rongga dalam sana. Keningnya terus mengeluarkan butiran air yang berulang kali ia usap dengan tissue.


"Huaahh... Pedes anjir!" pekik Handa. Menggebrak meja heboh lalu mengambil es jeruk milik Zia yang masih tersisa setengah.


Jangan tanyakan di mana es jeruk miliknya, tentu saja sudah ditelan habis di tengah jalan. Di saat baksonya masih sisa setengah tadi.


"Eh itu minuman gue!" protes Zia.


Tapi sudah terlambat, Handa sudah meneguk habis minumannya. Zia hanya mampu menatap miris gelas yang hanya tersisa es batu di sana. Untung saja sepupu, kalau bukan mungkin sudah Zia buang ke laut lepas.


"Hehe moon maap!" ucap Handa menyengir lebar.


Zia menghela nafasnya menggeleng, lalu melanjutkan suapan bakso yang tinggal setengah mangkuk.


"Nggak mau tahu pokoknya beliin lagi yang baru!" paksa Zia.


"Males ah, beli sendiri aja gih. Tenang aja, gue yang bayarin!" ucap Handa kemudian terkekeh.


Bodoh memang, untuk apa mentraktir seorang keturunan Zielinski. Jangankan secangkir minuman, seluruh sekolah ini pun mampu Zia ambil alih dalam sekejap kalau saja gadis itu mau. Zia hanya menggeleng melihat sepupunya yang sedikit menyebalkan itu.


"Minum aja punya gue!" Icha menawarkan minumannya pada Zia, kemudian melanjutkan lagi makannya yang belum selesai.


"Thanks!" ucap Zia. Cewek itu hendak mengambil minuman, namun tiba-tiba Handa menghentikan tangannya.


"Kenapa?" tanya Zia bingung.


"Eum oke, gue beliin minum buat lo. Tunggu bentar!" ucap Handa langsung pergi.


"Eh nggak perlu, gue udah-" Ucapan Zia terhenti karena Handa sudah menjauh, melenggang pergi menuju kantin lebih dulu.


"Itu anak kenapa sih? Aneh banget!" Zia heran melihat kelakuan aneh sepupunya.


"Biasa, lo lihat tuh!" Dengan santai Icha menunjuk ke arah pintu, di mana tiga orang cowok tengah berdiri di sana.


Pandangan semua orang pun sudah tertuju pada mereka bertiga, sayangnya tidak ada si most wanted di sana. Kalau ada mungkin kantin akan menjadi lebih riuh dari saat ini, hanya mereka bertiga saja sudah cukup membuat beberapa cewek berbinar bahagia.


"Pantesan aja aneh, ada si mantan ternyata!" ucap Zia. Melihat Agam sedang mengedarkan pandangan, berdiri di antara kedua sahabatnya.


Agam, Gala dan Nanda memang baru saja sampai di kantin, ketiganya mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang masih kosong. Tapi secara tidak sengaja pandangan Agam menangkap sosok mantan di sana, pandangan mereka sempat bertemu tadi. Namun Handa segera memutuskannya, dengan pergi setelah bicara dengan cewek di sampingnya.


"Anjrit, itu anak ngapain masih bediri di sana!" ucap Nanda melihat Agam masih berdiri di tempatnya. Padahal Nanda dan Gala sudah memilih tempat duduk.


"Woy Gam?" panggil Gala.


Agam langsung tersadar dari lamunannya. Menyadari kedua sahabatnya sudah duduk, ia pun langsung mendekat.

__ADS_1


"Mikirin apa sih lo?" tanya Nanda menepuk bahu Agam.


"Nggak mikirin apa-apa!"


Seorang cewek datang mendekat pada ketiga cowok itu, kedua tangannya di belakang badan menyembunyikan sesuatu. Dengan malu-malu ia mendekat pada Agam, sedangkan yang didekati hanya melirik sekilas.


"Eh ada Dela!" ucap Nanda menyapa.


Cewek bernama Dela itu menunjukkan senyum manis pada Nanda, lalu beralih menatap Agam.


"Agam, gue mau balikin jaket lo. Makasih ya buat kemaren!" ucap Dela menyerahkan pepper bag warna merah pada Agam.


"Santai aja, nggak perlu bilang makasih!" Agam mengambil alih pepper bag itu, kemudian meletakkannya di meja.


"Ntar lo ada waktu nggak?" tanya Dela.


"Nggak ada gue sibuk!" jawab Agam cepat. Sebenarnya Agam sedikit malas dengan cewek satu ini, kalau bukan karena kasihan Agam juga tidak akan mau membantunya kemarin.


"Oh ya udah kalau gitu, gue balik ke temen gue dulu ya!" Dela langsung pergi, sebelum di permalukan nantinya. Dela tahu Agam tidak nyaman dengannya, tapi sedikit demi sedikit ia akan tetap mencoba mendekati cowok itu.


Semua itu tidak lepas dari pandangan semua orang di sana, termasuk Handa yang sedang meremas tangannya menahan kesal di depan etalase tempat gorengan. Sungguh, saat ini ia benar-benar ingin menjambak rambut cewek yang berani mendekati cowoknya itu, eh maksudnya mantan cowoknya.


"Lo udah move on dari Handa, Gam?" tanya Nanda penasaran.


"Bukan urusan lo!" jawab Agam sekenanya.


"Gue nggak nyangka aja lo ngasih jaket lo ke Dela!" ujar Nanda sambil terkekeh.


Byurr


Satu mangkuk kuah bakso panas mengguyur seluruh meja tempat ketiga cowok famous itu berada, sontak ketiganya langsung berdiri saat kuah panas itu mengenai bagian tubuh mereka.


"Bangsat!" pekik Nanda kepanasan.


Ketiganya langsung menatap cowok berkacamata yang tengah tersungkur di lantai, cowok yang baru saja terjatuh saat membawa bakso yang baru saja dibelinya. Sialnya dia terjatuh tepat di depan ketiga cowok itu, cowok yang terkenal tidak akan mengampuni siapapun yang berani mengganggu mereka.


"MATA LO BUTA?" bentak Gala dengan sorot mata tajamnya.


Sontak semua mata kini tertuju pada mereka, penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Suasana kantin yang ramai mendadak hening, setelah semua orang melihat apa yang sedang terjadi pada ketiga cowok famous itu.


"Maaf aku nggak sengaja!" ucap cowok berkacamata itu.


"APA LIHAT LIHAT!" bentak Agam pada semua orang di sana.


Tentu saja semua orang yang tadinya penasaran, langsung kembali melanjutkan kegiatan masing-masing. Lebih baik secara diam-diam mereka mencari tahu, daripada memiliki masalah dengan ketiga cowok itu.


"Dio!" Nanda membaca tanda pengenal yang ada di baju cowok itu lalu mendekatinya, "Lo perlu mata berapa lagi biar bisa lihat jelas hah?" tanyanya dengan penuh penekanan.


Dio hanya diam saja saat Nanda mengelapkan tangan pada bajunya. Hingga akhirnya terdapat noda kuah bakso di seragamnya yang berwarna putih itu.

__ADS_1


Nanda menepuk pipi Dio berulang kali. "Apa selain buta lo juga bisu?" tanyanya.


"Aku udah minta maaf tadi, aku nggak sengaja!" Dio menahan tangan Nanda, jujur saja tepukan di pipinya itu sedikit sakit.


Nanda tertawa pelan, lalu merangkul bahu Dio dengan kasar. Bahkan hampir mencekik lehernya, jika Dio sendiri tidak menahannya tadi. "Berani juga lo!" ucapnya sedikit terpancing.


"Maaf aku nggak bermaksud gitu," ucap Dio menunduk.


"Enaknya di apain nih?" tanya Nanda pada kedua sahabatnya.


"Terserah lo," ucap Agam. Kemudian pindah duduk di tempat lain, begitu juga dengan Gala.


Nanda menyeringai, kemudian dengan kasar mencengkram kerah seragam Dio. "Lo mau yang kanan apa yang kiri?" tanyanya menunjuk pada kedua tangan.


"Aku nggak sengaja tadi Kak," ucap Dio membela diri lagi.


Melihat wajah Dio yang memasang wajah ketakutan membuat Nanda merasa sedikit kasihan. "Oke, gue kasih keringanan buat lo!"


Nanda mengedarkan pandangan menyapu seluruh kantin, matanya terhenti pada cewek cantik yang berhasil menarik perhatiannya.


"Lo lihat cewek itu?" Nanda menunjuk cewek cantik yang duduk di samping Icha, "tanyain nomor handphone nya, kalo dapet lo kasih ke gue!" titahnya.


"Tapi Kak!" Dio ingin menolak karena cewek itu adalah Zia, mana mungkin dia berani melakukannya.


"Lo nggak mau? Atau lo mau yang ini?"


Nanda menunjukkan kepalan tangannya, beserta pelototan tajam penuh ancaman. Dio yang melihatnya langsung menelan salivanya dengan kasar. Ini pilihan yang sedikit sulit untuknya, tapi situasi membuatnya semakin merasa terpojok.


"Oke," jawab Dio. Tidak ada pilihan lain, dari pada mendapat bogem mentah yang belum di ketahui berapa banyak, akan lebih baik ia menuruti perintah cowok yang kini menjadi kakak kelasnya itu.


"Bagus!" Nanda menepuk bahu Dio memberi semangat, kemudian pergi bergabung dengan kedua sahabatnya. Sementara Dio masih dengan ragu mulai mendekati Zia yang sedang berbincang santai dengan Icha dan Handa.


"Gimana?" tanya Agam. Melihat Dio yang sedang mendekati Handa dan kedua sahabatnya.


"Gue nyuruh dia buat minta ukuran daleman cewek yang duduk di samping Icha," jawab Nanda santai.


"APA?" pekik Agam terkejut. Cowok itu bahkan sampai berdiri dari duduknya, meski pandangannya masih tertuju pada Nanda.


"Gue nyuruh dia buat minta ukuran daleman cewek yang duduk di samping Icha!" Nanda mengulangi kata-katanya, sambil menahan tawa.


"LO GILA YA?" Agam semakin meninggikan suaranya.


Gala mengernyit aneh, kenapa Agam begitu terkejut dengan hal itu. Biasanya hukuman Nanda malah lebih parah dari ini, tapi Agam tidak pernah memprotes dan malah menambah sedikit bumbu penyedap di dalamnya.


"Nan kali ini lo keterlaluan!" ucap Agam melihat mantan bersama kedua sahabatnya datang dengan raut wajah penuh amarah.


*********


...Semoga suka sama cerita haluan Author ya, jangan bosen-bosen. Jangan lupa juga tinggalkan jejak....

__ADS_1


...Like, Love, Vote dan Komentar....


__ADS_2