Heavanna

Heavanna
113. DRAMA SALAH PAHAM


__ADS_3

Zia menarik Heaven pergi, meninggalkan Rexie dan Azka yang masih berada di tempatnya. Sesampainya di luar, gadis itu langsung melepaskan pegangannya membuat Heaven mengerutkan dahinya tidak mengerti. Tidak akan semudah itu bagi Zia memaafkan kesalahan Heaven, setelah kebohongan yang dilakukan cowok itu padanya kali ini.


"Lho, kenapa dilepas?" Heaven melongo melihat Zia melenggang pergi. "Lo marah sama gue? Na!"


Cowok itu berjalan cepat menghampiri Zia yang sedang berjalan meninggalkan dirinya. Meraih tangan gadis itu agar menghentikan langkahnya dan menatap ke arahnya. "Anna!" panggilnya.


"Apa?" jawab Zia, bertanya dengan nada tidak biasa.


"Lo marah sama gue?"


"Enggak!" Zia mengalihkan pandangannya jengah, memangnya cewek mana yang tidak akan marah ketika mendapati cowoknya berbohong seperti yang dilakukan Heaven.


"Terus kenapa lo tinggalin gue?" Heaven menatap dengan heran. Sebelumnya Zia dengan erat memegang tangannya, namun ketika sampai di luar rumah sakit, gadis itu tiba-tiba melepaskan tangannya dan berjalan mendahuluinya.


"Gue males ngomong sama pembohong kayak lo!" tegas Zia dengan penuh penekanan.


Heaven memegang kedua bahu Zia, menahannya yang hendak pergi meninggalkan dirinya. "Na, dengerin gue dulu!" ucapnya.


Zia memejamkan mata sejenak, menahan rasa kesal di dalam benaknya. "Kenapa mesti boong sih Kak?" tanyanya menatap wajah Heaven.


"Gue cuma nggak mau lo salah paham," ucap Heaven sedikit menyesal.


"Emang lo mau ngapain sama dia, sampe gue harus salah paham?" semprot Zia menahan geram. "Dengan lo boong kayak gini justru semakin bikin gue salah paham tau nggak!"


Seketika Heaven mengatupkan bibirnya, kicep. Jika dipikir-pikir kembali, memang benar apa yang di katakan Zia. Untuk apa juga dirinya berbohong, sementara tidak ada hal yang terlalu penting yang harus ditutup-tutupi.


"Apa susahnya sih ngomong jujur? Lo tinggal jelasin semuanya, tanpa harus bikin drama salah paham kayak gini segala!" omel Zia lagi.


Heaven semakin tertampar, semua yang dikatakan Zia memang benar. "Oke gue salah, maafin gue ya."


"Gue tau hubungan lo sama dia lagi nggak baik-baik aja, makanya gue terpaksa boong sama lo. Jujur gue cuma mau bantu dia sebagai tanggung jawab karena udah nabrak dia tadi, dan gue nggak mau lo mikir yang enggak-enggak tentang ini." Heaven menatap Zia lekat, berharap kali ini Zia akan memaafkan dirinya.


"Nggak dimaafin!" ucap Zia lalu menepis tangan Heaven.


"Na please, jangan kayak anak kecil bisa nggak sih!" Heaven berkata dengan nada setengah meninggi, menghentikan pergerakan Zia yang hendak kembali meninggalkan dirinya.


"Anak kecil lo bilang?" Zia menatap Heaven tajam. "Iya gue emang anak kecil, Kak Heaven sama Rexie aja sana. Dia bahkan lebih dewasa daripada gue!"


Heaven menghela nafas gusar, bukan itu maksud ucapannya tadi. Terlalu banyak perdebatan itu membuatnya tersulut emosi, Heaven akui dirinya memang cukup pemarah dalam menghadapi situasi. "Bukan gitu maksud gue."

__ADS_1


Heaven menarik Zia masuk ke dalam pelukan, tidak ada cara lain lagi. Ia sudah kehabisan akal menghadapi Zia kali ini. Pertengkaran kali ini membuatnya frustasi, Heaven sudah lelah bertengkar dengan Zia. "Maaf gue bentak lo tadi, udah ya. Gue nggak mau berantem lagi sama lo!" ucapnya sembari mengelus punggung Zia.


"Gue maafin, tapi ...." Zia menggantungkan ucapannya.


Heaven melepaskan pelukannya, menatap wajah Zia yang sepertinya sedang memikirkan sesuatu. "Tapi apa?" tanyanya.


"Gue mau pulang sendiri!" jawab Zia.


"Nggak, nggak boleh. Lo pulang sama gue!" Heaven langsung menarik tangan Zia menuju mobilnya.


"Nggak mau!" Zia menepis tangan Heaven. "Gue nggak mau satu mobil sama lo!"


Tidak bisa dipungkiri, Zia masih kesal mengingat moment ketika Heaven menuntun Rexie masuk ke dalam mobilnya. Yang membuatnya kesal, kenapa Heaven malah membiarkan Rexie duduk di sampingnya saat itu. Padahal Zia berharap yang bisa duduk disampingnya di dalam mobil hanyalah dirinya seorang. Tidak terbayang dalam benaknya, apa saja yang dilakukan Heaven dan Rexie selama perjalanan ke rumah sakit sebelumnya.


"Terus lo mau pulang sama siapa, sama cowok sialan itu?" geram Heaven bertanya.


"Cowok mana maksud lo?" tanya Zia tidak tahu.


"Cowok sialan yang ngaku-ngaku jadi pacar lo, kenapa lo bisa sama dia?"


"Azka?" Zia mengerutkan dahinya. "Kenapa emangnya?"


"Kenapa emangnya? Kak Heaven aja bisa pergi berduaan sama Rexie, kenapa gue nggak boleh?" tantang Zia.


"Gue udah bilang sama lo, Anna. Rexie abis ketabrak mobil gue, mana mungkin gue tinggalin dia sendiri."


"Kalo gitu sama, gue juga abis ketabrak mobil. Kalo bukan Azka yang nolongin gue, siapa lagi? Kak Heaven aja lagi sibuk ngurusin cewek lain!" semprot Zia dengan nada tinggi.


Heaven terdiam, menatap beberapa bagian tubuh Zia yang sudah terbalut kain. Sebelumnya ia memang sempat melihatnya, namun fokusnya teralihkan karena sibuk berdebat dengan Zia. Barulah kini ia sadari, sejak tadi Zia berjalan dengan sedikit kesulitan karena ada luka di bagian kakinya.


"Lo ... abis ketabrak mobil?" tanya Heaven tidak percaya. Ada sedikit rasa sesal melihat Zia terluka saat ini, seandainya ia tidak meninggalkan gadis itu sebelumnya, Zia pasti akan dalam keadaan baik-baik saja sekarang.


"Menurut lo! Ngapain juga gue sampe ke rumah sakit segala!" kesal Zia membalikkan badan hendak pergi meninggalkan Heaven.


Melihat gadis itu hendak pergi, Heaven segera meraih tangannya. "Pulang bareng gue!" ucapnya.


"Lepasin ih, nggak mau. Gue nggak mau pulang sama lo!" tolak Zia memberontak.


"Jangan bikin gue marah Na!" Heaven menggeram melihat Zia hendak pergi. Dengan cepat ia menarik tangan Zia lalu menggendong gadis itu selayaknya karung beras.

__ADS_1


"Kak ih turunin, gue nggak mau pulang sama lo." Zia berteriak, namun beberapa detik kemudian barulah ia menyadari ada banyak orang yang melihatnya saat ini. "Kak malu diliatin orang!" lirihnya.


Melihat Heaven sama sekali tidak peduli, Zia menutupi wajahnya dari pandangan semua orang di sana. Dengan rasa tidak malunya Heaven tetap mempertahankan Zia dalam gendongannya, tidak peduli dengan suasana ramai di sekitar sana. Heaven menurunkan Zia ketika sampai di mobilnya, tanpa melepaskan pegangan tangannya sedikitpun.


"Buruan masuk!" titah Heaven setelah membuka pintu mobil.


"Nggak mau, gue mau duduk di belakang!" tolak Zia cepat.


Heaven memejamkan mata, menahan emosi. "Masuk Anna!" titahnya dengan penuh penekanan.


Zia terdiam, melihat tatapan tajam itu membuatnya merasa sedikit takut. Mau tidak mau Zia harus menurut, sebelum Heaven melakukan sesuatu yang tidak ia duga sebelumnya. Gadis itu akhirnya mengalah, duduk di samping pengemudi sambil mencebikan bibir bawahnya. Pandangannya masih menatap ke depan dengan raut wajah kesal saat Heaven masuk kedalam mobil.


"Nggak usah cemberut gitu, jelek!" ucap Heaven sambil memasangkan seatbelt pada tubuh Zia. Sudah cukup ia berdebat dengan Zia, kali ini Heaven lebih memilih menekan emosinya untuk menghadapi Zia. Agar tidak ada lagi perdebatan di antara mereka.


"Kak Heaven nyebelin!" ucap Zia singkat.


"Lo kenapa sih marah-marah mulu hm?" Heaven menatap lekat wajah Zia dari samping. "Gue kan udah jelasin semuanya tadi."


"Gue nggak suka duduk di tempat bekas orang lain!" cicit Zia tanpa menatap cowok di sampingnya.


Heaven mengernyit tidak mengerti. "Maksudnya?"


"Ck gue nggak suka duduk di sini!" Zia menoleh, menatap Heaven dengan wajah kesalnya.


Heaven terdiam memikirkan maksud perkataan Zia, beberapa detik kemudian barulah ia menyadari sesuatu. "Jadi lo marah karena Rexie juga duduk di tempat ini? Lo liat semuanya tadi?"


"Menurut lo?" ketus Zia.


Heaven tersenyum simpul. "Jadi lo cemburu kalo ada yang duduk di sini?" tanyanya.


"Nggak, ngapain gue cemburu!" ucap Zia sedikit salah tingkah. "Terserah lo mau ngapain, buruan jalan!"


Heaven mengelus puncak kepala Zia, ia menyadari saat ini gadis itu masih marah karena masalah Rexie sebelumnya. "Na, lo itu special buat gue. Kalo cuma sekedar tempat duduk, siapapun juga boleh duduk di mobil ini."


"Kenapa Rexie bisa duduk di sini, itu emang kesalahan gue sebelumnya. Tapi itu nggak ada artinya sama sekali buat gue, karena cuma lo yang paling berarti buat gue. Lo ada di hati gue, itu artinya lo lebih berhak dari sekedar duduk di kursi ini," lanjutnya.


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2