
"Kak Heaven abis berantem lagi?"
Zia terheran melihat Heaven datang dengan keadaan berantakan, seragamnya tampak kotor seperti habis terjun bebas ke tanah. Rambutnya begitu acak-acakan dan jangan lupakan goresan luka kecil yang terlukis di bagian tulang pipi kirinya. Sudah dapat ditebak kalau Heaven baru saja berkelahi dengan seseorang sebelumnya, hingga membuatnya terlambat menjemput pagi ini.
"Udah nggak usah banyak tanya, ayo masuk!" Heaven segera menarik Zia untuk masuk ke dalam mobil karena waktu sudah semakin siang, ia tidak ingin membuatnya dihukum lagi karena terlambat datang ke sekolah.
"Kak, nggak bisa gitu dong. Pipi lo luka!" Zia menghentikan pergerakan Heaven yang hendak menyalakan mobil, tanpa memedulikan luka di pipinya yang masih terbuka tanpa diobati sejak tadi. "Tunggu bentar!"
Gadis itu mengambil tisu dan plester di dalam tas, lalu menyuruh Heaven sedikit mendekatkan wajahnya. Dengan sangat hati-hati Zia membersihkan luka itu menggunakan tissu, menghilangkan bekas darah yang keluar sebelum akhirnya menutup luka itu menggunakan plester. Heaven tersenyum tipis melihat Zia sedang sangat fokus membersihkan luka di pipinya, merasa sangat senang karena menyadari gadis itu sedang mengkhawatirkan dirinya.
"Udah," ucap Zia dengan nada ketus.
Heaven menegakkan tubuhnya masih dengan senyum manis tersungging di bibir, menatap sejenak ke depan kemudian kembali menatap gadis di sampingnya. "Makasih!" ucapnya sambil mengusap kepala Zia.
"Hm, berantem aja terus. Biar lebih banyak lukanya, makin jelek deh tuh muka!" ketus Zia.
"Ok!" Heaven tersenyum tipis, "Gue seneng kok, biar lo makin sering pegang muka gue kayak tadi!"
Seketika Zia menoleh dengan tatapan tajam, tidak suka mendengar jawaban Heaven yang terlontar dengan entengnya. Bukan jawaban itu yang Zia harapkan, tapi kenapa cowok di sampingnya itu tidak paham juga dengan peringatan darinya.
"Ngeselin!"
"Tapi ngangenin!"
"Bisa nggak sih, jangan berantem mulu kerjaannya. Punya hobi yang ada manfaatnya dikit kek!"
"Lah ini juga ada manfaatnya!"
"Manfaat apaan? Untung enggak, bonyok iya!"
"Kan kalau gue sering luka, otomatis lo bakal obatin gue. Dan asal lo tahu, itu sangat bermanfaat buat gue!" ucap Heaven dengan senyum tipis semanis madu.
"Lo ngomong apa sih, nggak jelas!" Zia mengalihkan pandangannya, sedikit tidak suka mendengar apa yang baru saja Heaven katakan.
Heaven mulai menjalankan mobilnya meninggalkan basement, membiarkan Zia yang mungkin akan mengomel tanpa henti setelah ini. Dengan kecepatan sedang mobil itu mulai membelah jalanan kota, akses jalan yang cukup padat pengendara mengharuskan Heaven beberapa kali menghentikan mobilnya. Dua puluh menit berlalu mereka sudah sampai di sekolah, beruntung mereka sampai tepat pada waktunya. Seperti biasa Heaven lebih dulu mengantarkan Zia ke depan kelas, sebelum kemudian ia menuju ke kelasnya sendiri.
"Udah sana masuk, belajar yang bener! Jangan mikirin gue terus!"
Zia hanya mengangguk meski sebenarnya ingin menyeletuk, kali ini ia lebih memilih langsung masuk ke dalam kelas karena sudah lelah mengomel di sepanjang jalan tadi. Heaven masih diam di tempatnya, menatap kepergian Zia hanya untuk memastikan gadis itu sudah duduk manis di kursinya. Zia yang sudah berada di dalam kelas sedikit terheran melihat kursi Handa yang masih kosong, hanya ada Icha yang sudah duduk manis di tempatnya. Tidak biasanya Handa belum datang seperti ini, padahal waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima menit.
"Zia udah berangkat?" Icha yang tadinya sedang fokus membuat ukiran abstrak di bukunya, kini mengalihkan pandangannya menatap Zia.
"Iya Cha, Handa ke mana? Kok tasnya nggak ada?"
"Itu dia, Icha juga nggak tahu di mana Handa! Dari tadi Icha tungguin tapi belum dateng juga, apa mungkin hari ini Handa nggak masuk sekolah kali ya!" Memang sudah sejak pagi Icha menunggu kedatangan sahabatnya yang satu itu, namun sampai sekarang belum juga terlihat batang hidungnya. Terasa sangat aneh karena tidak biasanya Handa seperti ini, gadis itu sudah terbiasa berangkat sekolah paling awal dibandingkan dengan kedua sahabatnya.
"Eh kalian mau denger berita nggak?" ucap seorang perempuan yang baru saja masuk kelas.
Dalam sekejap semua siswi yang tadinya berpencar langsung menggerombol menjadi satu mengerubungi perempuan yang kini duduk di kursinya, yang letaknya berseberangan tidak jauh dengan meja milik Zia. Berbeda dengan Zia, Icha yang juga penasaran pun ikut nimbrung memenuhi segerombolan siswi itu. Zia memilih duduk di kursinya, sembari menajamkan telinganya untuk mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan.
__ADS_1
"Gue denger-denger Kak Angel, Kak Dela sama Kak sarah dikeluarin dari sekolah!" ucapnya heboh. Membuat semua siswi kembali menyerbu gadis bernama Riri itu dengan berbagai macam pertanyaan, karena masih tidak percaya mendengar berita itu.
"Hah! Masa sih?"
"Beneran Ri, kok bisa sih?"
"Lo nggak bohong kan, masa iya Kak Angel dikeluarin dari sekolah?"
"Hoax kali Ri, gue rada nggak yakin nih!"
"Iya gue serius, gue nggak sengaja denger Mama nya Kak Angel marah-marah di ruang guru tadi!" jawab Riri dengan mantap.
"Halah bilang aja lo nguping, pake bilang nggak sengaja denger!" sahut yang lain
Perempuan bernama Riri itu hanya menunjukkan cengirannya, karena memang benar apa yang dikatakan temannya tadi. Semua orang di kelasnya pun sudah tahu kalau Riri itu adalah ratu nguping di sekolah, dia suka sekali mengorek suatu berita hingga sampai ke akar-akarnya. Jika ingin mendengar berita menghebohkan yang cepat dan akurat di sekolah, maka cari saja gadis bernama Riri itu.
"Tapi kok bisa sih Kak Angel di keluarin dari sekolah?"
"Gue tadi lihat ada Om Om ganteng di kantor, mukanya dingin banget kayak es batu. Ih lebih serem dari Kak Heaven sama Kak Gala pokoknya deh, kayaknya gara-gara Om itu Kak Angel, Kak Dela sama Kak Sarah dikeluarin dari sekolah!" ucap Riri sambil bergidik ngeri mengingat wajah pria yang sempat dilihatnya tadi.
Zia hanya terdiam setelah mendengar pembicaraan para gadis itu, karena sebelumnya ia sudah tahu, cepat atau lambat hal ini pasti akan terjadi. Semua ini pasti karena ulah Daddy Zion yang telah menyuruh Paman Max untuk mengeluarkan Angel dan teman-temannya dari sekolah. Sejak dulu Daddy Zion memang tidak akan pernah membiarkan siapapun yang mencoba mencelakai anggota keluarga nya hidup dengan tenang.
Zia mencoba memakluminya, karena tahu kalau itu semua dilakukan sebagai bentuk kasih sayang Daddy pada anggota keluarganya. Apalagi yang dilakukan Angel dan teman-temannya kemarin sudah sangat keterlaluan, bahkan Daddy-nya pun belum pernah sekalipun bersikap kasar pada Zia, apalagi sampai menamparnya dua kali seperti yang dilakukan Angel
"Zia, katanya Kak Angel di keluarin dari sekolah!" ucap Icha dengan heboh.
"Iya gue denger tadi!"
"Ini Handa lagi ke mana sih, dari tadi di hubungi nggak aktif juga nomornya!" Zia menggerutu, kembali menatap layar ponsel yang menampilkan nama dan foto sepupunya. Sudah berulang kali ia menghubungi nomor itu, namun tetap juga tidak ada jawaban sama sekali. Spam pesan singkat yang ia kirimkan pun belum dibaca sama sekali, membuatnya mulai sedikit khawatir karena tidak biasanya Handa seperti ini.
Brakk
Zia berdiri setelah menggebrak meja dengan begitu keras, kekhawatiran itu membuatnya tidak sadar telah membuat isi kelas yang tadinya ramai dengan ocehan mendadak hening. Semua mata kini tertuju pada Zia yang tengah berjalan mondar-mandir, dengan ponsel yang masih menempel di telinganya.
"Zia!"
Dio yang baru saja masuk ke dalam kelas, begitu terburu-buru menghampiri Zia yang masih sibuk menghubungi sepupunya. Ia menunduk memegangi perut dengan nafas terengah setelah menghentikan langkahnya di depan Zia. Kacamata yang bertengger di hidungnya bahkan hampir terlepas jika ia tidak membenarkannya dengan lebih cepat.
"Lo kenapa Yo?" Zia mengernyit bingung melihat Dio yang secara tiba-tiba sudah berada di hadapannya dengan raut wajah panik.
"Itu Zi, Handa!" ucap Dio sedikit tidak jelas karena deru nafas yang masih memburu.
Mendengar nama sepupunya, Zia langsung memasukkan ponsel ke dalam saku. "Tenang tenang, Handa kenapa?"
"Tadi di jalan aku nggak sengaja lihat mobilnya di cegat sama beberapa anak geng motor!"
Terkejut bukan main, Zia membulatkan matanya setelah mendengar apa yang dikatakan Dio barusan. "Apa! Di mana?"
"Tadi sih masih di jalan deket sekolah! Tapi sekarang..." Dio menggelengkan kepalanya, tidak tahu bagaimana keadaan dan keberadaan Handa saat ini.
__ADS_1
"Zia mau ke mana?" tanya Icha. Melihat Zia tiba-tiba berjalan menuju keluar tanpa mengatakan sepatah katapun.
"Cari Handa!" jawab Zia dari kejauhan.
"Tapi gerbang sekolah kan udah di tutup!" ucap Icha kemudian berlari mengejar.
Zia sudah tidak berniat untuk menjawab lagi, isi pikirannya sudah kalut dipenuhi oleh kekhawatiran terhadap sepupunya. Handa memang pandai dalam ilmu bela diri, tapi tetap saja akan ada masa di mana Handa akan kalah. Apalagi sebelumnya Dio mengatakan ada beberapa anak motor yang mencegat mobilnya, itu berarti bukan hanya ada satu orang yang mencoba mencelakai sepupunya saat ini.
"Zia, Icha mau ikut!"
"Nggak usah ikut, gue nggak mau lo kenapa-kenapa!"
"Nggak mau tau pokonya Icha mau ikut!" Icha berlari mengejar Zia yang sudah pergi jauh, tengah berjalan cepat menuju area samping sekolah.
Menyadari gerbang sekolah sudah di tutup, Zia memutuskan untuk memanjat tembok seperti yang pernah dilakukannya beberapa waktu lalu. Icha yang tidak ingin ketinggalan pun segera menyusul, membantu Zia mencarikan tangga untuk memudahkan mereka memanjat tembok yang cukup tinggi itu. Beruntung tidak ada siapapun yang melihat apa yang sedang mereka lakukan saat ini. Zia yang sudah berada di atas segera membantu Icha yang tengah ketakutan melangkah menaiki tangga.
"Pelan-pelan Cha!" Zia sedikit bergeser, agar memudahkan Icha untuk naik ke puncak terakhir. Sebenarnya Zia tidak ingin membawa Icha untuk ikut bolos sekolah, tapi gadis itu tetap memaksa dan mau tidak mau akhirnya Zia membiarkannya untuk ikut mencari Handa.
"Zia, Icha takut!" Icha menelan salivanya dengan kasar, menyadari kini sudah berada di atas tembok tinggi itu.
"Tenang Cha, kita turun sama sama. Ok?" Zia menghembuskan nafas panjang menepis rasa takut, "Gue hitung sampai tiga, abis itu kita lompat sama-sama!"
Zia mengangguk mantap, melihat Icha menganggukkan kepalanya dengan cepat tampak sudah paham dengan instruksi yang ia katakan tadi. Zia menghela nafas panjang mencoba menenangkan diri, sementara Icha memilih memejamkan mata dengan tangan semakin erat merangkul tangan gadis yang duduk di sampingnya.
"Siap?" Icha mengangguk dengan mata masih terpejam erat.
"Satu"
"Dua"
Aaaaaaa....
Brukk
"Aw ssshhhh sakit!" Icha meringis memegangi lututnya yang terasa nyeri akibat mencium kerasnya permukaan tanah.
"Lo gimana sih Cha, gue bilangnya kan sampai tiga. Kenapa baru dua lo malah tarik gue turun?" Zia beranjak berdiri, membersikan tubuhnya sambil menahan sakit di kedua lututnya.
"Maaf Icha tadi takut, jadinya lupa!" jawab Icha cemberut.
"Ya udah nggak papa, yang penting selamat!"
Tidak ingin berlama-lama Zia langsung memegang tangan Icha, hendak mengajaknya pergi dari tempat itu sesegera mungkin, sebelum ada yang menyadari keberadaan mereka di sana. Namun suara seseorang yang terdengar secara tiba-tiba berhasil menghentikan pergerakan keduanya.
"MAU KE MANA LO BERDUA?"
*********
...Budayakan like dan komen setelah membaca ya! ...
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...