Heavanna

Heavanna
98. WEEKEND


__ADS_3

"Kak Heaven gimana sih, katanya mau ngajarin eh malah ditinggal tidur!" gumam Zia setelah selesai mengerjakan tugasnya. "Padahal kan besok libur sekolahnya!"


Gadis yang masih duduk di atas karpet itu beranjak berdiri, lalu sedikit membungkukkan badan. Dalam diam ia masih memandangi Heaven yang sudah terlelap di atas sofa, padahal baru setengah jam yang lalu cowok itu memarahi dirinya yang sedang sangat malas mengerjakan tugas sekolah.


Eum bangunin nggak ya, kalo dibangunin kasian juga. Kayaknya kecapekan banget! Tapi kalo nggak dibangunin... nanti malah nggak pulang lagi.


Tanpa sadar Zia sudah duduk di samping Heaven yang masih terlelap, tangannya terulur menyingkirkan helaian rambut yang menutupi kening cowok itu. Senyum tipis tersungging di bibirnya ketika melihat Heaven menggeliat, karena terganggu oleh tangannya yang usil menekan-nekan kecil pipi cowok itu.


Lo bisa diem nggak sih? Susah banget dibilangin, jadi cewek tuh yang nurut! Masa gitu aja nggak bisa!


Jangan macem-macem dibelakang gue! Lo itu cuma punya gue, punya Heaven Arsenio Galvander!


Zia terkekeh kecil saat mengingat semua ucapan Heaven yang begitu kasar padanya, sangat jauh berbeda ketika dirinya menjalani hubungan dengan Danis dulu. Point penting yang justru membuatnya sedikit tertarik. Meskipun perlakuannya sedikit kasar, namun sangat terlihat jelas bahwa Heaven begitu menyayangi dirinya.


Walau terkadang Zia merasa terkekang ketika menjalani hubungan aneh ini, namun ia tetap mencoba untuk mengerti. Mungkin hal itu terjadi karena Heaven belum pernah menjalani hubungan seperti ini dengan perempuan lain sebelumnya, apalagi saat itu posisi Zia masih belum bisa menerima kehadiran Heaven dalam hidupnya.


"Lo tuh beda Kak!" ucap Zia keceplosan.


"Apanya yang beda?" tanya Heaven yang entah sejak kapan sudah membuka matanya.


Zia terkejut ketika mendengar suara Heaven yang muncul secara tiba-tiba, cowok itu kini tengah menatap curiga padanya. Masih dalam posisi tidur, Heaven menarik Zia ke dalam pelukan. "Nyuri kesempatan lo ya, hm?"


Zia membulatkan matanya, berusaha menghindar. "Kak jangan gini ih, nggak boleh tau. Lagian siapa yang nyuri kesempatan?"


"Nggak peduli, gue ngantuk jangan berisik! Lagian kalo mau nyuri kesempatan juga nggak masalah, lo bebas mau apain gue juga. Inget baik-baik, gue itu punya lo dan lo itu punya gue! Nggak bakal ada yang bisa misahin!" kata Heaven dengan penuh penekanan dan penuh keseriusan.


Mendengar ucapan Heaven, seketika pipi Zia memerah. Gadis itu tersenyum sumringah seakan baru saja mendapatkan angin segar di tengah panasnya terik matahari. Entahlah, tiba-tiba ia merasa sangat malu, hingga memilih menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Heaven. Perasaannya begitu campur aduk, mungkinkah ia telah menyukai Heaven?


"Kak Heaven kok tiba-tiba ngomong gitu?" tanya Zia mencoba bersikap biasa.


Heaven terdiam, perasaannya sedang tidak baik-baik saja. Ia merasa takut jika suatu saat Zia meninggalkan dirinya, atau bahkan sebaliknya. Sejak kesembuhan Zia yang sangat jauh lebih lama dari waktu yang seharusnya, Heaven mulai menyadari bahwa gadis itu memang belum bisa menerima kehadirannya. Dan itu semua mungkin saja karena Zia belum bisa melupakan mantan pacarnya.


"Kak Heaven kok diem?" Zia menyembulkan kepalanya, menatap Heaven yang ternyata sudah menutup kedua matanya kembali. Entah sedang tidur atau masih terjaga, hanya Heaven dan Tuhan yang tahu.


Zia kembali merebahkan kepalanya, menggeser tubuhnya mencari posisi yang nyaman. Pergerakan itu malah membuat Heaven menarik tubuhnya agar lebih mendekat. Entah sadar atau tidak kini Heaven sudah menjadikan Zia layaknya bantal guling.


"Kak Heaven nggak mau pulang apa? Ini udah malem lho!" ucap Zia merasa tidak nyaman dengan posisinya. Gadis itu masih cukup sadar kalau posisinya saat ini sedang tidak berada pada tempatnya, bukan seharusnya ia tidur bersama Heaven seperti ini layaknya pasangan suami-istri.


"Kak lepasin ih, gue tau lo belum tidur! Udah malem tau!" sungut Zia sembari mendorong tubuh Heaven agar menjauh.


Bukannya terlepas dari pelukan, Zia malah semakin erat menempel pada Heaven. Cowok yang masih memejamkan mata itu menyunggingkan senyum miring, merasa Zia tidak mampu melakukan apa-apa lagi.

__ADS_1


"Kak lepasin nggak, kao enggak gue..."


"Gue apa?" tanya Heaven. Menyela ucapan Zia yang belum selesai.


"Gue pukul!" jawab Zia mengancam.


Bukannya takut Heaven malah terkekeh, masih memandangi wajah cantik Zia dari jarak yang cukup dekat. Bibir pink alami itu selalu berhasil menggoda iman, Heaven ingin sekali menciumnya sampai puas. Namun keinginan itu selalu ia tahan, setiap kali mengingat bahwa sampai detik ini Zia belum mencintai dirinya.


"Kayak bisa aja lo pukul gue!" kata Heaven sambil beranjak duduk.


Zia hanya mendengus, tapi memang benar apa yang dikatakan Heaven tadi. Memukul berapa kali pun Heaven tidak akan merasakan sakit seperti yang biasa ia dapatkan dari musuh-musuhnya.


"Ya udah, gue mau pulang dulu! Lo jaga diri, abis ini langsung tidur aja. Jangan main sama Jaka mulu, besok pagi kita jalan!" ucap Heaven panjang lebar sambil mengacak gemas rambut Zia.


"Ke mana?" tanya Zia penasaran.


"Banyak nanya, udah sana masuk kamar!"


*********


Pagi hari yang cerah, Zia baru terbangun ketika jam alarm di atas nakas berbunyi dengan kencangnya. Dari dalam selimut tebal itu tangannya terulur mematikan alarm. Zia beranjak mendudukkan diri, mengumpulkan nyawa dengan mata yang masih terpejam.


Gadis itu menguap lebar dengan tangan sebagai penutupnya. Matanya mengerjap beberapa kali menyesuaikan iris mata dengan cahaya yang mulai terang di kamar itu. Masih merasa belum puas, Zia meliuk-liukkan tubuhnya melakukan peregangan. Setelahnya ia mengambil ponsel di atas nakas yang baru saja berbunyi.


Heaven Arsenio Selamat pagi! Sorry gue nggak bisa dateng pagi ini, ada urusan penting, mungkin sore baru bisa ke apart. Lo kalo mau pergi jalan jangan lupa bilang gue, jangan lupa sarapan pagi.


Zia kembali meletakkan ponselnya dengan muka malas, setelah selesai membalas pesan itu. Sepertinya hari libur ini akan ia lalui dengan rasa bosan, Zia tidak tahu harus kemana tanpa adanya Heaven yang biasa menemani. Ah entahlah, kehadiran cowok itu lama kelamaan malah menjadi candu baginya.


Dering ponsel miliknya kembali terdengar, kali ini dengan nada yang sedikit panjang. Zia segera mengambil ponselnya, terlihat nama dan foto Handa terpampang memenuhi layar. Gadis itu segera menggeser icon hijau, menerima panggilan dari sepupunya.


"Halo Nda?" Hening sejenak, Zia mengernyit tidak mendengar suara apapun.


"Iya halo Zi!'


"Kenapa, tumben banget pagi-pagi nelfon?"


"Gue bosen nih di rumah sendirian. Bunda sama Ayah lagi pergi, Raffa juga lagi main sama temen-temennya. Lo ada waktu nggak, kita jalan yuk?"


"Ke mana?"


"Ya kemana kek, ke hutan Amazon, ke terowongan Swiss atau ke goa Madagaskar juga boleh. Gue bosen nih di rumah!"

__ADS_1


"Sembarangan kalo ngomong, ya udah buruan jemput gue!"


"Eh tumben banget lo ada waktu buat gue, Kak Heaven ke mana?"


"Nggak tau, tadi bilangnya nanti sore dia ke apart!"


"Tumben banget, ya udah lo siap-siap gih. Gue otw, sekalian ajak Icha deh biar rame!"


"Otw apaan, emang lo udah siap-siap?"


"Eh iya ya, gue aja belum mandi!" Handa terkekeh sambil menepuk jidatnya.


"Kebiasaan!"


"Ya udah, gue siap-siap dulu. Bye!"


πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren temenku. Ceritanya seru lho, jangan lupa mampir dan tinggalkan jejak ya! πŸ₯°


Author : Santi Suki


Judul : Ayu sang Penakluk


Blurb:


Ayu gadis belia yang suka rebahan dan menonton anime sambil ngemil. Kurangnya gerak membuat tubuh Ayu menjadi gendut. Karena tubuhnya yang besar dia dijuluki "Baby Hui". Saat menghadiri pesta ulang tahun Aries–orang yang disukainya, Ayu dipermalukan di sana, sehingga berjanji akan membalas dendam kepada semua orang yang suka membully dan menghinanya.


Dengan bantuan dan dukungan dari Aprilio, hanya dalam waktu dua Minggu berat badan Ayu turun dari 80kg menjadi 45kg. Penampilan Ayu pun berubah menjadi cantik, langsing dan singset. Membuatnya menjadi incaran para kaum Adam.


Leo salah satu Pangeran Kampus menjadi panik karena kini banyak laki-laki yang suka kepada Ayu. Maka dia pun melakukan berbagai cara untuk mendapatkan cinta Ayu.


Setelah berhasil membalas kepada orang yang sudah membully dan menghinanya dahulu, kini Ayu memutuskan untuk mencari cinta sejatinya. Dia dilema harus memilih antara Aries si cinta pertamanya, Leo si Pengagum Rahasia, atau Aprilio yang selalu bersamanya sejak kecil di saat suka maupun duka.


Pilihan Ayu ternyata membuatnya harus banyak melakukan perjuangan dan pengorbanan. Siapakah yang dipilih oleh Ayu?



πŸŽ€πŸŽ€πŸŽ€


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya πŸ‘‹πŸ»...

__ADS_1


__ADS_2