Heavanna

Heavanna
154. Extra Part 03. Putus


__ADS_3

Sudah satu jam berlalu Zia masih merajuk di dalam kamar. Membiarkan Heaven semakin frustrasi memikirkannya yang masih enggan membuka pintu. Di atas sofa, tatapan mata Heaven masih tertuju pada pintu. Hingga beberapa menit kemudian, terlihat pintu kamar mulai terbuka secara perlahan.


Tidak ada yang aneh, Zia tampak baik-baik saja menggunakan kaos putih dan celana pendek warna pink. Seketika Heaven melompat dan menghampiri gadis yang sudah berdiri di ambang pintu itu. Satu jam saja sudah cukup membuat Heaven uring-uringan. Ia tidak ingin lagi melihat Zia mengabaikan dirinya.


"Na, jangan marah lagi, please. Aku tuh tadi cuma ...."


Ucapan Heaven terhenti ketika melihat Zia justru pergi meninggalkannya. Yaa, gadis itu masih mengabaikan Heaven dan menganggapnya seolah tidak ada. Heaven hanya mampu memejamkan mata menahan marah, tangannya terkepal kuat. Oke, kali ini Heaven harus sedikit bersabar menghadapi sikap gadisnya yang sedang ngambek.


Heaven sadar sikap Zia kali ini juga karena kesalahannya.


Heaven berjalan mengikuti ke mana Zia pergi. Sesampainya di dapur, terlihat Zia sedang menuju ke arah lemari. Heaven memilih menyandarkan tubuhnya pada dinding seraya melipat kedua tangan. Kali ini cowok itu memilih untuk diam dan mengawasi gadisnya.


Dari kejauhan, terlihat Zia sedikit kesulitan ketika membuka lemari di bagian atas. Memang beberapa hari ini engsel pintu lemari itu sedikit bermasalah. Heaven dengan sigap mulai mendekat, mencoba mengambil kesempatan untuk meluluhkan kembali hati Zia.


"Kalo butuh bantuan bilang aja. Apa gunanya ada aku di sini, hm?" ucap Heaven sembari membuka lemari.


Bukannya senang, Zia justru hanya diam menatap Heaven dengan kening berkerut marah. Gadis yang sebelumnya hendak mengambil sirup di dalam lemari itu, kini justru beralih mengambil cangkir di rak piring bagian bawah. Heaven tercengang melihat Zia langsung pergi menuju meja makan. Tampaknya, Zia benar-benar marah kali ini.


"Mau sampai kapan kamu marah hm?"


Heaven berjalam mendekat. Satu hal yang membuat Zia terkejut. Heaven melingkarkan tangannya pada perut Zia kemudian menyandarkan kepalanya. Aroma rambut Zia membuatnya begitu candu, Heaven menghirup dalam wangi itu kemudian menciumnya dengan sayang.


"Please jangan marah lagi, cuma kamu satu-satunya. Nggak akan ada lagi," lirih Heaven.


Sesaat Zia terdiam. Dapat ia rasakan, denyut jantungnya berdetak kian cepat mendengar kalimat yang Heaven ucapkan. Zia memejamkan mata sejenak. Menikmati suasana. Kemudian, dengan berat hati ia melepaskan pelukan tangan Heaven pada tubuhnya. Zia membalikkan badan, menatap dalam mata Heaven kemudian pergi meninggalkannya.


"Na?"


Heaven menatap frustrasi, Zia berjalan pergi sambil menghentakkan kakinya. Apa yang salah dengan gadis itu? Biasanya, Zia akan bisa dengan mudah ia luluhkan. Tapi kali ini, Zia bahkan belum mau berbicara meski Heaven sudah mengucapkan kata mesra sekalipun.


"Shiithhh...."


Heaven menendang ke udara. Kemudian berlari menghampiri Zia, sebelum gadis itu kembali mengurung diri di dalam kamar. Gadis itu bahkan sudah sampai di pintu kamar sekarang. Beruntungnya, Heaven sudah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar sebelum Zia sempat menutupnya.


"Kamu mau ngapain?"


Heaven bertanya, melihat Zia sedang mencari sesuatu di dalam lemari. Siapa sangka, Zia yang masih dalam perasaan marah justru menjatuhkan semua tumpukan baju di dalam lemari. Heaven hanya mampu menggeleng. Mau tidak mau, ia harus membantu Zia yang sedang merapikan baju yang tertumpuk di lantai.


"Biar aku bantuin!" kata Heaven.


Zia menghentikan pergerakan ketika Heaven ikut merapikan pakaian miliknya. Sambil mendengus, Zia mengambil pakaian yang ia butuhkan, kemudian pergi menuju kamar mandi sambil menghentakkan kakinya.


"Huft marah aja terus! Biar cepet jompo!" celetuk Heaven. Mau tidak mau, ia harus merapikan baju milik Zia seorang diri.


Lima belas menit berlalu, Zia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak lebih segar dari sebelumnya. Heaven mengerutkan kening. Mau apa lagi gadis itu? Zia tampak fashionable dengan pakaiannya yang sekarang. Outfit yang sangat tidak cocok untuk di pakai di rumah.


"Kamu ngapain pake baju kayak gitu?" tanya Heaven heran.


Tidak ada jawaban. Zia berjalan menuju sofa, mengambil tas sling bag yang ia letakkan di sana.

__ADS_1


"Mau ke mana?" Heaven berdiri di hadapan Zia. Menghalanginya yang tampaknya hendak pergi tanpa berpamitan atau bahkan meminta izin terlebih dahulu.


"MAU KE MANA, ANNA?" ulang Heaven dengan penuh penekanan.


Zia berdecak kesal, kemudian melipat kedua tangannya pasrah. Mau tidak mau, ia harus menjawab kali ini.


"Laper, mau makan di luar!"


*********


"Hey Bos, kebetulan banget ketemu di sini!"


Nanda berjalan dengan wajah tengil, menghampiri Zia dan Heaven yang sudah duduk manis di dalam sebuah restoran. Gala dan Agam hanya mengikuti dari belakang, meskipun sebenarnya mereka tidak ingin mengganggu Heaven dan Zia.


"Nan, gausah!" kata Agam mencoba mencegah.


"Yah elah, kenapa sih? Ini tuh kesempatan kita tai, eh tau!" balas Nanda sedikit meralat ucapannya.


"Kesempatan apaan? Udahlah jangan ganggu mereka! Nggak liat muka Heaven udah asem gitu!" tunjuk Agam. Feelingnya mengatakan akan ada bahaya jika menghampiri Heaven dan Zia saat ini.


"Kenapa sih?" Nanda masih tidak mengerti dengan kode yang Agam berikan.


"Ck nggak liat ada yang aneh? Nggak biasanya mereka diem-dieman gitu! Udahlah, mending cari aman aja." Agam menunjuk ke meja kosong yang berada di tengah ruangan.


"Ish gagal deh makan gratis!" Nanda menghela nafas lesu. Padahal ia sengaja ingin bergabung dengan Heaven agar bisa makan gratis. Maklum saja, uang saku bulanan dari Mamanya sudah mulai menipis jika di akhir bulan seperti ini.


"KAK NANDA!"


"Tuh kan, Gam. Rejeki anak soleh, Bu Bos sendiri yang manggil gue ahihihi." Nanda tertawa songong, kemudian berjalan menghampiri Zia dengan penuh semangat.


Melihat hal itu, Agam hanya mampu menghela nafas. "Temen lo tuh!" katanya pada Gala.


"Masih mending, daripada lo!" kata Gala kemudian pergi setelah membuat Agam tercengang.


"Kak Nanda mau makan kan?" tanya Zia, sedikit melirik Heaven yang masih memasang wajah datar. "Kebetulan kita juga mau makan. Kak Nanda, Kak Gala sama Kak Agam gabung sini aja, biar rame."


"Serius Zi? Tapi gratis kan?" Wajah Nanda semakin bercahaya, tidak sia-sia ia memilih ke restoran ini sebelumnya. Namun, melihat wajah kesal Heaven seketika meredupkan cahaya di wajahnya. "Hehe canda Bos ya elah!" cengirnya.


"Nggak usah pada di sini, ganggu aja lo bertiga!" usir Heaven.


"Galak banget Bos. Sekali-kali gitu gue di gratisin," ucap Nanda.


"Nggak ada, pegi lo semua!" usir Heaven lagi.


"Ish Kak, jangan gitu kenapa sih!" omel Zia. "Udah Kak Nanda, nggak usah di dengerin. Duduk aja, biar gue pesenin!"


"Sip, sekalian bayarin ya. Jangan pesenin doang." Nanda menaik turunkan alisnya, kemudian duduk di kursi yang masih kosong. Begitu juga dengan Agam dan Gala.


"Enak aja lo gratis, lo pikir duit tinggal nyabut!" sewot Heaven.

__ADS_1


"Lo kenapa sih, Bos. Orang gue lagi ngomong sama Zia, kenapa jadi lo yang sewot?!" dengus Nanda.


"Duit Zia duit gue juga, asal lo tau!" Memang benar, setelah ini mungkin Heaven yang ujungnya akan membayar semua pesanan itu.


"Udah udah ih. Kak Nanda, Kak Agam sama Kak Gala mau pesen apa?" tanya Zia. Gadis itu mengangkat tangan kanan, memanggil waitress yang sedang melaksanakan tugasnya.


"Aku mau Steak!"


Bukan! Bukan Nanda, Gala apalagi Agam yang menjawabnya, melainkan Heaven yang kini tengah tersenyum lebar menatap Zia. Zia menggeleng kecil, terserah Heaven sajalah. Gadis itu masih belum mau bicara setelah melihat kesalahan apa yang Heaven lakukan.


"Neng Zia mau pesen apa?" tanya Nanda. Ia paham saat ini Zia dan Heaven sedang tidak akur.


"Panggil gitu lagi, gue tusuk lo pake sumpit!" ancam Heaven. Nanda hanya menyengir bodoh.


"Mau pesen Pasta," jawab Zia ramah.


Nanda mengangguk paham. "Pasta nggak ada. Adanya cookies mau, cookies?"


"Hah?" Zia tidak mengerti mengapa tidak ada pasta di restoran sebesar ini. Namun herannya ia justru mengangguk tanpa ia sadari. "Boleh juga."


"Sini kukiss!" Nanda berkata kemudian memonyongkan bibirnya, seolah hendak mencium Zia.


"Eh eh eh mulut lo!" tegur Agam dan Gala, kompak menarik Nanda agar menjauh.


Sontak hal itu membuat Heaven seketika melotot. Tatapan tajamnya seakan hendak memakan Nanda hidup-hidup. Beruntungnya, seorang waitress sudah lebih dulu sampai dan berhasil menghentikan apa yang ingin Heaven lakukan.


"Mau pesan apa, Kak?" tanya seorang waitress.


"Saya mau pesen Pasta," ucap Zia kemudian melirik Heaven. "Sama, temen saya mau pesen steak!" lanjutnya.


"Temen?" Heaven terkejut, baru saja ia mendengar Zia mengatakan bahwa dirinya hanya seorang teman.


"NGGAK MBAK, SAYA BUKAN TEMENNYA. SAYA SUAMINYA, DIA ISTRI SAYA!" ucap Heaven, membuat semua orang melihat ke arahnya dengan heran dan aneh.


"When urat malu Heaven udah putus," ucap Nanda, beranjak berdiri mengikuti Gala dan Agam yang hendak pergi. Yaa mereka malu dengan ucapan Heaven, hingga merasa, pergi dari sana adalah pilihan yang tepat.


Jika dibilang, sebenarnya Zia juga ingin pergi dari tempat itu. Namun cengkraman tangan Heaven membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa. Zia hanya bisa menutupi wajahnya dengan cara menunduk.


Astaga gue malu aarrggghhhhhh... -teriak Zia dalam hati.


"JADI KALO SAMPAI ADA YANG BERANI DEKETIN ISTRI SAYA, AKAN SAYA SAYAT-SAYAT KULITNYA, SAYA POTONG-POTONG DAGINGNYA JADI DADU, LALU AKAN SAYA BERIKAN PADA ANJING PELIHARAAN SAYA!" ucap Heaven dengan tatapan membunuh.


Bumbu gebrakkan meja seketika membuat langkah Nanda terhenti. Lututnya terasa mau lepas, Nanda menelan salivanya dengan susah payah. Ia merasa, ancaman Heaven tadi tertuju padanya. Bukan hanya Nanda, semua orang di dalam restoran itu pun ikut dibuat ketar ketir dengan ucapan Heaven barusan.


"Gam, tolongin gue, Gam, Gal!" lirih Nanda meminta tolong.


"Lo sih, pake macem-macem!" semprot Agam, menarik Nanda menjauh sebelum bom waktu meledak.


🎀🎀🎀

__ADS_1


...Sampai bertemu di Ex part Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2