Heavanna

Heavanna
70. HEAVEN VS JAKA


__ADS_3

Zia sedang duduk santai di sofa ruang tengah, bola matanya terus bergerak menangkap kata demi kata yang tertera di buku yang sedang dibaca olehnya. Salah satu tangannya tidak lupa bergerak mengelus kepala Jaka yang sedang tiduran di pangkuannya, bulu kucing itu terasa sangat halus setelah pagi ini baru saja dimandikan di Pet grooming, dibantu oleh Pak Didin yang dengan suka rela mau mengantarkan kucing kalem itu.


"Mau sampai kapan lo di situ terus? Manja!" ucap Heaven sinis. Sudah sejak tadi cowok itu memakan camilan di dalam toples, sambil diam-diam menatap sinis Jaka yang dengan enaknya bisa tidur di pangkuan Zia.


Meong...


Suara Jaka kembali terdengar, karena dengan sengaja Heaven menggunakan kakinya untuk mengusir Jaka dari pangkuan Zia. Namun kucing songong bin menyebalkan itu masih saja tidak bergerak dari tempatnya, seolah menunjukkan bahwa pangkuan Zia adalah tempat paling nyaman baginya untuk tidur.


"Kak, jangan ganggu ih!" Zia yang mulai terusik mulai mengeluarkan peringatan agar cowok yang sedang tiduran di sampingnya itu bisa diam.


"Apa lo, pergi sono!" usir Heaven saat kucing kecil itu menatap ke arahnya, "Awas aja lo, gue buang ntar malem biar jadi kucing got kayak waktu itu!" ancamnya dengan suara lirih.


Setelah beberapa saat, Heaven kembali sibuk dengan cemilannya. Namun melihat Jaka masih tetap berada di tempatnya membuat Heaven merasa semakin kesal saja, wajah menyebalkan Jaka terus menatap polos ke arahnya hingga membuatnya muak. "Gue bilang pergi, tuli lo! Gue geprek sampai gepeng, tau rasa lo!" ancamnya dengan suara mulai meninggi.


"Kak Heaven kenapa sih?" Zia melirik kesal Heaven yang telah mengganggu kegiatan belajarnya, "Ganggu tau, mending pulang aja sana!" usirnya.


"Lo ngusir gue? Baru juga dateng udah diusir aja!" dengus Heaven lalu kembali melotot pada Jaka yang masih menatap ke arahnya.


"Baru?" Zia meletakkan bukunya lalu menatap Heaven kesal sekaligus tidak mengerti, "Kak Heaven udah satu jam loh disini!" ucapnya menggebu.


"Abis pulang sekolah bukannya langsung ke rumah, ini malah main dulu!" gerutu Zia merasa sudah jengah dengan keberadaan Heaven di apartemen miliknya.


"Ya ini kan gue udah pulang!" jawab Heaven santai lalu memakan kembali camilannya.


"Pulang itu ke rumah lo, bukan ke apartemen gue!"


"Pulang ke apartemen calon istri nggak papa kali!" Heaven menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jenaka, membuat Zia semakin kesal.


"Apaan sih? Emang siapa juga yang mau jadi istri lo?"


"Kamu!"


Zia tersentak saat secara tiba-tiba Heaven menyingkirkan Jaka dengan kasar dari pangkuannya, membuat kucing itu mengeong keras karena terkejut. Tanpa peduli dengan nasib Jaka yang kini teronggok di lantai, Heaven langsung merebahkan kepalanya di pangkuan Zia sebelum gadis itu sempat menghindar. Cowok itu memejamkan mata dengan senyum manis terukir di bibirnya, merasa menang karena bisa menggantikan posisi Jaka yang sejak tadi telah membuatnya iri.


"Kak Heaven apa-apaan sih, kasian Jaka!" Zia menatap kasihan Jaka yang masih terduduk di lantai putih itu dengan muka masamnya.


"Ssttt... diem! Gue mau tidur bentar!"


"Kak!" Zia menggerutu kesal pada Heaven yang sangat sulit disingkirkan dari pangkuannya, hingga akhirnya ia memilih menyerah dan membiarkan cowok itu tidur di pangkuannya. "Awas aja kalau macem-macem!" ucapnya memperingatkan.


Heaven membuka salah satu matanya sambil tersenyum nakal. "Emang gue mau ngapain?" tanyanya.


"Ya bisa aja kan, ih Kak Heaven geli!" Zia menjewer telinga Heaven dengan keras, karena secara tiba-tiba cowok itu menduselkan kepalanya ke perut. Terang saja itu membuatnya memekik kegelian, karena jujur saja baru kali ini ada orang yang seberani itu padanya.


"Aw aw sakit sakit!" Heaven memegang tangan Zia yang masih menjewer telinganya, merasa sedikit sakit karena semakin lama tanpa segan Zia menariknya dengan begitu kuat.


"Siapa suruh kayak gitu, awas nggak!" ancam Zia tidak suka, "Jangan gitu lagi!"


"Ok ok, nggak gitu lagi!" Heaven masih meringis merasakan sakit, kemudian mendudukkan diri sesuai arah ke mana Zia menarik telinganya.

__ADS_1


Karena sedikit merasa kasihan, Zia akhirnya melepaskan telinga Heaven yang sudah memerah. Setidaknya cowok itu sudah merasa kapok dan tidak akan lagi melakukan hal itu. "Jangan gitu lagi!" peringatnya.


"Ok, ok! Jangan gitu lagi kalau cuma sekali!" Heaven tersenyum penuh misteri, lalu tanpa aba-aba mendekatkan wajahnya ke wajah Zia.


Cup


Zia membulatkan matanya, tersentak dengan apa yang baru saja Heaven lakukan. Cowok itu baru saja mencium pipinya tanpa permisi, membuatnya terdiam dengan mata mengerjap beberapa kali. "KAK HEAVEN!" bentaknya setelah sadar.


"Kenapa?" jawabnya dengan santai, "Kurang hm?"


Zia semakin kesal mendengar apa yang dikatakan cowok itu, memang dirinya perempuan apaan yang mau diperlakukan seperti itu. Dengan geram Zia mengambil bantal sofa di sampingnya, lalu dengan sekuat tenaga memukuli Heaven yang masih memasang wajah tanpa dosa. "Emang lo pikir gue cewek apaan hah?"


Buk


Buk


Buk


"Stop Na, stop! Jangan kenceng-kenceng mukulnya." Heaven menghalau serangan mendadak Zia menggunakan kedua tangannya, masih dengan tawa yang beberapa kali keluar dari mulutnya. "Mending peluknya aja yang dikencengin, sekalian ciumnya!" ucapnya kembali tertawa.


"Kak Heaven ngeselin!" ucap Zia masih menghujani Heaven dengan pukulan. Sungguh, ia merasa sangat malu mendengar gombalan yang Heaven ucapkan.


"Sakit Na, sakit!"


Semakin lama pukulan itu semakin terasa sakit, Heaven yang sudah tidak ingin bertengkar lagi langsung menarik tangan Zia. Mengunci tubuh gadis itu di dalam pelukannya agar tidak bisa lagi bergerak dengan bebas. "Udah, nggak usah marah-marah lagi!"


"Lepas!" Zia memberontak, namun tidak bisa lepas dengan mudah karena kedua tangannya sudah terkunci oleh tangan besar milik Heaven. Ia merasa sedikit tidak nyaman karena sekarang posisinya sedang duduk di pangkuan Heaven, meskipun cowok itu berada di belakang tubuhnya.


"Kak, jangan macem-macem!" peringat Zia.


"Diem, lo tambah cantik kalau diem kayak gini!" ucap Heaven sambil menyandarkan kepalanya pada kepala Zia bagian belakang.


Beberapa detik berlalu Zia masih mencebikan bibir bawahnya, sementara Heaven masih diam menyandarkan kepalanya. Posisi yang cukup membuat keduanya semakin lama semakin merasakan jantungnya berdetak kian cepat. Zia memejamkan mata berharap detak jantungnya berdetak normal kembali, sembari memikirkan cara agar Heaven mau melepaskan dirinya sebelum jantungnya benar-benar melompat dari tempatnya.


"Kak!"


"Hm?"


"Lepasin!"


Heaven hanya diam saja, tangannya bergerak semakin erat memeluk Zia yang masih tidak bisa bergerak di pangkuannya. Posisi paling nyaman menurut Heaven, namun sangat berbanding terbalik dengan Zia yang kini merasakan jantungnya berdetak tidak terkendali.


"Kak ih!"


"Hm?"


"Lepasin!" Zia semakin kesal melihat Heaven hanya diam saja, tidak mendengarkan dirinya juga tidak merespon ucapannya dengan benar. "Gue laper, mau makan di luar!" ajaknya karena tidak menemukan cara lain.


"Mau makan di mana?" Heaven menegakkan tubuhnya, mencoba menatap wajah Zia yang kini masih membelakanginya.

__ADS_1


"Terserah!"


Heaven mulai memutar otaknya, memikirkan makanan apa yang cocok untuk di makan sore hari seperti ini. "Eum gimana kalau, seafood?"


Zia menggelengkan kepalanya.


"Ayam goreng?"


Zia kembali menggelengkan kepalanya.


"Terus?"


"Terserah!" jawab Zia semakin membuat Heaven bingung.


"Kebiasaan!" Heaven yang mulai kesal tanpa aba-aba langsung menggigit pundak Zia, menyadari gadis itu hanya sedang mengerjai dirinya.


"Aw sshh... sakit," Zia meringis namun Heaven sama sekali tidak peduli, "Iya iya mau makan seblak!" jawabnya menyerah.


Heaven menghentikan gigitannya, lalu melonggarkan pelukannya pada gadis itu. "Makan nasi aja ya? Lo dari siang belum makan nasi loh!"


"Nggak mau, maunya makan seblak. Kalau nggak boleh ya udah nggak jadi!"


Heaven melepaskan pegangannya, mau tidak mau ia harus menuruti permintaan gadisnya itu. "Ya udah sana, siap-siap!"


Zia hanya mendengus, kemudian melenggang pergi menuju kamarnya untuk segera bersiap-siap. Sementara Heaven hanya diam menunggu di sofa, sambil menatap penuh dendam Jaka yang tengah tiduran di sofa sebelahnya. Tidak perlu bersiap-siap karena ia sendiri sudah mengganti seragam sekolahnya saat meminjam kamar mandi milik Zia tadi. Kini cowok itu sudah mengenakan outfit yang nampak sederhana, hanya T-shirt berwarna hitam dan celana panjang yang membalut tubuh tingginya.


"Apa lihat-lihat!" Heaven mendelik tajam saat melihat Jaka yang tadinya sedang tiduran kini sudah berdiri, menantang balik menatap dirinya. "Lo iri kan sama kegantengan gue?"


"Dasar Joko jelek, kayak monyet!" Jaka hanya menatap Heaven dalam diam, entah apa yang dipikirkan kucing itu saat ini.


"Awas aja lo kalau macem-macem lagi, lain kali bukan cuma bulu ekor lo yang bakal gue hilangin. Tapi biji kelengkeng lo sekalian, biar mampus, nggak bisa macem-macem lo sama betina tetangga sebelah!" ancam Heaven dengan senyum jahat tersungging di bibirnya.


Merasa mendapatkan ancaman, seketika Jaka mengeong keras saat melihat Heaven mengulurkan tangannya seakan hendak memberikan serangan. Kucing itu menggeram sambil berjaga-jaga, kemudian berlari meninggalkan ruang tengah, setelah berhasil membuat Heaven geram melihat wajah penuh ejekan yang sempat Jaka perlihatkan sebelumnya.



"Anjir, Dasar kucing jelek. Nantangin gue lo!" kesal Heaven melihat wajah songong bin menyebalkan Jaka sebelum pergi.


"Kak Heaven ngomong sama siapa?" Zia yang baru saja datang merasa heran melihat Heaven seperti tengah berbicara dengan seseorang.


"Ngomong sama anak jenglot!" jawab Heaven sekenanya. Masih kesal mengingat wajah jelek yang Jaka perlihatkan padanya.


"Hah, jenglot?"


"Nggak penting, ayo pergi!"


*********


Potret Jaka bersama Amel, kucing betina milik tetangga sebelah.

__ADS_1



...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2