Heavanna

Heavanna
151. AKHIR


__ADS_3

"NGAPAIN KALIAN DIAM SAJA, HAH? CEPAT BERESKAN MEREKA, BODOH!" Rico berteriak keras, kesal melihat kebodohan para anak buahnya. Bukannya membantu membereskan, mereka justru hanya diam saja sejak tadi.


"SIAP BOS!"


Melihat para musuhnya mulai berjalan hendak menyerang, Nanda dengan cepat mengambil pistol di dalam saku, kemudian mengarahkannya sambil berteriak.


"Dor...."


"Dor...."


"Dor...."


"Bangsat! Ngagetin gue aja lo!" Agam refleks memukul kepala Nanda, temannya itu baru saja berteriak kencang seraya menunjukan benda api di tangan. Terang saja hal itu membuat Agam yang tepat berada di sampingnya terkejut bukan main. "Itu pistol beneran, nyet?" tanyanya sedikit tidak percaya.


Sambil mengusap kepala, Nanda tiba-tiba menyengir lebar. "Bukan ege, ini boongan. Bokap gue kan mantan aktor, kalo main film action pasti dipake ni pistol. Keren kan gue," jawabnya seraya menaik turunkan alis.


"Sejak kapan bokap lo jadi aktor, kok gue nggak tau?" ujar Agam bertanya.


"Sangat meragukan!" tambah Kenzo tidak percaya.


"Yee gimana mau tau, ketemu aja belum pernah lo pada!" balas Nanda menggebu. Memang benar, sekalipun mereka belum pernah bertemu ayah kandung Nanda. Ketika bermain, mereka hanya mendapati ibu Nanda yang terkenal dengan kecerewetannya.


"Angkat tangan kalian, atau gue tembak satu persatu!" peringat Nanda sembari menodongkan senjata api. Namun anehnya, para musuhnya justru hanya diam tanpa menuruti ucapan cowok bodoh itu -setidaknya menurut teman-temannya. "Kenapa diem hah? Lo pada nggak takut mati apa?" tanyanya heran.


"NAH LU BEGO! Lo sendiri yang bilang itu pistol mainan!" bentak Agam kesal.


"Anjir, bener juga!" Nanda cengo, tersadar.


"Gal, tahan gue Gal, tahan! Pengen banget gue bunuh nih anak satu, nggak ada gunanya banget jadi manusia!" Agam mengulurkan tangan di depan Gala, meminta untuk dicegah. Melihat tingkah aneh Nanda, membuatnya geram sekaligus kesal.


"Bunuh aja, bunuh. Biar berkurang beban negara," jawab Gala dengan cueknya.


"Wah parah lo bedua!" sahut Nanda tidak terima.


"KALIAN SEMUA BISA DIEM GA SIH! INI BUKAN WAKTUNYA BERCANDA, SIALAN!" Heaven yang melihat tingkah para sahabatnya sejak tadi mulai merasa kesal. Di saat-saat seperti ini, mereka justru sibuk berdebat akan sesuatu yang sangat tidak penting.


"LEPASIN!" Zia berteriak kencang, ketika secara tiba-tiba Rico datang dan mengunci pergerakannya. Di saat semua orang sibuk berdebat, Rico justru mengambil kesempatan tersebut untuk menghindar dan menghampiri Zia yang masih sepenuhnya terikat.


"Diam! Atau saya potong leher mulus mu ini!" ancam Rico. Pisau tajam kini menempel tepat di leher Zia. Meskipun keadaan tubuhnya sudah cukup lemah dipenuhi luka, Rico masih cukup kuat untuk menggertak para musuhnya agar bisa melarikan diri nantinya.


"SETETES DARAH SAJA SAMPAI KELUAR DARI BAGIAN TUBUH PUTRIKU, MAKA JANGAN HARAP KAU MASIH HIDUP SATU DETIK SETELAHNYA!"


Suara bariton menggema memenuhi seantero ruangan, bersamaan dengan suara langkah kaki yang begitu mengintimidasi. Seketika membuat semua orang menoleh ke sumber suara. Terlihat tuan Zion datang dan berhenti tepat di depan pintu dengan gagahnya. Sementara disampingnya, Azka tengah menyandra seseorang yang tidak lain adalah Danis.


Semua orang tampak terkejut sekaligus heran. Bukan hanya karena mendengar ucapan tuan Zion yang telah mengkonfirmasi bahwa Zia adalah putrinya, tapi juga karena keberadaan Danis sebagai sandra di cengkraman Azka. Yaa Danis, entah bagaimana caranya cowok itu sudah berada dalam genggaman tuan Zion. Setidaknya itulah yang beberapa dari mereka pikirkan.


Mereka lupa, apapun bisa dilakukan tuan Zielinski. Termasuk, melumpuhkan musuhnya hanya dengan tatapan elangnya. Seakan mampu membunuh tanpa menyentuh, semua orang kini hanya mematung seraya bergidig ngeri melihat sorot mata tajam milik Zion.


"AH TIDAK! SEPERTINYA MATI BUKANLAH PILIHAN YANG TEPAT UNTUK MANUSIA SEPERTIMU! KARENA ITU, AKAN KU BUAT KAU MENDERITA SEHINGGA KAU SENDIRI YANG AKAN MEMOHON UNTUK MATI, SETELAHNYA!" ralat Zion mengenai ancamannya.


Hening, sesaat semua orang terdiam mematung. Tidak ada yang berani berbicara sepatah katapun, apalagi ketika melihat senjata api asli ditangan tuan Zion yang mengarah pada Rico. Ah tidak, jangankan berbicara, bahkan untuk bernafas saja rasanya sangat sulit.


"LEPASKAN PUTRIKU! ATAU ..."


"Atau apa? Kau akan membunuhku?" tanya Rico mencoba bersikap remeh. Ia sengaja memotong ucapan rivalnya. Melihat Zion mulai mendekat saja sudah sedikit menurunkan nyalinya. Telinganya tidak ingin mendengar ancaman yang akan Zion ucapkan, menyadari putra satu-satunya kini berada ditangan musuhnya.


"Sudah ku katakan, mati bukanlah pilihan yang tepat untukmu. Begitu juga putramu!" Zion menyeringai, sudut matanya melirik pada Danis yang masih berada di tangan Azka.


Bukannya takut, Rico justru tergelak mendengar ucapan Zion. Bodoh, ia baru menyadari situasi sedang berpihak padanya. Zion hanya datang bersama putranya, satupun bodyguard tidak terlihat mendampingi Zion saat ini. Hanya ada beberapa bocah ingusan di sana. Jika dibandingkan dengan jumlah anak buahnya, tentu jumlah mereka kalah jauh.


"Hahaha apa kau pikir aku takut?" Rico tergelak, membuang pisau yang masih menempel di leher Zia, kemudian menggantinya dengan pistol yang ia simpan dibalik jaketnya sejak tadi.

__ADS_1


"Kau yakin?" tanya Zion.


"Apa aku terlihat bercanda?" jawab Rico bertanya. "Lihatlah, jumlah kita saja sangat jauh berbeda. Aku tidak menyangka pria sepertimu bisa seceroboh ini. Tapi tidak masalah, dengan begini aku bisa dengan mudah menangkap kalian semua. Termasuk kau, tuan Zielinski!" tunjuk Rico pada musuhnya.


"Tidak disangka, akan semudah itu menghancurkan seseorang sepertimu. Setelah sekian lama aku menunggu moment menguntungkan ini." Rico tersenyum sumringah, seolah angin segar baru saja menerpa tubuhnya.


"Baiklah, pertama-tama aku akan membunuh putrimu ini," ucap Rico seraya menempelkan pistol di kepala Zia. "Lalu, aku akan menghabisi putra kesayanganmu. Dan terakhir, istrimu ... yeah Shina. Setelah itu, kau pasti akan mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang paling berharga dalam hidupmu. Ah rasanya pasti akan sangat menyenangkan, bukan begitu Tuan Zielinski yang terhormat?" tanya Rico seraya menyeringai.


DOR...


Semua orang terkejut, peluru panas tiba-tiba melesat tepat mengenai pistol milik Rico. Akibatnya, pistol tersebut terlepas dari tangan dan terpelanting jatuh ke lantai.


"JANGAN MENAKUTI PUTRIKU DENGAN PISTOL PALSUMU ITU!"


Zion berteriak penuh peringatan, setelah berhasil membidik target tepat sasaran. Sungguh, ia sangat tidak tahan melihat Zia ketakutan karena pistol yang Rico todongkan.


"APA KAU GILA?" teriak Rico, marah dengan apa yang dilakukan Zion. "KALIAN SEMUA, CEPAT TANGKAP MEREKA!" titah Rico pada anak buahnya.


"Mereka tidak akan berani melakukan apapun!" kata Zion. "Sadarlah Rico! Lihat baik-baik siapa mereka dan berada di pihak mana mendukung!"


Rico mengedarkan pandangannya. Seperti yang dikatakan Zion, semua anak buahnya justru sudah melepaskan ikatan semua tawanannya. Ada apa ini? Para anak buahnya justru seakan membantu Zion dengan menodongkan pistol ke arah dirinya.


"Kau terkejut?" tanya Zion dengan seringainya. "Apa kau tidak bisa membedakan yang mana anak buahmu dan yang mana musuhmu sebenarnya?"


"Kau ...," ucap Rico tersendat.


"Tidak usah banyak bicara, tidak ada yang bisa kau lakukan lagi. Sekarang, lepaskan putriku!" titah Zion.


Tanpa menunggu perintah, semua anak buah Rico yang ternyata anak buah Zion langsung mengambil tindakan. Dengan pasrah Rico menyerahkan diri. Ia tau memberontak tidak akan membuatnya bisa bebas dengan mudah. Apa lagi putra kesayangannya masih berada ditangan Azka sampai detik ini.


"Sayang, kemarilah!"


"Tenanglah, ada Daddy di sini!" kata Zion, menenangkan seraya memeluk erat tubuh anak gadisnya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Zion setelah melepaskan ikatan tangan Zia.


Gadis yang sudah merasa lebih tenang itu hanya mengangguk kemudian mengedarkan pandangannya. Sudut matanya mencari keberadaan seseorang di antara banyaknya orang di sana.


"Kak Heaven!" Zia berlari, setelah menemukan keberadaan Heaven, seseorang yang sejak tadi ia cari keberadaannya.


"Jangan lari!" cegah Heaven sembari berlari mendekati Zia.


"Kamu nggak papa?" tanya Heaven setelah puas memeluk erat tubuh lemah Zia. Gadis itu hanya mengangguk, kemudian kembali memeluk Heaven dengan sangat erat. Sungguh, ia benar-benar takut saat ini.


"Lepaskan putraku, kau hanya perlu menangkapku! Tidak perlu melibatkan dia yang tidak tahu apa-apa!"


Sebagai seorang ayah, Rico tentu tidak rela melihat putranya menjadi sandra. Apalagi, kini Danis tidak mampu melakukan apa-apa karena bukan hanya tangannya yang diikat, mulut cowok itu bahkan sudah terkunci dengan lakban.


Tampak jelas adanya beberapa memar di area wajah Danis, percikan darah yang sudah kering pun masih menempel di baju putihnya. Entah siapa saja yang sudah terluka karenanya, namun tampaknya itu bukan hanya darah milik Danis seorang.


"Oh ya, lalu apa bedanya dengan putriku? Gadis kecil yang telah kau siksa tanpa ia tahu dimana letak kesalahannya?" tanya Zion dengan mata memerah. "Dan, bagaimana aku bisa melepaskannya, sementara siapapun tidak bisa menjamin bahwa putramu tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang telah kau lakukan pada putriku!"


Rico terdiam dengan lutut sebagai tumpuan, seseorang baru saja mendorongnya hingga tertunduk di hadapan Zion. Kedua tangannya sudah terikat ke belakang, ditambah cengkraman seseorang di belakangnya semakin membuat Rico tidak bisa berbuat apa-apa. Ia sangat marah, namun tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang.


"Perlukah aku menyadarkanmu? Seandainya kau tidak mendahulukan keegoisanmu, mungkin sekarang hal ini tidak akan pernah terjadi. Dan putramu, tidak akan menerima akibat dari apa yang telah kau lakukan! Begitu juga dengan putriku!" ucap Zion.


"Bagaimana mungkin aku akan diam membiarkan pembunuh sepertimu hidup dalam ketenangan?" sahut Rico marah.


"Pembunuh?" tanya Zion menyeringai. "Kau sendiri tahu betul siapa pembunuh istrimu yang sebenarnya, apa perlu aku sendiri yang mengatakannya pada putramu? Aku pikir dia jauh lebih ingin mengetahui yang sebenarnya terjadi!"


Semua orang terdiam, seakan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Berbeda halnya dengan Rico, ia tahu betul apa yang sebenarnya terjadi dan ia tidak ingin kisah masa lalu itu diketahui oleh putra semata wayangnya.

__ADS_1


"Sudahlah, tidak perlu membahas masa lalu yang sudah terjadi." Zion beralih menatap pintu, asistennya, Max baru saja datang bersama Shina dan Rexie.


"Max, bawa mereka berdua!"


*********


"Kamu nggak papa sayang?" tanya Zion, melihat Zia sedang berada dalam pelukan sang ibu.


"Nggak papa bagaimana? Dia ketakutan, Zion! Kamu terlalu banyak mengambil resiko dengan membahayakan keselamatan putrimu, kalau sampai terjadi sesuatu bagaimana?!"


Bukan, bukan Zia yang menjawab melainkan Shina. Sebagai seorang ibu, tentu ia tidak ingin melihat putrinya berada dalam bahaya seperti tadi. Namun karena tingkah suaminya, ia harus beberapa kali menyaksikan putrinya berada dalam bahaya.


"Udah Mom, jangan marahin Daddy lagi. Anna nggak papa kok," ucap Zia melerai. "Daddy kok bisa tau sih, kita di sini?"


"Apa sih yang nggak Daddy tau tentang kamu?" tanya Zion.


"Hah?" Zia mengerutkan keningnya.


"Asal lo tau, selama ini lo itu selalu berada dalam pengawasan Daddy," sahut Azka yang sedang bertengger di samping tunangannya, Rexie.


"Maksudnya, berarti sebenarnya Daddy tau semua yang aku alami di sini?" tanya Zia memastikan.


"Tepat sekali!" kata Azka.


"Terus kenapa dulu lo bilang Daddy nggak awasin kita?" tanya Zia sedikit kesal dan bingung.


"Itu karena Azka nggak tau apa-apa," sahut Rexie.


"Zian!" ralat Azka seraya melotot pada Rexie.


Rexie menggeleng tidak habis pikir. "Yang dia tau, Daddy nggak pernah awasin lo setelah pindah ke sini. Padahal sekalipun Daddy nggak pernah biarin lo sendirian tanpa pengawasan!" lanjutnya memberitahu.


"Terus kenapa Daddy nggak nolongin Anna pas Anna dalam bahyaa dulu?" tanya Zia setelah melihat Zion mengangguk.


"Untuk apa Daddy menolongmu, sementara masih ada malaikat penjaga di sampingmu!" jawab Shina seraya menatap Heaven sambil tersenyum penuh arti. Jangan tanyakan bagaimana reaksi Heaven, tentu saja cowok itu sangat bahagia mendengar pujian dari mertuanya.


"Dengar, bukannya Daddy tidak mau menolongmu. Daddy sengaja membiarkanmu seolah hidup sendirian karena Daddy mau kamu menjadi gadis yang mandiri. Daddy mau, kamu bisa melawan rasa traumamu agar kamu bisa sembuh, sayang!" kata Zion menjelaskan.


"Tapi Dad, gimana bisa trauma ku bisa sembuh? Liat orang berantem aja aku takut!" kata Zia tidak habis pikir.


"Tidak, kamu bisa melakukannya. Buktinya, sekarang kamu baik-baik saja bukan, kamu bahkan sudah bisa bicara, padahal tadi kamu hampir kehilangan kesadaran."


Benar kata Zion, kini Zia sudah baik-baik saja. Padahal, biasanya Zia akan mengalami sakit parah jika sudah mengalami tekanan trauma. Itu tandanya, selama ini Zia sudah mampu melawan rasa traumanya sedikit demi sedikit.


"Jadi, jangan berpikir kamu sendiri. Karena Daddy akan selalu menjagamu meskipun dari kejauhan sekalipun," ucap Zion.


Zia termangu sejenak, kemudian tersenyum lebar. Ia tidak menduga selama ini sedang berusaha melawan rasa traumanya. Selain itu, kini tidak akan ada lagi yang bisa melukai dirinya. Meski sedikit kasihan melihat Danis ikut merasakan akibat dari apa yang telah ayahnya lakukan, namun Zia merasa lega karena orang yang telah membuat trauma dalam hidupnya sudah ditangkap.


Yaa, tidak akan ada lagi seseorang yang membuatnya merasa ketakutan. Jika ada, Zia yakin orang-orang di sekelilingnya akan benar-benar menjaganya. Terutama, seseorang yang tengah berdiri di ujung sana. Orang pertama yang datang dengan gagah hanya untuk menyelematkan dirinya. Heaven.


Zia melangkahkan kakinya, mendekati Heaven yang juga tengah berjalan ke arahnya. Rasanya begitu bahagia, kini semua telah terbebas dari masalah. Zia berharap, tidak akan ada lagi masalah serupa yang datang hanya untuk menghancurkan kebahagiaan keluarganya.


...~TAMAT~...


🎀🎀🎀


Hai pren! Maaf banget nih udah bikin kalian nunggu lama. Jujurly pas nulis bab ini, othor tuh udah lupa banget sama ceritanya wkwk. Gimana ya? Othornya aja udah lupa, apalagi yang baca hehe. Berhubung dah pada lupa, jadi othor mau udahin aja ceritanya. Gak mungkin juga kan othor sambung lagi hehe. Maaf banget nih kalo menurut kalian endingnya terlalu memaksa atau mungkin membagongkan. Othor akui masih harus banyak belajar buat bikin cerita yang menarik dengan ending memuaskan. Buat kalian semua yang udah mau baca cerita receh ini, othor ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya yaaaa....


Love you all... 😘


...Sampai bertemu di karya Smiling27 selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2