
"Mau sampai kapan lo diemin gue Na? Gue tau lo di situ, buka pintunya buru!"
Entah sudah untuk ke berapa kalinya Heaven menekan bel sambil berbicara tidak jelas di depan pintu apartemen Zia. Namun, Zia masih belum juga mau membuka pintunya. Gadis itu masih kesal pada Heaven yang selalu berkelahi dengan para musuhnya. Tidak tahu saja Heaven, bagaimana bencinya Zia terhadap perkelahian setiap kali habis sembuh dari sakit.
Sorry Kak, gue cuma nggak pengen kejadian kemarin terulang lagi. Seandainya lo tahu yang gue rasain!
Dari dalam apartemen, Zia masih memperhatikan Heaven yang sejak setengah jam yang lalu belum juga beranjak dari tempatnya. Rasanya sedikit kasihan, tapi jika ia tidak melakukan hal seperti ini Heaven pasti tidak akan berhenti untuk berkelahi dengan musuh-musuhnya.
"Na, buka pintunya. Lo mau gue terus-terusan teriak di sini, biar ganggu semua orang hah?" Heaven yang mulai tidak sabar kini mencoba peruntungannya, ia tersenyum miring.
"Gue udah bawa es krim kesukaan lo, jangan salahin gue kalo nih es krim gue buang!" ucap Heaven dengan suara meninggi.
Zia menelan salivanya dengan kasar, sebenarnya ia sangat menginginkan es krim itu. Heaven benar-benar menyebalkan, bahkan stok es krim di apartemennya sudah dibuang semua oleh cowok itu. Karena apa lagi? Sejak kemarin gadis itu selalu mencoba mencuri es krim diam-diam. Heaven yang tidak ingin kecolongan akhirnya membuang semua stok es krim yang ada di dalam freezer.
"Woy bisa diem nggak? Dari tadi teriak-teriak nggak jelas, gangguin orang aja!" Seseorang datang menegur, Heaven yang sedang sangat kesal langsung melemparkan tatapan tajam. Wajah dingin mengintimidasi itu seketika membuat orang itu langsung kicep.
"Pergi lo!" usir Heaven. Tidak peduli mana yang lebih tua dan harus dihormati, karena saat ini pikirannya sedang sangat kacau lantaran Zia belum juga mau berbicara atau sekadar membuka pintu untuknya.
"NA, BUKA PINTUNYA ATAU GUE HANCURIN NIH PINTU SEKARANG JUGA!" ancam Heaven dengan suara lebih tinggi.
Sementara di dalam apartemen Zia mulai merasa ketar-ketir, menyadari ancaman Heaven tadi bukanlah main-main. Bisa saja kan cowok itu nekat membobol apartemen miliknya karena hal kecil ini? Ah tidak, Zia merasa harus segera mencegahnya.
"Gue hitung sampe tiga, kalo lo belum juga buka pintunya. Jangan salahin gue kalo pintu ini bakal hancur!" ancam Heaven lagi.
Satu...
Dua...
Ti...
"Kak Heaven mau apa, jangan macem-macem!" cegah Zia yang mulai kebingungan sendiri.
"Buka pintunya buru!" titah Heaven.
"Nggak mau, udah pulang aja sana!"
Heaven mengepalkan tangannya geram, rahangnya mengeras serta giginya saling gemeretak. "Buka pintunya, sialan!" titah Heaven dengan suara tertahan.
Zia terkejut mendengar Heaven justru mengumpat dirinya dari luar, memang bukan kali pertama, tapi tetap saja Zia tidak suka. "Gue bukain, tapi Kak Heaven janji dulu nggak akan masuk!"
"Ck apaan sih Na, jangan kayak anak kecil deh. Buruan buka pintunya!" decak Heaven tidak sabar.
__ADS_1
"Kalo nggak mau janji ya udah, mending gue tidur aja!" Zia masih mempertahankan pintunya, masih kesal pada Heaven yang secara tiba-tiba mengumpat sialan padanya.
"Ck oke terserah mau lo, buruan buka pintunya!"
Perlahan Zia membuka pintunya, meski sedikit ragu dengan apa yang dikatakan Heaven. Tanpa gadis itu ketahui, di luar sana Heaven tengah tersenyum miring saat pintu perlahan terbuka memperlihatkan gadis cantik dari dalam.
"Gitu kek dari tadi!" Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, Heaven dengan cepat mendorong tubuh Zia masuk. Salah satu kakinya terangkat, mendorong pintu yang masih terbuka hingga tertutup kembali dengan sempurna.
Pergerakan cepat itu membuat Zia hanya mampu membulatkan mata, tubuhnya kini tidak mampu berbuat apa-apa karena kedua tangan Heaven sudah melingkar di pinggangnya. "Kak Heaven kok masuk sih? Tadi kan udah janji nggak akan masuk!" kesal Zia.
"Gue kangen sama lo!" ucap Heaven mengeratkan pelukannya.
"Nggak nanya, lepas!" Zia mencoba mendorong Heaven, namun yang terjadi malah sebaliknya. Cowok itu semakin erat memeluk tubuhnya. "Kak ih, jangan gitu berat!" protesnya karena Heaven justru menyandarkan tubuhnya.
"Udah berani ngancem sekarang ya, hm?" Heaven menatap dingin Zia, tanpa mau melepaskan pelukannya.
"Siapa suruh berantem terus, mau jadi jagoan?" sungut Zia masih berusaha melepaskan diri.
"Lepasin nggak, kalo enggak-"
"Kalo enggak apa? Lo mau ngapain, hm?" sela Heaven menantang. "Lo tuh masih bocil, kalo sama orang tua tuh yang nurut."
"Gimana mau nurut, lo nya aja masih suka tawuran!" geram Zia sambil menginjak kaki Heaven sekuat tenaga.
"Makanya, jangan seenaknya jadi orang!" sungut Zia dari kejauhan.
"Seenaknya kepala lo jajar genjang, gue udah bela-belain beli makanan yang lo suka. Tapi dengan seenggak jidat lo aniaya gue!"
"Kak Heaven ngomongnya kasar banget sih? Nggak ada lembut-lembutnya banget jadi cowok!" sungut Zia. Duduk di lantai sambil membuka es krim yang ia letakkan di atas meja.
"Lo mau yang lembut-lembut?" Heaven tersenyum miring penuh arti, "Ayok, gue kasih kalo perlu sampe lo puas!"
Zia menatap Heaven curiga, senyum miring itu membuatnya tiba-tiba bergidik ngeri. "Maksudnya apa?" tanyanya tidak paham.
"Banyak nanya! Buruan makan, abis itu belajar!"
*********
"Belajar Na, belajar. Jangan main sama Jaka mulu! Ada PR nggak buat besok?"
Heaven kini menggeser duduknya, masih menatap kesal Jaka yang sejak tadi terus berada di pangkuan Zia. Musuh terbesarnya itu terus saja menduselkan kepalanya pada Zia, membuat Heaven sedikit geram. Menyebalkan sekali bukan? Apa lagi wajah songong Jaka selalu menunjukkan permusuhan ketika melihat ke arah Heaven.
__ADS_1
"Kak Heaven kenapa sih gitu banget liatnya?" protes Zia kesal.
"Muka Joko jelek, nggak ada ramah-ramahnya buat dilihat!" celetuk Heaven asal.
"Jelek?" Zia menatap Heaven kesal, "Nggak salah denger gue, kucing lucu begini dibilang jelek?"
"Lucu apaan, muka spek sendal jepit bolong lo bilang lucu!" cibir Heaven sekenanya.
"Kak, serius deh. Mending lo pulang sekarang, berisik tau!" Zia mencebikan bibir bawahnya, kesal dengan Heaven yang selalu memusuhi Jaka.
"Lo ngusir gue?" tanya Heaven kesal.
"Siapa suruh nyebelin! Udah dibilangin jangan berantem, masih aja berantem. Dibilangin jangan peluk-peluk, masih aja peluk kenceng-kenceng. Kapan sih Kak Heaven mau dengerin gue sekali aja?"
Mendengar ocehan gadis itu, Heaven langsung mencomot bibirnya yang sedikit di manyunkan ke depan. "Diem, bisa diem nggak? Banyak omong banget jadi cewek!"
"Buruan ambil tas lo, ada PR nggak buat besok?" lanjutnya bertanya.
"Nggak mau, nggak ada!" jawab Zia asal.
Gadis itu memang sedang sangat malas untuk belajar, setidaknya hal ini ia lakukan sebagai bentuk kekesalannya pada keluarga terutama Daddy-nya. Keluarga yang katanya akan datang menjenguk, justru sampai sekarang belum ada yang datang. Dan itu sangat membuat Zia kesal hingga malas melakukan apapun.
"Ck gue serius Na, buruan ambil tas lo. Lo mau besok dihukum lagi kayak tadi siang?" tanya Heaven yang kini sedikit kesal.
Melihat Heaven mulai menunjukkan raut wajah kesalnya, mau tidak mau Zia akhirnya menurut. Ia beranjak pergi menuju kamar, lalu kembali sambil membawa tas miliknya.
"Nih!" kata Zia sambil menyerahkan tasnya.
"Kenapa dikasih gue?" tanya Heaven bingung.
"Kak Heaven yang ngerjain!" ucap Zia sambil menyengir lebar.
Heaven memasang wajah cengo, bagaimana bisa gadis itu menyuruhnya mengerjakan tugas sekolahnya. "Nggak bisa dong, Anna. Ini kan tugas sekolah lo!"
"Sekali-kali nggak papa kali!" jawab Zia mendengus. Namun akhirnya memilih mendekat, meski masih sedikit malas untuk belajar.
"Sinian duduknya!" suruh Heaven menarik Zia agar duduk lebih dekat.
Zia menggeser posisi duduknya, menghadap Heaven dengan kedua kaki terlipat. Cowok itu kini tengah membuka satu persatu buku milik Zia, sementara gadis itu malah sibuk menikmati wajah serius Heaven dari samping. Beberapa kali senyum tipis tersungging di bibirnya, menikmati wajah tampan itu tanpa berkedip.
🎀🎀🎀
__ADS_1
Hai pren! Maaf ya dari kemaren othor updatenya nggak beraturan, kadang siang kadang sore kadang pagi. Mohon dimaklumi ya, othor juga punya kesibukan 😅. Tapi othor usahakan akan terus update setiap hari, jangan bosen-bosen ya sama ceritanya 😘
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...