Heavanna

Heavanna
25. MENGEJAR SESEORANG


__ADS_3

"Buruan Nda, lama lo!" Zia berjalan dengan terburu-buru, melewati koridor dengan tangan yang masih menarik Handa agar bisa berjalan lebih cepat.


"Sabar kali Zi, ini gue belum selesai nutup tasnya. Lo kenapa sih buru-buru banget mau pulang?" Handa berusaha berjalan menyamai langkah gadis yang masih menarik tangannya, sembari berusaha memakai tasnya yang sudah tertutup dengan sempurna.


"Lo nggak denger tadi Kak Heaven mau nganterin gue pulang, gue nggak mau pulang sama dia!" Zia mengerucutkan bibirnya, mengingat saat istirahat tadi Heaven memaksa untuk mengantarkan pulang dirinya. Jelas saja Zia tidak mau, maka dari itu ia buru-buru keluar dari kelas setelah menemani Handa menyelesaikan tugas dari guru.


"Iya iya gue tahu kok!"


Sampai mereka di depan gerbang sekolah, ternyata mobil yang menjemput Zia belum sampai. Di sana hanya terlihat mobil Handa yang sudah terparkir di pinggir jalan. Zia mengedarkan pandangannya ke arah jalan, siapa tahu mobil yang menjemputnya sudah terlihat dari jauh. Namun ternyata nihil, yang ada hanya mobil orang lain yang datang hanya sekedar melintas.


"Yah mobil gue belum sampe lagi, gimana dong?" ucap Zia sedikit ketar ketir. Jangan sampai Heaven melihat dirinya yang sedang berusaha kabur bersama Handa sekarang, bisa ribet urusannya nanti.


"Ya udah lo naik mobil gue aja, pulang bareng gue!" saran Handa.


"Terus Pak Didin gimana dong? Kayaknya bentar lagi mau nyampe!" ujar Zia.


Gadis itu tidak ingin meninggalkan Pak Didin, merasa tidak enak saja karena sudah meminta supirnya untuk datang lebih cepat. Zia tahu sebelumnya Pak Didin sempat terkena macet di jalan, karena itu ia tidak ingin menyia-nyiakan usaha Pak Didin yang sudah berusaha memenuhi perintahnya.


"Terus lo maunya gimana?" tanya Handa yang sebenarnya juga sedang terburu-buru.


"Eum ya udah deh, lo pulang duluan aja. Paling bentar lagi Pak Didin juga nyampe, ntar gue ngumpet dulu di mana kek, biar nggak ketahuan sama Kak Heaven!" ucap Zia setelah memikirkannya dengan matang.


"Ya udah kalo gitu mau lo. Sorry ya gue balik duluan, Ayah sama Bunda udah pulang soalnya! Gue kangen!" pamit Handa sebelum masuk ke dalam mobil.


Zia mengangguk mengiyakan. "Titip salam buat Tante Fey! Kapan-kapan gue main ke rumah!" ucapnya.


"Iya lo hati-hati ya, kayaknya sekolah udah sepi! Icha juga udah pulang duluan tadi. Paling bentar lagi itu si Agam juga pergi!" Handa melirik ke tempat parkir, dimana Agam masih duduk di atas motor sambil bermain ponsel.


"Tenang aja, gue nggak papa kok!"


"Ok! Udah ya, gue duluan. Bye!" Mobil yang di tumpangi Handa mulai melaju meninggalkan area depan sekolah.


Zia masih berdiri di tempatnya dengan pandangan melihat ke sekeliling, hingga sebuah mobil melintas berhasil menarik perhatiannya. Kaca mobil yang terbuka lebar membuat Zia bisa leluasa melihat ke dalam mobil berwarna putih itu. Orang di dalam mobil itu serasa tidak asing baginya, tidak lama berfikir akhirnya Zia menemukan jawabannya. Terlihat dari belakang, sepertinya mobil itu sedang mengikuti mobil Handa.


Zia yang mulai sedikit panik tanpa sadar menggigit jarinya, dan mulai berpikir cepat. Ia takut akan terjadi sesuatu pada Handa jika tidak segera mengejarnya, tapi kalau menunggu supir datang pasti akan terlalu lama. Zia harus segera memastikan kalau tebakannya itu tidaklah benar. Tidak ingin mengambil resiko, dengan cepat Zia berlari menuju parkiran di mana Agam masih berada di sana.


Agam mengernyit melihat kedatangan Zia yang terburu-buru, dari raut wajahnya terlihat cewek itu sedang sangat panik. "Kenapa lo?" tanyanya.


"Kak bantuin gue ya, please!" pinta Zia dengan wajah panik.


"Kenapa?" Bukan Agam yang bertanya, melainkan Heaven yang memang baru sampai di parkiran.


"Bantuin gue! Ntar gue jelasin!" Tanpa basa-basi, Zia langsung mendorong Heaven untuk menaiki motor. Heaven yang bingung hanya menuruti keinginannya, meski sebenarnya sedang kesal karena Zia tidak ditemukan di dalam kelas, hingga membuatnya harus mencari ke beberapa tempat tadi.


"Pake helm dulu!" Heaven menyerahkan helm nya, tidak ingin mengambil resiko dengan membiarkan Zia berkendara tanpa helm.


"Udah lo aja yang pake! Cepet ikuti mobil warna putih di depan!" ucap Zia dengan terburu-buru.

__ADS_1


Mendapat penolakan itu, Heaven masih tetap menyodorkan helm full face itu pada Zia. Heaven tidak akan tenang jika membiarkan Zia berkendara tanpa pelindung kepala, karena ia sendiri tahu seberapa bahayanya. Terserah jika Zia ingin kesal, Heaven tidak akan melajukan motornya jika gadis itu tidak mau memakai helm. Tanpa ingin berdebat Zia langsung mengambil helm itu, saat ini keselamatan Handa jauh lebih penting daripada meladeni cowok keras kepala bin menyebalkan yang duduk di depannya itu.


Setelah memastikan Zia memakai helm dengan benar, Heaven langsung tancap gas keluar area sekolah yang sudah sepi itu. Agam yang penasaran pun mengikuti sahabatnya dari belakang, karena curiga ada sesuatu yang tidak beres. Paling tidak ia akan berguna jika orang yang akan dikejar ini adalah orang jahat.


"Yang mana mobilnya?" teriak Heaven sembari fokus dengan setirnya.


Zia meneliti ke depan mencari keberadaan mobil yang dilihatnya tadi. Banyaknya mobil yang melintas membuatnya sedikit kesulitan mencari. Untung saja Zia sebelumnya sempat membaca plat nomor mobil putih itu. Zia masih melihat nomor mobil putih yang melintas satu persatu, tapi tetap saja belum menemukan mobil yang di maksud.


"Nggak keliatan mobilnya, didepan coba belok kanan ya! Gue harus pastiin sesuatu!" Karena tidak kunjung ketemu, Zia memutuskan untuk mengikuti arah jalan menuju rumah Handa. Jika orang itu memang mengikuti mobil Handa, pasti ia akan segera menemukannya di sekitar sana.


Melihat ada perempatan jalan, Heaven membelokkan motornya ke arah kanan seperti yang di inginkan Zia. Dan benar saja, beberapa saat setelah Heaven membelokkan motor, Zia dapat melihat mobil yang melintas tadi sedang berjalan dengan kecepatan sedang di depan sana.


"Itu, itu mobilnya! Kita ikuti aja dari belakang!" Zia menunjuk mobil pajero putih di depan, sambil memperingatkan Heaven untuk mengikuti mobil itu dengan hati-hati agar tidak ketahuan.


"Pegangan yang bener!" Heaven membenarkan pegangan Zia, menambah kecepatan saat menyadari mobil itu tiba-tiba melaju dengan kecepatan tinggi.


Heaven sangat penasaran, siapa yang ada dalam mobil itu hingga membuat Zia sepanik itu. Apalagi tiba-tiba mobil melaju dengan kecepatan tinggi. Sepertinya mereka sudah sadar sedang di ikuti olehnya. Lama saling berkejaran, Heaven menghentikan motornya setelah menyadari dirinya telah kehilangan jejak mobil itu.


"Cepet banget ilangnya!" ucap Heaven setelah menepikan motornya di pinggir jalanan sepi itu.


Tidak banyak kendaraan yang melintas di sana, namun ada beberapa orang yang terlihat sedang memancing ikan di pinggir danau sebelah kiri jalan. Heaven pun sedikit heran, bagaimana bisa ia kehilangan jejak sementara kondisi jalanan di sekitar tempat itu sangat tidak memungkinkan untuk menghindar apalagi bersembunyi. Sepertinya pemilik mobil itu memang sudah hafal dengan tempat-tempat di sekitar danau itu.


"Argh... kemana mobilnya?" gerutu Zia mengacak rambut. Ia mengedarkan pandangan mencari mobil yang tiba-tiba menghilang tadi, siapa tahu masih berada di sekitar sana.


"Emang siapa sih mereka, kok lo panik banget?" tanya Agam yang juga menghentikan motornya di samping motor Heaven.


"Mereka-" Ucapan Zia terhenti, saat tiba-tiba ponselnya bergetar di dalam saku.


"Siapa?" tanya Heaven melihat raut wajah Zia yang berubah setelah melihat ponsel.


"Halo Nda?" ucap Zia tanpa menjawab pertanyaan Heaven.


"Lo lagi sama siapa?" tanya Handa yang sempat mendengar suara seorang cowok tadi.


"Kak Heaven sama Kak Agam, kenapa?"


"Zia, tolongin gue hiks...." Entah apa yang telah terjadi, secara tiba-tiba Handa menangis di seberang telepon.


"Lo kenapa? Ngomong yang bener!" Zia yang mendengar tangisan itu sontak semakin panik, mengira telah terjadi sesuatu pada sepupunya.


"Mobil gue nabrak pohon hiks!"


"Hah! kok bisa?"


"Gue nggak tahu Zi, kepala gue pusing! Cepetan ke sini, gue takut!"


"Gue udah deket rumah lo, lo dimana sekarang?"

__ADS_1


"Gue nggak tahu ini di mana!"


Zia menepuk jidatnya, kenapa setiap kali panik pasti otak Handa tidak akan berjalan dengan baik. "Aduh Handa, coba lo tanya sama supir lo!" saran Zia.


"Nggak bisa Zi, Mang Ujang pingsan! Darahnya banyak!"


"Hah Mang Ujang pingsan? Darahnya banyak?"


Zia semakin panik sendiri, membayangkan bagaimana keadaan Handa sekarang. Tidak, itu tidak boleh terjadi, Zia akan merasa sangat bersalah jika sesuatu terjadi pada Handa karena orang yang ia ikuti tadi. Heaven dan Agam yang mendengarnya pun ikut terkejut, dan mulai menduga-duga apa yang sedang terjadi pada Handa.


"Tenang-tenang, lo sharelock tempat lo sekarang!"


*********


Setelah beberapa menit berlalu, Zia, Heaven dan Agam baru sampai di tempat Handa berada. Bersamaan dengan itu, ambulance yang sudah Zia panggil sebelumnya juga datang. Ternyata tempat Handa kecelakaan sangat jauh dari jalan menuju rumah, sudah pasti semua ini sudah di rencanakan sebelumnya. Zia berlari mendekati mobil Handa, melewati kerumunan orang yang sudah berkumpul di sana.


"Handa lo nggak papa?"


Zia meneliti seluruh tubuh Handa, lalu memeluknya dengan erat kemudian menghela nafas lega. Bersyukur luka yang didapat Handa tidak terlalu berat, hanya ada benjolan di kening, sikunya sedikit berdarah, buku-buku jarinya yang sedikit lebam dan ada sedikit bercak darah di sana.


"Gue nggak papa, tapi Mang Ujang...."


Handa menatap kasihan Mang Ujang yang sedang tidak sadarkan diri karena bagian kepalanya yang terbentur hingga mengeluarkan banyak darah. Para petugas sedang memasukkan pria paruh baya itu ke dalam ambulance untuk segera dibawa ke rumah sakit.


"Udah nggak papa, kita ke rumah sakit sekarang. Gue takut lo kenapa-napa!" ajak Zia yang masih sangat khawatir.


"Nggak perlu Zi, gue nggak papa kok. Cuma luka kecil doang!" Handa menunjuk keningnya yang benjol dan sikunya yang sedikit tergores, lalu menghapus air mata yang masih membasahi wajahnya.


"Nda, lo harus ke rumah sakit. Gue takut lo kenapa napa!" bujuk Zia lagi.


"Bener kata Zia, lo abis kecelakaan. Mobil lo aja sampai ringsek gitu!" sahut Agam yang juga khawatir. Meski cowok itu sedikit heran kenapa Handa terlihat baik-baik saja, sementara supirnya mengalami luka yang cukup parah.


"Gue nggak pengen buat Bunda khawatir! Kalo gue ke rumah sakit atau pulang ke rumah sekarang pasti Bunda bakal tahu!" ucap Handa dengan wajah memelas.


Bagaimana Bunda tidak tahu kalau rumah sakitnya saja milik keluarga Zielinski. Inilah salah satu hal yang harus Handa waspadai karena menjadi keturunan keluarga Zielinski. Mereka pasti tidak akan membiarkannya hidup bebas, tanpa pengawasan dan pengawalan yang ketat.


"Kalian berdua ikut kita aja!" ucap Heaven memberikan saran.


"Ke mana?" tanya Zia dan Handa bersamaan


"Udah ikut aja!" sahut Agam yang tahu maksud Heaven.


"Tapi gue bilang apa ke Bunda?" tanya Handa bingung.


"Lo bilang aja lagi kerja kelompok!" saran Zia agar Handa tenang.


Padahal percuma saja, Zia yakin Tante Fey sudah tahu kejadian yang menimpa Handa saat ini. Hanya Handa nya saja yang tidak tahu kalau setiap hari selalu dipantau oleh pengawal suruhan Daddy Zion. Setahu Zia, seluruh anggota keluarganya tidak akan ada yang lepas dari pengawasan Daddy Zion setiap harinya.

__ADS_1


*********


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2