
"Ngapain lo senyum-senyum sendiri?"
Azka berjalan melewati Zia dan Satya yang sedang duduk santai di ruang tengah, sambil menatap ponsel. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Azka mendudukkan diri di sofa sebelah. Sebuah ide jahat terlintas di pikirannya. Tanpa basa-basi, ia langsung melempar bantal sofa ke arah Zia berada.
Buk
Zia yang masih fokus pada ponselnya seketika terkejut, tiba-tiba sebuah bantal mendarat tepat di wajahnya. Hal itu membuat ponsel di tangannya seketika terjatuh ke lantai. Gadis itu melongo, menoleh tajam pada Azka yang tengah tertawa tanpa dosa.
"AZKA! LO BISA NGGAK SIH, SEHARI AJA JANGAN GANGGUIN GUE!" bentak Zia.
"Enggak!"
Zia mengepalkan tangannya menahan kesal. Selalu saja, tiada hari tanpa Azka yang usil. Sejak kecil Azka memang selalu mengganggunya, tidak seperti adik bungsunya yang pendiam sedang duduk di sampingnya.
"Resek banget sih jadi manusia!" kesal Zia.
"Lagian lo aneh, senyum-senyum sendiri. Ditanya diem aja, gue kan jadi merinding. Siapa tau aja lo kesurupan gayung nenek," ucap Azka asal.
"Nenek gayung! Itu bukan karena nenek gayung, Kak Azka nggak tau ya? Kak Zia itu kena virus cinta, virus bucin sama ...." Azka mengetukkan jari telunjuknya pada dagu seraya berpikir. "Sama ... siapa ya namanya, Malaikat?"
"Malaikat ppfftttt ...." Azka menahan tawanya, ia cukup mengerti siapa yang sedang dimaksud oleh Satya. "Jauh banget anjir, malaikat. Lo pikir malaikat maut?"
"Lupa namanya, cowok yang tadi nganterin Kak Zia sama Mommy itu?" ucap Satya semi bertanya.
"Heaven, namanya Kak Heaven!" jawab Zia. Memang setelah selesai belanja tadi, Heaven sendiri yang mengantarkan Zia dan Mommy nya ke mansion. Namun, cowok itu tidak bisa singgah barang sejenak karena waktu sudah semakin malam.
"Nah itu! Kak Heaven, dari tadi Mommy ngomongin dia mulu. Sampai bosen sendiri dengernya!"
Satya mendengus, mengingat sejak pulang belanja Mommy terus saja membicarakan Heaven. Entah ramuan apa yang diberikan oleh Heaven, sehingga membuat Mommy Shina begitu menyukainya. Bahkan Daddy Zion pun ikutan kesal akan hal itu, istrinya sudah terlalu banyak memuji Heaven di hadapannya.
"Emang Mommy ngomongin apa?" tanya Azka penasaran. Ia memang tidak tahu menahu soal itu, karena sejak tadi ia terus berada di dalam kamar.
"Katanya Kak Heaven anaknya baik, pinter, ganteng, sopan, lucu dan ... ah pokoknya banyak deh. Kak Azka aja sampe dibanding-bandingin sama Kak Heaven, katanya Kak Azka nggak pekaan nggak kayak Kak Heaven!" ucap Satya menggebu. Zia hanya diam, berusaha menahan tawanya. Saat ini Satya hanya sedang melebih-lebihkan saja, karena sebenarnya Mommy tidak sampai membandingkan anaknya sendiri dengan Heaven tadi.
"Masa sih, boong lo ya?" tanya Azka kurang percaya. Sudah tujuh belas tahun lebih dirinya tinggal besama Mommy, tentu saja ia cukup tahu bagaimana sifat Mommynya.
"Ck nggak percayaan banget sih!" kata Satya.
"Nggak percaya lah, mana ada Mommy kayak gitu!" sangkal Azka. "Lo nya aja yang nambah-nambahin!"
"Nggak nambah-nambahin Ka, cuma melebih-lebihkan!" koreksi Zia.
"Sama aja!"
"Na, besok lo berangkat sama gue ya!" Azka menendang-nendang kaki Zia, sambil menaik turunkan alisnya.
"Ngapain gue berangkat sama lo, emang lo mau sekolah di sana?" tanya Zia sembari menggeser kakinya.
"Belum tau juga sih, biar gue ada alesan aja gitu buat ketemu Rexie!" Azka kembali menendang-nendang kecil kaki Zia.
"Lo bego atau gimana sih, cuma mau ketemu Rexie aja pake alasan bawa-bawa gue!" ujar Zia sambil menggeleng.
"Ck kok lo jadi nyolot sih!" dengus Azka. "Gue kan cuma mau ketemu tunangan gue, apa salahnya?"
Mendengar jawaban itu, Zia seketika melongo tidak habis pikir. "Satya, lo punya alat kejut listrik nggak?"
"Ya nggak lah, buat apa emangnya?"
__ADS_1
"Gue pengen bereksperimen, siapa tau Kakak lo yang bego itu bisa sedikit lebih pinter!" jawab Zia masih tidak habis pikir.
"Anjir lo mau nyetrum gue?" tanya Azka nyolot.
"Abisnya lo bego! Kalo mau ketemu Rexie, lo tinggal jemput aja anjay. Dia itu tunangan lo! Ngapain repot-repot pake mau nganterin gue segala kalo cuma mau liat dia! Ah jadi kesel gue," kata Zia dengan kesalnya.
"Kak, sabar Kak sabar!" Satya mengelus bahu Zia, baru kali ini ia mendengar Kakak perempuannya itu mengatakan kata-kata kasar. Padahal dulu Zia selalu menjaga kata-katanya, tidak seperti sekarang.
"Lo kok nyolot sih! Makanya dengerin dulu penjelasan gue, jangan langsung marah-marah dulu!" balas Azka. "Gue itu lagi berantem sama Rexie, dia lagi marah sama gue! Makanya gue mau nganterin lo biar bisa liat dia di sekolah!" lanjutnya.
"Tuh kan Sat, Kakak lo begonya nggak ketulungan?" Zia menatap Satya dengan wajah syoknya, begitu juga dengan Satya yang kini hanya mampu menggelengkan kepala.
"Kenapa lo berdua malah jadi ngatain gue?"
"Itu karena emang lo bego!" jawab Zia dan Satya bersamaan.
"Eh ada apa ini, kenapa ribut-ribut?" Dari kejauhan terlihat Mommy Shina datang bersama Daddy Zion. Sesampainya di dekat sofa, keduanya menatap anak-anaknya dengan raut penasaran.
"Ini Mom, Azka aneh banget. Masa eumph---"
Belum sempat Zia menyelesaikan ucapannya, Azka sudah lebih dulu membekap mulut gadis itu. Jika Mommy sampai tahu kalau saat ini Rexie sedang marah padanya, bisa makin runyam urusannya. Kemarahan Rexie saja sudah membuat hidupnya susah, apalagi ditambah dengan kemarahan Mommy Shina. Mommy nya itu memang begitu menyayangi Rexie, bahkan pertunangan ini terjadi pun atas keinginan Mommy.
"Bukan apa-apa kok Mom, biasalah kita cuma lagi bercanda!" kata Azka masih membekap mulut Zia.
"Boong Mom, tadi kata Kak ...."
"Heh, mau ngomong apa lo?" Azka mendelik pada Satya. Di saat yang bersamaan, Zia mengambil kesempatan membuka bekapan tangan di mulutnya.
"Kalian kenapa?" tanya Daddy Zion yang mulai curiga terhadap anak-anaknya.
"Itu Dad, Azka udah bikin Rexie marah. Tapi dia masa diem diem aja, nggak ada effort buat minta maaf atau ngapain gitu," ucap Zia dengan cepat.
"Azka!" panggil Mommy dengan penuh penekanan.
"Mom, aku ...." Azka tidak mampu melanjutkan kata-katanya, karena memang semua ini adalah kesalahannya.
"Jadi benar kamu udah bikin Rexie marah?" tanya Mommy Shina. Azka hanya mampu mengangguk lemah.
"Dan kamu cuma diem aja di sini?" tanya Mommy dengan wajah datarnya.
Azka melirik kesal pada Zia, dan langsung dibalas dengan juluran lidah dari gadis itu. "Nomor aku di block!" jawabnya lirih.
"Apa? di block?" Mommy Shina terkejut, sebegitu parah kah sampai Rexie memblokir nomor Azka. "Pantas saja dia tidak mau datang ke sini!"
"Tapi Mom, aku ---"
"Tapi apa heh? Mommy kan udah bilang sama kamu, jagain Rexie. Tapi kamu selalu saja bikin dia kecewa, kamu lupa sama janji kamu?" omel Mommy marah.
"Nggak lupa Mom."
"Terus ngapain kamu masih di sini?"
"Emangnya aku harus ngapain?" tanya Azka bingung.
"Astaga Zian Azka ...! Setidaknya kamu ngapain kek, nomor di rumah ini itu banyak. Telfon dan bujuk Rexie pake nomor lain, dia itu udah nggak punya siapa-siapa lagi selain kita di sini. Tapi kamu malah ...." Mommy tidak melanjutkan kata-katanya, masih tidak habis pikir dengan putranya itu.
"Mommy bukannya mau marahin kamu, Mommy tahu pertengkaran itu biasa dalam sebuah hubungan. Tapi bukan berarti setelah pertengkaran kalian malah saling egois seperti ini, setidaknya cari letak kesalahannya. Kalo memang kamu salah, cobalah bujuk Rexie, bukan malah diem aja kayak gini. Tapi kalo memang Rexie yang salah, kamu coba bicarakan semuanya baik-baik. Ingat! Kedepannya kamu bakal menjadi kepala keluarga, kalo kamu terus seperti ini, mau jadi seperti apa keluarga kamu nantinya!" ucap Mommy Shina menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Iya Mom, iya!"
"Gue bilang juga apa? Makanya jangan egois, maunya menang sendiri! Giliran di marahin balik nggak bisa apa-apa, cemen!" ucap Zia mengejek.
"Berisik lo," ucap Azka kesal. Jika Zia tidak mengatakan masalahnya tadi, ia tidak akan mungkin mendapat omelan panjang lebar dari Mommynya sekarang.
"Yee dikasih tau juga!"
"Tau apa lo soal Rexie?" Azka beranjak dari duduknya. Mommy baru saja meminjamkan ponselnya untuk segera menghubungi Rexie agar masalah cepat selesai.
"Ya tau lah, dia sama gue kan sama-sama cewek. Kalo cewek marah itu dibujuk, bukan malah dibiarin aja. Nggak peka banget sih jadi cowok!" ucap Zia menjelaskan.
"Berisik!"
Azka dengan cepat mengambil bantal sofa, lalu melemparkannya ke arah Zia. Hebatnya, lagi dan lagi bidikannya tepat mengenai sasaran. Azka masih kesal dengan Zia yang terlalu banyak bicara, dan menghakimi dirinya.
"Mampus!" Azka terkekeh, kemudian berlari pergi meninggalkan ruang tengah sebelum Zia dan yang lainnya memarahi dirinya lagi.
Zia tercengang ketika tiba-tiba sebuah bantal kembali mendarat di wajahnya. "AZKA SIALAN! NGGAK ADA ADABNYA LO JADI ADEK, AARRGGGHHH!" teriaknya kesal.
Daddy yang melihat hal itu segera mendekati Zia, lalu mengelus punggungnya mencoba menenangkan. "Sudah sayang, sudah. Jangan marah-marah lagi ya!"
"Dad!" Zia merengek sambil menunjuk wajahnya.
"Sudah-sudah, nggak papa sayang. Nggak sakit kan?" tanya Daddy sambil mengusap wajah Zia.
Zia menggelengkan kepalanya. "Nggak papa Dad!" jawabnya.
"MANJA BANGET SIH JADI CEWEK!" teriak Azka dari kejauhan.
"Dad ...." Zia mencebikan bibir bawahnya mendengar sindiran Azka, tangannya menunjuk ke arah cowok itu pergi.
"Udah biarin aja, jangan didengerin. Anggap aja angin lalu, ok?" Zia menganggukkan kepalanya.
"Ya udah, sekarang tidur ya. Udah malem, besok sekolah! Kamu juga tidur Satya, udah malem!" titah Daddy Zion.
Zia dan Satya menganggukkan kepalanya. "Ya udah Mom Dad, kita ke kamar dulu ya!" pamit Zia.
Mommy dan Daddy menganggukkan kepalanya. Zia melangkahkan kaki meninggalkan ruang tengah, begitu juga dengan Satya yang sudah berjalan lebih dulu. Zia berjalan santai menuju tangga. Namun secara tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, kemudian berbalik badan melihat ke arah Mommy dan Daddy sambil tersenyum penuh arti.
"MOMMY SAMA DADDY JANGAN BIKIN ADEK LAGI YA, APALAGI YANG MODELNYA KAYAK AZKA!" teriak Zia.
Gadis itu langsung berlari menaiki tangga menuju kamarnya, sambil tertawa puas. Ia sengaja meninggikan suaranya agar Azka bisa mendengar ucapannya tadi. Hal itu tentu membuat Mommy dan Daddy tercengang mendengar ucapannya.
"Kamu mau bikin adek lagi?" tanya Daddy Zion tersenyum mesum.
"Kamu apa-apaan sih sayang!" jawab Mommy Shina tersenyum malu.
🎀🎀🎀
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu yuk ke karya keren di bawah ini.
Judul : Falling Into Your Trap
Napen : Chocooya
Seumur-umur dalam hidupnya, Lisa tidak akan menyangka bahwa dirinya akan dijodohkan oleh keluarganya sendiri, terlebih lagi oleh sang Kakak yang keberadaannya selalu ia sayangi dan kagumi. Tidak pernah dalam bayangan tergila nya bahwa pernikahan paksa akan menjadi salah satu moment hidupnya dan jalan kisah cintanya. Nalisa Rembulan Cakra Wijaya selalu menginginkan cerita layaknya dalam kisah novel romansa yang selalu dibacanya. Seseorang yang ditakdirkan khusus untuknya dalam pertemuan tiba-tiba yang romantis sehingga setidaknya dia bisa menceritakan kisah manis ini pada buah hatinya suatu hari kelak. Bukan ini, bukan perjodohan dengan seorang lelaki maniak aneh yang mengatakan bahwa Lisa adalah cinta pertamanya. Lelaki bernama Noren Agustion Giovano ini sungguh menguji dirinya sendiri.
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...