Heavanna

Heavanna
125. HANYA JEBAKAN


__ADS_3

Heaven menghentikan mobilnya di pinggir jalanan yang cukup sepi itu, terlihat Gala dan beberapa teman lainnya sedang membantu salah satu temannya yang sedang terluka. Sekitar beberapa menit yang lalu geng musuh baru saja menyerang mereka, namun sayangnya Heaven terlambat datang. Karena baru mendapatkan informasi setelah penyerangan terjadi.


Dari dalam mobil, Heaven, Nanda dan Agam langsung keluar untuk memastikan keadaan dua sahabatnya. Seketika Gala justru terkejut melihat kedatangan Heaven, itu tandanya ia tidak sedang bersama Zia saat ini.


"Lo ngapain ke sini Heav?" tanya Gala sambil menuntun sahabatnya yang terluka.


"Ngapain? Bantuin lo lah! Kemana mereka semua?" tanya Heaven melihat tidak ada geng Gorized di sana.


"Ini jebakan bego, mereka mau nangkep Zia! Mereka sengaja mancing lo ke sini biar bisa bawa Zia pergi, dan lo berhasil masuk ke jebakan mereka!"


Heaven seketika terdiam. "Maksud lo?" Masih mencerna setiap kata yang diucapkan Gala.


"Mereka mau nangkep Zia, biar bisa ngancem lo bego!" Gala semakin tidak habis pikir, bisa-bisanya Heaven malah datang ke sini dan meninggalkan Zia seorang diri.


"Jadi ini jebakan?" tanya Heaven. Gala mengangguk mengiyakan.


"Shitthhh...." Heaven mengumpat, kemudian berlari kembali memasuki mobil. Tidak peduli dengan para sahabatnya, dengan kecepatan penuh ia mengendarai mobilnya menuju sekolah.


Please, jangan ke mana-mana Na!"


********


Lima belas menit berlalu, Heaven sudah sampai di area sekolah. Sayangnya sudah tidak ada siapapun di sana, gerbang sekolah bahkan sudah ditutup. Heaven membuka ponselnya, terlihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari gadis itu.


Ke mana lo, Na?


Heaven mengacak rambutnya frustasi, Zia tidak ada dalam jangkauannya saat ini. Ia mencoba menelepon nomor gadis itu, namun tidak ada jawaban sama sekali. Hingga beberapa menit berlalu, ponselnya tiba-tiba bergetar pertanda adanya pesan masuk.


Zianna Azkia Dateng ke sini sekarang kalo lo mau cewek lo selamat! Cuma lo, karena gue nggak akan segan lukain cewek lo kalo sampe lo bawa temen-temen lo.


Heaven mencengkeram erat ponselnya, di dalam pesan itu terdapat foto Zia yang tengah berada dalam ikatan. Sepertinya gadis itu masih berada dalam kondisi tidak sadarkan diri, matanya tertutup oleh kain berwarna hijau. Tanpa pikir panjang, Heaven langsung menuju ke lokasi yang sudah dikirimkan oleh musuhnya.


Heaven Arsenio Kalo sampe cewek gue kenapa-kenapa, jangan harap lo semua bakal selamat!


Heaven mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Ia sudah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar, saat ini keselamatan Zia jauh lebih penting baginya. Sesuai permintaan para musuhnya, Heaven tidak mengatakan apapun pada para sahabatnya. Ia tidak ingin mengambil risiko yang bisa saja membahayakan gadis itu.


Dua puluh menit berlalu, Heaven sudah sampai di sebuah gedung kosong. Dari halaman depan, terlihat gedung itu sangat tidak terawat. Heaven tidak memedulikan hal itu, ia segera masuk ke dalam untuk memastikan keadaan Zia saat ini.


"KELUAR LO SEMUA BANGSAT!" teriak Heaven ketika sampai di dalam gedung.


Tidak berselang lama, terlihat beberapa anak Gorized muncul satu persatu. Pandangan Heaven terpusat pada Hugo yang tengah membawa Zia yang ternyata sekarang sudah sadarkan diri. Namun gadis itu tidak bisa melihat keadaan sekitar, karena kedua matanya masih tertutup oleh kain.


"Anna!" Heaven hendak menghampiri gadis itu, namun sebuah pisau lipat yang diletakkan di depan leher gadis itu seketika menghentikan langkahnya.


"Lepasin cewek gue bangsat, dia nggak tau apa-apa!" Heaven menggeram, tangannya terkepal menahan amarah luar biasa dalam dadanya.


"Kak Heaven?" ucap Zia mendengar suara cowok itu. "Kak, jangan ke sini. Kak Heaven buruan pergi dari sini, mereka mau celakain lo!"


Zia mulai memberontak, menyadari sudah ada Heaven di sekitar sana. Sebelumnya, ia memang sempat mendengar percakapan para cowok yang telah menculiknya. Mereka memang sengaja membawa dirinya ke tempat ini agar bisa menjebak Heaven.


"Diem sialan, ini urusan cowok!" Hugo semakin menempelkan pisaunya pada leher Zia, membuat gadis itu terdiam seketika, karena merasakan perih di lehernya.


"JANGAN SENTUH DIA, BANGSAT!" teriak Heaven tidak terima melihat sedikit darah yang keluar di leher gadis itu.


Hugo menarik kembali pisaunya, menoleh lalu tersenyum miring pada Heaven. "Kenapa? Lo takut dia kenapa-kenapa?"


"Lalu apa kabar adik gue yang udah lo bikin koma sampai sekarang hah? Bukannya ini pembalasan yang setimpal?" Hugo kembali mendekatkan pisaunya, seraya mengancam.


"Gue udah bilang sama lo, kalo bukan gue yang udah bikin adek lo koma!" ucap Heaven masih menahan geram.


"Mana ada maling yang mau ngaku? Seandainya bukan lo, terus siapa lagi? Selama ini cuma lo yang selalu memandang gue musuh, bahkan dari awal kita ketemu!"


Heaven terdiam. Percuma juga ia menjelaskan panjang lebar pada cowok itu, sementara tidak ada satupun bukti yang bisa menguatkan bantahannya. Apalagi tampaknya Hugo sudah gelap mata terhadap semua masalah yang ia hadapi saat ini.

__ADS_1


"Lo nggak bisa jawab kan!" ucap Hugo lagi.


"Lepasin Zia, dia nggak tau apa-apa tentang ini!" ucap Heaven merendahkan suaranya.


"Nggak semudah itu, sebelum lo akuin semua perbuatan lo!"


"Apa yang musti gue akuin sialan, gue nggak tahu-menahu tentang apa yang terjadi sama adek lo!" geram Heaven.


"Sekarang emang lo nggak tau, tapi beberapa detik lagi lo pasti bakal tau apa yang udah lo lakuin ke adik gue!" ucap Hugo tersenyum miring. Heaven mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan ucapan Hugo.


"Jangan! Kak mending lo pergi dari sini sekarang. Please, jangan diem aja pergi buruan!" teriak Zia yang sudah tahu rencana Hugo sebelumnya.


Hugo tidak peduli dengan ucapan Zia, ia melirik semua sahabatnya di sana sambil memberikan isyarat. "Habisin dia!" titahnya.


Seketika sepuluh orang cowok kini berdiri mengelilingi Heaven. Tanpa menunggu lama, satu persatu dari mereka mulai menyerang cowok itu. Awalnya Heaven memang bisa melawan beberapa di antaranya, namun lama kelamaan Heaven mulai terpojok. Jumlah musuhnya begitu banyak hingga membuatnya kesulitan menyerang.


Hingga beberapa menit berlalu, Heaven mulai kesulitan menghalau serangan mereka. Sebuah tendangan mendarat di perut cowok itu, membuatnya seketika tersungkur ke belakang. Tanpa merasa kasihan sama sekali, mereka masih memberikan serangan bertubi-tubi pada cowok itu. Mereka menendang, memukul dan meninju semua bagian tubuh Heaven.


"STOP!" Hugo berteriak, menghentikan apa yang tengah dilakukan para sahabatnya. Ia rasa semua pukulan itu sudah cukup membuat Heaven mau menyadari kesalahannya. "Gue rasa ini udah cukup!"


Hugo berjalan menghampiri Heaven yang sudah terkulai lemas di lantai, sambil menarik Zia untuk sama-sama mendekat. Heaven masih sadarkan diri, meski kondisinya sudah sangat kacau saat ini. "Hebat juga ketahanan tubuh lo, gue pikir lo bakalan mati tadi!"


Hugo terkekeh kecil, lalu menarik Zia agar ikut berjongkok di hadapan Heaven yang tengah menahan rasa sakit di seluruh tubuhnya. "Masih belum mau juga?"


"Jangan sakitin Zia!" ucap Heaven sedikit kesulitan.


"Hah? Apa? Hahaha. Sebegitu cintanya lo ternyata sama Zia, sampai lo lebih khawatirin dia daripada keadaan lo sendiri!" ucap Hugo tertawa.


"Kak Heaven!" Zia menangis dibalik kain hijau yang masih menutupi matanya, ia sadar Heaven sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja sekarang.


"Ah kisah cinta yang romantis!" ucap Hugo bertepuk tangan.


"Lepasin Zia!" ucap Heaven sekali lagi.


"Bukan Kak Heaven yang lakuin itu!" bantah Zia. Sebelumnya ia sudah beberapa kali mengatakan hal itu pada Hugo, namun cowok itu tetap tidak percaya padanya. Sekali lagi, semua itu karena ketiadaan bukti yang bisa menguatkan pernyataan mereka.


"Gue nggak tanya sama lo! Mending lo diem, karena ini urusan gue sama cowok lo yang pengecut ini!" kata Hugo.


"Dia bukan pengecut!" bela Zia tidak terima.


"Banyak bacot juga ya lo!" geram Hugo.


"Gue kasih waktu lo sampai jam tujuh malem, pikirin ucapan gue baik-baik. Akuin semua perbuatan lo, atau cewek lo yang bakal jadi taruhannya." Hugo mendekatkan wajahnya. "Gue nggak pernah main-main dengan ucapan gue!" ucapnya kemudian beranjak berdiri.


"Kalian, ikat mereka berdua!"


Sesuai perintah Hugo, semua teman-temannya langsung mendekati Heaven dan Zia. Sambil membawa tali untuk mengikat Heaven agar tidak bisa pergi, begitu juga dengan Zia agar tidak macam-macam.


*********


"Kak Heaven nggak papa? Kalo nggak bisa nggak usah maksa Kak, nanti lo luka!"


Di dalam ruangan kosong itu, Heaven masih mencoba melepaskan ikatan di tangannya. Kini sudah sepuluh puluh menit berlalu sejak kepergian Hugo, Heaven masih sangat khawatir mengingat ancaman cowok itu sebelumnya.


"Gue nggak bisa diem aja Na, gue nggak mau kalo sampe lo kenapa-kenapa!" Heaven menatap penuh sesal Zia yang masih duduk di sampingnya dalam kondisi terikat, kedua mata gadis itu masih tertutup oleh kain.


"Kak, gelap. Gue pengen liat keadaan lo sekarang!" ucap Zia yang sudah sangat penasaran sejak tadi.


"Nggak Na, lebih baik kayak gini aja!" Heaven memang sengaja membiarkan Zia masih tertutup matanya, karena ia tidak ingin Zia melihat keadaan dirinya yang sudah sangat kacau.


"Kak please, bantu gue lepasin ini. Gue pengen liat lo sekarang!" ucap Zia memohon.


"Oke kalo itu yang lo mau!" Heaven menyerah, ia juga tidak tega melihat Zia dalam posisi seperti itu sejak tadi. "Sini deketan!" ucapnya.

__ADS_1


Zia sedikit menggeser duduknya, meskipun tangannya masih terikat oleh tali. Wajahnya ia dekatkan ke arah terakhir kali terdengar suara Heaven. Karena tidak bisa membuka menggunakan tangan, Heaven memilih menggunakan mulutnya untuk melepaskan penutup mata tersebut.


Zia mengerjakan mata menyesuaikan iris matanya dengan cahaya sekitar, setelah penutup mata tersebut terlepas. Seketika ia terkejut melihat wajah dan tubuh Heaven yang sudah di penuhi oleh bercak darah serta luka lebam kebiruan. kedua tangannya terikat ke atas, serta kedua kakinya masih terikat lurus. Gadis itu bahkan sampai melongo saking terkejutnya.


"Nggak usah gitu liatinnya, gue emang ganteng!" ucap Heaven sambil mengalihkan pandangannya.


"Kak!" Bola mata Zia berkaca-kaca, tidak menyangka Heaven akan berada dalam kondisi kacau seperti ini.


"Nggak usah nangis!" cegah Heaven.


"Kenapa?"


"Gue nggak bisa hapus air mata lo sekarang!" ucap Heaven penuh sesal.


Zia terdiam, menatap Heaven masih dengan wajah sedihnya. Sampai sekarang cowok itu bahkan masih berusaha melepaskan ikatan di tangannya, tidak peduli dengan kondisi tangannya yang sudah memerah bahkan terluka. "Udah Kak, jangan dipaksa gitu. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa!"


"Gue nggak bisa diem aja Na, sementara lo dalam bahaya sekarang. Gara-gara gue!" ucap Heaven menyesal.


Zia mengedarkan pandangannya, mencoba mencari benda tajam yang mungkin saja bisa ia pakai untuk membuka tali. Namun ternyata, ia tidak menemukan apapun di ruangan kosong itu.


"Zia, Kak Heaven!"


Sayup-sayup terdengar suara lirih seorang perempuan di sekitar sana, Zia mengedarkan pandangannya ke arah pintu. Namun ia tidak melihat siapapun di sana, begitu juga dengan Heaven yang pendengarannya cukup tajam.


"Zia, Kak Heaven!" Suara lirih itu muncul kembali, bersamaan dengan datangnya seorang gadis yang cukup membuat mereka berdua terkejut.


"Rexie?" Heaven dan Zia mengerutkan keningnya, melihat Rexie berjalan menghampiri dari arah jendela tak berkaca di ruangan itu.


"Sssttt... jangan berisik, ntar ketahuan!" lirih Rexie. Meraih ikatan tali di tangan Zia, mencoba melepaskannya.


"Kok lo bisa ada di sini?" tanya Zia setelah ikatan tali di tangannya terlepas.


"Nanti gue ceritain! Sekarang kita harus pergi dulu, jangan sampe kita ketahuan sama mereka!" ucap Rexie kemudian beralih membuka tali di tangan Heaven.


Setelah semua tali terlepas, Zia langsung membantu Heaven membuka tali di kakinya. Karena tangan cowok itu sudah sangat memerah akibat ikatan tali tersebut. "Ayo Kak!" ucapnya sambil membantu Heaven berdiri.


"Arggghhhh... ssshhhh." Heaven meringis, seluruh tubuhnya benar-benar sakit setelah mendapat pukulan bertubi-tubi dari musuhnya tadi.


"Kak Heaven nggak papa?" tanya Zia khawatir.


"Nggak, gue nggak papa!" Heaven mencoba menahan rasa sakit di tubuhnya, kemudian berjalan perlahan ke arah jendela.


"Pelan-pelan Kak!" ucap Rexie lirih, mencoba membantu Zia dan Heaven keluar dari gedung kosong itu.


Heaven berjalan tertatih dengan bantuan Zia dan Rexie menuju mobil, tidak ada satupun orang yang menyadari kepergian mereka. Yaa, karena sebelumnya Rexie sudah memastikan beberapa anggota dari mereka sedang pergi tadi.


"Hati-hati Kak!" ucap Zia membantu cowok itu masuk ke dalam mobil. "Biar gue yang nyetir mobil!" lanjutnya.


"Ok!" jawab Rexie kemudian masuk dan duduk di sebelah pengemudi. Membiarkan Heaven merebahkan diri di kursi penumpang bagian belakang.


"MAU KE MANA KALIAN?" teriak seorang cowok yang melihat Zia hendak masuk ke dalam mobil.


"BOS TAWANAN KABUR!" teriak cowok itu, menyadari perempuan yang dilihatnya itu adalah Zia.


"ZIA, BURUAN MASUK!" teriak Rexie.


Zia buru-buru masuk ke dalam mobil, dan tanpa pikir panjang langsung tancap gas meninggalkan tempat. Tentu saja semua musuh Heaven tidak tinggal diam, mereka juga langsung masuk ke dalam mobil untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Zia.


🎀🎀🎀


Rekomendasi novel yang sangat bagus untukmu, jangan lupa mampir ya! 🥰


__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2