
"Sebenarnya lo punya adik berapa?" Heaven menatap ke arah jalan sejenak, kemudian kembali menatap Zia dengan intens. "Siapa sebenarnya orang tua lo dan kenapa lo rahasiain dari gue?"
Zia terpaku mendengar pertanyaan itu, inilah mengapa ia jarang sekali menjalin hubungan dengan orang baru. Mereka pasti akan menanyakan sesuatu yang tidak bisa ia jawab. Zia mengalihkan pandangannya menghindari tatapan penuh intimidasi itu, namun sorot matanya menangkap sesuatu yang aneh di depan sana.
"Kak itu!" Zia menunjuk ke arah luar dengan raut terkejut. Di seberang jalan depan sana ia melihat sosok Icha tengah berdebat dengan seorang pria tua yang Zia yakini adalah Ayahnya Icha.
"Apa? Mau ngelak lagi?" Heaven masih menatap Zia dengan kesal, selalu saja gadis itu mengalihkan pembicaraan jika dirinya sedang mempertanyakan keluarganya. "Mau sampai kapan?"
"Bukan, itu. Stop Kak, stop!" Zia menepuk-nepuk pundak Heaven meminta segera menghentikan mobilnya, karena melihat Icha sepertinya sedang bertengkar hebat dengan Ayahnya dipinggir jalan.
"Kenapa sih, Na!" Heaven terheran melihat Zia yang sedang panik sendiri, lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan. "Na, lo mau ke mana?"
Tanpa menjawab pertanyaan Heaven, Zia keluar dari mobil dan segera berlari menyeberang jalan dengan sembarangan. Hal itu tentu saja langsung mendapat umpatan dari para pengguna jalan, namun Zia sama sekali tidak peduli. Heaven yang melihatnya pun segera mengejar untuk membantunya menyeberang jalan, namun secara tidak sengaja netranya melihat sosok Icha sedang bertengkar dengan seorang pria tua yang pernah membuat masalah dengannya di basement rumah sakit saat itu.
"DASAR ANAK TIDAK BERGUNA!"
Pria tua yang tidak lain adalah Rico Dagistani itu mengumpat lalu mendorong Icha dengan kasar sampai tersungkur di aspal. Masih dengan rasa kesalnya, Rico meninggalkan putrinya dengan membawa motor yang biasa dipakai Icha ke sekolah.
"PAH... ICHA IKUT HIKS!" teriak Icha. Menangis sesenggukan, menatap kepergian Papa-nya dengan pandangan sendu.
"Cha...," panggil Zia. Gadis itu masih berlari mendekati Icha yang masih terduduk sambil menangis di tepi jalan yang cukup ramai itu. Ada banyak pengendara yang berlalu-lalang melewati jalan, namun herannya tidak ada satupun dari mereka yang mau membantu Icha yang sedang diperlakukan tidak baik oleh Papa-nya.
"Zia... Hiks...!" Icha menangis, memeluk tubuh Zia dengan sangat erat seolah ingin sejenak membagi penderitaannya.
"Cha, lo nggak papa?" tanya Zia. Melepaskan pelukannya lalu memeriksa tubuh Icha, berharap tidak ada satupun luka di bagian tubuh itu. Namun ternyata sesuai dugaan, ada beberapa luka yang Icha dapatkan setelah pertengkarannya dengan sang Ayah tadi.
"Icha hiks, Icha nggak papa kok!" jawab Icha masih sesenggukan.
__ADS_1
"Nggak papa apanya Cha, lo luka!" Zia menunjuk kedua lutut dan siku Icha yang mengeluarkan darah segar. Luka dan darah itu membuatnya meringis, seolah merasakan apa yang dirasakan Icha saat ini.
"Iya, lutut Icha sakit!" ucap Icha menatap kedua lututnya yang terluka.
"Kak Heaven punya p3k?" tanya Zia.
"Ada, bawa ke mobil aja. Sekalian antar dia pulang!" jawab Heaven.
"Tapi Icha nggak bisa jalan, sakit!"
Zia terdiam sejenak, memikirkan bagaimana cara membawa Icha ke mobil dengan mudah. Sebuah ide konyol terbesit dipikiran, Zia sedikit tidak yakin jika itu akan berhasil, namun apa salahnya mencoba. Dengan mata mengerjap, Zia menatap ke arah Heaven, berharap cowok itu mau membantu menggendong Icha menuju mobil. Namun cowok itu masih mengalihkan pandangannya, seolah tahu apa yang akan Zia minta padanya.
"Kak!" panggil Zia seraya memberi kode.
"Ogah!"
Heaven tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya, masih teguh dalam pendiriannya. "Gue bakal mau gendong kalau itu lo!"
Zia memutar bola matanya jengah, mengapa cowok satu ini tidak pernah mau memahami situasi. Karena tidak ingin berdebat lagi, ia mengulurkan tangannya pada Icha yang masih terduduk, hendak membantunya berjalan menuju mobil. Dengan tertatih-tatih Zia mengarahkan Icha menyeberang jalan, dibantu oleh Heaven yang menghentikan para pengendara yang akan melintas. Hingga akhirnya Zia berhasil membantu Icha sampai di mobil Heaven dengan selamat, meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.
Heaven bergerak membukakan pintu mobil bagian belakang untuk memudahkan Icha dan Zia masuk. Setelah memastikan kedua gadis itu sudah duduk di dalam mobil, barulah ia masuk dan duduk dibelakang kemudi. Sebenarnya Heaven tidak menyukai posisinya saat ini, yang sudah seperti supir yang mengantarkan dua penumpang. Tapi mau bagaimana lagi, Zia sengaja memilih duduk di belakang karena harus membantu Icha mengobati lukanya.
"Lo ada masalah apa Cha, kenapa bisa berantem sama bokap lo kayak tadi?" tanya Zia sembari menerima kotak obat yang diberikan oleh Heaven.
Icha terdiam dengan pandangan kosong, tidak tahu harus mengatakannya pada Zia atau tidak. Yang sedang dibicarakan saat ini adalah aib keluarganya sendiri, tentu saja Icha tidak ingin menceritakannya pada orang lain. Papanya memang selalu berlaku keras dan kasar padanya, namun tidak ada teman-temannya yang tahu karena selama ini ia memilih diam dan memendamnya sendiri.
Salah besar jika orang mengira Icha hidup dalam kebahagiaan, karena pada kenyataannya selama ini gadis itu mendapat kebencian dari Papa-nya sendiri. Mungkin itu karena sifatnya yang selalu ingin di manja dan kekanak-kanakan, padahal Icha melakukan itu semua hanya karena ingin merasakan bagaimana rasanya di sayang seperti anak-anak lainnya.
__ADS_1
"Maaf Zia, Icha nggak bisa cerita!" jawab Icha sembari menghapus air matanya.
Zia mengangguk mengerti, lalu membuka kotak p3k untuk segera mengobati luka Icha. Mau bagaimana pun itu adalah masalah pribadi keluarga Icha dan sebagai sahabat, Zia tidak ingin memaksanya. Kecuali jika Icha sendiri yang ingin mengatakannya, mungkin Zia bisa sedikit membantu entah dengan memberi nasihat atau sekedar semangat. "Nggak perlu minta maaf, itu kan hak lo mau cerita apa enggaknya!"
"Aw sshhh...." Icha meringis merasakan perih saat Zia menempelkan kain yang sudah dilumuri obat pada lukanya. "Pelan-pelan Zia, sakit!"
"Iya Cha, tahan bentar ya. Dikit lagi selesai kok!"
Heaven yang sedang menjalankan mobilnya, beberapa kali mengintip Zia yang sedang serius mengobati melalui kaca spion. Jika tidak ada Icha di mobilnya, mungkin saat ini ia sedang menggenggam tangan yang sedang berkutat dengan luka dan obat-obatan itu. Pandangannya beralih melirik kaca spion luar, sejak tadi ia merasa aneh dengan dua motor yang selalu mengikuti mobilnya. Heaven menajamkan penglihatannya, memastikan bahwa apa yang ia lihat memang tidak salah. Dan benar saja, pengendara kedua motor itu adalah anggota dari Gorized.
"Sial!"
"Kalian berdua pegangan!" titah Heaven pada kedua gadis yang duduk di belakang.
"Kenapa Kak?" tanya Zia tidak mengerti mengapa tiba-tiba Heaven menyuruh untuk berpegangan.
Tanpa menjawab pertanyaan dari Zia, Heaven langsung menginjak gas di bawah kakinya. Sontak hal itu membuat kedua gadis di belakangnya terkejut, bahkan Icha sampai berteriak karena baru pertama kalinya menaiki mobil dengan kecepatan tinggi. Berbeda dengan Zia yang tetap tenang, karena memang sudah terbiasa kebut-kebutan bersama saudara laki-lakinya di Jerman dulu. Dengan kecepatan yang semakin meningkat, Heaven menyalip satu persatu para pengendara di depannya.
"Kek Heaven pelan-pelan, Icha takut!" pekik Icha merangkul tangan Zia dengan sangat erat.
"Sakit Cha, jangan kenceng-kenceng pegangnya!" Zia mencoba mengendurkan dua tangan Icha yang masih merangkul erat dirinya.
"Huuaaaa... Icha takut, Icha masih mau hidup. Icha belum nikah...!" pekik Icha lagi. Masih mempertahankan tubuh Zia sebagai pegangan, tanpa memedulikan ucapan Zia sebelumnya.
Heaven yang masih fokus dengan setirnya tidak memedulikan teriakan dua gadis di belakangnya sama sekali. Masih dengan kecepatan tinggi ia melirik kaca spion untuk memantau orang yang tadi mengikuti, suasana semakin genting karena pengendara motor yang awalnya ada dua kini bertambah menjadi empat. Heaven kembali mengumpat kesal. Jika tidak ada dua gadis yang sedang bersamanya, mungkin Heaven akan melawan mereka tanpa pikir panjang.
"Kak di depan ada polsek!" ucap Zia mengingatkan. Gadis itu sudah tahu apa yang sebenarnya membuat Heaven tiba-tiba melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, karena sebelumnya ia sempat melihat ke belakang dan melihat ada empat pengendara motor tengah mengikuti mobil Heaven.
__ADS_1
Sesuai yang di instruksikan Zia sebelumnya, Heaven menghentikan mobilnya tepat di depan kantor Polsek. Sorot mata tajam Heaven masih tertuju pada empat pengendara motor yang baru saja melintas dengan kecepatan tinggi melewati mobilnya, mereka sadar tidak bisa membuat keributan di depan kantor polisi. Bisa-bisa mendapat masalah mereka jika tetap melakukan rencananya untuk menyerang Heaven.