Heavanna

Heavanna
145. GARA-GARA STORY


__ADS_3

Heaven mengacak rambutnya kasar, dengan cepat ia berlari menuju kamar Zia. Melihat foto cantik Zia sangat membuatnya terganggu. Bukan karena tidak menyukainya, Heaven hanya tidak ingin ada orang lain yang melihat kecantikan gadisnya. Masih dengan rasa kesalnya, Heaven menggedor pintu yang ternyata masih terkunci rapat itu.


"NA, BUKA PINTUNYA BURU!" Heaven berteriak sembari menggedor pintu dengan kencangnya.


"Kak Heaven kenapa?" Terdengar sahutan dari Zia yang masih berada di dalam kamar.


"LO NGAPAIN UP STORY PAKE BAJU KURANG BAHAN GITU? BUKA PINTUNYA!"


Heaven geram, entah sudah ada berapa orang yang kini sudah melihat foto Zia di story akun media sosialnya. Terakhir kali Zia meng-upload foto, dalam sekejap langsung mendapat banyak sekali pujian dari semua followers nya. Kini Heaven tidak tahu, sudah ada berapa banyak orang yang membalas foto di story itu.


"Emang kenapa? Kata temen-temen cantik kok fotonya."


Mendengar hal itu Heaven semakin gusar, membayangkan sudah berapa banyak orang yang melihat foto cantik itu. Tangannya yang terkepal kuat kembali menggedor pintu kamar tersebut. "Jelek Na, apus nggak tuh foto sekarang juga!"


"Boong! Kata Kak Nanda aja cantik kok, bening kayak serbuk berlian. Katanya juga Kak Heaven lebih suka cewek yang tiap hari pake baju gini," ucap Zia.


"Sesat, jangan dengerin omongan Nanda!" Heaven memejamkan mata menahan geram. Nanda sialan, awas aja lo nanti!


"Cepet hapus tuh foto, atau gue dobrak nih pintu sekarang juga!" ancam Heaven lagi.


"Jangan ih, aku belum pake baju!"


"Makanya buruan hapus!" titah Heaven. "Dari tadi ngapain belum pake baju juga!" dumelnya.


"Iya ih, galak banget, udah kayak monyet lepas kandang!" celetuk Zia ikutan kesal. "Udah tuh, udah aku hapus!" lanjutnya.


"Bagus! Sekarang lo up foto gue," ucap Heaven memerintah.


"Hah?"


"Up foto gue di story lo!" ulang Heaven.


"Buat apa?"


"Ck banyak tanya, buruan up!"


"Iya ih, marah-marah mulu!" Di dalam kamar, Zia kembali membuka ponselnya. Meng-upload foto Heaven, menuruti keinginannya yang cukup kekanak-kanakan. "Udah tuh!" ucapnya.


"Good girl!" Heaven tersenyum penuh kemenangan. "Buruan pake baju, gue laper!"


"Kak Heaven nggak mau liat fotonya dulu?" tanya Zia seraya memakai bajunya di dalam kamar.


"Buat apa? Muka gue ganteng, diliat seribu kali pun tetep ganteng!" ucap Heaven percaya diri.


Terdengar suara gelak tawa kecil dari Zia di dalam, Heaven mengerutkan keningnya curiga. Segera Heaven mengambil ponsel di saku celananya, membuka story akun media sosial Zia yang sudah terdapat fotonya.



"Shitthhh! Ini siapa anjir?" Heaven mencengkeram ponselnya, merasa jijik sendiri melihat penampakan dirinya ketika bersikap manja pada Zia beberapa waktu yang lalu. Outfit yang dipakai pada foto tersebut pun atas keinginan Zia saat itu.

__ADS_1


"Itu Kak Heaven lah, masa anak kucing!" Zia melongokan kepala sesaat, kemudian kembali menutup pintu sembari tergelak puas.


"F*ck, lo ngapain up foto kayak gitu segala?" Heaven kembali menggedor pintu, menyadari pintu tersebut kembali dikunci dari dalam. "Buka pintunya Na."


"Nggak mau, Kak Heaven masih marah-marah!" sahut Zia dari dalam.


"Aarrggghhh!" Heaven menggeram kesal seraya mengacak rambutnya asal. Hilang sudah harga dirinya, semua teman-temannya pasti akan mengejek dirinya setelah ini. Sebagai ketua geng, tentu hal itu sudah menjadi aib yang sangat menjatuhkan harga dirinya. "Apus sekarang juga tuh foto!" titahnya.


"Nggak mau, lagian lucu kok. Kak Heaven kan jarang keliatan kayak gini," ucap Zia tertawa jahat.


"Lucu apanya, nggak ada lakinya sama sekali! Buka pintunya, atau gue dobrak sekarang!" ancam Heaven sembari menendang pintu sekuat tenaga.


Di dalam kamar, Zia tersentak kaget mendengar hantaman keras dari balik pintu. "Iya aku buka, tapi Kak Heaven jangan marah-marah terus!"


"Gue nggak akan marah kalo lo nggak mulai duluan!" kesal Heaven.


"Kan Kak Heaven yang mulai duluan, tiba-tiba marah-marah nggak jelas!" sungut Zia dari dalam.


"Bacot, buruan buka pintunya!" geram Heaven.


"Nggak!"


"Anna!"


"Iya iya, aku buka pintunya. Tapi jangan marah-marah dulu!"


"Ck buka pintunya buru!" Heaven memijat keningnya yang terasa pening, sebelum akhirnya terdengar suara kunci pintu yang sudah terbuka. Dengan cepat Heaven membuka pintu tersebut, namun ternyata gadis itu sudah tidak berada di balik pintu. Heaven mengedarkan pandangannya, terlihat Zia kini sedang bersembunyi di balik sofa.


"Nggak mau, Kak Heaven masih marah!" tolak Zia.


Heaven menggelengkan kepala, semarah apapun dirinya juga tidak akan mungkin melukai gadisnya hanya untuk masalah seperti ini. "Apus tuh foto, ganti yang lain!" titah Heaven seraya mendekat.


"Nggak mau, bagus yang ini!" tolak Zia menyembunyikan ponselnya.


"Anna!" Heaven menggantungkan tangannya sembari menatap penuh ancaman pada Zia. "Bagus apanya? Buru hapus, ganti yang lain!"


"Ish iya aku hapus!" Zia mencebikan bibir bawahnya, kemudian membuka kembali akun media sosialnya. Meng-upload foto Heaven yang lebih terlihat keren dibandingkan yang sebelumnya.


"Udah tuh!"


Zia menunjukkan layar ponselnya, terlihat foto Heaven sudah terpampang jelas di sana. Cowok itu sedang berdiri di atas mobil, dengan pose yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Sementara foto sebelumnya sudah ia hapus dari story akunnya.



"Siniin hpnya!" Heaven kembali menengadahkan tangan di hadapan Zia.


"Buat apa lagi?" tanya Zia. Namun, ia tetap memberikan ponsel itu pada Heaven.


"Buat ngusir kecoa!" ucap Heaven sekenanya. Cowok itu mendudukkan diri di sofa, sambil berkutat dengan ponsel Zia.

__ADS_1


"Kak Heaven kenapa sih marah-marah mulu, nggak capek apa?" tanya Zia seraya mendengus.


"Kalo kamu nggak bikin gara-gara juga aku nggak akan marah!" jawab Heaven.


"Terserah Kak Heaven!" semprot Zia.


"Mau ke mana?" Heaven bertanya melihat Zia hendak pergi menuju kamar mandi.


"Mau ganti baju, nggak liat aku pake baju kayak gini!" Zia merentangkan tangan, menunjukkan baju baru yang sedang dipakainya. Ya, karena terlalu terburu-buru, ia tidak sempat mengambil baju di lemarinya tadi. Alhasil, kini ia kembali mengenakan pakaian yang baru saja dikatakan kurang bahan oleh Heaven sebelumnya.


"Ngapain ganti?"


"Katanya Kak Heaven nggak suka liat aku pake baju ini!" jawab Zia bingung.


"Kata siapa?" Heaven masih menatap datar Zia.


"Kata Kak Heaven lah, tadi bilangnya jelek?" Zia mendengus kesal sekaligus kecewa, padahal sebelumnya ia mengira Heaven akan menyukai penampilannya saat ini.


"Nggak usah ganti baju, lagian nggak ada siapa-siapa di sini selain aku!" Heaven mengangkat tangannya, memberikan isyarat pada Zia agar mendekat. Zia hanya mengerutkan keningnya, masih tidak mengerti dengan sikap aneh Heaven sejak tadi.


"Sini duduk!" Heaven menggeser posisi duduknya, menyuruh Zia untuk duduk bersama di sofa yang sebenarnya hanya untuk satu orang itu. Mau tidak mau Zia mendudukkan diri di samping Heaven, membiarkan salah satu tangan cowok itu melingkar di pundaknya. "Aku suka liat kamu pake baju ini, tapi aku nggak suka kalo kamu pamer ke orang lain. Cukup aku yang boleh liat kamu kayak gini, tapi nggak buat orang lain!" ucapnya.


Zia menatap lekat mata Heaven, kali ini cowok itu sedang berkata dengan sangat serius. Tanpa mampu menyahut, Zia hanya menganggukkan kepalanya. Seolah terhipnotis oleh tatapan mata cowok itu.


"Bagus!" Heaven tersenyum tipis, kemudian mengacak gemas rambut Zia.


Cukup lama Zia terdiam, membiarkan Heaven berkutat dengan ponselnya. Cowok itu sedang membalas beberapa cowok yang sedang berusaha menggoda gadisnya di akun media sosial sebelumnya. Termasuk Nanda yang ternyata sudah banyak membicarakan sesuatu yang tidak-tidak tentang Heaven. Hingga suara bell apartemen berhasil mengalihkan atensi keduanya.


"Kayak ada yang ngebell?" ujar Zia bertanya.


"Biarin aja!" balas Heaven masih berkutat dengan ponsel Zia.


"Kak ih, nggak berhenti juga." Zia beranjak dari duduknya, setelah cukup lama bell apartemennya masih saja berbunyi.


"Ck ganggu!" ucap Heaven seraya mengikuti Zia menuju keluar.


Sesampainya di pintu masuk, Zia langsung membuka pintu tanpa mengecek terlebih dahulu siapa yang datang. Kini tampak di hadapannya, Icha tengah berdiri dalam kebingungannya bersama Kakaknya, Cakra.


"Icha? Lo kenapa?" Zia terkejut melihat kening Icha yang terluka, terdapat bekas darah yang sudah mengering di sana. Tanpa menjawab pertanyaan tersebut, Icha langsung menghambur ke pelukan gadis itu. Heaven pun ikut merasa aneh melihat Icha dan Cakra datang dengan beberapa luka ditubuhnya.


"Maaf Zia, boleh saya titip Icha di sini sementara?" Cakra menatap Zia dengan harapan yang sangat besar, ia sudah tidak tahu lagi harus ke mana jika Zia tidak mengizinkan Icha untuk tinggal sementara di apartemennya. "Besok setelah urusan saya selesai, saya janji akan menjemputnya. Secepatnya!"


"Kalian kenapa? Apa ada masalah besar?" tanya Zia bingung.


"Untuk sementara ini saya tidak bisa menceritakannya, tapi saya janji akan menceritakannya setelah semuanya selesai! Saya titip adik saya, jangan biarkan dia pergi dari sini," kata Cakra panjang lebar.


Zia mengangguk menyanggupi, meskipun berbagai pertanyaan masih mengganggu pikirannya. Siapa yang menduga? Setelah beberapa hari tidak terlihat, kini Icha datang dengan beberapa luka di tubuhnya. Sama halnya dengan Cakra.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap Cakra. "Icha, Kakak pergi dulu ya. Kamu jangan ke mana-mana, turuti apa kata Zia!" pamitnya.

__ADS_1


🎀🎀🎀


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2