Heavanna

Heavanna
92. KEDATANGAN REXIE


__ADS_3

Bugh


Setelah Nanda tersungkur di lantai, kini giliran Kenzo yang meringis setelah mendapat pukulan keras di bagian perutnya. Tanpa merasa bersalah, Heaven beralih menatap Gala hendak juga memberikan serangan. Namun gagal dilakukan karena Heaven sudah tahu, seberapa hebatnya Gala dalam ilmu bela diri.


"Anjir, lo gila ya!" bentak Nanda yang masih meringis merasakan nyut-nyutan di bagian tulang pipinya.


"HEAVEN! APA YANG KAMU LAKUKAN?" bentak Bu Trisha sambil mendekat.


Nanda menoleh dengan rasa terkejutnya, melihat guru kesayangannya sudah berdiri di hadapannya tengah menatap Heaven penuh amarah. Seketika rasa malu menyeruak masuk, membuat Nanda memejamkan mata sejenak. Merutuki dirinya yang sudah tidak ada harga dirinya di mata Bu Trisha, setelah mendapatkan serangan telak dari Heaven tadi.


Anjir, kenapa harus Bu Trisha sih yang liat. Ah jadi keliatan banget kan gue nggak ada apa-apanya dibanding Heaven!


"Ngapain kalian berantem di sini?" tanya Bu Trisha masih dengan wajah garangnya.


"Uji nyali Bu!" celetuk Agam. Masih berusaha bersikap normal, meski sejak tadi tidak mampu menahan tawa setelah melihat wajah masam Nanda.


"Kamu pikir di sini rumah hantu?" balas Bu Trisha masih tidak habis pikir.


"Hukum aja Heaven,Bu! Emang temen nggak ada adab dia!" ucap Nanda menggebu.


"Aduh pipi kamu!" Bu Trisha meringis seakan ikut merasakan sakit, melihat pipi Nanda sedikit membiru. "Kamu nggak papa kan?" tanyanya khawatir.


"Nggak papa kok Bu, cuma lebam gini doang mah nggak ada rasanya!" Nanda menaik turunkan alisnya sambil tersenyum jenaka, membuat Bu Trisha hanya mampu menggelengkan kepala melihat tingkahnya.


"Ya sudah kalian berempat masuk ke kelas dan untuk kamu, Heaven. Berdiri di lapangan sampai pelajaran saya selesai!"


*********


Sudah setengah jam berlalu, Zia masih berdiri di tempatnya. Rasanya sedikit malu saat beberapa siswa yang melintas malah dengan sengaja membicarakan dirinya yang tengah di hukum seorang diri, ditambah dengan kedua kakinya yang mulai pegal setelah lama berdiri membuatnya kembali menghela nafas panjang. Lengkap sudah penderitaannya pada pagi hari ini.


Gadis itu tersentak saat tiba-tiba seseorang datang dan berdiri di sampingnya, sorot mata tajam yang menghunus itu seakan hendak memakannya bulat-bulat. Zia hanya mampu menyengir lebar, walau cowok di hadapannya masih menatap tajam penuh kesal pada dirinya. Sudah dapat ditebak kalau cowok itu akan marah-marah setelah ini.


"Kak Heaven kok di sini? Nggak ngerjain PR juga?" tanya Zia. Masih mencoba untuk santai, meski ekspresi cowok dingin di hadapannya tidak menunjukkan tanda-tanda persahabatan.


"Bukan!" jawab Heaven singkat.


"Terus ngapain di sini?" Zia menyipitkan matanya, ketika melihat Heaven yang kali ini sedikit menyilaukan karena terpapar sinar matahari pagi.


"Nggak usah kepo!" jawab Heaven yang tidak ingin menjawab. Tidak mungkin juga kan ia menceritakan kekacauan yang dilakukannya tadi, sempat membuat kehebohan di depan kelasnya. Karena bukan hanya Nanda saja yang ia beri bogeman mentah, tapi Kenzo pun juga menjadi korban kegilaannya.


"Ish cuma nanya doang juga!"


"Sekarang gue tanya, lo ngapain di sini, hm?" tanya Heaven dengan penuh penekanan, "Kemaren lo hampir dihukum karena udah bikin keributan, sekarang karena apa lagi Anna?"

__ADS_1


"Kak Heaven lupa kemaren gue berantem karena apa?"


"Oh jadi lo cemburu liat gue dikasih coklat sama cewek lain?"


"Nggak!" Zia mengalihkan pandangannya, "Siapa juga yang cemburu, kayak nggak ada kerjaan lain aja!"


"Mau bilang cemburu aja susah amat!" Heaven masih menatap gadisnya intens, "Abis bikin masalah apa lagi lo?" tanyanya


"Gue lupa ngerjain PR!" jawab Zia.


"Nggak ngerjain PR, lo bilang?" tanya Heaven dengan nada setengah meninggi, "Emang semalem lo ngapain?"


"Main sama Jaka," jawab Zia dengan polosnya. Tidak tahu saja jawabannya tadi malah membuat Heaven semakin kesal, mengetahui Zia dihukum hanya karena Jaka.


"Jaka lagi, Jaka lagi!" Heaven mengacak rambutnya frustasi, "Gue geprek juga tuh kucing lama-lama!" geramnya.


"Ih kok gitu sih!" Zia meninggikan suaranya, tidak terima dengan apa yang dikatakan Heaven sebelumnya.


"Terus maunya apa?" Heaven menaikan alisnya bertanya, "Lo mau gue buang tuh kucing nggak berguna?"


"Kok dibuang?"


"Buat apa dipertahanin, kerjaannya cuma tidur sama ngerepotin orang doang juga!" balas Heaven dengan jengkelnya.


"Udah berani ngusir gue sekarang?" sentak Heaven sedikit tidak suka mendengar ucapan Zia.


"Hey kalian berdua jangan bertengkar, atau kalian mau hukumannya saya tambah?"


Kedua anak itu langsung terdiam. Bukan hanya karena teguran dari guru, tapi juga karena sedang kesal dengan sikap egois masing-masing. Hingga beberapa menit kemudian, Heaven yang merasa kasihan berinisiatif berdiri di hadapan Zia. Menghalangi cahaya matahari yang semakin lama semakin terik, membuat gadisnya mulai kepanasan.


"Kak Heaven ngapain berdiri di situ?" Zia mendongak, menatap wajah Heaven yang membelakangi matahari tepat di hadapannya.


"Biar lo nggak kepanasan!" jawab Heaven sembari menyelipkan anak rambut Zia yang terus bergerak bebas karena terpaan angin.


Zia tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan Heaven untuk menjaga dirinya. "Gue yakin mantan lo pasti bangga banget punya cowok pekaan kayak lo!"


"Gue nggak punya mantan!" jawab Heaven singkat.


Mendengar jawaban tidak masuk akal itu, seketika Zia membulatkan matanya. Rasanya ingin tidak percaya, namun ia ingat beberapa kali Handa pernah mengatakan bahwa cowok di hadapannya kini tidak pernah pacaran sekalipun. Awalnya ia memang tidak percaya, tapi ketika melihat kejujuran di mata itu, justru membuat Zia menutup mulutnya kicep.


Zia memilih diam dan membiarkan apa yang dilakukan Heaven, meski sebenarnya ia cukup risih karena terus menerus ditatap tanpa berkedip. Hingga setelah lama menunggu, akhirnya seorang guru datang dan mengizinkan mereka untuk kembali ke kelas untuk mengikuti mata pelajaran selanjutnya.


"Ikut gue!"

__ADS_1


Setelah memastikan guru itu pergi, Heaven langsung menarik tangan Zia menuju kantin. Jadwal yang paling tidak bisa dilewatkan ketika habis dihukum, yaitu bersantai-santai di kantin. Heaven masih menggandeng tangan gadisnya melewati koridor, sementara Zia hanya pasrah mengikuti dari belakang.


Hingga secara tiba-tiba pandangannya bertemu dengan mata seorang gadis yang sudah lama ia rindukan kehadirannya sebagai seorang sahabat. Zia terus berjalan tanpa menghiraukan kehadirannya, mencoba meyakinkan bahwa dirinya bisa menghadapi gadis itu. Gadis yang tengah berjalan sedikit kesulitan, karena tengah membawa beberapa tumpuk buku di tangannya.


Rexie, gue nggak nyangka lo beneran dateng ke sini!


Entah mendapat dorongan dari mana, Zia sedikit mengeratkan pegangan tangannya pada Heaven. Ada sedikit rasa takut di benaknya ketika jarak Rexie sudah semakin dekat, rasa sakit itu kembali muncul ketika pandangannya bertemu lagi dengan mata bulat itu. Apalagi ditambah dengan senyum manis di bibir Rexie yang terukir membuat Zia seketika menghentikan langkah.


"Hai Zia?" sapa Rexie sambil tersenyum tipis, "Long time no see!"


Heaven mengernyit heran sekaligus penasaran, gadis yang baru pertama kali dilihatnya itu ternyata mengenali Zia. Namun, melihat raut wajah Zia yang tampak datar malah memberikan pertanyaan tersendiri dalam benaknya. Selama mengenal Zia, belum pernah sekalipun Heaven melihat ekspresi wajahnya yang seperti sekarang.


"Apa kita pernah saling mengenal sebelumnya?" tanya Zia datar.


"Ternyata lo masih suka bercanda ya!" Rexie tertawa kecil mendengar nada pertanyaan Zia yang belum pernah ia dengar sebelumnya. "Gimana kabar lo? Apa lo masih belum mov-"


"Bukan urusan lo!" Zia menyela, menyadari Rexie hendak menanyakan sesuatu yang tidak-tidak di hadapan Heaven.


"Ah lo masih marah ya? Gue minta maaf ya buat kejadian waktu itu!" ucap Rexie memasang wajah penuh sesal.


"Gue nggak butuh permintaan maaf lo!" Zia yang sudah malas meladeni langsung melangkahkan kaki, melewati Rexie dengan adanya sedikit senggolan pada bahu. Tentu saja senggolan kecil itu berhasil membuat semua buku di tangan Rexie seketika berjatuhan.


"Ups sorry, nggak sengaja!" ucap Zia tanpa merasa bersalah.


Rexie mengepalkan tangannya ketika melihat Zia pergi bersama Heaven tanpa membantu dirinya. Bahkan Heaven yang melihat kelakuan tidak biasa dari gadisnya pun merasa sedikit aneh, karena tidak biasanya Zia semena-mena pada orang lain.


🎀🎀🎀


Hai pren!


Mampir juga ke karya temanku, ceritanya seru lho. Jangan lupa mampir yaa 🥰


Author : Novi putri ang


Judul: Kembaranku Maduku


Melati Atmaja dan Mawar Atmaja adalah saudara kembar yang terpisah sejak mereka kecil. Mereka dipertemukan kembali setelah dewasa. Diam-diam Mawar mencintai Rafael suami dari kakak kembarnya sendiri. Melati yang di anggap mandul dan tidak bisa memberi keturunan selalu dihina oleh ibu mertuanya. Hingga Mawar merebut suami kakaknya dan didukung oleh ibu mertuanya, karena saat itu Mawar sedang mengandung anak Rafael, setelah mereka melakukan hubungan terlarang itu. Bagaimana kisah hidup Melati selanjutnya, setelah saudara kembarnya menjadi penghancur rumah tangga dalam hidupnya?


🎀🎀🎀



...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2