
"Balikin hp gue!" Zia menengadahkan tangan, di hadapan cowok itu ia memasang raut wajah malas.
Heaven menarik sudut bibirnya ke atas, tanpa mau menyerahkan ponsel di tangannya. "Balikin dulu hp gue!"
Zia mengalihkan pandangan jengah. Di dalam kelas itu, semua orang tengah menatap dirinya dan Heaven dengan raut wajah penuh penasaran. Beruntung hanya ada beberapa teman Heaven di sana, karena sebagian siswa sudah lebih dulu ke kantin. Di belakang Heaven, ada Nanda yang masih sibuk menjahili cewek. Keduanya sedang rebutan dompet di meja guru. Entahlah, Zia juga tidak paham dengan kelakuan receh kakak kelasnya itu.
"Gak bisa, gue nggak percaya sama lo! Balikin hp gue dulu, baru gue balikin hp lo!"
Zia tahu apa yang mungkin akan Heaven lakukan, jika mengembalikan ponsel itu lebih dulu. Kemarin saat menggeledah isi ponsel Heaven, Zia sempat terkejut saat melihat beberapa foto dirinya di sana. Bukan hanya foto, Heaven juga menyimpan nomor teleponnya dengan nama Anna. Tentu saja Zia langsung menghapus semua hal tentangnya yang ada di ponsel itu.
"Ok, kalo lo nggak mau kasih! Lagian lo juga udah telat dari waktu yang kita sepakati!" Heaven tahu kemungkinan apa yang Zia lakukan pada ponselnya, karena itu ia harus memastikan semua berjalan sesuai dengan keinginannya.
"Kapan gue bilang setuju sama kesepakatan gak jelas lo itu! Nggak usah ngada-ada deh!" seru Zia.
"Gue nggak butuh persetujuan dari lo!" Heaven menunjukkan ponsel Zia yang menyala, di sana tertera nama kontak seseorang yang sangat penting dalam hidup Zia, DADDY. Hal yang Zia takuti sejak kemarin mungkin benar-benar akan terjadi beberapa menit ke depan, Heaven akan menghubungi Daddy Zion.
"Nggak usah macem-macem!" Zia mendelik tajam, namun hanya sekilas karena pandangannya bertemu langsung dengan mata elang Heaven. "Lagian gue cuma telat lima menit doang!" elak Zia.
"Tetep aja lo telat!"
"Pepatah bilang 'Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali'."
"Tapi situasi lo beda, ANNA!" Heaven sengaja menekan kata Anna, agar cewek di hadapannya jadi paham.
"Zia, bukan Anna!" koreksi Zia. Cewek itu memang tidak suka di panggil Anna, kecuali oleh orang yang spesial dalam hidupnya. Contohnya seperti Daddy Zion dan keluarganya.
"Lo bedua kenapa coba? Perkara balikin hp aja sampe ribut, gak selesai-selesai!" sela Nanda yang masih duduk di meja guru.
"DIEM LO!" bentak Heaven dan Zia bersaman.
"Wihh kompak banget! Kayaknya bakal jadi couple goals nih!" seru Nanda cengengesan.
"Nan, dari pada lo berisik mending balikin dompet gue sekarang. Gue laper mau ke kantin!" Chindy sudah sangat lelah, sejak tadi sudah mencoba membujuk Nanda, tapi tetap saja Nanda tidak juga mengembalikan dompetnya. Dan malah menyembunyikannya di dalam baju, mana mungkin Chindy berani mengambilnya sendiri.
"Gimana? Lo mau terima kesepakatan itu atau gue telfon bokap lo sekarang?" Tidak peduli dengan Nanda, Heaven kembali menatap Zia. Berharap semua cepat selesai dan berjalan sesuai rencana.
"Zi, mending lo terima aja syaratnya. Daripada dia telfon Daddy lo! Ntar ngomong aneh-aneh lagi!" saran Handa. Sangat menyadari bagaimana nekatnya seorang Heaven, meski Handa sendiri belum tahu apa yang akan di lakukan cowok itu nantinya.
"Bener tuh!" sahut Icha yang sedang sibuk mengemut permen pentol di samping Handa.
"Gue suka pemikiran lo!" ucap Heaven menyetujui.
"Oh iya hampir aja gue lupa ada vampir di sini, ngomong-ngomong gigitan lo manjur banget. Temen gue jadi tambah bego!" ucap Nanda heboh sembari terkekeh.
Agam yang merasa tersindir seketika menatap Nanda dengan kesal. Memang teman kurang didikan rohani, akhlak secuil pun tidak punya. Kan Agam jadi malu, tidak tahu mau menitipkan wajah ke siapa.
"Gue bukan vampir!" kesal Handa, "Kalo gue jadi vampir pun mending gue nyari darah suci. Bukan darah orang skeptis kayak dia!" cibirnya.
__ADS_1
Jleb
"Wow, pedes juga omongan lo!" Nanda tertawa ngakak. "Gam, lo dibilang skeptis!"
"Diem lo monyet!" Agam mengumpat lirih, namun sorot mata tajamnya langsung membuat Nanda kicep. "Gimana mau percaya kalo yang mau dipercaya aja selalu nyimpen rahasia?" balas Agam.
Tidak ingin lagi menjawab, Handa hanya mendengus sebal.
"Mau sampe kapan lo diem, apa lo nunggu gue telfon Bokap lo?" Heaven kembali bertanya, menunggu Zia yang tengah sibuk dalam pikirannya.
Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Heaven kembali membuka ponsel Zia. "Ok, gue telfon Daddy lo sekarang!"
"JANGAN!" Cegah Zia dan Handa bersamaan, membuat semua sekilas mengernyit heran. Kenapa Handa ikutan melarang Heaven?
"O-ok gue terima perjanjian itu. Tapi cuma satu permintaan!" syarat Zia.
"Dua atau nggak sama sekali!"
Zia memejamkan matanya menahan kesal, mau tidak mau ia harus menuruti permintaan cowok di hadapannya ini. "Ya udah, lo mau apa?"
Heaven melebarkan senyumnya, semua rencananya hampir berhasil. "Pertama, gue mau lo jadi pacar gue! Yang kedua, lo nggak boleh minta putus dari gue!"
Seketika semua orang terkejut dengan apa yang di katakan Heaven, apa cowok itu sedang menyatakan perasaannya pada Zia. Tapi kenapa caranya unik sekali, bahkan sampai membuat semua melongo tak percaya. Zia pun sampai membulatkan mata bulatnya, diselingi beberapa kali kedipan.
"Apa apaan? Gue nggak salah denger kan? Seorang Heaven nembak cewek?" celetuk Nanda lalu bertepuk tangan kagum sekaligus tidak percaya. "Sakit lo Heav?" lanjutnya.
Heaven menggeleng, lalu menjawab dengan pasti. "Apa muka gue kelihatan bercanda?"
"Heav, lo nggak bisa gitu dong! Itu namanya pemaksaan!" Kenzo yang sejak tadi diam, kini mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Nggak Zia, lo nggak boleh!" cegah Handa.
"Kita lagi nggak butuh pendapat lo berdua!" Heaven melihat Kenzo dan Handa sekilas, kemudian beralih lagi menatap Zia menunggu jawaban, "Gimana?"
"Enggak, gue nggak bisa. Lo nggak tahu siapa gue!" tolak Zia cepat lalu membalikkan badan hendak pergi.
Tidak mungkin Zia menerima permintaan konyol itu, sementara Heaven tidak tahu apapun tentang dirinya. Zia pun tidak menyukai Heaven dari segala sisi, terlebih cowok itu menyukai hal yang paling Zia benci yaitu perkelahian. Zia bahkan masih tidak habis pikir dengan apa yang telah Heaven lakukan pada Dio, setelah sebelumnya Handa menceritakan kehebohan yang telah terjadi pagi tadi.
"Kalo gitu gue bakal telfon Daddy lo, buat minta ketemu sekarang!" ancam Heaven.
Jika rencana satu gagal maka Heaven akan menggunakan rencana ke dua, yaitu mengatakan langsung maksudnya pada Daddy nya Zia. Lebih tepatnya Heaven akan meminta restu dari orang tua Zia lebih dulu, sebelum meluluhkan hati gadis yang disukainya itu. Jika tidak direstui juga, maka Heaven akan memaksa dengan caranya sendiri.
Zia terpaksa menghentikan langkahnya, membalikkan badan lalu mendekat pada Heaven yang hendak menelepon. "Jangan please!"
"Kenapa? Bukannya itu yang lo mau?" Meski sedikit heran kenapa Zia begitu takut saat dirinya akan mendial nomor Daddy Zion, tapi Heaven mengesampingkan itu semua. Karena tujuan kali ini adalah mendapatkan apa yang ia mau.
"Apa nggak ada pilihan lain, selain jadi pacar lo?" Zia mencoba bernegosiasi lagi, mana mungkin ia mau menerima sedangkan cintanya bukan untuk cowok pemaksa itu. Terlebih lagi, Heaven tidak tahu apapun tentang dirinya.
__ADS_1
"Ada, gue kasih tiga pilihan. Dan lo harus pilih salah satunya!"
Zia menghela nafas lega, ternyata masih ada dua pilihan lainnya. "Apa aja?" tanyanya.
"Pertama, lo harus jadi pacar gue. Kedua, lo harus jadi istri gue. Dan ketiga, lo harus pilih keduanya!" ucap Heaven dengan penuh percaya diri.
Seketika kelegaan Zia berganti dengan kekesalan serta ketidakpercayaan, kalau itu pilihannya lebih baik Zia tidak memintanya tadi. Sial memang, arghh... menyebalkan sekali.
"Sama aja! Emang ajaib temen gue satu ini!" pekik Nanda bangga.
Heaven melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, memastikan jam istirahat belum selesai. "Gimana?"
"Seandainya gue pilih nomor dua! Gue bisa bebas dari lo sekarang dong!" Zia pikir akan bebas dari Heaven sampai tiba waktunya menikah, meski tidak mungkin juga Heaven mau menunggu selama itu. Zia masih berpikir bahwa semua ini adalah candaan Heaven saja. Cowok itu hanya sedang mempermainkan dirinya.
Heaven mensejajarkan wajahnya dengan wajah Zia, dengan tangan yang masih bersedekap di depan dada. "GUE NIKAHIN LO PULANG SEKOLAH NANTI!"
"Hah?" Zia melongo tidak percaya, tidak habis pikir bagaimana bisa ada cowok aneh seperti Heaven di dunia ini.
"Amazing!" ucap Agam dengan mulut menganga.
"Excellent!" ceplos Gala tanpa sadar.
"Crazy!" Handa ikut menyahut, sedangkan Icha baru saja menjatuhkan permen pentol di mulutnya.
"Wuihh... Damage nya nggak ada obat! Eh nggak ada otak!" Nanda bertepuk tangan tidak percaya, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah rasa kagum pada sahabatnya itu. Andai saja Nanda seorang cewek, sudah pasti ia akan jatuh cinta dengan aura yang Heaven pancarkan.
Semua kaget mendengar ucapan Heaven, termasuk Zia yang matanya kian membulat. "Nggak mau, gue masih mau sekolah!" tolak Zia cepat.
"Ya udah berarti lo harus jadi pacar gue!" balas Heaven penuh kemenangan.
Gue nggak mau! -jerit Zia dalam hati.
"Zia!" lirih Kenzo menggeleng. Hatinya merasa tidak rela, apa lagi di saat yang sama Zia sekilas menatap ke arahnya.
"Gue...." Zia ragu untuk menjawabnya, hatinya menolak namun situasi mengharuskannya untuk menerima. Kalau saja Zia tidak peduli pada masa depan Heaven, sudah dari tadi Zia biarkan Heaven menghubungi Daddy Zion.
"Nggak ada pilihan lain! Gue anggap lo sekarang jadi pacar gue!" Heaven mengacak rambut Zia dengan gemas, senyum tipis mengembang di bibirnya. Tidak dapat dipungkiri hal itu membuat Zia sempat terpaku. Memang siapa juga yang tidak terpana melihat ketampanan Heaven, apa lagi itu dilihat dari jarak yang sangat dekat.
"NANDA, CHINDY! NGAPAIN LO BERDUA?!"
*********
Haduh, Nanda sama Chindy lagi ngapain ya 🤔
Ganggu momen bersejarah aja nih 😂😂
Jangan lupa tinggalkan jejak yaa... 😍
__ADS_1