
Jam sekolah telah selesai, Heaven berjalan santai menuju kelas Zia untuk menjemputnya. Teman-temannya sudah pulang lebih dulu, karena tidak ada lagi yang ingin mereka lakukan di sekolah. Seperti biasa, di sepanjang koridor Heaven hanya memasang wajah datar. Mengabaikan beberapa cewek yang secara terang-terangan menatap dan memekik kagum melihat dirinya.
"HEAVEN TUNGGU!"
Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang, Heaven menghentikan langkahnya lalu mencari ke sumber suara. Di seberang sana, Angel tengah berlari menghampiri dan berhenti di hadapannya dengan nafas terengah. Setelah menunggu beberapa saat, Heaven menaikkan satu alisnya seolah bertanya 'kenapa?'.
"Sorry Heav, gue nebeng lo boleh nggak? Temen-temen gue udah pulang tadi, gue juga nggak bawa mobil!" Angel menunjukkan tatapan penuh permohonan, berharap kali ini cowok yang ada di hadapannya itu mau mengantarkan dirinya pulang.
"Nggak bisa, gue udah sama cewek gue!" tolak Heaven. Cowok itu langsung melenggang pergi meninggalkan Angel, karena tidak ingin berlama-lama meladeni cewek yang menurutnya tidak penting itu.
"Tapi Heav...."
Angel menggantungkan ucapannya, menatap kepergian Heaven dengan tangan terkepal kuat. Untuk kesekian kalinya usahanya gagal, belum apa-apa Heaven sudah pergi lebih dulu. Heaven tidak mengerti, bagaimana kesalnya Angel mendengar cara penolakannya tadi. Bagi Angel, penolakan seperti ini memang sering ia dapatkan. Namun kali ini sedikit lebih berbeda, karena ada perempuan lain yang menjadi alasan cowok itu untuk menolak.
Heaven yang tidak ingin membuang waktu segera menuju kelas di mana Zia berada, sebelum gadisnya itu kabur dengan memilih pulang bersama Handa. Tidak, Heaven tidak akan membiarkan itu terjadi. Sampai di depan kelas yang dituju, rupanya gadisnya itu masih berada di dalam. Heaven menyandarkan tubuhnya pada tembok, menunggu Zia keluar dari kelas sembari mengecek ponsel yang sejak tadi berbunyi.
Para siswa yang keluar sempat terkejut melihat Heaven ada di sana, tentunya mereka langsung pergi sebelum cowok itu menegur. Terlalu bosan menunggu akhirnya Heaven memutuskan untuk masuk, cukup penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang dilakukan Zia di dalam kelas. Pasalnya gadis itu belum juga keluar, padahal sudah tidak ada guru di dalam sana.
"Kak Heaven!" pekik salah satu siswa. Serentak terkejut melihat kedatangan Heaven ke dalam kelas, mata dan mulutnya bahkan sampai membola dengan sempurna penuh kekaguman.
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" celetuk siswi yang lainnya ikut terperangah. Ketampanan Heaven benar-benar mengusik jiwa dan raga mereka. Jiwa halu mulai bertebaran di mana-mana, Heaven selalu berhasil membuat kaum hawa tidak bisa melepaskan pandangannya.
Sementara Heaven terus berjalan tanpa menghiraukan para gadis yang tengah terkagum-kagum melihatnya, tujuannya saat ini adalah menghampirinya Zia. Gadis itu sedang sibuk menyalin materi dan soal PR dari buku milik Handa, karenanya tidak terlalu menghiraukan kehebohan yang terjadi di sekitarnya. Berbeda dengan Handa yang sudah bersedekap dada memasang wajah malas, menyadari kedatangan Heaven.
"Lagi ngapain lo berdua? Lama banget ditungguin!" Heaven menatap dua cewek itu bergantian, pandangannya berhenti pada tangan Zia yang sedang menulis dengan sangat cepat.
"Zi, mending buruan deh. Cowok lo dateng tuh! Nanti ngomel-ngomel lagi!" ucap Handa kemudian mengemas buku-bukunya ke dalam tas.
__ADS_1
"Bentar ih, tinggal dikit bentar!" Zia menahan tangan Handa yang hendak mengambil bukunya, lalu dengan cepat menyalin tulisan yang tinggal seberapa itu.
"Ya elah Zia, nggak usah banyak mencatat juga otak lo nggak akan menguap." Handa sangat tahu seberapa pintarnya Zia, bahkan tidak mencatat pun ia yakin Zia akan mendapat peringkat satu hingga mengalahkan dirinya nanti.
"Sembarangan kalau ngomong, nanti kalau Daddy nanya kan gue bisa tunjukin!" ucap Zia yang sangat patuh dengan perintah Daddy Zion.
Karena tidak ingin mengganggu, Heaven memilih duduk di meja menunggu Zia selesai. Kini Heaven tahu kalau Zia adalah murid yang rajin, tidak seperti dirinya yang sedikit bandel. Tapi meskipun bandel, Heaven masuk dalam jajaran murid tercerdas di sekolah. Hanya pergaulannya saja yang tidak mencerminkan dirinya murid yang cerdas.
"Udah selesai?" tanya Heaven melihat Zia merentangkan kedua tangannya lega.
Zia hanya mengangguk, lalu memasukan buku dan peralatan sekolah lainnya ke dalam tas. Begitu juga dengan Handa yang tinggal memasukkan satu buku, dan setelah menutup zipper ia langsung memakai tas gendongnya.
"Zi, gue balik duluan ya! Bye!" Tidak ingin menjadi obat semprot serangga, Handa segera meninggalkan kelas yang mulai menyepi itu. Terlihat kini hanya tinggal satu siswa di pojok paling depan, akan lebih baik Handa segera pergi atau ia benar-benar akan menjadi obat nyamuk setelah ini.
"Ayo pulang!" ajak Heaven setelah Zia selesai mengenakan tas gendongnya.
Zia hanya menurut, keduanya berjalan bersama keluar kelas tanpa Heaven memegang tangan Zia seperti biasanya. Mungkin cowok itu lupa, atau memang sedang tidak ingin menekan Zia dalam ketidaknyamanan. Bahkan sampai di parkiran pun keduanya hanya diam saja, Zia yang berjalan di sampingnya sedikit merasa aneh dengan situasi saat ini.
"Hm?" Heaven menaikkan satu alisnya bertanya.
"Eum nggak jadi deh!" Zia menunjukkan cengirannya, karena memang tidak ada bahan untuk memulai pembicaraan.
Tidak tahu saja Zia, kalau sikapnya yang seperti itu malah membuat Heaven merasa gemas. Karena saking gemasnya, Heaven sampai mengulurkan tangan mengacak rambut Zia. "Mau apa, bilang aja?" tanya Heaven lagi.
"Kak ih, rambut gue berantakan!" Zia mengerucutkan bibir, merapikan kembali rambutnya yang sedikit berantakan.
"Heav!" panggil seseorang dari belakang.
__ADS_1
Merasa namanya di panggil, Heaven menghela nafasnya malas. Kali ini siapa lagi yang akan menggangunya. Dengan tak minat ia memutar kepalanya sembilan puluh derajat, terlihat Sarah berdiri tidak jauh dari tempatnya berada. Kali ini Heaven hanya diam saja, menunggu apa yang ingin dikatakan cewek di hadapannya kini.
"Sorry, gue boleh nebeng lo nggak?" tanya Sarah dengan hati-hati.
"Nggak!"
"Tapi Heav, gue nggak bawa mobil. Temen-temen gue juga udah pada pulang!"
Heaven masih memasang wajah datar tanpa mau menjawab, apa semua cewek tidak punya alasan lain untuk bisa satu mobil dengannya. Sebelumnya Angel juga mengatakan hal yang sama, namun kenyataannya Sarah masih berada di sekolah. Apa nanti Dela juga akan menghampiri dan mengatakan hal yang serupa? Heaven sangat tidak suka dengan ketiga cewek itu, menurutnya mereka terlalu pandai bersandiwara. Mungkin mereka akan diterima jika mengikuti audisi di perusahaan entertainment milik Galvander group.
Heaven meraih tangan Zia, lalu menunjukkannya pada Sarah. "Lo nggak liat! Gue udah punya cewek, dan gue nggak mau bikin cewek gue marah!"
Zia memasang raut wajah aneh. Memangnya siapa yang akan marah? Jika bisa, Zia malah ingin mengajak Sarah pulang bersama. Ia tidak suka jika hanya berduaan dengan Heaven di dalam mobil, karena bisa saja cowok itu akan melakukan hal yang tidak-tidak nanti. Zia belum bisa sepenuhnya percaya pada Heaven.
"Kak, udah anterin aja. Lo nggak kasian Kak Sarah pulang sendirian?"
Mendengar perkataan Zia, Heaven seketika memasang wajah penuh kekesalan. Bukannya marah, gadisnya itu malah meminta agar mengizinkan Sarah untuk pulang bersama dalam satu mobil. Zia tidak tahu saja kalau Heaven tidak suka berada dalam satu mobil bersama orang lain. Paling anti bagi Heaven pulang bersama seseorang yang tidak penting baginya, apalagi itu adalah seorang perempuan.
"Tuh kan Heav, cewek lo aja udah izinin! Boleh dong gue pulang bareng lo?" Sarah tersenyum antusias, ternyata tidak sia-sia juga usahanya meninggalkan Angel dan Dela tadi.
"Daripada naik mobil gue mending lo telfon cowok lo, minta dia buat jemput lo!" Heaven yang sudah malas meladeni Sarah langsung menarik Zia, menyuruh gadis itu untuk masuk ke dalam mobil lebih dulu.
"Tapi Heav, gue udah putus sama Nanda!"
Memang benar kata Sarah, setelah keributan bersama Chindy di kelas beberapa waktu lalu, Nanda langsung memutuskan dirinya hari itu juga. Dan lebih parahnya lagi itu di hadapan banyak orang termasuk Chindy. Salah Sarah sendiri karena telah melanggar peraturan yang Nanda berikan sebelum mereka resmi berpacaran. Entah peraturan seperti apa itu, hanya mereka yang tahu.
"BUKAN URUSAN GUE!"
__ADS_1
*********
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇