Heavanna

Heavanna
116. SALAH PAHAM LAGI


__ADS_3

Bell tanda istirahat berbunyi, guru yang mengajar di kelas Zia baru saja keluar dari kelas. Sementara Zia, gadis itu masih berdiam diri di tempat duduknya. Pikirannya sedang tidak fokus, masih teringat tentang wajah Dio yang begitu mirip dengan cowok di minimarket saat itu. Zia melirik Dio yang masih duduk di tempatnya, kacamata bulat serta tatanan rambut yang rapi membuat perubahan begitu banyak pada penampilannya.


Nggak, ini nggak bisa dibiarin. Kayaknya gue harus ngomong sama Kak Heaven, biar masalahnya cepet selesai.


Zia beranjak dari duduknya, saat hendak melangkahkan kaki, ia kembali bimbang ketika memikirkan risiko yang mungkin saja akan terjadi. Mengingat, Heaven selalu mengandalkan kekuatan ototnya jika menghadapi sesuatu.


Tapi ... kalo nanti mereka berantem gimana? Gue nggak mau kalo Kak Heaven sampe kenapa-kenapa!


Gadis itu masih diam di tempat, mencoba mencari jalan keluar yang terbaik untuk semua masalah yang ada. Zia merasa, Dio bukanlah orang sembarangan yang akan bisa dengan mudah diselidiki. Jika diingat-ingat, ia yakin cowok misterius yang ada di ruang kosong kemarin memanglah Dio orangnya.


Nggak Na, lo harus bilang. Gimanapun juga ini masalah besar, masa iya lo diem aja!


Zia melihat ke arah kedua sahabatnya, Handa dan Icha masih sibuk mencatat beberapa materi dari guru tadi.


"Handa, Icha! Gue mau ke kelas Kak Heaven dulu ya! Lo berdua kalo mau ke kantin, duluan aja!" ucap Zia berpamitan.


"Mau ngapain emangnya? Tumben banget lo mau pergi ke kelas Kak Heaven?" tanya Handa heran. Karena biasanya justru Heaven yang sering datang ke kelas Zia, hanya untuk mengajak gadis itu pergi ke kantin bersama.


"Ada urusan penting, gue cabut dulu!"


Zia melenggang pergi meninggalkan kedua sahabatnya yang masih terheran-heran melihat sikap tidak biasa gadis itu. Sesampainya di kelas milik Heaven, terlihat hanya ada teman-teman Heaven yang sedang mengobrol di sana. Zia melangkahkan kakinya mendekat, hendak menanyakan di mana keberadaan Heaven.


"Misi Kak!" ucap Zia menginterupsi keempat cowok itu.


"Eh ada Zia, kenapa? Tumben banget dateng ke sini?" tanya Nanda yang memang posisinya paling dekat.


"Mau nyari Kak Heaven," jawab Zia merasa canggung, karena semua cowok itu kini tengah menatap ke arahnya kecuali Gala.


Nanda menoleh ke arah Agam sambil menyenggol lengannya. "Heaven di mana Gam?" tanyanya.


"Kenapa jadi tanya gue, mana gue tau!" jawab Agam mengendikan bahu. "Heaven di mana Zo?" tanyanya pada Kenzo.


Kenzo ikut mengendikan bahu, lalu menatap ke arah Gala yang sedang sibuk dengan ponselnya. "Gal, Heaven di mana?"


Gala mendongak, menatap bergantian ketiga sahabatnya lalu berakhir pada Zia yang masih berdiri dalam bingungnya. "Di atas!" jawabnya singkat padat dan tidak jelas.


"Hah?" Zia mengerutkan keningnya tidak paham. "Maksudnya?"


"Ck lo tuh kalo ngomong nanggung banget sih Gal, kayak nggak ada nyawanya tau nggak. Nggak ada kehidupannya banget omongan lo!" tegur Nanda tidak habis pikir.


"Tauk, kalo ngomong sama lo tuh berasa lagi ngomong sama robot. Singkat padat dan tidak jelas, muka lo garing banget. Kek kanebo abis dijemur!" tambah Agam yang juga merasa heran.


"Jadi, Kak Heaven di mana?" tanya Zia menyela, sebelum pembicaraan melebar ke mana-mana.


"Di atas, maksudnya lagi di rooftop. Biasalah, dia kalo lagi bosen atau lagi banyak pikiran pasti ngumpet di sana. Paling dia lagi galau soal-"


"Ekhemmm...." Kenzo menyela, sebelum Nanda keceplosan dan berbicara yang tidak-tidak di depan Zia. Bukan hanya Kenzo, Agam yang duduk di sampingnya pun langsung menyenggol lengan Nanda agar segera menutup mulutnya. "Udah mending lo ke rooftop aja, paling juga Heaven lagi tidur," lanjut Kenzo.


Zia menganggukkan kepalanya. "Kalo gitu gue ke atas dulu ya Kak!" pamit Zia pada semuanya.


Gadis itu melenggang pergi meninggalkan kelas, Kenzo masih menatap kepergiannya sampai menghilang dari pandangan. Untung saja Nanda belum keceplosan tentang masalah Heaven di depan Zia tadi, Kenzo hanya tidak ingin Zia ikut campur dalam urusan para lelaki. Mengingat sepupunya itu selalu menyuruh Heaven untuk segera menghentikan perseteruan antar gengnya, dan selalu melarang Heaven ketika hendak pergi mencari bukti lewat geng Gorized.


"Lain kali kalo mau ngomong di depan Zia itu hati-hati!" tegur Kenzo pada Nanda.

__ADS_1


Nanda menunjukkan cengirannya. "Hehe gue lupa!" ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sampai kapan Heaven bakal diem aja? Gue jadi kepikiran ancaman Hugo, Heaven pasti lagi pusing banget sekarang!" ujar Nanda memikirkan ancaman Hugo kemarin.


"Gue yakin Heaven bisa lewatin semuanya," sahut Gala dari belakang.


"Tapi posisinya Heaven kan lagi bucin gila sama Zia. Kalo misal Hugo beneran serius sama ancamannya, dia pasti bakal celakain Zia beneran!" ujar Nanda sedikit khawatir.


"Biar Heaven aja yang urus, dia pasti tau yang terbaik buat hubungan mereka!" ucap Gala.


"Gue harap sih Heaven nggak akan ninggalin Zia cuma karena masalah ini," kata Agam.


Kenzo masih terdiam, menoleh ke arah pintu tempat di mana terakhir kali Zia menghilang dari pandangannya tadi.


Gue nggak akan biarin mereka celakain lo lagi, Zi. Cukup Handa aja kemarin, dan gue janji itu bakal jadi yang pertama dan terakhir kalinya!


*********


Zia berjalan cepat menuju rooftop, gadis itu cukup penasaran dengan apa yang sedang Heaven lakukan di sana. Namun sesampainya di sana, ia justru dikejutkan oleh pemandangan langka di hadapannya. Zia terpaku sejenak, tidak tahu harus melakukan apa dalam situasi seperti ini.


"Kalian berdua ngapain?" tanya Zia.


Heaven menoleh dengan wajah terkejut, kejadian tadi begitu cepat hingga membuatnya terdiam sejenak, mencerna apa yang sebenarnya terjadi. "Na, lo di sini?" ucapnya setelah mendorong Rexie hingga terjatuh.


"Kenapa emangnya? Nggak boleh ya gue ke sini? Atau, gue ganggu kalian berdua?" Zia menatap dingin Heaven. "Sorry kalo gitu, gue nggak tau!"


Bola matanya mulai tergenang, Zia langsung melenggang pergi meninggalkan tempat. Hatinya begitu sesak melihat apa yang dilakukan Heaven dan Rexie tadi. Zia memilih pergi karena tidak ingin berlama-lama dalam situasi menyesakkan itu.


"Na, bukan gitu. Gue bisa jelasin!" Heaven segera berlari untuk mengejar Zia, ia sangat tidak ingin gadisnya itu salah paham.


Nggak, gue nggak boleh kayak gini terus. Udah saatnya gue bertahan, gue harus bisa pertahanin Kak Heaven. Cukup sekali gue kehilangan orang yang gue cinta, dan selanjutnya gue akan biarin Kak Heaven pergi dengan mudah!


Zia mendongakkan kepalanya, menahan air mata yang sudah menggenangi bola matanya. Mensugesti dirinya agar tidak menjadi gadis lemah lagi, sudah saatnya Zia berjuang. Mempertahankan apa yang sudah seharusnya ada dalam kehidupannya.


"Na, tunggu! Gue bisa jelasin!" Heaven berjalan cepat menuruni tangga, menghampiri Zia yang masih mematung di tempatnya.


"Na!" Heaven memegang bahu gadis itu. "Lo salah paham tadi, semua yang lo lihat itu nggak seperti yang lo pikirin!"


Zia menatap datar Heaven. Bukan karena marah, ia hanya ingin sedikit lebih mahal di hadapan cowok itu. Tidak ada salahnya bukan? Setidaknya dengan cara itu, Heaven akan sedikit lebih menghargai dirinya nanti. "Emang apa yang gue pikirin?" tanyanya.


"Ikut gue!" Heaven menatap ke sekeliling, memegang tangan Zia lalu membawanya pergi.


"Kak Heaven mau ngapain?"


"Nggak usah banyak nanya, ikut aja!"


Zia hanya diam menurut, mengikuti langkah cowok yang masih menggenggam erat tangannya. Sampai ketika Heaven menghentikan langkahnya di taman sekolah yang masih sepi, tampaknya semua siswa masih berada di kantin saat ini.


"Kak Heaven mau ngapain sih?" tanya Zia ketus.


"Gue cuma mau berduaan sama lo," kata Heaven tersenyum manis.


"Tapi gue nggak mau, bukannya tadi udah berduaan sama Rexie? Masih kurang juga?" sungut Zia.

__ADS_1


"Nggak gitu Na, lo salah paham!" Heaven mendudukkan diri di kursi, tanpa melepaskan pegangan tangannya. "Sini duduk dulu, biar gue jelasin!"


"Nggak mau, duduk aja sama Rexie lagi sana!"


"Duduk Na!" Heaven masih berbicara dengan nada lembut. Namun, melihat Zia masih berdiri di tempatnya, mau tidak mau Heaven menariknya hingga terduduk di pangkuannya.


"Ih Kak Heaven apa-apaan sih?" pekik Zia setengah meninggi.


"Gue nggak suka lo cuekin gue, dan gue nggak suka ngomong dua kali!" ucap Heaven sembari mempertahankan tubuh Zia dalam pangkuan.


"Gue nggak mau duduk sama lo, sama Rexie aja sana. Kak Heaven suka kan sama dia?" Zia mencoba berdiri, namun kedua tangan Heaven yang melingkar di pinggangnya membuat gadis itu tidak bisa berbuat apa-apa.


"Gue nggak suka sama dia! Gue cuma suka sama lo, Na!" ucap Heaven menenangkan gadis itu.


"Terus ngapain Kak Heaven pelukan sama dia tadi? Mana cuma berduaan doang lagi di rooftop, Kak Heaven nggak mau ada yang liat kan?" tuduh Zia.


"Nggak gitu Na, gue nggak pelukan sama dia. Dengerin gue dulu makanya, jangan marah-marah dulu!" kata Heaven.


"Halah pasti Kak Heaven mau boong lagi kan?"


Heaven menggelengkan kepalanya. "Gue nggak pelukan sama dia, lo salah paham. Tadi tuh Rexie mau jatuh ke arah gue, dan tangan gue refleks nolongin dia. Gue juga nggak ngerti kenapa!"


"Boong! Kak Heaven pasti cuma nyari kesempatan kan?" tanya Zia masih menatap Heaven tidak percaya.


"Nggak boong Na, gue bener-bener nggak sengaja tadi."


"Kenapa nggak biarin aja dia jatuh?"


"Gue juga nggak tau kenapa!" Heaven tersenyum simpul, menyadari sepertinya Zia sedang cemburu saat ini.


"Tuh kan Kak Heaven senyum, pasti sengaja tadi biar bisa peluk-peluk Rexie!" kesal Zia.


"Enggak sayang, gue nggak sengaja. Daripada nyari kesempatan ke dia, mending gue sama lo aja kayak gini." Heaven tersenyum penuh arti.


"Kak Heaven mau ngapain?"


"Mau peluk, gue kangen sama lo!" Zia mendelik ketika secara tiba-tiba Heaven menariknya kedalam pelukan.


"Ih nggak mau peluk!" ucap Zia menolak.


"Nggak mau sebentar? Oke, kalo gitu peluk lama!" kata Heaven masih mempertahankan pelukannya.


"Nggak mau, peluk Rexie lagi aja sana!"


"Iya nanti gue peluk dia, tapi sebelum itu peluk lo dulu!" ucap Heaven.


"Tuh kan bener, Kak Heaven pasti sengaja tadi!" tuduh Zia lagi sambil mencubit perut Heaven. "Lepasin nggak, lepasin! Kak Heaven mau peluk Rexie? Ya udah peluk aja sana, jangan peluk gue!"


"Aaaa... nggak gitu Na, cuma bercanda tadi. Gue maunya cuma sama lo, nggak mau sama cewek lain!" Heaven semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan kepala Zia pada dadanya.


"BULLSHIT!"


🎀🎀🎀

__ADS_1


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2