
"Tumben banget nih, pagi-pagi udah nyampe sekolah," Handa bersedekap dada sambil menyandar pada pinggiran pintu, menatap kuku-kuku tangannya yang berkilauan kemudian meniupnya beberapa kali. "Datang-datang bukannya langsung masuk, ini malah bikin kerusakan lingkungan dulu!" ucapnya lagi seraya menyindir.
Zia menatap bingung Handa yang sedang berdiri menyandar di ambang pintu kelas, tidak mengerti sebenarnya apa yang sedang gadis itu lakukan. Dilihat dari cara bicaranya, sepertinya gadis itu sedang menyindir dirinya yang datang bersama Heaven. Sedangkan Heaven yang ada di samping Zia hanya mengernyitkan dahi, melihat apa yang sedang dilakukan Handa.
Memang kedatangan Zia bersama Heaven tadi sempat membuat kehebohan para kaum hawa yang belum bisa merelakan idolanya memiliki hubungan dengan seseorang. Sekarang sudah terhitung dua hari sejak berita pertama kali mereka berpacaran tersebar, tapi kenapa mereka belum juga mau menerimanya. Awalnya memang terasa sedikit menyebalkan mendengar cibiran pedas dari para cewek di sekolah, tapi sekarang Zia sudah tidak lagi memedulikannya dan memilih menutup telinganya rapat-rapat.
"Lo nyindir gue Nda?" tanya Zia sembari mendekat.
"Hah? Enggak! Gue lagi ngomong sama nyamuk, dari tadi banyak nyamuk nih di sini!" Handa pura-pura menatap udara kosong, lalu menepukkan kedua tangannya seolah sedang menangkap nyamuk. Kemudian berjalan masuk kedalam kelas sembari mengoceh tidak jelas, tanpa memedulikan kedua anak yang habis disindirnya tadi.
"Lah, tuh anak kenapa coba?" Zia melongo menatap kepergian sepupunya yang sedang sangat aneh itu.
"Kumat!" gumam Heaven datar.
"Hah?"
"Hah hah mulu, udah sana masuk. Awas, jangan macem-macem!" titah Heaven seraya mengingatkan Zia untuk menjaga jarak dengan para cowok.
"Macem-macem gimana maksudnya?"
"Jangan deket-deket sama cowok jelek!"
"Berarti kalau ganteng boleh dong?" ujar Zia pura-pura bersemangat.
"Boleh dong, kan yang ganteng di dunia ini cuma gue doang!" Heaven merapikan baju seraya tersenyum tipis, bersikap sok ganteng di hadapan Zia.
"Ish pede!" dengus Zia memutar bola matanya malas. Untung saja tidak ada siapapun yang melihatnya selain Zia, jika ada mungkin orang itu akan menjerit heboh melihat tingkah Heaven yang terlalu kepedean tingkat dewa.
"Udah sana masuk, ingat jangan macem-macem!" Heaven mendorong punggung Zia agar cepat masuk kedalam kelas, karena mungkin sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.
"Nggak macem-macem kok, cuma satu macem doang!" Zia menaik turunkan alisnya, mencoba membohongi Heaven agar marah.
"ANNA!" Benarkan? Cowok itu baru saja menggeram dengan sorot mata menajam menatap marah pada Zia.
"Enggak bercanda!" Sontak Zia langsung berlari masuk ke dalam kelas, sebelum Heaven marah-marah dan melakukan hal yang tidak terduga olehnya.
Di dalam kelas terlihat Handa sedang berdebat dengan seorang cowok, meributkan buku tulis berwarna merah yang sedang berada di tangan Handa. Cowok yang tidak lain adalah Alam, seperti biasa sedang meminta belas kasih dari Handa untuk memberikan sedikit contekan agar menyelamatkan hidupnya yang sedang berada di ambang bahaya. Entah lupa atau memang sengaja, lagi dan lagi cowok itu belum mengerjakan tugas pekerjaan rumah dari guru matematika.
Zia mendudukkan diri dengan santai, untung saja tugas itu sudah diselesaikan olehnya malam setelah guru memberikan tugas itu. Jika tidak, mungkin ia juga akan berada dalam posisi Alam saat ini. Semalam tidak ada kata belajar sama sekali, Zia juga tidak tahu jam berapa Heaven mengantarkannya pulang ke apartemen. Karena saat terbangun dari tidur, Zia menyadari ternyata sudah berada di atas ranjang dan waktu pun sudah menunjukkan pukul lima pagi.
Bukan hanya itu, saat terbangun Zia juga mendapati Jaka sedang tidur di sampingnya dalam keadaan baik-baik saja. Meski penampilannya sedikit berbeda dari sebelumnya, bulu ekornya sedikit pendek seperti habis dicukur. Zia tidak tahu bagaimana caranya Heaven bisa menemukan Jaka, karena cowok itu tidak mengatakan apapun padanya ketika ditanya. Tapi setidaknya Zia sangat senang dan berterimakasih pada Heaven dan teman-temannya yang sudah mau bersusah payah mencari Jaka semalam.
__ADS_1
Zia menatap dua orang yang masih saja ribut di depan mejanya, lalu terkekeh melihat tingkah keduanya. Karena tidak ingin memberikan contekan, Handa memutuskan untuk mengajari Alam meski harus menahan kesal beberapa kali. Alam tidak kunjung mengerti dengan apa yang telah dijelaskan, membuat Handa harus mengulang dengan cara lain agar otak cowok itu mampu memahaminya.
"Udah Nda, sumpah otak gue udah penuh. Mending lo kasih tau aja jawabannya langsung, lo nggak kasihan apa, kepala gue udah berasep kayak gini?" ucap Alam. Cowok itu memasang raut wajah memelas, namun malah terkesan sangat menyebalkan di mata Handa.
"Kenapa harus ada manusia-manusia bodoh di dunia ini?!" celetuk Handa menghela nafas malas.
"Karena itulah gunanya ada manusia pintar, yaitu membagi ilmunya pada manusia kurang pintar!" jawab Alam.
"Halah kurang pintar, nimbang bilang goblok aja susah amat Lam!" sahut cowok yang duduk di kursi seberang. Membuat Alam yang tadinya tersenyum jenaka, kini mendengus ingin memukul cowok itu karena telah mengatai dirinya.
Handa mengepalkan tangannya menahan geram sekaligus gemas, rasanya ingin sekali ia menjitak kepala Alam sekarang juga. Heran saja, mengapa Alam selalu tidak mau berpikir sedikit kritis. "Lo tuh bisa nggak sih, sekali-kali otaknya dipakai. Maunya yang instan mulu," gerutunya.
"Bego kok bangga!"
"Ya elah Nda, kalau ada yang instan kenapa harus pakai yang ribet?" ujar Alam menggebu.
"Ya udah nih, ambil ambil!" Handa menyerahkan bukunya dengan kasar, "Sana pergi, ntar kalau lo makin bego jangan salahin gue!"
Alam tersenyum lebar menyambut buku yang diberikan Handa, akhirnya ia mendapatkan apa yang diinginkannya. "Nah gitu kek dari tadi, kalau gini kan enak!" ujarnya seraya pergi menuju mejanya sendiri.
"Jangan lama-lama!" peringat Handa yang hanya dijawab acungan jempol dari Alam.
"Huft punya temen kelas gini amat!" Handa lalu menengok ke belakang, menghadap ke arah di mana Zia berada.
Zia hendak mengiyakan, namun urung dilakukan saat netranya melihat seseorang datang dengan raut wajah ceria. Kedatangannya cukup membuatnya terkejut, apalagi dilihat dari keadaan fisiknya nampak belum cukup baik untuk datang ke sekolah saat ini. Icha, gadis itu berjalan ke tempatnya berada, dengan senyum manis di bibirnya yang masih terlihat pucat.
"HANDAAA...!" pekik Icha dengan semangat memanggil sahabatnya.
"Icha? Kok lo udah berangkat sekolah aja?" Handa mengangkat tangannya, membalas pelukan Icha yang datang secara tiba-tiba.
"Handa... Icha kangen sama Handa!" ucap Icha sembari menggoyangkan pelukannya ke kanan dan ke kiri.
"Huft mulai deh bocilnya!"
Handa menatap malas Icha yang sudah melepaskan pelukannya, setelah ini mungkin ia harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi sahabatnya yang satu itu. Sebenarnya Handa lebih suka Icha menjadi seorang yang banyak diam dan bersikap dewasa seperti beberapa waktu lalu, tapi rasanya tidak tega juga jika harus menekan Icha dalam ketidaknyamanan.
Icha hanya menunjukkan senyum manisnya tanpa merasakan sakit hati seperti yang terjadi biasanya, setelah dipikirkan dengan matang ia merasa akan lebih baik menjadi perempuan yang apa adanya. Bukan menjadi perempuan seperti yang diinginkan Gala, sudah cukup, Icha tidak ingin menjadi orang lain lagi hanya karena ucapan menyakitkan terakhir kali yang terlontar dari bibir Gala.
"Ziaa... Icha juga kangen Zia tau!" Icha bergerak memeluk Zia yang masih duduk di kursinya, gerakan cepat itu membuat Zia sedikit tersentak.
"Emang lo udah sembuh Cha?" Zia mengelus punggung gadis yang masih memeluk erat tubuhnya, "Ini kan baru masuk empat hari abis lo di operasi kemaren?"
__ADS_1
Icha melepaskan pelukan masih dengan senyum manis yang terukir di bibirnya, lalu mendudukkan diri di kursi samping Handa. "Nggak papa kok, Icha bosen di rumah sendirian. Jadi Icha berangkat sekolah aja deh!"
"Harusnya lo istirahat aja di rumah Cha, liat tuh muka lo masih pucat gitu!" tunjuk Handa sedikit khawatir.
"Icha bosen di rumah tau," ucap Icha sembari memegangi pipinya yang kata Handa terlihat pucat.
Pandangan Zia seketika terfokus pada pergelangan tangan Icha yang terbalut perban berwana putih, ada sedikit noda darah juga di sana. Handa yang berada di sampingnya pun ikut menatap ke arah benda yang cukup menarik perhatiannya itu, dilihat dari ukuran perban itu Handa yakin lukanya cukup besar.
"Tangan lo kenapa Cha?" Tanpa aba-aba Handa langsung meraih tangan kiri Icha, dengan teliti memeriksa keadaan tangan sahabatnya itu.
"Eum, Icha nggak papa kok!" Tidak ingin kedua sahabatnya tahu, Icha langsung menarik tangannya lalu menyembunyikannya ke belakang. "Kemaren Icha mau belajar masak, tapi nggak bisa potong toge. Terus pisaunya nggak sengaja nancep di tangan!" ucapnya.
"Hah? Ngapain potongin toge, astaga!" Handa menggeleng tidak paham, "Lo tau toge nggak? Mana ada toge di potong, Icha!" ucapnya dengan gemas.
"Tau lah, toge itu yang bulet kecil kayak kecambah itu kan?" jawab Icha seraya bertanya.
"Ya emang kecambah!" geram Handa, "Terus ngapain dipotong, orang udah kecil gitu?"
"Nah itu dia, masalahnya Icha nggak tau kalau masak toge itu nggak perlu di potong," Icha menyengir lebar sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kata Bibi kalau mau masak, sayurnya di potongin dulu. Ya udah Icha potongin togenya jadi kecil-kecil imut gitu!"
"Ya nggak semua sayur harus dipotong juga Cha!" Zia ikut angkat bicara, merasa geram sendiri sejak tadi mendengar cerita Icha yang sangat nyeleneh. Jiwa koki dalam dirinya meronta, mendengar cerita Icha yang telah menistakan sayuran dan metode masak-memasak pada umumnya.
"Wah kacau nih, kacau!" Handa menjambak rambutnya frustasi, membayangkan bagaimana nasib toge selanjutnya.
"Ish Handa kan tau sendiri kalau Icha nggak bisa masak!" ucap Icha mendengus sebal.
"Terus gimana tuh nasib togenya?" tanya Zia penasaran.
"Icha buang ke wastafel tempat cuci piring." Icha menekuk wajahnya, mengingat kejadian kemarin sore saat dirinya akan memasak untuk Papanya yang baru pulang setelah sibuk bekerja.
"Terus?" Zia sengaja bertanya, meski sedikitnya ia tahu apa yang terjadi selanjutnya.
"Wastafelnya mampet, jadi harus panggil tukang ledeng buat benerin!"
Icha mengingat kemarin membuka saluran air, agar semua air dalam wastafel itu bisa cepat surut. Tapi tidak di sangka itu malah mengakibatkan semua toge yang telah di potong kecil-kecil itu masuk ke dalam saluran dan menghambat pembuangan air. Tentu saja itu langsung membuat ribut seisi rumah, dan membuat Papa marah besar padanya.
"Huft Icha Icha!" Handa hanya menanggapinya dengan gelengan kepala, sudah sangat biasa ia mendengar cerita konyol bin ajaib dari sahabatnya satu ini. Tapi tetep saja terkadang masih heran, mengapa gadis yang duduk di sampingnya itu selalu bersikap seperti anak kecil. Padahal usianya sudah memasuki tujuh belas tahun, Handa sendiri masih bertanya-tanya bagaimana Icha bisa lulus ujian sekolah dulu dengan kapasitas otaknya yang minim itu.
*********
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇
__ADS_1
Cuma mau ingetin kalo hari ini hari senin, siapa tahu dari kalian masih ada sisa vote yang mau disumbangkan untuk karya receh ini 😅
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...