
Zia sudah rapi menggunakan seragam sekolah, duduk di sofa menunggu Heaven yang katanya akan datang menjemput pagi ini. Sepuluh menit berlalu Zia masih menunggu, tapi belum juga ada tanda-tanda akan kedatangan Heaven. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima menit, yang artinya lima belas menit lagi gerbang sekolah akan di tutup.
Zia mencoba berpikir positif, mungkin saja saat ini Heaven sedang menuju apartemen sambil mengukur jalanan permeter. Atau mungkin sedang berlomba dengan siput yang tidak sengaja melintas di jalan. Baiklah, ia akan menunggu beberapa menit lagi.
Sembari menunggu Zia menghubungi Tante Viara, agar menyuruh seseorang untuk membantu memindahkan barang-barang miliknya ke apartemen. Karena mulai besok Zia akan tinggal di apartemen, setelah semalam dengan susah payahnya membujuk Daddy Zion agar mengizinkannya tinggal sendiri.
Lama berkutat dengan ponselnya, Zia baru menyadari kalau waktu sudah semakin siang. Tertera di layar ponsel, waktu sudah menunjukkan pukul enam lebih lima puluh lima menit. Tapi herannya sampai detik ini Heaven belum juga memberikan kabar apapun padanya. Zia ingin menghubungi cowok itu, tapi rasanya terlalu aneh hingga ia tidak jadi melakukannya.
Karena tidak ingin terlambat, Zia langsung keluar dari apartemennya. Siapa tahu Heaven sudah berada di depan saat ini, agar nanti bisa langsung berangkat tanpa harus bolak-balik. Namun tetap saja, sampai di depan gedung pun Heaven masih belum terlihat batang hidungnya.
Ting
Zia yang hendak mengirim pesan seketika terhenti, melihat adanya pesan masuk dari Heaven. Tidak ingin berlama-lama ia segera membuka untuk melihat isi pesan tersebut, dan ternyata isinya di luar dugaan.
Heaven Arsenio Maaf Na! Gue nggak jemput lo tadi! Ada urusan mendadak!
Lo udah berangkat ke sekolah kan?
Terdiam dengan mulut menganga, sudah tidak ada kata yang mampu Zia ucapkan. Yang ada hanyalah umpatan, umpatan dan umpatan dalam hati untuk Heaven. Zia kesal setengah mati, menyadari telah membuang-buang waktu hanya untuk sesuatu yang tidak penting.
"HEAVEN SIALAN!" teriaknya.
Tanpa membalas pesan Zia berlari ke arah jalan, mencegat taksi yang baru saja menurunkan penumpang. Zia langsung masuk tanpa permisi, hingga membuat supir taksi terkejut melihatnya yang masuk secara tiba-tiba. Tanpa basa-basi Zia langsung mengatakan arah tujuannya yaitu SMA Galaxy, sembari meminta untuk dipercepat laju mobilnya.
Butuh waktu beberapa menit untuk sampai di sekolah, Zia terus menggerutu di sepanjang perjalanan. Masa bodo dengan supir taksi yang beberapa kali menatap aneh padanya melalui kaca spion. Supir itu hanya diam saja, membiarkan penumpangnya mengoceh tidak jelas. Mau menyela pun tidak bisa, karena Zia mengomel menggunakan bahasa asing yang supir itu tidak pahami.
Ting
Bunyi pesan masuk, Zia segera membuka pesan yang ternyata dari sepupunya yang paling cerewet. Seperti biasa, jika dirinya belum terlihat di sekolah pasti sepupunya akan mencari keberadaannya. Handa memang cukup perhatian dengan orang-orang disekitarnya.
__ADS_1
Handa Rista Udah bel, lo di mana Zia?
^^^Zianna Azkia Gue lagi otw!^^^
Handa Rista Buset! Kok baru otw, lo ketiduran? Gerbang sekolah udah ditutup ege!
^^^Zianna Azkia Terus gue gimana dong?^^^
Handa Rista Masuk lewat samping sekolah aja! Gue tunggu lo di sana!
Gue bantuin nanti!
Begitu sampai di depan sekolah, Zia melihat gerbang sudah sepi. Sudah diduga sebelumnya, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setelah memberikan uang pada supir taksi, Zia segera turun dari mobil.
Seperti yang diinstruksikan sepupunya tadi, Zia langsung menuju samping sekolah. Tempat yang kabarnya digunakan para siswa yang terlambat datang ke sekolah untuk menerobos masuk. Zia melongo begitu sampai di tempat yang di maksud, berdiri dengan kokoh tembok yang jauh lebih tinggi dibanding tinggi tubuhnya.
Tidak ingin berlama-lama, Zia segera mengambil tangga kecil yang tergeletak di samping tembok, menempatkannya hingga berdiri dengan seimbang. Saat dirasa tangga sudah berdiri dengan benar, Zia perlahan menaiki satu persatu anak tangga. Sungguh baru kali ini Zia melakukan hal seperti ini, dan semua itu gara-gara... Heaven.
Hap!
Satu persatu anak tangga sudah Zia lewati dengan baik, hingga sekarang ia sudah mencapai tingkat paling atas. Zia mulai menaikkan satu kaki agar bisa mencapai tembok, hingga akhirnya ia bisa melakukannya. Zia tersenyum bangga menyadari dirinya telah berhasil menaiki tembok dengan selamat, padahal baru pertamakali ia melakukan hal ini .
"NGAPAIN LO DI SITU?"
"Aaaaaa.....!"
Brukk
"Anjay jatoh!" pekik Handa tertawa.
__ADS_1
Mendengar suara Heaven yang terkesan tiba-tiba membuat Zia kehilangan keseimbangan, dan sialnya pegangannya pada tembok terlepas. Zia memejamkan mata, namun tidak merasakan sakit di bagian tubuhnya, padahal baru saja terjatuh dari tembok yang cukup tinggi. Dengan perlahan gadis itu membuka mata, karena merasa seperti menindih seseorang.
Seketika pandangannya bertemu dengan mata coklat milik Heaven. Beberapa saat mereka terdiam dalam keheningan. Zia masih menatap mata itu, mata yang membuat jantungnya mendadak berpacu tanpa sebab. Begitu juga dengan Heaven yang tiba-tiba merasa gugup bertatapan langsung dengan mata hazel milik Zia.
Pletak
"Aw sshh... sakit!" Zia meringis memegangi keningnya yang baru saja disentil oleh cowok yang masih menahan berat badan tubuhnya.
"Ngapain lo naik-naik tembok kayak tadi? bahaya!" ucap Heaven sedikit kesal namun juga khawatir. Untung saja dirinya cepat bergerak menangkap, jika tidak mungkin Zia sudah mendarat di tanah dengan sempurna tadi.
Zia beranjak berdiri tegak, menghempas tangan Heaven yang masih memegangi tubuhnya dengan kasar. Masih sangat kesal karena gara-gara Heaven batal menjemput, ia jadi terlambat datang ke sekolah. "Pake nanya lagi, ini semua gara-gara lo!" ucapnya kesal.
"Gara-gara gue?" beo Heaven seraya berfikir.
"Gara-gara lo nggak jadi jemput, gue jadi telat!" ucap Zia dengan nada setengah meninggi saking kesalnya.
Cowok itu baru teringat kalau tadi tidak jadi menjemput karena harus menolong Gala, mungkin karena itu Zia terlambat ke sekolah karena dirinya lupa memberitahu sebelumnya. "Jadi lo nungguin gue dateng?" tanyanya dengan lirih.
"Menurut lo? Makanya kalau nggak bisa jangan maksa!" kesal Zia.
"Sorry!" ucap Heaven menyesal.
"Not that easy!" ucap Zia dengan penuh penekanan.
"HEAVEN, GALA, HANDA DAN ZIANNA, NGAPAIN KALIAN BEREMPAT DI SINI?"
*********
Jangan lupa tinggalkan jejak ya 😇
__ADS_1