
Di dalam toilet, Zia tengah membasuh wajahnya berulang kali, mencoba menyadarkan diri agar tidak terlarut dalam bayang-bayang masa lalu yang malah akan merugikan dirinya sendiri. Setelah merasa lebih baik Zia mendongak dengan tangan yang masih berpegangan pada wastafel, menatap pantulan dirinya di dalam cermin besar di hadapannya. Semburat merah masih nampak jelas di permukaan kulit pipinya, meski rasa perihnya sudah mulai berkurang. Zia beralih mengambil tisu yang ada di dalam saku, lalu dengan perlahan menyeka wajahnya yang masih basah.
Zia menghela nafas panjang, lalu berjalan memasuki salah satu toilet untuk menuntaskan tujuannya datang ke tempat itu. Selang beberapa menit Zia keluar dengan wajah penuh kelegaan, sembari merapikan bajunya yang sedikit berantakan. Merasa sudah siap, ia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Meraih handle pintu hendak membukanya, namun siapa sangka pintu itu tidak bisa di buka.
Kok nggak bisa di buka?
Zia mulai sedikit gusar, tangannya masih mencoba menggerakkan handle pintu. Namun tetap saja pintu itu tidak kunjung terbuka, bahkan handle nya pun tidak bisa digerakkan sama sekali. "TOLONG! ADA ORANG DI LUAR?" teriaknya sambil menggedor-gedor pintu dari dalam.
Zia mulai merasa takut, menyadari tidak ada orang yang mendengarkan teriakannya. "TOLONG!"
Sementara di luar toilet, Paman Jo tengah mengendap-endap mendekati toilet setelah memastikan ketiga bocah yang mengerjai Zia tadi sudah pergi. Sebelumnya Paman Jo memang melihat semua yang dilakukan ketiga gadis itu pada Zia, namun tidak bisa membantu apa-apa karena Zia sudah memberikan perintah untuk tidak menganggu kesehariannya jika tidak dalam keadaan terdesak seperti saat ini.
"Non Zia, tenang. Saya sedang membukakan pintunya!" ucap Paman Jo dengan suara sedikit pelan agar tidak mengundang perhatian para penghuni sekolah.
Nampak dari kejauhan, Kenzo yang sedang berjalan santai hendak menuju toilet malah disuguhkan pemandangan cukup mencurigakan. Sudut matanya menangkap seorang pria tua yang diduga adalah tukang kebun di sekolah ini sedang melakukan sesuatu pada pintu toilet khusus perempuan. Kenzo yang mulai menduga pria itu sedang mengintip segera berlari mendekat untuk menghentikan perbuatannya.
"Bapak ngapain di depan toilet cewek?" tanya Kenzo dengan nada setelah meninggi.
Paman Jo yang sedang sedang fokus melepaskan ikatan pada handle pintu, tersentak kaget mendengar suara berat itu. Dengan segera ia menoleh, lalu menghela nafas lega setelah melihat siapa pemilik suara itu. "Tuan Kenzo, saya pikir siapa?"
"Bapak siapa, kenapa tahu nama saya?" Kenzo mengernyit heran melihat pria berkumis tebal di hadapannya. Sedikit mencurigakan karena menggunakan topi berwarna hitam dengan logo ZIE namun berpakaian seperti tukang kebun. Kenzo tahu logo itu berasal dari perusahaan Zielinski grup. Dan jangan lupakan tubuhnya yang besar dipenuhi otot-otot yang kokoh. Bahkan selama hampir tiga tahun mengenyam pendidikan di sekolah ini, belum pernah sekalipun ia melihat pria tua itu.
"Saya Johan, Tuan!" ucap Jo sembari membuka sedikit kumis tebal yang hampir membuatnya tidak bisa bernafas karena saking tebalnya.
"Paman Jo?" Kenzo melongo tidak percaya, namun sedetik kemudian terkekeh melihat penampilannya yang terkesan sangat aneh. "Paman Jo ngapain di depan toilet cewek?"
"Anu, itu Tuan. Non Zia!" Paman Jo menunjuk pintu toilet yang masih tertutup dengan sempurna.
"Zia kenapa?" Melihat raut wajah Paman Jo yang sedang sangat khawatir, membuat Kenzo merasa sedikit panik, takut telah terjadi sesuatu pada Zia.
"Non Zia habis bertengkar dan sekarang dikunci di dalam toilet. Saya takut traumanya kambuh lagi Tuan!" ucap Paman Jo dengan wajah pias.
"Apa! Kok bisa?" Terkejut bukan main, Kenzo langsung mengambil alih handle pintu yang sudah tertahan oleh kayu panjang dengan tali besar yang melilit kedua benda itu. Gerakannya begitu cepat membuka tali itu, ia sangat tidak ingin Zia kenapa-kenapa di dalam sana.
__ADS_1
"Maafkan saya Tuan, saya kurang berhati-hati menjaga Nona!" ucap Paman Jo menyesal.
"ZIA!" pekik Kenzo memanggil. Cowok itu menggedor pintu ingin memastikan keadaan Zia, namun tidak ada jawaban apapun dari dalam membuatnya semakin merasa khawatir. Bahkan Paman Jo yang berada di sampingnya pun sudah tidak dihiraukan sama sekali, baginya yang terpenting adalah mengeluarkan Zia dalam keadaan baik-baik saja.
"Tenang Zia, ada gue di sini. Lo pasti bisa bertahan!" ucapnya dengan mata yang mulai memerah karena saking khawatirnya.
Tidak berselang lama, kedua laki-laki itu berhasil membuka tali kuat yang mengikat handle dan kayu itu. Dengan cekatan Kenzo membuang tali dan kayu itu ke sembarang arah, lalu membuka pintu dengan tergesa-gesa. Nampak di depan matanya, Zia tengah terduduk lemas di pojok dengan nafas tersengal. Kenzo dengan segera mendekat untuk memeriksa keadaannya.
"Zia, lo nggak papa?" Kenzo hendak memegang bahu Zia, namun langsung di sambut pelukan erat dari gadis yang sedang ketakutan itu.
"Kak, Zia takut!" lirih Zia memejamkan mata dalam pelukan Kenzo.
Kenzo menangkup kedua pipi Zia, agar gadis itu segera menatap ke arah dirinya. "Buka mata lo Zia, tatap gue. Ada gue di sini, gue bakal jagain lo sampai kapanpun!" ucapnya.
Perlahan Zia mulai membuka matanya, air mata masih meluncur bebas membasahi pipinya. Nafas yang tadi masih memburu kini berangsur normal kembali setelah melihat wajah Kenzo. Zia yang masih merasa takut, kembali memeluk Kenzo dengan erat. "Jangan tinggalin gue!" ucapnya lirih.
Kenzo memejamkan matanya, menghembuskan nafas lega mendengar Zia mengatakan hal demikian. "Nggak akan Zia, gue nggak akan tinggalin lo lagi! Gue janji!"
Matanya memerah penuh penyesalan, merasa sangat bodoh karena tidak bisa menjaga Zia saat kecil dulu. Kejadian ini kembali mengingatkan dirinya tentang kesalahan terbesar yang sampai saat ini masih disesalinya. Ia merasa penculikan yang terjadi pada Zia dua belas tahun silam itu karena dirinya telah meninggalkan Zia seorang diri. Dan itu menjadi salah satu hal yang membuat Kenzo takut jika harus berdekatan dengan Zia lagi. Kenzo merasa tidak akan mampu menjaga Zia sampai kapanpun.
"Gue emang bodoh, nggak becus jagain lo!"
*********
"Zia ke mana sih kok nggak balik-balik?"
Di dalam kelas Handa tengah mengemasi barang-barang milik Zia ke dalam tas. Dibantu oleh Icha yang sedang duduk manis di bangkunya sembari menengadahkan kedua tangan, berdoa. Semua siswa satu persatu mulai meninggalkan kelas, setelah guru mata pelajaran keluar dari kelas beberapa menit yang lalu. Jadwal belajar mengajar untuk hari ini sudah selesai, setelah terdengar bel tanda pulang sekolah berbunyi nyaring memenuhi seantero sekolah.
"Cha, lo ngapain sih. Bantuin kek, malah diem kayak patung pancoran!" Handa kesal, melihat Icha masih memejamkan mata sembari menengadahkan kedua tangannya.
"Ssstt... jangan ganggu ih, ini kan Icha lagi bantuin Handa pakai doa!" Icha membuka salah satu matanya melihat Handa sedang mencebikan bibir, lalu kembali menutup matanya fokus berdoa.
"Doa lo nggak mempan monyet, mending lo pulang aja sono istirahat. Daripada di sini nggak ada manfaatnya sama sekali," usir Handa.
__ADS_1
"Ish Handa kenapa sih marah-marah mulu, gak capek apa? Icha aja capek tau dengernya!" dengus Icha beranjak pergi dengan langkah tegap keluar dari kelas.
"Lah itu bocah kenapa coba?" tanya Handa heran melihat Icha langsung pergi tanpa mengatakan apapun. Gadis itu menggeleng mencoba memaklumi sahabatnya yang satu itu, lalu kembali memasukkan buku-buku milik Zia ke dalam tas.
"HANDA... ICHA PULANG YA!" Icha melongokkan kepalanya di pintu, sambil menyengir lebar.
"Apaan sih Cha, nggak jelas banget!" gerutu Handa. Setelah selesai mengemas barang-barang, ia berjalan sembari membawa tas milik Zia dan juga tasnya.
"Katanya tadi disuruh pulang?" tanya Icha sembari mengerucutkan bibirnya.
"Ya udah sana pulang, istirahat di rumah. Gue mau anterin tas ini dulu ke Zia," ucap Handa sembari menunjukkan tas yang berada di tangan kirinya.
"Ya udah Icha pulang dulu, bye!" Icha tersenyum kemudian dengan penuh semangat melenggang pergi menuju tempat parkir seorang diri.
Semoga dugaan itu salah Cha, lo nggak mungkin bikin gue kecewa kan? Gue udah nyaman punya temen kayak lo.
Handa menatap kepergian Icha dengan raut wajah yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, masih berharap Icha tidak ada sangkut pautnya dengan Papa-nya yang sejak dulu ingin mencelakai Zia. Ia sangat tidak ingin kehilangan sahabat polos seperti Icha. Handa menggelengkan kepala membuyarkan lamunan, kemudian berjalan menuju toilet untuk melihat apa yang sebenarnya sedang Zia lakukan di sana.
Sampai di depan toilet, Handa yang hendak masuk malah dikejutkan oleh laki-laki tua berkumis tebal yang baru saja keluar dari toilet tersebut. "Bapak ngapain di toilet cewek?" tanyanya melotot.
Pria tua yang tidak lain adalah Jo itu seketika menundukkan badannya sejenak. "Maaf Non Handa, saya Jo!" ucapnya sembari membuka kumisnya setengah.
"Paman Jo? Paman ngap-" Ucapan Handa terhenti, melihat Kenzo keluar dari kamar mandi bersama Zia yang masih menempel padanya. "Zia, lo kenapa?"
"Abis berantem, tapi udah nggak papa kok!" Bukan Zia yang menjawab, melainkan Kenzo yang salah satu tangannya masih mengelus punggung Zia mencoba untuk menenangkannya.
"Berantem? Sama siapa?" Handa yang khawatir langsung mendekat lalu ikut serta mencoba menenangkan Zia.
Kenzo hanya menggeleng, karena memang belum mengetahui siapa yang bertengkar dengan Zia tadi. Memang sejak tadi Zia belum mau memberitahu dirinya, sementara Paman Jo yang tahu orangnya tapi malah tidak tahu siapa namanya. Untung saja Zia masih bisa berpikir jernih, tidak terlarut dalam bayang-bayang masa lalu yang akan membuatnya kembali sakit.
*********
...Sampai bertemu lagi di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1