Heavanna

Heavanna
106. COWOK MISTERIUS


__ADS_3

"Bajunya Handa kecil banget, nggak enak di pake!"


Icha kembali mengomel, sejak keberangkatannya tadi pagi, gadis itu masih saja menggerutu lantaran bajunya yang terasa sedikit ketat di tubuhnya. Sejak memilih kabur ke rumah Handa, Icha memang selalu meminjam baju milik Handa. Akan tetapi, baru kali ini ia merasa tidak nyaman dengan penampilannya. Bahkan tonjolan di dadanya pun terlihat sedikit membesar, karena efek seragam ketat yang di pakainya.


"Ya iya lah Cha, itu kan baju yang gue beli pas baru masuk kelas sepuluh. Gue aja pakenya cuma beberapa bulan doang, kekecilan banget di badan gue!" Handa tertawa ngakak, mengingat ketika Bundanya dulu salah membelikan ukuran seragam. Saat itu Bunda begitu bersemangat membelikan Handa seragam sekolah, sampai tidak memperhatikan ukuran tubuh Handa yang sudah besar dengan cepat seiring berjalannya waktu.


"Ish pantes aja kecil banget!" Icha mendengus, tangannya masih bergerak memperbaiki penampilannya.


"Nggak kecil kok, itu pas banget tau sama badan lo yang mungil kayak hamster!" ucap Handa. Tubuh sahabatnya ini memang cukup kecil, dibandingkan tubuhnya yang tinggi. Jika dibandingkan dengan tinggi badan Zia, Handa bahkan sedikit lebih tinggi lagi.


"Icha nggak suka hamster, kalo selingkuh nanti Wulan ngambek lagi!" Icha melipat kedua tangannya, bersedekap. Menyandarkan tubuhnya menatap ke depan, mencoba mengingat sesuatu. "Kak Cakra lagi ngapain ya sekarang?" monolognya.


"Udah nggak usah dipikirin lagi, besok bukannya Kakak lo mau jemput?" tanya Handa mencoba menenangkan.


"Iya sih, tapi Icha masih takut ketemu sama Papa!" Icha mencebikan bibir bawahnya. Kak Cakra bilang besok akan menjemput dirinya. Meski Kakaknya sudah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja, namun tetap saja masih ada sedikit rasa takut dalam diri Icha. Gadis itu masih mengingat dengan jelas, apa yang telah dilakukan Papanya beberapa hari yang lalu.


"Tenang aja, lo percaya kan sama Kak Cakra? Gue yakin Kakak lo bisa jagain lo nanti!" Handa menepuk bahu Icha, mencoba menenangkan dan meyakinkan gadis itu agar tidak merasa takut lagi.


Sementara di belakang kedua gadis itu, Zia masih diam di tempat duduknya. Memandang jendela kaca yang memperlihatkan langit biru di luar sana. Cahaya matahari yang menerobos masuk melalui jendela kini sudah semakin berkurang, karena waktu sudah menjelang siang.


Terserah gue mau manggil apa, toh Zia nggak pernah protes!


Pikirannya sedang berkeliaran tak menentu, setelah pagi ini Zia tidak sengaja mendengar ucapan Heaven yang terlalu menyepelekan dirinya. Entahlah, Zia juga tidak mengerti mengapa harus sekesal itu setelah mendengarnya. Zia ingin melupakannya, namun suara itu lagi dan lagi terngiang mengusik telinga dan pikirannya.


"Emang gue harus ngomong dulu ya? Ish masa nggak peka banget sih jadi cowok!" monolog Zia lirih. "Emang cewek mana coba yang mau dikasarin gitu?" lanjutnya kesal.


Handa menoleh ke belakang, ketika telinganya tidak sengaja mendengar gumaman Zia yang terdengar tidak jelas. "Lo kenapa Zi?" tanya.


Zia tersadar dari lamunannya, lalu menatap pada Handa yang masih menatap intens padanya. "Hah! Itu ... gue nggak papa kok?" jawabnya gelagapan.


Sebenarnya Handa curiga, tapi ia tidak ingin terlalu mendesak Zia untuk menjawabnya. "Ya udah, temenin gue ke perpus bentar yuk!"

__ADS_1


"Mau ngapain emang?" tanya Zia beranjak berdiri.


"Mau ambil buku pelajaran, kemaren bukannya Bu Trisha bilang mau adain kerja kelompok ya?" jawab Handa bertanya. Menggandeng kedua sahabatnya pergi meninggalkan kelas yang masih ramai siswa itu.


"Emang iya? Icha nggak tau tuh!" jawab Icha.


"Emang apa sih yang lo tau, Cha? Semua nama mata pelajaran aja lo nggak tau, apalagi buat nyimak pelajarannya!" jawab Handa sekenanya.


"Ish nggak gitu juga kali, Icha pinter kok. Handa aja yang nggak tau!" ucap Icha membela diri.


Ketiga gadis itu masih berjalan santai melewati koridor. Suasana di luar kelas masih sepi, hanya ada beberapa siswa yang terlihat di luar kelas. Saat ini jam pelajaran memang masih berlangsung, setiap kelas sedang menunggu jam pelajaran berikutnya di mulai. Karena tidak ada guru di dalam kelas, Handa mengambil kesempatan itu untuk mengambil buku penting di perpustakaan.


"Pokoknya nanti Icha mau satu kelompok sama Handa sama Zia!" ucap Icha setengah memaksa.


"Kenapa emangnya?" tanya Zia heran.


Icha menyengir lebar. "Icha kan cuma punya temen kalian berdua. Nanti kalo bukan sama kalian, Icha sama siapa? Masa sama hantu!" Padahal bukan itu alasan sebenarnya mengapa Icha ingin satu kelompok dengan kedua sahabatnya.


"Alesan aja lo, bilang aja nggak mau mikir. Susah amat!" sewot Handa yang sudah paham dengan tabiat sahabatnya.


Handa melotot tidak percaya, sahabatnya ini memang nggak ada otaknya sama sekali. "Terus gunanya lo dikasih otak buat apa bego, buat pelengkap? Kesel gue lama-lama ngomong sama lo!" kesalnya.


"Hahaha tugas Icha di sini kan sebagai peran pendukung, jadi apa salahnya kalo ngerepotin peran utama?" ucap Icha tertawa.


Handa memutar bola matanya jengah, menepis tangan Icha yang masih melekat di tangan kirinya. "Terserah lo, males ah gue main sama pemeran pendukung lemot kayak lo!"


"Ih Handa kok gitu sih!" Icha berlari kecil, mengejar Handa yang sudah melenggang pergi lebih dulu.


Sementara Zia, gadis itu masih berjalan dengan santai. Menikmati kerecehan kedua sahabatnya yang tengah saling bercanda jauh di depan sana. Seperti biasa, gadis itu lebih memilih diam ketika Handa dan Icha bertengkar seperti tadi. Zia memang bisa bersikap lebih dewasa, berbeda dengan Handa yang selalu tidak sabaran ketika menghadapi bocah polos-polos bego seperti Icha.


"Dasar anak kecil!" lirih Zia melihat kedua sahabatnya masih bercanda sambil berlarian di koridor.

__ADS_1


Zia sedikit mempercepat kakinya, ketika melihat Handa dan Icha sudah hampir sampai di depan perpustakaan. Karena kedua sahabatnya itu masih bercanda, mereka malah tidak sengaja menabrak seorang perempuan yang tengah membawa tumpukan buku di depan sana. Zia hanya terkekeh melihatnya.


Saat melewati sebuah ruangan kosong, sayup-sayup terdengar suara seorang laki-laki yang berhasil mengalihkan atensi Zia. Merasa ada yang mencurigakan, gadis itu menghentikan langkahnya. Dengan perlahan mendekat ke arah pintu yang sedikit terbuka, sambil menajamkan pendengaran.


"Jangan bawa cewek dalam urusan ini, cukup terakhir kali lo bawa-bawa Handa buat mancing Heaven datang. Lo bilang nggak bakal celakain tuh cewek, tapi yang terjadi apa? Temen lo yang bego itu malah mau nusuk dia dari belakang!"


Cowok misterius itu terdiam sejenak, mendengar ucapan seseorang di seberang telepon.


"Gue nggak mau tahu, itu urusan lo dan temen-temen lo. Jangan pernah macem-macem sama gue, semua bukti kejahatan lo ada di tangan gue, Regha. Dan tugas lo di sini itu cuma satu, buat Heaven masuk penjara kalo perlu selamanya!"


Di balik pintu masuk itu, Zia terkejut mendengar cowok itu menyebut nama Heaven dan Regha. Gadis itu masih terdiam di tempatnya, mencoba mencerna semua yang dikatakan cowok yang masih berada di dalam ruangan gelap itu. Perlahan Zia mencoba mengintip ke dalam ruangan, namun yang terlihat hanyalah siluet seorang laki-laki yang berdiri membelakangi dirinya.


"Woy! Lagi ngap emph!"


Zia terkejut saat tiba-tiba suara Handa mengejutkan dirinya, tangannya reflek membekap mulut Handa sebelum gadis itu menyelesaikan ucapannya. Zia segera menarik Handa pergi, sebelum cowok misterius di dalam ruangan itu menyadari keberadaannya di sana.


Sampai di dalam perpustakaan, Zia baru membuka bekapan tangannya pada mulut Handa. Gadis itu bernafas lega, karena tampaknya cowok misterius tadi tidak sempat melihat dirinya di depan pintu tadi. Handa yang diperlakukan seperti itu pun sangat heran, mengapa tiba-tiba Zia bersikap sangat aneh.


"Lo kenapa sih Zi, aneh banget?" tanya Handa sembari merapikan penampilannya.


Zia menatap Handa dengan bingung, haruskah ia mengatakan apa yang telah didengar olehnya tadi. Gadis itu mulai menyadari, permasalahan Heaven ternyata jauh lebih besar dari yang ia duga sebelumnya.


"Ada sesuatu yang penting, nanti gue ceritain sama lo!"


🎀🎀🎀


Hai pren! Sambil menunggu Heavanna up, aku kasih rekomendasi karya keren punya temenku. Ceritanya keren beut pokoknya dah, jangan lupa mampir ya! 🥰


Judul : Bukan Sebatas Impian


Napen : Nadziroh

__ADS_1



...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...


__ADS_2