
"Nggak, nggak gitu Kak. Mereka bukan calon mertua gue, lo salah paham!"
Di dalam kamar itu Zia masih mempertahankan pelukannya, mencegah tangan Heaven yang sedang memegang telepon rumah. Cowok itu masih berniat mengusir Zia dari kamarnya.
"Kalo bukan calon mertua terus siapa? Orang tua baru dari calon suami?" tanya Heaven.
"Bukan! Makanya dengerin dulu penjelasan gue, jangan main usir aja!" Zia melepaskan pelukannya, menatap wajah pucat Heaven dengan intens. "Gue pergi ke sana itu buat ketemu orang tua gue!"
"Jadi bener kan, orang tua lo ada di mansion Zielinski buat jodohin lo sama Azka. Udah deh, lo nggak perlu repot-repot ngejelasin. Gue tau, lo ke sini cuma mau bilang itu! Selamat atas perjodohan itu!"
"Ish Kak Heaven ngomong apa sih, dengerin dulu makanya jangan asal bikin karangan nggak jelas!" omel Zia. "Zielinski itu nama marga gue!"
Heaven mengerutkan keningnya, butuh waktu lama baginya memahami kata yang Zia ucapkan tadi. "Maksudnya?"
"Mansion Zielinski itu tempat tinggal gue dari kecil, dan Azka itu saudara kembar gue. Bukan pacar, mantan atau apalah itu!" ucap Zia menjelaskan.
Heaven masih terdiam menatap mata Zia, memang tidak terlihat ada kebohongan di dalamnya. Akan tetapi pernyataan tersebut masih sangat sulit untuk dipercayai olehnya. "Nggak percaya gue!" ucapnya.
"Gue harus gimana biar lo percaya kalo mereka itu keluarga gue?" ucap Zia sedikit gemas. Ternyata tidak semudah itu membuat Heaven percaya.
"Kalo lo kembaran sama Azka kenapa nggak mirip? Jauh banget malahan!"
Zia memegang tangan Heaven, mencoba membujuknya kembali. "Gue juga nggak tau kenapa? Gue itu mirip sama Mommy, sedangkan Azka itu mirip sama Daddy! Kita emang tumbuh dalam satu rahim bersamaan, tapi kita beda!"
"Boong!" sela Heaven. "Kalo cuma mau ketemu sama keluarga terus kenapa lo pake dandan segala? Pake apaan lagi tuh merah-merah, lo pikir cantik?" tegur Heaven tidak suka. Cantik banget anjir, sialan!
"Ya kan mau ada acara keluarga!"
Heaven semakin kesal mendengar jawaban itu, bagaimana mungkin Zia pergi tanpa mengatakan apapun padanya. "Terus ngapain lo masih di sini, sana pergi. Ntar lo ketinggalan acara keluarga!"
"Nggak jadi ikut, kalo kelamaan nanti Kak Heaven makin salah paham!"
"Salah paham apa sih, emang kenyataannya begitu kan! Lo mau dijodohin sama orang tua lo sama Azka!"
"Enggak, nggak gitu Kak. Aaaaargh nggak gitu pokoknya nggak gitu!" Zia merengek semakin gemas, tidak tahu lagi bagaimana harus meyakinkan Heaven. "Lo salah paham, dibilangin ngeyel banget sih. Azka itu saudara kembar gue!"
"Kenapa lo jadi ngebentak gue?" sewot Heaven. Mendengar nada bicara Zia yang mulai meninggi. "Udah stop, gue males ngomong sama lo. Mending keluar deh, gue mau ke kamar mandi!" Heaven mendorong Zia untuk pergi, namun yang terjadi, gadis itu malah memegang erat tangannya.
"Kak please, percaya sama gue. Mereka itu keluarga gue, dari kecil emang identitas gue disembunyikan sama Daddy. Sama kayak Azka!" Zia menatap dengan penuh permohonan, berharap Heaven akan percaya dengan ucapannya.
"Kalo masih nggak percaya lo bisa kok tanya langsung ke Daddy Zion, bentar gue telfon dulu!" Zia mengambil ponselnya di dalam tas, hendak menghubungi Daddy untuk memperjelas ucapannya tadi.
"Nggak perlu!" Heaven menghentikan tangan Zia yang hendak menelepon Daddy nya, ia tidak membutuhkan semua itu lagi.
__ADS_1
"Lo percaya kan sama gue?" tanya Zia menatap penuh harap cowok di hadapannya.
"Hm, keluar dulu sana!!" Heaven hendak turun dari ranjangnya, namun terurung ketika ia mengingat sesuatu.
"Tuh kan Kak Heaven nggak percaya, nggak mau. Pokoknya nggak mau keluar, gue nggak mau putus sama lo!" Zia kembali memeluk Heaven, tidak peduli meskipun tahu cowok itu hendak turun dari ranjang sekalipun.
Mendengar apa yang dikatakan Zia, Heaven baru menyadari sesuatu. "Lo nggak mau putus sama gue?"
Zia mengangguk dalam pelukan, membuat Heaven seketika tersenyum tipis. "Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kenapa lo nggak mau putus? Bukannya lo lebih suka putus dari gue? Gue nggak akan gangguin lo lagi, dan setelah itu lo berhak pacaran ataupun nikah sama cowok yang lo suka!"
"Nggak mau, maunya sama Kak Heaven aja." Zia ingin mengatakan perasaannya, namun entah mengapa sangat sulit baginya mengatakan hal itu.
"Kenapa sama gue? Bukannya lo masih cinta sama mantan lo!" pancing Heaven.
"Kata siapa, enggak!" Zia mendongakkan, menatap wajah Heaven yang masih memasang wajah datar.
"Kata gue lah, udah buruan keluar dulu gue mau ke kamar mandi!" Heaven melepaskan tangan Zia yang masih melingkar di pinggangnya, merasa sedikit terganggu dengan posisinya saat ini.
"Nggak mau, lo pasti mau usir gue kan?" Zia kembali mengaitkan pelukannya, agar Heaven tidak mudah melepasnya.
"Boong, Kak Heaven pasti mau usir gue kan. Makanya dari tadi nyuruh-nyuruh keluar terus! Gue nggak mau putus Kak, cuma lo yang ada di hati gue sekarang. Please jangan tinggalin gue hiks!" Dalam pelukan, Zia mulai terisak. Gadis itu sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa, sementara Heaven belum mempercayai dirinya.
Seperti ada ribuan bunga yang menghujaninya secara bersama, Heaven terpaku setelah mendengar apa yang dikatakan Zia sebelumnya. Apa ia tidak salah dengar tadi? Zia baru saja menyatakan tentang isi hatinya. Heaven tersenyum bahagia, melepaskan pelukan Zia kemudian beranjak berdiri dengan semangatnya.
"Yang lo omongin barusan, apa itu bener?" tanya Heaven ingin memastikan lagi.
Zia ikut beranjak berdiri, masih dengan air matanya yang membasahi pipi. "Iya hiks, makanya jangan tinggalin gue. Please, gue nggak mau jauh-jauh dari lo!" mohonnya.
Zia menunduk ke bawah, namun pandangannya justru tidak sengaja menangkap hal tidak biasa di hadapannya. Matanya membulat, saat ini Heaven hanya memakai celana boxer yang sedikit tertutup oleh kaos putih yang dipakainya. Menyadari hal itu Zia seketika menutup matanya, sambil berteriak.
"AAAA EMPH...." Melihat Zia yang hendak menjerit, dengan cepat Heaven membekap mulutnya. Sebelum terjadi sesuatu yang tidak terduga di mansion besar ini. Semua orang pasti akan berfikir yang tidak-tidak tentang itu.
"Sssttttt... jangan teriak. Nanti Mama dateng!" ucap Heaven memperingatkan. Zia yang masih memejamkan mata, perlahan membuka matanya menatap mata Heaven tepat di depannya.
"Lo beneran udah suka sama gue?" Heaven menatap intens mata Zia, mencari sekelebat kebohongan yang mungkin saja akan tertangkap olehnya. Namun ternyata tidak, yang ada hanyalah tatapan kejujuran yang ia lihat ketika Zia menganggukkan kepalanya.
Zia tersentak ketika tiba-tiba Heaven mendorongnya hingga menempel pada dinding, pandangan cowok itu masih tidak lepas menatap wajahnya. Gadis itu mulai merasa sedikit takut sekaligus canggung. "K-Kak Heaven mau ngapain?" tanyanya salah tingkah.
Heaven menatap serius mata Zia, kemudian turun ke hidung mancung hingga sampai pada bibirnya. Perlahan ia mengusap bibir itu, membuat Zia semakin merasa dag dig dug jeder dibuatnya.
__ADS_1
"Boleh?" tanya Heaven, masih menatap bibir itu.
Zia masih terpaku, tidak menjawab atau bahkan menolak. Bagaimanapun permintaan Heaven kali ini adalah pertama kali baginya, gadis itu sedikit merasa takut hingga tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Dan itu justru membuat Heaven semakin ingin mencium gadis itu sampai puas sekarang.
Heaven semakin mendekatkan wajahnya. "Kalo lo nggak jawab, itu artinya boleh!"
Tubuh Zia seketika menegang ketika benda kenyal itu menyentuh bibirnya, matanya membulat sempurna, hingga kemudian mengerjap beberapa kali. Tidak berselang lama mata gadis itu terpejam, menikmati sensasi lembut dan hangat dalam permainan halus yang Heaven lakukan.
Perlahan Heaven mengangkat tangannya, memegang tengkuk yang tertutup rambut milik gadis itu. Secara bertahap ia mendorong kepala Zia, bersama-sama menyelami rasa manis yang belum pernah keduanya rasakan sebelumnya. Cukup lama keduanya berseteru, Heaven yang belum merasa puas kini berpindah semakin ke bawah.
"Kak!Nggak boleh!" lirih Zia mencegah.
"Cuma sebentar!" Heaven kembali mencium bibir Zia sekilas.
"Tapi gue---"
"Aku! Mulai sekarang panggil aku, Na!"
"Aku?" Heaven mengangguk sekilas, kemudian hendak kembali melancarkan aksinya. Namun Zia kembali mencegah, jujur ia sedang merasa takut saat ini. Perasaannya begitu campur aduk mendapati perlakuan tidak biasa dari Heaven sejak tadi. "Tapi Kak, aku---"
"Gue janji nggak akan ninggalin jejak!"
Zia terdiam menatap mata itu. Karena tidak kunjung mendapat jawaban, Heaven kembali melanjutkan aksinya. Zia hanya mampu menggigit bibir bawahnya, merasakan benda kenyal itu perlahan menyentuh area lehernya.
"IH KAK, JANGAN DIGIGIT! SAKIT!"
🎀🎀🎀
Otor mau ngejelasin kenapa dipisah babnya, soalnya kalo jadi satu itu kepanjangan banget. Kemaren juga udah terlanjur dua bab upnya, tangan othor gempor nulis banyak-banyak weh. 🤣
Yang lagi puasa harap bersabar ya, bagi yang masih sekolah harap jangan meniru adegan di atas. Kalian masih sekolah, masa depan kalian masih panjang dan cerah. Bergaul, berpacaran dan berteman lah sewajarnya saja. Ok!👌🏻
Ambil positifnya sekecil apapun itu, dan buang negatifnya meski sebanyak apapun itu. Tapi kalo nggak ada positifnya, buang aja semuanya. 🤭
...*********...
Sambil menunggu Heavanna up, mampir dulu ke karya di bawah ini.
Judul : Nona Muda Dihamili Pelayanan
Napen : Amandaferina06
__ADS_1
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...