
Setelah beberapa menit berusaha menenangkan Zia, kini Heaven bisa duduk dengan lega melihatnya yang sudah dalam keadaan tenang. Ternyata tidak semudah itu menenangkan Zia yang masih terjebak dalam mimpi buruknya, hingga membuat Heaven harus merelakan tangannya menjadi sasaran cengkraman erat gadis itu. Di dalam ruangan itu, saat ini Heaven masih memegangi tangan Zia yang belum mau melepaskan dirinya. Hal itu tentu membuat Heaven tidak bisa pergi ke mana-mana.
"Kak, tangan lo nggak papa?" tanya Handa hati-hati. Saat masuk ke dalam ruangan tadi, ia begitu terkejut melihat pergelangan tangan Heaven yang sudah dipenuhi oleh lekukan akibat kuku-kuku tangan Zia yang menancap dengan begitu kuat.
Heaven melirik pergelangan tangannya, lalu tersenyum tipis mengingat apa yang dilakukan Zia tadi. Awalnya memang terasa sakit, namun sekarang rasa sakit itu sudah sedikit menghilang. Tanpa mau menjawab pertanyaan Handa, Heaven beralih mengelus puncak kepala Zia dengan sayang. Berharap gadis itu cepat sembuh dari sakit yang dialaminya kini.
"Kamu tetaplah temani Zia seperti ini, cobalah tenangkan dia jika terjadi hal seperti tadi!" ucap Dokter Felio.
"Handa Kenzo, setelah ini datanglah ke ruangan saya. Ada yang perlu saya bicarakan dengan kalian berdua!" Dokter Felio langsung pergi meninggalkan ruangan itu setelah mendapat anggukan dari Handa dan Kenzo.
"Lo berdua kenal sama Dokter itu?" tanya Nanda. Sejak tadi ia sangat penasaran melihat interaksi yang tampak sangat dekat dan akrab, antara Handa dan Kenzo dengan Dokter bernama Felio Adinata itu.
"Nggak kenal!" jawab Kenzo berbohong.
"Terus kenapa tuh Dokter bisa tau nama lo sama Handa?" tanya Nanda penasaran.
"Banyak nanya lo!" ucap Kenzo sembari menunjuk tanda pengenal yang ada di seragamnya, membuat nanda seketika menyengir lebar. Cowok itu menatap jengah, lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan. Begitu juga dengan Handa yang mengikuti dari belakang, sebelum dirinya dicecar banyak pertanyaan dari Nanda dan yang lainnya.
Setelah lama menyusui koridor rumah sakit, Kenzo dan Handa akhirnya sampai di depan ruangan milik Dokter Felio. Tanpa ingin berlama-lama Kenzo langsung mengetuk pintu dan masuk setelah terdengar suara dari dalam ruangan. Terlihat di dalam ruangan itu Dokter Felio tengah duduk di kursi kebesarannya, sedang sibuk berbicara dengan seseorang di seberang telepon.
"Jadi Anda tidak bisa datang ke sini Tuan Zion?" tanya Dokter Felio sembari memberikan isyarat pada Handa dan Kenzo untuk duduk.
"Sudah kubilang aku tidak bisa datang, karena itu akan menggagalkan acara pertunangan putraku yang sudah kami rencanakan sejak jauh-jauh hari!"
"Lalu bagaimana dengan putrimu, apa kau akan membiarkannya sendiri di sini?" Dokter Felio memejamkan matanya frustasi, tidak tahu bagaimana menghadapi Zia yang sedang sakit sementara kunci kesembuhannya hanya ada pada Zion sendiri.
"Jika tidak ada kendala mungkin aku akan datang lima hari lagi, dan selama itu adalah tugasmu sebagai dokter untuk menjaga putriku!"
"Tidak bisakah kau datang sekarang, apa putramu tidak tahu bagaimana keadaan saudari kembarnya sekarang?"
"Tentu saja tidak, apa kau ingin putraku membatalkan pertunangannya?" tanya Zion sedikit geram.
"Lalu apa yang harus ku lakukan, sementara putrimu hanya akan merasa tenang saat bersamamu?"
"Kau tahu anak laki-laki bernama Heaven?"
__ADS_1
"Ya anak itu, aku melihatnya tadi. Lalu apa yang kau harapkan dari dia?"
"Dia telah berani memacari putriku!"
Apa kau pikir aku peduli dengan hal itu Zion! -geram Dokter dalam hati.
"Biarkan jika dia ingin menjaga putriku! Jika memang Anna menyukainya, aku yakin dengan adanya anak itu akan membuatnya merasa nyaman dan sembuh dengan cepat!"
"Apa kau yakin?"
"Bodoh, jika putriku tidak sembuh dalam dua hari itu tandanya putriku memang tidak menyukainya dan tidak nyaman berada di sisinya!"
"Tuan Zion yang terhormat, apa kau lupa sejak dulu tidak ada orang lain yang mampu membuat Zia tenang selain dirimu dan putra-putramu?" jelas Dokter Felio dengan geram, "Lalu apa yang kau harapkan dari anak itu, bahkan Kenzo saja tidak mampu memberikan kenyamanan untuk Zia!"
"Dih bawa-bawa gue lagi!" gumam Kenzo sedikit tidak suka.
"Lah kan emang bener," sahut Handa menyepelekan, "Lo yang deket dari orok aja nggak bisa bikin Zia tenang apalagi Kak Heaven!"
"Bacot!" Kenzo menatap Handa dengan kesal, tampak aura permusuhan dari keduanya kini mulai muncul.
"Aku tidak mau tahu, kau harus bisa menyembuhkan putriku dalam waktu tiga hari. Jika kau tidak bisa, maka jangan harap kau akan bertahan lama di rumah sakit milikku!"
Mendengar ancaman itu, Dokter Felio kini hanya mampu memejamkan mata merutuki atasannya yang sangat menyebalkan itu. Tapi mau bagaimana pun, ia tidak mampu menolak perintah itu atau pekerjaannya yang akan menjadi taruhan. "Baiklah Tuan, aku akan mengusahakannya!"
"Bagus, aku tunggu kabar baiknya darimu!"
Kalau bukan Tuan Zion sudah ku pites kau sampai gepeng seperti kutu! -geram Dokter Felio dalam hati.
"Lebih baik kau hubungi anak bernama Heaven itu, sepertinya dia tidak tahu apapun tentang putrimu. Aku bahkan masih ragu, apakah dia mampu membuat Zia sembuh dalam waktu dua hari seperti saat bersamamu selama ini!"
"Aku masih yakin jika Anna memang mencintainya, pasti Heaven bisa membuatnya merasa aman dan nyaman saat berada di sisinya!"
"Yaa aku pikir ada benarnya!" ujar Dokter Felio setengah tidak yakin.
Panggilan telepon terputus, dengan berat hati Dokter Felio meletakkan ponselnya di atas meja. Mengingat keadaan Zia membuatnya kembali frustasi, apalagi selama ini tidak ada yang mampu membuat gadis itu tenang ketika sedang sakit selain Zion dan kedua putranya. Dokter Felio jadi bingung sendiri harus melakukan apa, menyadari pekerjaannya yang menumpuk ditambah harus mengontrol keadaan Zia yang belum bisa diketahui kapan sembuhnya. Padahal jika ada Zion yang menemani seperti biasanya, keadaan Zia akan lebih cepat membaik tanpa harus membuat dirinya kebingungan seperti ini.
__ADS_1
"Apa Max sudah bisa dihubungi?" tanya Felio pada dua anak yang masih duduk di hadapannya.
"Paman Max baru lepas landas beberapa jam yang lalu, mana bisa dihubungi!" ucap Handa.
"Maksudmu?" tanya Dokter Felio tidak mengerti.
"Paman Max sekeluarga udah pergi ke Jerman duluan, abis selesai urus sesuatu di sekolah tadi." Kenzo ikut menyahut, karena sempat melihat Paman Max berada di sekolah pagi ini.
"Harusnya Zia pulang ke Jerman bareng kita semua besok, tapi ternyata yang terjadi nggak sesuai rencana." Handa memejamkan matanya, sangat menyesal mengingat keadaan Zia saat ini. Gadis itu merasa sangat bodoh karena tidak mampu menjaga sepupunya dengan baik, hingga hal seperti ini kembali terjadi padanya.
"Udah nggak usah dipikirin lagi, sekarang bukan waktunya menyalahkan diri sendiri." Kenzo menepuk punggung Handa, mencoba untuk menenangkannya yang hendak menangis.
"Ini salah gue, Zo! Harusnya Zia nggak ada di sana buat nolong gue!"
Melihat Handa mulai menitikkan air mata, dengan sigap Kenzo mendekat lalu memberikan bahunya. Mencoba menenangkan gadis yang sedang dilanda kesedihan setelah melihat keadaan sepupunya saat ini.
"Jangan salahin diri sendiri, tugas kita jaga Zia sekarang. Kalau lo sedih kayak gini, terus siapa yang bakal bantu Zia nanti!" ucap Kenzo sembari mengelus punggung Handa yang masih dalam pelukannya.
"Kak Heaven!" Handa mengusap air matanya lalu beranjak melepas pelukannya.
"Emang lo yakin kalau Heaven bisa jagain Zia?"
"Setidaknya Kak Heaven lebih berani dan mau buat jagain Zia, daripada lo yang lebih memilih pergi menjauh cuma gara-gara nggak bisa bikin Zia nyaman. Huh dasar pengecut!" sinis Handa.
Mendengar nada bicara penuh permusuhan itu, Kenzo kini menatap kesal pada Handa yang telah seenak jidat mengatai dirinya. "Sialan lo, dibantuin bener-bener malah ngelunjak. Sepupu apaan lo?" kesalnya.
"Bodo, emang bener kan? Pengecut, pengecut, pengecut wleee!" Handa menjulurkan lidahnya mengejek, membuat Kenzo yang melihatnya semakin kesal setengah mampus.
"Sumpah lo emang cewek paling ngeselin sedunia!" geram Kenzo.
"Sudah-sudah kenapa kalian jadi berantem, kita di sini mau membahas keadaan Zia!"
**********
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...
__ADS_1