
Brakk
Suara keras terdengar dari arah depan pintu. Bersamaan dengan itu, Rico yang tadinya hendak membuka pintu langsung terpental kemudian jatuh di lantai. Pintu utama rumahnya tiba-tiba saja terbuka, semacam ada dorongan keras dari arah depan.
"AH SSSHHH SIALAN! SIAPA YANG BERANI MELAKUKAN INI!" Sambil menahan rasa sakit di pantatnya, Rico beranjak berdiri.
"Bos, Anda tidak apa-apa?" tanya salah satu anak buahnya, seraya mendekat.
"Tidak apa-apa matamu?!" bentak Rico kesal. Bisa-bisanya anak buahnya itu begitu bodoh, padahal jelas-jelas ia baru saja terjatuh dengan sangat keras. Ia bahkan masih memegangi dada dan pantatnya sekarang.
"Ah syukurlah, sepertinya Bos tidak papa." Sambil mengelus dada, pria berkumis tipis itu memandangi Rico yang tampaknya memang baik-baik saja.
"Diam kau!" Rico mengepalkan tangannya, sedikit geram sekaligus gemas dengan sikap tolol anak buahnya. Ingin rasanya ia langsung memasukkan pria itu ke dalam botol, kemudian menguburnya hidup-hidup. Tidak berguna!
"Lihat kan? Bos saja masih bisa marah-marah sejak tadi!" Pria berkumis itu kembali berbicara, kepolosannya membuat beberapa temannya terkikik geli.
Menyadari sekarang bukan waktunya untuk berdebat, Rico memilih untuk menyerah. "Ketawa sekali lagi, akan saya kirim kalian ke gurun sahara!" ancamnya, membuat anak buahnya langsung kiceup.
Rico mengalihkan pandangan, menyadari ada beberapa orang asing masuk ke dalam rumahnya tanpa izin. "Siapa kalian? Berani sekali datang ke rumahku!"
"Lo yakin Nda? Papanya Icha yang nangkep Zia?"
Tanpa melihat ke arah depan, Nanda yang baru masuk kembali bertanya pada Handa untuk memastikan kebenarannya. Berbeda halnya dengan Heaven yang sudah lebih dulu berhadapan dengan Rico saat ini. Cowok itu bahkan tidak merasa sakit sedikitpun, setelah sebelumnya mendobrak pintu terkunci rapat itu hingga membuat Rico terjatuh.
"Ck nggak percayaan banget sih jadi orang! Liat tuh!" Dengan kesal Handa menjawab, sambil menunjuk ke arah Zia, Icha dan Cakra yang masih berdiri dalam keadaan terikat.
"Anjir, no tipu-tipu!" celetuk Nanda melongo, melihat pemandangan menegangkan di hadapannya.
"Lepasin mereka bertiga!" ucap Heaven tanpa rasa takut.
"Siapa kalian? Pergilah, ini bukan urusan kalian!" ucap Rico masih berusaha sabar. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Handa. "Dan kau, untuk kali ini aku memaafkanmu. Meskipun sebenarnya aku sangat ingin melenyapkanmu karena telah membawa mereka---"
Bugh
"Bacot!" Heaven membentak, setelah memberikan pukulan telak tepat pada rahang Rico. Cowok itu sudah terlanjur geram, Heaven tidak tahan melihat Zia dalam keadaan terikat. "Saya bilang lepaskan mereka!" titah Heaven.
__ADS_1
"Bocah ingusan, berani sekali kau memukulku!"
Rico beranjak berdiri, seraya mengusap rahangnya yang terasa ngilu. Ia menatap Heaven dengan tajam. Mau tidak mau ia harus membereskan enam anak muda di hadapannya, sebelum rencananya untuk pergi gagal. Seketika Heaven bersiap siaga, begitu juga dengan Handa, Gala, Agam dan Nanda.
"Kalian nggak perlu ikut, gue bisa sendiri!" kata Heaven, menahan teman-temannya yang hendak membantu.
"Tapi Heav, awas!" teriak Gala.
"Buset! Main serobot aja tuh Bapak-bapak!" ucap Agam spontan.
Ucapan Gala sebelumnya juga terhenti. Belum sempat cowok itu menyelesaikan bicaranya, Heaven sudah lebih dulu mendapat serangan mendadak dari Rico. Di dalam ruang tamu itu, kini semua orang hanya menjadi penonton dalam perkelahian antara Heaven dan Rico.
"Kak Heaven!" teriak Zia menggeleng, sangat tidak ingin melihat Heaven berkelahi.
Pukulan keras dari Heaven belum mampu melumpuhkan Rico. Heaven kini sudah tidak peduli lagi dengan teriakan gadisnya. Baginya, yang terpenting sekarang adalah membebaskan Zia, Cakra dan Icha dari bahaya. Beberapakali Rico mencoba memberikan serangan, namun hebatnya Heaven selalu bisa menghindarinya.
Tidak bisa dipungkiri, Heaven cukup kesulitan untuk melumpuhkan lawannya kali ini. Cukup lama mereka berkelahi, hingga akhirnya Heaven menyadari satu titik kelemahan Rico. Dengan cepat, Heaven menendang kaki Rico yang memang sedang terluka sejak satu hari yang lalu.
Bugh
Dugh
"Shitthhh!"
Rico mengerang kesakitan, darah segar mengalir di sudut bibir dan salah satu kakinya. Setelah sebelumnya berhasil memukul bagian wajah, Heaven dengan cepat menendang kaki Rico hingga lukanya kembali terbuka lebar.
"Mantap Bos!" teriak Nanda heboh, setelah melihat Heaven berhasil menumbangkan lawan. "Mampus kan lo, makanya jangan belaga, eh belagu!" ralatnya.
Tidak cukup sampai di situ, Heaven yang masih sangat marah kembali menghampiri Rico. Dengan geram Heaven mencengkeram kerah baju pria itu, kemudian memukul kembali bagian wajahnya.
Bugh
"Tidak ada siapapun yang boleh menyakiti Zianna! Jika itu sampai terjadi, maka Heaven sendiri yang akan menyingkirkannya!" ucap Heaven dengan penuh penekanan. Sorot mata tajamnya masih tertuju pada Rico. Akan tetapi, hal itu tidak juga membuat Rico merasa takut.
"F*ck! Heaven lagi marah, tapi kenapa gue malah baper denger omongannya!" Nanda mengusap wajah, mencoba bersikap normal setelah mendengar ucapan Heaven sebelumnya.
__ADS_1
"Sadar bego! Lo tuh cowok, gitu aja baper lo!" sahut Agam tidak habis pikir.
"Playboy gadungan, gitu aja baper!" tambah Gala sinis.
"Berisik lo bedua, gue tuh Heavanna garis keras. Pokoknya seratus persen gue dukung lo sama Anna, Heav!" teriak Nanda menggebu.
Heaven tidak peduli. Jika sekali saja lengah, ia sangat yakin keadaan akan berbalik. Bisa saja setelah ini Rico akan dengan mudah mengalahkan dirinya dan semua teman-temannya. Apalagi, saat ini masih ada beberapa anak buah Rico yang masih menahan Zia, Icha dan Cakra.
"Daripada bacot, mending lo pada beresin mereka semua. Gue nggak mau ada kesalahan!" kata Heaven memberikan perintah.
"Yaelah Bos, baru juga romantis, udah kasar aja ngomongnya!" celetuk Nanda.
"Romantis kepala lo jajar genjang! Lo pikir lagi adegan tembak-menembak?!" Agam menggeleng kecil, seraya berjalan mengikuti Gala.
Nanda tersenyum jenaka. "Emang iya! Handa lo mau ga jadi pacar gue?"
Seketika Agam melotot, menatap tajam Nanda yang sedang bersiap-siap untuk kabur.
"Ogah!" jawab Handa cepat.
"Gue bunuh lo sekarang juga, Nanda sialan!" teriak Agam tidak terima.
"Pffttt Handa yang gue tembak, kenapa jadi lo yang ngamok? Cemburu lo hahahaha." Sambil tergelak, Nanda berlari menjauh. Menghampiri salah satu musuhnya yang tengah mengunci pergerakan Cakra.
"Udah! Mending lo bantuin tuh Kak Heaven, jangan malah berantem gini!" lerai Handa.
Di bawah kungkungan Heaven, Rico melempar sorot mata tajam ke para anak buahnya. Bukannya membantu, mereka justru hanya diam saja sejak tadi. "NGAPAIN KALIAN DIAM SAJA, HAH? CEPAT BERESKAN MEREKA, BODOH!"
"SIAP BOS!"
"Dor...."
"Dor...."
"Dor...."
__ADS_1
🎀🎀🎀
...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...