Heavanna

Heavanna
68. MENGOBATI LUKA HANDA


__ADS_3

Handa sedang duduk terdiam di depan sebuah warung kecil yang letaknya tidak jauh dari area sekolah, menunggu Gala yang tengah membelikan obat untuk mengobati lukanya. Bola mata Handa bergerak ke sana kemari melihat ke sekeliling, tempatnya masih terasa asing karena baru kali ini ia datang ke warung kecil ini. Masih tidak mengerti juga mengapa tiba-tiba Gala menarik dirinya dan membawanya menuju tempat yang cukup sepi ini, bahkan sampai meninggalkan Nanda dan Kenzo di parkiran tadi.


"Makasih Mbok!"


Handa menoleh ke belakang, suara Gala terdengar tidak jauh dari tempatnya berada. Cowok itu kini tengah berjalan mendekati dirinya masih dengan wajah datar, entahlah Handa juga tidak paham. Sejak tadi cowok pendiam itu terus memasang wajah datar, membuat Handa tidak bisa mengartikan raut wajahnya. Apakah suasana hati cowok itu sedang dalam keadaan senang atau tidak, itu sama sekali tidak dapat ditebak oleh siapapun termasuk dirinya.


"Lihat apa?" tanya Gala datar.


Handa menggeleng kecil lalu menoleh ke arah lain, sedikit merasa malu karena terpergok sedang menatap intens wajah kaku Gala. Saking penasarannya dengan struktur kulit wajah kaku mirip kanebo kering itu membuatnya lupa mengalihkan pandangannya. Jika pada umumnya kulit manusia memiliki tiga lapisan, mungkin kulit Gala memiliki empat lapisan yang salah satu diantaranya adalah kayu triplek. Tipis namun kaku, membuatnya tidak bisa tersenyum seperti manusia pada umumnya.


"Ekhem... nggak lihat apa-apa kok," elak Handa mencobanya menepis kecanggungan yang menghampiri.


"Ya udah balik badan, biar gue obatin luka lo!"


"Nggak perlu Kak, biar gue sendiri aja yang obatin!"


Handa meraih kantong kresek putih berisi obat yang baru saja dibeli oleh Gala, merasa tidak enak juga jika membiarkan cowok itu membantu mengobati lukanya. Suasana di depan warung itu sampai sekarang masih sangat sepi, Handa jadi merasa tidak nyaman hanya berduaan dengan Gala. Ibu pemilik warung yang tadi sempat terlihat sedang melayani pembelinya pun kini sudah menghilang entah kemana.


"Lo yakin?" Gala masih mempertahankan kantung berisi obat di tangannya, sangat tidak yakin jika Handa bisa mengobati lukanya sendiri.


Gadis itu terdiam sejenak, menatap Gala sembari mempertimbangkan apa yang harus dilakukan. Jika luka itu bisa terlihat dari jangkauan matanya mungkin Handa tidak akan kebingungan seperti saat ini, masalahnya luka itu berada di ceruk lehernya. Sayangnya tidak ada cermin di sekitar sana, jika ada setidaknya itu bisa digunakan untuk mempermudah dirinya. Namun kini situasi sedang tidak mendukung dirinya, hingga akhirnya gadis itu hanya menggeleng tidak mampu.


"Minta tolong Kak!" ucap Handa pasrah.


Gala melihat ke arah sekeliling, setelah memastikan tidak ada siapapun ia langsung mendudukkan diri di samping Handa. Bukannya apa, cowok itu hanya tidak ingin membuat kesalahan yang mungkin saja akan mempersulit dirinya. Siapapun yang melihatnya sedang mengobati luka Handa mungkin saja akan salah paham dan mengira kalau Handa memiliki hubungan khusus dengannya. Gala tidak ingin itu terjadi, karena jelas itu akan merusak persahabatannya dengan Agam.


"Lo yakin?" tanyanya sekali lagi.


"Bisa nggak sih Kak, jangan datar gitu. Gue merinding tau!" Handa mencoba memecah kecanggungan yang terjadi, menunjukkan lengan tangannya yang sejak tadi menunjukkan reaksi berbeda setelah bersama cowok dingin dan pendiam itu.

__ADS_1


"Gue nggak bisa!" ucap Gala. Namun sebuah lengkungan tipis tercetak jelas di bibir, Gala baru saja tersenyum. Meski hanya sekilas, namun Handa berhasil menangkapnya tadi dan itu cukup mengejutkan baginya yang baru pertama kali melihat Gala tersenyum.


Handa masih menatap cowok itu dengan tidak percaya serta kagum, senyumnya begitu manis sampai ia baru menyadari bahwa Gala memang sangat tampan. Pantas saja banyak para cewek di sekolah yang menggilai cowok datar itu. Ah kemana saja Handa selama ini, sampai tidak menyadari kalau Gala yang biasa terlihat datar akan sangat manis ketika tersenyum. Jika cowok itu sedikit humoris, mungkin ia akan menyukainya lebih dulu sebelum saat di mana dirinya mengenal sosok Agam.


"Lo senyum Kak?" tanya Handa tidak percaya, masih menatap penasaran Gala yang kini sudah memasang wajah datar.


"Demi apa, gue lihat lo senyum tadi!" ucap Handa menggebu cukup terkejut, "Sumpah lo manis tau kalau senyum gitu, eh!" Menyadari telah keceplosan bicara, Handa langsung menggigit bibir bawahnya merutuki kebodohannya.


"Gue ngomong apa tadi?" tanyanya pada diri sendiri.


"Gue manis!" sahut Gala.


Handa menyengir kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mulai merasa tidak nyaman lagi pada Gala saat ini. "Sorry Kak, gue suka keceplosan kalau ngomong!"


"Nggak papa, udah biasa!" Gala menggerak-gerakkan tangannya, memberikan kode pada Handa untuk membalikkan badannya.


"Lo luka kayak gini kenapa nggak bilang?" tanya Gala sembari membersihkan luka Handa yang masih ada bekas darah.


"Gue cuma nggak mau bikin semua khawatir," jawab Handa. Melihat Zia dalam kondisi baik setelah pertengkaran tadi saja sudah cukup membuatnya lega, Handa tidak ingin memperlihatkan luka kecil yang mungkin saja akan membuat trauma sepupunya muncul kembali.


"Tahan, mungkin ini agak perih!" ujar Gala hendak memberikan obat pada luka itu.


Melihat leher jenjang yang terpampang nyata di depannya membuat Gala beberapa kali mengerjapkan mata. Gadis yang sejak dulu teramat sangat jauh dari jangkauannya kini sudah berada dekat di hadapannya, hanya tinggal beberapa centimeter lagi ia bisa membawa tubuh itu ke dalam dekapan. Namun sebuah dinding kaca yang menjulang tinggi kembali nampak di penglihatannya, Gala tidak ingin menghancurkannya hanya untuk kesenangannya sendiri.


Salahkah jika dirinya masih menyukai Handa sampai saat ini, bahkan sebelum Handa mengenal Agam pun dirinya sudah lebih dulu menaruh hati pada gadis itu. Tidak ada yang tahu hal ini, karena Gala terlalu pandai menyimpan perasaannya. Apalagi ketika menyadari bahwa Handa lebih menyukai cowok humoris seperti Agam, Gala pun akhirnya memilih mengalah dan membiarkan keduanya bahagia.


Namun semua itu tidak semata membuat Gala mampu membuka hatinya untuk orang lain, karena itu Gala tidak bisa menerima Icha untuk mengisi kekosongan dalam hatinya. Gala memang menyayangi Icha, namun itu hanya sebagai seorang kakak yang menyayangi adiknya. Sifat Icha yang kekanak-kanakan mengingatkan Gala pada adiknya yang sudah lebih dulu meninggalkan dirinya bersama Ibunya. Karena itu Gala selalu menjaga Icha, meskipun itu dari jarak yang jauh sekalipun.


"Aw sshh... pelan-pelan Kak, sakit!"

__ADS_1


*********


Sementara di sisi lain, Zia sedang mengerucutkan bibirnya dalam mode merajuk. Kedua tangannya terlipat bersedekap dada, memalingkan wajahnya dari Heaven yang telah dengan seenaknya menjewer pipinya hingga memerah. Cowok menyebalkan itu bahkan tidak merasa bersalah sama sekali, setelah sukses membuatnya kesal dengan apa yang dilakukannya di dalam mobil tadi. Zia bahkan masih tidak habis pikir mengapa ada manusia posesif seperti Heaven di dunia ini.


"Kak, balikin hp gue!" Zia merengek, meminta ponselnya yang masih disita cowok itu.


"Nggak akan, sebelum lo jujur siapa cowok yang tadi telfon lo!"


Zia mengerucutkan bibirnya, baru saja adik bungsunya menelepon hendak memberikan berita yang katanya mencengangkan. Namun Heaven yang memang tidak tahu kalau Zia memiliki dua adik langsung mengambil ponselnya dan tanpa aba-aba langsung menodong adik bungsunya dengan berbagai macam pertanyaan. Tentu saja adik laki-lakinya yang baru memasuki usia dua belas tahun itu langsung memutuskan panggilan sepihak.


Heaven melirik Zia yang hanya diam saja, lalu menganggukkan kepalanya seraya mencengkram setir mobil. "Lo nggak bisa jawab kan?" tanyanya kesal.


"Kak...," Zia bimbang. Antara tidak ingin membuat Heaven marah, tapi juga tidak bisa mengatakan kebenaran tentang keluarganya. Apalagi sebelumnya Heaven sempat melihat foto profil adik bungsu yang cukup mirip dengannya, namun itu hanya dapat disadari jika dilihat dengan seksama.


"Tinggal jawab aja apa susahnya sih, Na?" Kali ini bukan karena cemburu, Heaven hanya penasaran siapa anak laki-laki itu, hingga membuat Zia begitu merahasiakan identitasnya. Sampai sekarang pun Heaven masih belum menemukan data dari anggota keluarga Zia. Setidaknya jika ia tahu siapa anak laki-laki itu, mungkin saja akan mempermudah dirinya mencari data keluarga Zia nantinya.


"Dia...," Zia menggantungkan ucapannya, melihat Heaven yang juga sedang menatap dirinya dengan penuh penasaran.


"Siapa?"


"Satya, adik gue!" jawab Zia pasrah.


Heaven terdiam sejenak, menatap Zia yang nampaknya begitu berat mengakui bahwa anak laki-laki itu adalah adiknya sendiri. Sebenarnya ada apa dengan Zia, mengapa ada banyak sekali rahasia yang belum ia pecahkan sampai detik ini. Bahkan untuk mencari tahu data keluarganya pun tidak bisa semudah itu, kecuali bertanya sendiri pada orangnya langsung.


"Sebenarnya lo punya adik berapa?"


**********


...Sampai bertemu di cerita Heavanna selanjutnya 👋🏻...

__ADS_1


__ADS_2